
"Kelang ... Siapa orang ini sebenarnya?! "
Salah satu pendekar suci yang mengelilingi meja batu sudah melupakan panggilan kehormatan Kelang sebagai ketua Sekte Tanah Hitam. Apa yang ada di depan mereka saat ini benar-benar sudah berada di luar akal sehat mereka.
"Ngiii...ng!"
Nyai Ruka sekilas mendengar sesuatu baru saja melintas di belakangnya. Karena cepatnya, dia tidak sempat bereaksi. Namun, tiba-tiba pendekar suci wanita itu merasakan sedikit gatal di lehernya.
Belum habis keterkejutan mereka, sekarang mereka harus menyaksikan Hal mengejutkan lainnya.
Meski terasa tidak nyata, mereka yakin sosok pemuda yang memegang pedang besar dengan tubuh menyala itu, beberapa detik yang lalu, baru saja menghilang dari atas meja. Namun detik berikutnya, dia sudah kembali lagi ke tempat di mana dia berdiri sebelumnya.
"Nyai Ruka! ... Kenapa lehermu berdarah?!"
"Hah?!"
Saat Nyai Ruka menunduk hendak memastikan dengan tangannya, Namun tiba-tiba dia tidak bisa mengontrol kepalanya.
"Buk!"
Sebelum perasaan asing muncul, dia merasakan kepalanya baru saja terbentur lalu pandangan menjadi berputar-putar dan tak lama berhenti.
Pendekar Suci wanita itu merasa aneh. Dia mendapati dirinya sudah tertidur di atas meja dan menghadap tempat dimana tadi dia berdiri.
Saat itu, Matanya langsung melebar seketika. Pendekar suci wanita itu, mendapati tubuhnya masih tetap berdiri di sana. Namun, sudah tanpa kepala. Tepat sesaat sebelum dia kehilangan kesadarannya, Nyai Ruka baru mengetahui bahwa kepalanya ini, baru saja terpenggal.
"Ngiii...ng!"
Tidak sempat berkedip saat melihat kejadian yang sangat teramat mengejutkan itu, Kini Sobek yang berdiri di seberangnya, juga mendengar suara yang sebelumnya di dengar Nyai Ruka. Tidak samapi satu detik, Dia sempat merasakan sesuatu melintas di depannya.
Jangankan untuk menunjukkan keterkejutan mereka, bahkan tidak ada satu orang pun di sana yang sempat bernafas saat menyadari beberapa detik yang lalu, sosok yang berpijar biru itu menghilang dan kembali ke tempatnya pada detik berikutnya.
Sobek yang juga merupakan pendekar suci tingkat satu puncak, tiba-tiba merasakan gatal mulai dari bagian tubuh di antara kedua paha hingga ke pucuk kepalanya.
Sempat mengernyit heran karena tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Tapi, detik berikutnya di merasa pandangannya terbelah. Sebelum akhirnya, semua mulai menggelap dan pendekar aluran hitam itupun kehilangan kesadarannya.
"Bruu...k!"
Detik berikutnya semua pendekar aliran hitam lainnya yang tersisa di sana, baru saja menyaksikan tubuh Sobek rubuh ke dua arah karena terbelah dengan sempurna.
Hanya dalam satu tarikan nafas, sepasang pendekar suci aliran hitam yang memiliki kebiasaan buruk itu meregang nyawa, tanpa mengetahui apa penyebabnya.
Suasana di dalam goa tempat pertemuan Kelang dan seluruh perwakilan dari Sekte aliran hitam itu, benar-benar hening dan sangat mencekam.
"Hmmm ... Aku tidak menyangka bahwa ternyata kalian tidak hanya lemah. Tapi, juga sebodoh ini."
Sudah pasti Kelang dan yang lainnya mendengar kata-kata Arya dengan sangat jelas. Hanya saja, fikiran mereka saat ini terasa kosong.
Tidak ada satupun dari mereka benar-benar bisa menerima dengan akal sehat, bahwa apa yang baru saja terjadi adalah sebuah kenyataan.
Di hati mereka berharap segera terjaga. Bagaimanpun, ini terasa sebagai mimpi buruk belaka.
"Ting!"
Jantung mereka tiba-tiba kembali berdetak. Atau, mereka baru saja kembali merasakan detak jantung mereka sesaat setelah Arya menancapkan Bahuraksa di atas meja batu itu.
Akan tetapi, detak jantung mereka terasa cepat dan sangat keras seperti sedang menendang-nendang tulang rusuk di dada mereka.
Suara denting pedang yang baru mereka dengar seketika menarik paksa kesadaran mereka ke dunia. Dan sekarang ketakutan yang sangat teramat pekat menjalari setiap inci tubuh para pendekar suci itu.
Kelang, terkencing di celana dan bisa dipastikan yang lain mengalami hal yang serupa. Mungkin, bisa jauh lebih buruk. Para pendekar lain yang ada di sana sudah sejak tadi kehilangan kesadarannya.
