ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Pasca Perang


Pertempuran telah selesai. Namun, kejadian itu menyisakan banyak kepedihan. Lamo dan Salu, masih tidak percaya bahwa di depan mereka saat ini ada tiga kepala orang, yang beberapa tahun terakhir sangat mereka kenal.


Meski tidak terlalu banyak memiliki kenangan baik dan penuh dengan persaiangan di antara mereka, Namun, Kelimanya adalah ketua Sekte Menengah di Daratan Timur dan berbagi wilayah kekuasaan di sana. kelimanya juga telah mempimpin sekte mereka masing-masing selama puluhan tahun. Tidak mudah untuk menerima kenyataan ini begitu saja.


Jauh di dalam hati keduanya, mereka sangat menyesali jalan yang telah dipilih oleh Subu, Gayatri dan Tungka. Bagaimana bisa mereka bertiga jauh tersesat dan kehilangan harga diri sebagai pendekar dan tega mengkhianati bangsa mereka sendiri demi kekuatan yang ditawarkan orang asing yang belum tentu bisa dipercaya.


Apa yang dikatakan Arya saat-saat terakhir sebelum menghancurkan tubuh ketiganya, membuka mata semua orang. Kekuatan satu orang saja, ternyata bisa memusnahkan kekuatan semu yang didambakan Subu dan yang lainnya.


Zaman mungkin telah berganti. Tapi, kekuatan sejati itu ada pada diri sendiri, bukan dari hal lain. Kini, mereka sudah melihat dengan sangat jelas, apabila seseorang memiliki kekuatan yang tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan serta kemampuannya, maka orang itu akan hancur bersama kekuatan itu sendiri.


Belum lagi saat mereka melihat bagaimana cara Arya mengabisi semuanya. Dengan hanya satu gerakan, tubuh mereka hancur dan hanya meninggalkan kepala saja. Tidak ada ampun bagi siapa saja yang berkhianat. Itulah yang mereka tangkap dari kata-kata terakhir orang yang awalnya sangat mereka remehkan itu.


Apalagi sebuah kejadian tidak menyenangkan sebelumnya kembali terjadi. Hampir saja Sekte Lembah Hantu dan beberapa pengikut Salu, ikut musnah sesaat setelah Arya mengalahkan lawan mereka.


Saat itu, entah siapa yang lebih dahulu memulainya, sorakan dan teriakan kemenangan menggema di lereng bukit tengkorak. Anggota sekte Lembah Hantu dan yang lainnya diselimuti rasa suka cita.


Namun, seketika mulut mereka semua bungkam saat menyadari air yang membunuh semua lawan sebelumnya, juga mulai menyelimuti tubuh mereka.


Sadar siapa yang mampu melakukan semua itu, mereka langsung menoleh pada Arya. Namun, Arya balas menatap mereka dengan tajam.


"Bagaimana kalian bisa tertawa saat melihat mayat-mayat saudara kalian sendiri, terbujur di depan mata kalian?"


Kata-kata Arya itu memukul tepat di kepala mereka.


Bodoh!


Itulah satu kata yang paling tepat bagi mereka untuk menggambarkan bagaimana diri mereka sendiri saat ini.


Ciel dan Bai Hua tiba sesaat pertempuran sudah selesai. Meski tidak tau bagaimana semua berlangsung, namun saat keduanya melihat banyak tubuh tergeletak di tanah seperti orang yang barusaja tenggelam, keduanya sudah mengerti siapa yang melakukan semua ini.


"Kakak! Kau tidak apa-apa?"


Tadinya, Ciel sangat cemas saat melihat keadaan Luna dari kejauhan yang tengah di obati Bai Fan. Namun saat dirinya mendekat, Arya sudah terlebih dahulu berada di sana.


"Ya! Aku sudah tidak apa-apa!" Luna menatap Bai Fan dan Arya. "Mereka telah menyembuhkanku"


Bai Fan menggaruk kepalanya dengan canggung. Pasalnya, dia hanya mampu menghentikan pendarahan Luna. Tapi, saat Arya datang, pemuda itu dengan mudahnya menyembuhkan itu. Bahkan, sekarang bekasnya pun tidak tersisa.


Mendengar jawaban Luna itu, Ciel langsung bernafas lega.


Sementara itu, Bai Hua sepertinya tidak harus menanyakan keadaan kakeknya. Karena, tidak ada tanda-tanda luka serius dari Bai Fan yang harus dia cemaskan.


"Bagaimana bisa kau bilang kau yang menang? Aku menangkap jauh lebih banyak dari dirimu!"


"Aku menumbangkan jauh lebih banyak musuh darimu, hanya saja tanganmu bisa membawa lebih banyak, Itu saja!"


