
"Bukankah dia pemuda yang bersama empat orang itu?!"
Salah seorang mengingat siapa Arya dan meneriakkannya.
"Ya! Aku ingat sekarang. Dia pemuda yang tidak memiliki tenaga dalam itu!"
Suara tersebut berasal dari pendekar-pendekar yang berada di belakang Gurat dan Monka. Tentu saja mereka mengingat Arya.
Sehari yang lalu, mereka semua menertawakan pemuda tersebut hingga membuat dia malu dan berlari keluar. Setidaknya, itulah yang mereka fikirkan saat itu.
"Bagaimana seseorang bisa selemah itu? Bukankah itu sangat menyedihkan?!"
"Hahahahahha!"
"Hahahhaha!"
Sekarang ribuan orang menetawakan Arya. Sontak Itu membuat rekan-rekannya langsung menjadi kesal.
"Aku benar-benar berharap mereka mati hari ini!"
Ciel yang mengingat bagaimana mereka mempermalukan Arya, masih menyimpan dendam. Apalagi sekarang jumlah orang yang meremehkan Arya semakin banyak. Kekesalannya semakin meluap-luap.
Bai Hua mengangguk setuju.
"Jurus Penghancur kepala tanpa Ampun, Ya! Senior harus menghancurkan otak pendekar-pendekar yang besar kepala ini!."
"Bukankah lebih baik jika menggunakan jurus peremuk jantung?!"
"Tidak-tidak. Jika keadaan seperti ini, kalian tau jurus apa yang paling tepat, bukan?"
Ketiganya menatap Bai Fan. Mereka serentak mengangguk setuju.
"Ya! Aku rasa itu yang paling cocok, untuk membungkam semua bedebah ini!"
Setelah mendengar itu, Sekarang mereka semua menoleh pada Bai Hua.
"Ada apa? Kenapa kalian semua melihat ku seperti itu?"
Bai Fan menghela nafas dan melepaskannya. "Hua'er, sejak kapan kau pandai mengumpat seperti itu?!"
Tidak menjawab kakeknya, Bai Hua malah menoleh pada Ciel.
"Kenapa kau malah menatapku?! Aku tidak pernah mengajarkanmu cara mengumpat!"
Ciel tidak terima saat Bai Hua menoleh padanya. Menurutnya, itu sama saja dengan Bai Hua mengatakan bahwa dialah yang mengajarkan Bai Hua mengumpat.
Berbeda dengan mereka. Kaungsaji yang berdiri tidak jauh dari keempatnya, mendengar semuanya saat mereka sedang membahas itu.
Tentu saja hal tersebut membuatnya menjadi sedikit kebingungan. Bagaimana bisa mereka menganggap membahas tentang umpatan bisa menjadi sangat penting di saat seperti ini.
"Maaf, sebenarnya apa yang sedang kalian bahas?"
Tidak menjawab pertanyaan Kaungsaji, Bai Fan mengalihkan pembicaraan.
"Tuan Kaungsaji. Sebaiknya apapun itu, ikuti saja apa yang Arya katakan. Kita akan keluar dari sini dengan selamat tanpa mengeluarkan keringat sedikit pun."
"Tidak bisa! Itu akan membahayakan nyawa Arya. Kami tidak- "
Belum sempat Kaungsaji menyelesaikan kata-katanya, Luna langsung memotong.
"Apa yang bisa dilakukan sekawan itik pada seekor singa, meskipun jumlah mereka ada sepuluh ribu?"
Kaungsaji terdiam dan matanya melebar. Tidak tau harus menjawab apa. Bukan karena tidak tau jawabannya. Tapi, pendekar suci dari sekte Singa Emas tersebut sama sekali tidak mengerti maksud dati pertanyaan Luna tersebut.
Bai Fan berjalan mendekatinya, "Sudahlah Tuan. Kalian akan segera mengetahuinya!" katanya sambil menepuk-nepuk pundak Kaungsaji dan segera berlalu.
Keempatnya berjalan mendekat pada Arya dan Darsapati yang yang tampak sedang membahas sesuatu.
Tentu saja Darsapati tidak menyetujui ide Arya untuk keluar dan meninggalkannya sendiri bersama ribuan pendekar yang jelas akan membunuhnya jika sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Apalagi, setelah menyadari bahwa Arya sangat lemah. Baginya, bernegosiasi dengan Arya, hanya sampai saat pemuda itu bicara dan mengatakan dimana harta itu berada. Setelahnya, Gurat dan seluruh pengikutnya akan menghabisinya. Perkara yang sangat mudah.
"Baiklah! Di sini, tidak hanya dirimu yang menginginkan harta tersebut. Selain kami, tentu saja kau tidak melupakan mereka, bukan"
Saat pendekar suci tersebut mengatakan itu, pandangan semua orang terararah pada kelompok ke tiga. Sejak tadi, kelompok tersebut hanya diam tanpa terlihat ingin melakukan apapun.