Aura yang di lepas Arya bukan Aura pembunuh seperti pendekar-pendekar yang memiliki level kekuatan tinggi lainnya. Namun, Aura itu benar-benar berpotensi membunuh manusia yang tidak siap dengan kehadirannya.
"Aku tidak tau kepercayaan diri kalian bisa sampai setinggi ini." Arya mengedarkan pandangannya pada setiap orang di sana. "Bagaimana dengan keadaan seperti ini, kalian berniat menguasai Daratan Timur?."
Kelang mendengar itu. Tapi, saat dia hendak mengatakan sesuatu, tatapan Arya padanya seolah mengatakan ucapkan satu kata saja, maka, mati!
Dengan melihat bagaimana cara Arya menghilangkan nyawa dua pendekar suci tidak sampai dengan satu helaan nafas. Semua pendekar suci lainnya sudah mulai merasakan mual saking takutnya.
"Bukankah tadi kalian berniat menyerangku?"
Melihat tubuh itu tak lagi menyala, seseorang memberanikan diri untuk berbicara.
"Pe-pendekar ... Ka-kami ... Bu-kan anggota Se-sekte ... Ini!"
Arya menoleh pada pendekar yang ada di belakangnya. Dengan tersenyum, Arya menatapnya. "Ya. Aku tau. Lalu?"
Senyuman yang lebih terlihat seperti seringai baginya itu, terasa baru saja mencabut setengah nyawanya. Namun, dengan begitu, dia jadi memiliki sedikit tambahan keberanian untuk berbicara lebih banyak.
"To-tolong ... Le-lepaskan ... Ka-kami ... "
Arya mengernyit heran. "Tidak ada yang menahan kalian di sini. Bukankah jika kalian sudah tau tidak akan bisa melawanku, kenapa kalian tidak mencoba lari saja?"
Kata-kata Arya membuat mereka terperangah. Sungguh dengan keadaan seperti ini, tidak yang berani berfikir untuk lari. Lari? Jangankan bergerak, bernafas pun mereka takut.
"Ja-jadi, ... Tu-tuan ... Pe-pendekar ... Melepaskan ... K-kami?"
Seolah mendapat setitik harapan, pendekar suci lainnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Aku bilang, kalian bisa mencoba lari, Mungkin saja kalian bisa selamat dan hidup. Aku tidak menjanjikannya.!"
Dengan gerakan yang sangat pelan, mereka saling bertatapan. Beberapa detik berikutnya, mereka langsung lompat berhamburan.
Dengan seluruh kekuatan mereka, para pendekar suci aliran hitam yang sudah menjadi terror bagi penduduk Daratan Timur selama puluhan tahun itupun, mulai berlari meninggalkan goa tersebut.
Arya sengaja membiarkan mereka dan berbalik. Sekarang, hanya tinggal dia dan Kelang di sana.
Masih diam membeku di tempat. akan tetapi, Suara gemelutuk gigi Pendekar suci tingkat empat awal itu terdengar jelas.
"Kakek Darsapati telah menceritakan bagaimana hubungan Sektemu dengan Sekte Singa Emas." Ucap Arya. "Kau dan Kudra, selalu menyusahkan Ayahku."
"Tu-tuan—"
Saat Kelang ingin bersuara, Arya langsung memotongnya.
"Tidak perlu memohon. Kau bisa mencoba lari atau mati di sini. Apa pilihanmu?!"
Baru saja Arya menyelesaikan kata-katanya, Naluri bertahan hidupnya langsung bekerja. Tak mau menyia-nyiakan waktu barang sedetikpun, secepat Kilat Kelang berbalik dan langsung berlari.
Ketua Sekte Tanah Hitam itu memusatkan seluruh tenaga dalam yang di milikinya, ke kaki dan mulai melesat secepat yang dia mampu untuk meninggalkan Lembah Tonda tanpa memberi peringatan sedikitpun pada seluruh anggotanya yang ada di sana.
"Larilah sekuat tenaga kalian. Itulah apa yang kami rasakan dulu ... " Gumam Arya sambil berjalan keluar.
Di depan Goa, ternyata Rewanda dan Krama telah menunggu.
"Raja ... "
"Kelang dan seluruh Lembah ini, adalah urusanku. Kalian kejar pendekar lainnya. Pastikan mereka mendapatkan kematian yang paling buruk. Mulai detik ini, Tidak ada lagi tempat bagi pendekar aliran hitam untuk hidup di tanah leluhurku ini!"
"Baik!"
"Baik!"
Setelah menerima titah Raja mereka, Kedua Iblis langit langsung melesat dan berpencar.
Arya menatap seluruh wilayah Lembah Tonda. Di benar benar berfikir tidak ada baiknya membuat tempat ini beserta penunggunya tetap ada.
"KOSHA...!
"Jurus Pertama ... Gerbang Cakra!"
Saat seluruh titik-titik cakranya menyala sempurna, Arya mengangkat kedua tangan tinggi ke udara. Tak berniat menahan diri lagi, Arya mengambil sikap kuda-kuda.
"Langkah Seribu Bintang!"