ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Racun


"Anak muda. Jangan mempermainkanku!"


Meski sempat berharap, tapi kini Edward tampak tidak senang. Pasalnya, dia tidak melihat Arya memiliki tenaga dalam sedikitpun.


Meski memiliki ilmu pengobatan tingkat tinggi, Edward sangat mengetahui bahwa untuk mengobati tubuhnya, seseorang harus memiliki tenaga dalam yang cukup besar juga. Yang mana, dia tidakĀ  melihat Arya memiliki itu sama sekali.


"Aku tidak pandai bermain kata-kata. Tapi, jika kau tidak mempercayainya, maka itu tidak masalah. Aku hanya mencoba membantu, tidak lebih."


Kata-kata Arya membuat Edward meragukan penilaiannya. Jika difikirkan kembali, tidak ada untungnya bagi pemuda di depannya ini mengungkit penyakit.


Edward berpikir keras untuk menyampaikan kata-kata selanjutnya. Namun, Kenneth tiba-tiba mewakilinya.


"Tuan Muda, maaf menyela. Apakah kau mengenal seorang tabib yang handal? Mengingat kau bisa mengetahui penyakit pemimpin kami hanya dengan melihatnya saja. Apakah dia gurumu?."


Edward merasa pertanyaan Kenneth sangat masuk akal. Itu kemungkinan paling besar saat ini.


"Guruku, bukan seorang tabib. Tapi, aku rasa dia juga bisa mengobati Tuan Edward."


"Dimana dia? Apakah dia ada di Daratan ini?!" Tanya Edward antusias.


Arya menggeleng. "Tidak, dia tidak sedang di daratan ini."


Raut kecewa langsung muncul di wajah Edward. Namun, dia tidak langsung berputus asa. "Katakan padaku, dimana gurumu sekarang?"


Arya menunjuk langit-langit bangunan itu. "Dia sudah kembali ke tempatnya, di langit!"


Semua yang ada di sana reflek melihat keatas. Mereka seolah memahami apa yang dimaksud Arya. begitu juga dengan ketigabgadis yang bersamannya. sampai saat ini pun, mereka yakin Arya tidak berbohong. Bahkan pada Edward sekalipun.


"Oh, maafkan aku." Ucap Edward.


"Tuan Edward. Tidak perlu kecewa begitu. Bukankah aku bilang, bahwa aku bisa menyembuhkanmu?"


Mendengar itu, membuat Edward dan para petinggi Oldenbar lainya mengerutkan kening mereka. Tidak bisa mereka pungkiri bahwa Arya sangat percaya diri saat mengatakan hal tersebut.


"Tuan Muda, Maaf. Bukannya aku ingin menyinggungmu. Tapi, bagaimana kami mempercayai kata-katamu, sementara kami melihat kau tidak punya tenaga dalam sama sekali."


Pertanya Kenneth itu, lagi-lagi mewakili semua petinggi Oldenbar. Terkhusus bagi Edward.


"Ya! Kami sudah menjelajahi semua benua. Kami tidak pernah menemukan seorang tabib yang tidak memiliki tenaga dalam sama sekali." Tambah Edward.


"Haha! Kalian mungkin sudah berkeliling dunia, tapi aku pastikan bahwa kalian belum begitu mengenal Dunia."


"Tuan Edward. Menurutmu, bagaimana Tuan Muda kami, bisa mengetahui kondisi tubuhmu yang unik? Tidakkah kau merasa itu sedikit, aneh?" Luna menambahkan apa yang ditertawakan adiknya.


Mata Edward melebar. Karena racun yang sudah terlanjur menyebar pada tubuhnya sudah sangat lama, hingga dia melupakan kondisi tubuhnya yang sebenarnya terlahir dengan kondisi unik.


Hanya satu hal yang terlintas di kepalanya saat itu. Memang sudah sedikit tidak wajar dengan kehadiran keempat orang itu di sini. Namun, kini Edward mencoba memastikan kesimpulannya.


"Mungkinkah, kalian...?"


"Ya. Tidak hanya kau yang memiliki kondisi unik pada tubuhmu, di sini!"Tegas Luna.


Sebenarnya ketiga gadis itu tidak begitu mengerti kenapa Arya bertindak sampai sejauh ini. Namun, karena keadaan, mereka terpaksa mengikuti apa yang Arya lakukan. Bertanya di saat seperti ini, tentu saja akan menimbulkan kecurigaan.


"Apakah kau tidak merindukan kekuatanmu yang sebenarnya?!" Tanya Arya datar seolah sudah mengetahui kelebihan dari tubuh yang dimiliki Edward.


Perkataan Arya itu membuat Edward sangat antusias. Tentu saja dia sangat merindukan kekuatannya. Sebenarnya ini sudah menjadi beban bagi dirinya sejak lama.


"Tuan Muda. Sampai di sini, kau telah membuatku berharap sangat besar. Katakan bagaimana caramu mengobatiku?."


