
Satu minggu sebelumnya, di Istana Negeri Bukit Batu. Dua orang Sultan berbicara berhadapan.
Tidak ada wajah cerah dari keduanya selain beradu tatapan yang sama tajamnya.
Harupanrama begitu geramnya saat mendengar sendiri pengakuan Sultan negeri Bukit Batu yang kini berada di depannya itu.
Sambil menunjuk wajah si Tungkeh Aram, Harupanrama tak bisa lagi menahan amarahnya.
"Tungkeh Aram ... Kau sungguh tak berguna. Bagaimana kau bisa bekerja sama dengan dengan mereka?"
Harupanrama di buat sangat kesal karena dengan merasa tidak bersalah sedikitpun, orang yang ada di depannya itu, berkata bekerja sama langsung dengan salah satu pihak asing di Daratan Barat ini.
Di tunju-tunjuk tepat di wajahnya apalagi di istananya sendiri, membuat Tungkeh Aram tak kalah berangnya.
"Harupanrama, jaga bicaramu dan ini adalah negeriku. Apa hak mu mengaturku?"
"Ya, ini negerimu ... Dan kau Sultannya. Itu kenapa kau sungguh tak berguna."
Mendengar itu, Tungkeh Aram mendengus. "Huh, kalian berada di ujung sana ... Kalian tak tau apa yang terjadi di sini. Sekarang, kau berkata seolah kau mengetahui segalanya."
Semua orang di daratan ini tau bahwa hubungan kedua Sultan ini tidak pernah baik, bahkan sejak saat mereka berdua masih sangat muda.
Di tambah saat ini keduanya memiliki pandangan berbeda, itu membuat keduanya semakin saling membenci. Jika keduanya bukan Sultan, sudah dipastikan saat ini keduanya mencabut pedang bersabung nyawa.
"Celakalah negeri Bukit Batu, mendapat Sultan bebal tak terkira ... Pantas saja sang Putra tak setuju, Sang ayah tega menjual rakyatnya."
"Hei Kau Harupanrama. Jika kau melepas nama, kita keluar untuk bicara. Aku tak kira kau siapa, bicara lagi kau hilang nyawa."
Harupanrama menarik nafas dalam dan melepasnya kasar. Tiba-tiba saja dia mengingat kata-kata Karpatandanu saat sebelum Sultan negeri Pasir Putih itu pergi dan menyerahkan tugas ini, pada dirinya sendiri.
"Jika kau pikir aku takut kehilangan nyawa, sungguh kau sudah salah mengira. Aku tak bicara mewakili ambang, aku berkata untuk kita semua."
Tungkeh Aram tersenyum miring. "Kalian tak bertetangga dengan Malka, mudahnya mulut asal bicara. Jika aku tak berkuasa, sudah lama Bukit Batu ini musnah."
Harupanrama kehilangan kata-kata katanya. Memang benar bahwa dia tak pernah menyukai Tungkeh Aram sebelumnya. Itu kerena betapa angkuhnya orang itu.
Masalahnya, sangat tidak wajar orang seangkuh dan sesombong orang yang kini memangku tahta sebagai Sultan Bukit Batu ini, mau menundukkan kepala dan bekerja sama dengan serikat Oldenbar begitu saja.
Harupanrama mencoba sedikit melunak walaupun itu terasa sulit baginya. Akan tetapi, dia sangat mengerti tugasnya saat ini begitu pentingnya.
Jika Bukit Batu menolak bekerja sama, maka semua ini bisa di bilang tidak ada artinya. Apa guna berperang jika akhirnya melawan salah satu negeri yang ada di daratan ini.
Sangat berat baginya untuk mengucapkan kalimat yang selanjutnya. Dengan Sedikit gemetar Harupanrama melunakkan suaranya.
"Aram ... Mari kita melepas nama. Kau tak Sultan maka akupun juga. Benar aku tak menyukaimu tapi bukan berarti aku tak menghormatimu. Sebagai pendekar, sejak muda kita sering bertarung dan sampai saat ini, kita tak tau siapa pemenangnya. Aku tak percaya jika kau tunduk begitu saja."
Kening Tungkeh Aram berkerut. Tidak pernah dia mengira akan mendengar Harupanrama akan berkata begitu merendah di depannya.
Lama dia berfikir untuk mempertimbangkannya, lalu Sultan Bukit Batu itu kembali bersuara.