"Hahahahha! Tentu saja kami tidak melupakan mereka. Karena, sejak awal mereka merupakan bagian dari kelompok kami! Hahahaha!"
Sangat tidak terduga. Kelompok yang memiliki kekuatan banyak oendekar Raja dengan senjata sihir tersebut, ternyata bagian dari serikat petualang dan kerajaan.
Tawa Gurat itu, disambut dengan tawa dua kelompok yang ternyata satu kubu tersebut. Seketika keadaan di sana semakin terasa berbahaya.
Jika sudah begitu, sejak awal. Sudah bisa dipastikan bahwa tidak ada niat dari serikat petualang dan kerajaan untuk memberikan bagian harta bagi pihak lain.
Namun, ada kejadian tidak terduga lainnya. Saat mereka semua tertawa, pendekar suci kapak kembar lainnya, langsung melesat menuju Arya.
Semua orang langsung terdiam saat sebuah kapak sudah berada di lehernya.
"Dengan begini, aku penasara apakah kalian masih bisa tertawa? Aku lebih suka, kita semua tidak mendapatkan apapun, jika sudah seperti ini keadaannya!"
Darsapati dan Kaungsaji merasa kecolongan. Mereka tidak menduga bahwa pendekar Suci tersebut sudah menargetkan Arya.
"Hei! Jangan gegabah. Kau bisa saja membunuhnya. Dia tidak memiliki tenaga dalam!" Gurat langsung berteriak histeris, panik.
Pendekar Suci tersebut menyeringai. "Seperti itulah rencanaku. Sekarang, cobalah tertawa seperti tadi!" Ancamnya.
"Satu tetes saja darah keluar dari tubuhnya, maka kau akan mati dengan sangat mengerikan!"
Saat mengatakan hal tersebut, Darsapati dan Kaungsaji langsung mengeluarkan Aura pembunuh yang sangat pekat. Bagi mereka, harta itu tidak sepenting nyawa pemuda yang kini sedang terancam.
"Huh! Darsapati, jika kau bisa membunuhku, apakah kau berfikir pemuda ini tetap akan hidup? Bukankah posisi pemuda ini sama saja?"
Darsapati terdiam. Memang, sekarang posisi mereka cukup rumit. Bahkan sebenarnya, dia tidak tau harus melakukan apa. Segera dia menarik Aura pembunuhnya.
Begitu juga dengan Kaungsaji. Namun, saat dia memperhatikan keempat teman Arya, mereka seolah tidak peduli. Itu belum seberapa. Karena sesaat lagi mereka akan menyaksikan hal yang sangat tidak masuk akal.
"Ya! Ya! Ya! ... Bicaralah sesuka hati kalian. bagaimanapun, kalian semua akan mati. Kami keluar dulu."
Sehabis mengatakan itu, Ciel dengan santainya melambaikan tangannya sambil berlalu berjalan keluar.
Bai Hua menyusul dengan wajah yang hampir sama tak pedulinya. "Senior, Kami menunggumu di depan!"
Luna dan Bai Fan saling berpandangan.
"Tuan Darsapati dan Tuan Kaungsaji. Kalian bisa tetap di sini, atau keluar bersama kami." Tawar Bai Fan, dengan senyuman yang menurut keduanya, aneh.
"Jika, kalian masih ingin makan dengan lahap beberapa hari kedepan, sebaiknya kalian mengikuti kami keluar saat ini." tambah Luna.
Keduanya melongo melihat keempat teman Arya yang beberapa waktu yang lalu seolah ingin berjuang sampai mati bersama mereka itu. Sekarang seolah semuanya malah menjadi tudak perduli dengan keselamatan Arya.
"Saudara Bai. Bukankah kalian sebelumnya mengatakan akan bertempur bersama kami?" Tanya Darsapati, heran.
Sambil berjalan Bai Fan menjawab. "Ya! Kami mengatakan itu. Tapi, kami mengatakan akan bertempur hanya untuk menunggu. Dan sekarang, sudah tidak perlu lagi. Jika kalian memutuskan tetap di sini, maka nikmati saja pertunjukkannya."
Sebelum pergi, Luna menyempatkan diri mendekati Arya yang sedang dalam keadaan sebuah kapak berada di lehernya.
Sempat membuat pendekar suci pemilik kapak itu wasapada namun sesaat setelah itu, dia pun mengernyit, heran.
"Arya! Kami tunggu di depan. Lakukan dengan cepat!"
Setelah mengatakan hal tersebut, keempatnya pun berlalu, mereka berjalan keluar tanpa memperdulikan Arya sama sekali. Tidak hanya pada Arya, mereka benar-benar tidak perduli dengan apa yang akan terjadi.
Keempatnya tampak berbincang-bincang santai, meninggalkan semua orang di belakang mereka dengan mulut ternganga.
"Bukankah pemuda yang sedang di sandera saat ini, karena baru saja ingin menyelamatkan nyawa mereka? Sikap seperti apa itu?!"