"Kau selalu punya alasan, akui saja kekalahanmu!"


Kelimanya bisa mendengar pertengkaran Rewanda dan Krama saat membawa beberapa tubuh pendekar kembali ke sana.


"Ciel!, Aku butuh bantuanmu!"


Ciel menatap Arya yang berjalan menjauh. Gadis itu langsung berjalan mensejajari pemuda itu.


"Apa yang bisa aku lakukan?"


Arya berhenti tepat di tumpukan terbanyak tubuh dari musuh.


Tanpa menunggu lama, mata Ciel langsung melebar. Gadis itu langsung menyadari bahwa tubuh-tubuh itu ternyata belum mati.


"Kau tidak membunuh mereka?!"


"Tidak! Aku hanya membuat mereka tidak sadarkan diri!" Jawab Arya lalu menoleh pada Ciel dan kembali bertanya. "Jadi, bisakah kau melakukannya?"


Ciel mengangguk. "Ya, aku bisa!"


"Bagus. To— "


Belum Arya selesai mengucapkan kata-katanya, Bai Hua langsung memotongnya.


"Senior! Jika begitu, berarti di bukit sana, kau... "


Bai Hua tidak menyelesaikan kata-katanya, namun gadis itu langsung maju dan menatap Ciel. Seketika mata Ciel kembali melebar.


Bai Hua dan Ciel langsung menyadari sesuatu. Jika jurus ini hanya membuat musuhnya pingsan, berarti para tawanan di bukit yang mereka tinggalkan tadi, kini dalam keadaan bahaya.


"Jika, kalian mencemaskan musuh yang berada di bukit sana, mereka sudah mati!" Ucap Arya menenangkan, karena dia mengerti apa yang tengah dicemaskan oleh kedua gadis itu.


"Baiklah, jika begitu! Aku akan membedakannya."


Setelah mengatakan itu, Ciel menggunakan kekuatan matanya untuk melihat titik-titik cakra setiap tubuh yang dikumpulkan Rewanda dan Krama yang ada di depannya.


Tak lama, Ciel langsung menunjuk beberapa dan menyisihkan yang lainnya. Segera Arya dan yang lainnya memisahkan tubuh-tubuh itu.


"Kalian bantulah teman kalian yang cedera dan sebagian lainnya, ikut aku. Kita harus ikut membantu orang-orang itu!"


Lamo memerintahkan anggota untuk membereskan sisa-sia perang. Sementara dia berniat membantu apa yang tengah di kerjakan Arya.


Apalagi, sekarang tubuh-tubuh itu semakin banyak. Mereka melihat Rewanda dan Krama yang mengumpulkannya, bekerja semakin cepat saja.


"Senior, sebenarnya apa tujuanmu melakukan ini?"


Bai Fan dan Luna juga akan menanyakan hal yang sama, mereka mengira Arya benar-benar telah menghabisi semuanya. Namun, sepertinya Arya tidak sekejam yang mereka kira.


Tapi, Bai Fan memiliki tanda tanya lainnya. Jika Arya bisa menggunakan tenaga dalam sebesar ini, dan mengendalikannya dengan sangat baik seperti yang barusaja dia sampaikan, maka, di negaranya, Arya pasti sudah dianggap sebagai salah satu kultivator tingkat tinggi.


"Tidak dari mereka semua telah menelan Pil Zulu. Aku tidak bisa membedakannya. Tapi, mereka yang belum menelannya masih bisa di beri kesempatan, Namun..."


Arya menjelaskan bahwa, satu-satunya cara saat ini untuk menghindari pemakan Pil Zulu dari efek sampingnya adalah dengan menghancurkan titik cakra mereka. Akan tetapi, Selamanya orang itu tidak akan lagi bisa menjadi pendekar.


"Kalian, ikat mereka secara terpisah!"


Bai Fan langsung mengerti apa yang akan dilakukan Arya setelah ini. Jadi, guna berjaga-jaga, dia memerintahkan anggota Lamo dan Salu untuk mengikat mereka semua.


Sementara itu, Lamo dan Salu tidak berani bersitatap dengan Arya. Keduanya diserang rasa malu dan takut disaat bersamaan. kedua ketua Sekte itu, menundukkannkepala sambil memisahkan tubuh-tubuh yang sedang tak sadarkan diri itu, sesuai arahan dari Ciel.


Melihat bagaimana cara Arya membunuh tiga ketua sekte lainnya, mereka curiga bahwa alasan karena mereka telah meremehkan pemuda itu sebelumnya, bisa membuat keduanya mengalami hasil yang sama.


Keduanya hampir saja pingsan saat tiba-tiba Arya mendekat dan langsung menegur mereka.


"Tuan Lamo dan Tuan Salu!... "