"Haru ... Kau tak mengenal Nippokure apalagi Oldenbar. Tidak ada yang baik tentang mereka. Akan tetapi, setidaknya Oldenbar sedang tak memihak Malka dan mereka memiliki lain agenda."
"Lain Agenda? ... Aram, apa maksudmu?"
Tungkeh Aram menggelengkan kepala, lalu kembali berbicara.
"Itu kenapa aku katakan kalian tak tau apa-apa ... " Tungkeh Aram mengangkat tangan dan menunjuk ke sebuah arah. "Timur ..."
"Timur? ... "
Tungkeh Aram mengangguk "Ya, itulah agenda mereka saat ini."
Harupanrama semakin tak mengerti. "Aram, apa maksudmu dengan timur?"
Mata Harupanrama segera melebar. Saat itu, dia seolah menyadari sesuatu.
"Timur ... Maksudmu negeriku dan negeri pasir putih?" Seru Harupanrama.
Tungkeh Aram menggeleng "Lebih Jauh, tepatnya Daratan Timur ... "
Saat Tungkeh Aram menyelesaikan kata-katanya. Harupanrama tetap sama terkejutnya. Bahkan saat ini dia terperangah.
"Oldenbar Akan menyerang Daratan Timur?!"
"Tidak ... Mereka akan merebut dan menguasainya ... !"
Selanjutnya, Tungkeh Aram menjelaskan secara detil agenda serikat Oldenbar pada Harupanrama.
Tungkeh Aram tidak menyangka bahwa Sultan Negeri Ambang itu, tetap sama cemasnya.
"Haru ... Kenapa kau begitu cemasnya? Bukankah kau sama sepertiku? Daratan itu sama sekali tidak berarti ... Aku tak tau apa yang mereka cari di sana. Akan tetapi, bukankah hal itu akan baik untuk daratan ini? Setidaknya—"
"Tidak, tidak ... Itu tidak baik sama sekali."
Saat itu juga Harupanrama segera berdiri. "Aram, kapan mereka berangkat?"
Tungkeh Aram mengernyit heran. "Bukankah lebih cepat lebih baik?"
Harupanrama menggeleng cepat. "Katakan saja, kapan?"
Tungkeh Aran megnggeleng. "Bahkan Jika kau ingin mengejar mereka dan berniat menghentikan mereka sekarang, saat kau sampai di pelabuhan mereka pasti sudah berlayar."
Mendengar itu, Harupanrama segera berbalik dan berderap ingin pergi begitu saja. Akan tetapi Tungkeh Aram menghentikan langkahnya.
"Dua Ratus ribu prajurit terlatih, Haru ... Itulah jumlah mereka."
Harupanrama tertegun saat mendengarnya. Namun, sebelum dia benar-benar pergi, Sultan negeri Ambang itu berbalik mengingatkan Tungkeh Aram.
"Aram ... Saat waktunya tiba. Jika perang pecah. Aku meminta padamu ... Berpihaklah pada tanah, dimana langitnya kita junjung bersama ... "
Tungkeh Aram memang tak begitu mengerti penjelasan dari Harupanrama, akan tetapi saat ini dia tau bahwa apa yang dikatakan Sultan Negeri Ambang itu, di ucapkan dengan tulus.
Hanya saja, begitu banyak yang sudah terjadi di negerinya yang negeri manapun di daratan ini tidak mengalaminya.
"Braaaaaaakkkkkk ... !"
Tungkeh Aram Baru saja menghancurkan meja di depannya dan berseru geram.
"Bangsat kau ... Adiaksa ... !"
Sejak meninggalkan istana Bukit Batu, Harupanrama langsung menuju negeri Jampa. Menurutnya, di sanalah semua orang berada.
Berita terakhir yang dia dengar dari Karpatandanu tentang keberadaan mereka, Rangkupala dan yang lainnya sedang berada benteng Nippokure di Kota Pinang Merah.
"Oldenbar Sial ... Mereka benar-benar tidak bisa terbaca."
Sembilan hari lebih lamanya berkuda, Benteng Nippokure sudah di depan matanya. Dua Daratan dalam bahaya. Itulah pikiran yang selalu berputar-putar di kepalanya saat menuju tempat ini.
Begitu memasuki benteng, dia tidak memperdulikan sambutan semua orang. Bahkan dua Sultan lainnya yang berada di sana tidak sempat disapanya.
Begitu melompat dari kudanya, Sultan Negeri Ambang itu berseru langsung bertanya.
"Di mana Tuan Muda Arya?"