"Tuan Edward. Bukankah anda terlalu bersemangat? Hal tersebut sangat mudah bagi tuan kami. Tapi... "


"Hahahaha! Tentu saja, aku akan memberikan kompensasi yang sangat besar jika kalian benar-benar bisa menyembuhkanku!." Edward tertawa lantang. Karena baru menyadari apa yang membuat gadis itu menggantung kata-katanya.


"Baiklah jika begitu. Aku akan mulai dengan mengeluarkan seluruh racun itu dari tubuhmu!"


Setelah mengatakan itu Arya langsung berdiri. Hal itu membuat Kenneth dan para petinggi Oldenbar lainnya terkesiap.


Mereka tidak pernah melihat Arya bergerak banyak sejak tadi. Kini pemuda tersebut sudah berjalan menghampiri Edward.


"Tuan Muda. Apa yang akan kau lakukan?!" Tanya salah seorang petinggi, was-was.


Sambil berjalan Arya menatap orang itu dan berujar. "Apa aku harus mengulangi kata-kataku?" kemudian dia kembali menoleh pada Edward. "Tuan Edward. Berdirilah. Kita lakukan di sini saja."


"Hah?! ... Apa?!" Edward tidak bisa menututupi keterkejutannya.


"Hmm... Tampaknya aku memang harus mengulangi kata-kataku sekali lagi. Berdirilah, aku akan mengeluarkan racun yang ada di tubuhmu, Sekarang!"


Para petinggi Oldenbar langsung mengukur jarak antara mereka, Arya, dan ketiga gadis itu. Mengira-ngira apa yang mungkin akan terjadi. Namun, kesiagaan mereka di sadari oleh gadis-gadis tersebut.


"Hahaha! Kalian begitu lucu. Apakah menurut kalian kami akan mencelakai orang yang telah mengundang dan memberikan kami makanan seenak ini?"


"Ya. Setidaknya, kami harus memiliki alasan yang cukup untuk membunuh, bahkan untuk semut sekalipun!"


Gaya bicara ketiga gadis itu selalu membuat mereka memutar otak. Beberapa saat yang lalu, ketiganya terlihat sangat dingin dan kejam. Sekarang, semuanya menunjukkan gelagat tidak akan terjadi masalah apapun.


"Apa yang terjadi?!"


Tiba-tiba Edward bertanya histeris. Meski tidak melihat langsung, tapi dia merasakan bahwa tubuhnya sedang di selimuti sesuatu, beberapa saat setelah Arya menaruh telapak tangan di punggungnya.


Hanya Ciel di sana yang bisa melihat saat Energi yang selalu menyelubungi Arya, berpindah pada Tubuh Edward. Hanya saja Ciel merasa sedikit heran.


Ini bukan kali pertama dirinya melihat Arya mencoba mengeluarkan racun dari tubuh seseorang. Dia dan Luna pernah melihat itu sebelumnya. Tepatnya itu saat Arya mengobati Bai Hua. Dan hal tersebut membuat Arya pingsan.


Akan tetapi, kali ini semua terlihat sangat mudah baginya. Jika bukan racun yang di dalam tubuh Edward tidak sekuat racun yang pernah ada di tubuh Bai Hua, maka bisa dipastikan bahwa Kekuatan atau teknik penyembuhan Arya sudah jauh meningkat.


"Tuan Edward. Tenangkan dirimu.!"


Setelah mendengar kata-kata Arya itu, Edward langsung tenang. Dia kini merasakan sebuah energi dingin yang sangat nyaman masuk keseluruh pori-pori tubuhnya.


Tak lama, dia merasakan gejolak yang aneh di seluruh pembuluh darahnya. Kejadian itu berlangsung sekitar dua sampai tiga menit, hingga akhirnya Edward merasakan mual yang sangat hebat.


"Hueeek...!"


Edward memuntahkan segumpal darah yang berwarna hitam kelantai.


Semua mata yang melihat itu, meyakini gumpalan darah tersebut mengandung racun yang selama ini berada di tubuh pemimpin tertinggi Oldenbar itu.


Kejadian itu tidak hanya berhenti sampai disitu saja. Kini Edward merasakan gejolak lain di sekitar jantungnya. Hanya butuh beberapa menit saja, sebelum akhirnya energi yang tadi berada di dalam tubuhnya menghilang.


Kejadian itu, diiringi dengan hilangnya rasa sakit di sekujur tubuh yang selama ini dia tahan. Bertahun-tahun sudah Edward tidak merasakan sensasi seperti ini ditubuhnya. Saat itu dia langsung menyadari bahwa tubuhnya sudah, sembuh.


"Aku... Sembuh...!!?"


Edward berteriak histeris. Namun wajahnya masih menunjukkan wajah tidak percaya.


Dia segera berbalik untuk mencari Arya. Ternyata dia tidak menemukan pemuda itu di belakangnya.


"Dimana, Dia?"