
Setelah teriakan sesaat setelah Arangga sadar itu, wajah pria yang sudah sangat sepuh itu terlihat kebingungan. Entah apa hal terakhir yang dia ingat sebelum akhirnya memejamkan mata.
"Aranggaaaa!!"
Teriakan berikutnya berasal dari Kulkan yang menggunakan wujud Arya. Di wajahnya tampak kemarahan yang tak jauh berbeda dari apa yang ditunjukkan Arangga sebelumnya.
Arangga yang masih dalam keadaan kebingungan, menatap pada Kulkan dengan wajah keheranan. Tidak menjawab, pahlawan itu malah balik bertanya padanya.
"Siapa kau?"
Hal itu semakin memicu kemarahan Kulkan yang kian memuncak. Dengan cepat mahkluk yang sekarang berwujud Arya itu melompat dan berniat menyerang Arangga.
Dua bola api menyala di Kepalan tangannya. Sepertinya, Kulkan benar-benar berniat menghancurkan Arangga.
"Boom!"
Ruangan itu bergetar seketika saat tinju Kulkan berbenturan dengan kepalan tinju Arangga.
"Tinju api ... Singa api!"
Singgasana yang ada di belakang Arangga hancur seketika akibat gelombang kejut yang di sebabkan keduanya. Arya yang berdiri tidak jauh dari sana, terpental mundur dan terjatuh beberapa meter dari tempat terakhir dia berdiri.
Keduanya langsung saling berbalas pukulan. Saat salah satunya melancarkan serangan, yang lain akan menangkis atau menghindar. Itu terjadi berkali-kali hingga bola-bola api mulai beterbangan dengan sangat cepat menghantam dan mengahancurkan apa saja yang ada di sana.
Jika terus dibiarkan begitu, tidak butuh lama bagi keduanya menghancurkan tempat tersebut.
"MATRA!"
Seketika saat itu muncul air dibawah kaki mereka. air yang membentuk tabung itu langsung mengurung dan membuat keduanya tenggelam di dalamnya.
Meski sudah didalam Air, api masih menyala di kedua tangan mereka. Tapi, kejadian itu keduanya terkejut. Baik Kulkan ataupun Arangga, langsung menoleh pada Arya.
"Omi Obi!"
Kedua musuh lama itu terbelalak saat melihat tubuh Arya menyala. Terlebih lagi Arangga, dia benar-benar tidak menyadari kehadiran Arya sebelumnya.
"Jika kalian ingin saling menghancurkan, maka, biar aku saja yang menghancurkan kalian berdua!"
Pertarungan keduanya membuat Arya kesal, apalagi sebelumnya dia sempat terpental karena keduanya.
"Bagaimana? Apakah kalian ingin mencobanya?" Tantang Arya pada keduanya.
Setelah mengatakan itu, Air yang tadinya mengurung keduanya kini langsung terkonsentrasi untuk menekan tubuh mereka.
Hal itu, Jelas hal itu membuat Kulkan terkejut. Lebih delapan tahun lamanya makhluk tersebut bersemayam di tubuh Arya. Segala hal yang Arya fikirkan, bisa di bacanya.
Sebelumnya, Kulkan seolah mengetahui semua kemampuan pemuda itu. Akan tetapi, saat ini Kulkan baru menyadari, pemuda ini bukan seperti yang dia fikirkan sebelumnya.
'Apa pemuda ini jauh lebih kuat dari apa yang aku duga selama ini?'
Akan bahaya jika di dunia ini Kulkan kehilangan wadah. Karena ada kemungkinan kesadarannya akan punah seiring hancurnya wadah yang berwujud Arya tersebut.
Api di tangan Kulkan padam. Tanda dia tidak ingin lagi meneruskan pertarungan ini.
Begitu juga dengan api yang ada di tangan Arangga. Namun, berbeda dengan Kulkan, dia tidak mengerti bagaimana dirinya tidak menyadari keberadaan Arya sebelumnya.
Melihat keduanya telah kehilangan niat bertarung mereka, Arya menarik jurusnya.
Air yang tadi menyelimuti tubuh Arangga dan Kulkan, langsung merenggang dan jatuh mengguyur lantai di tempat keduanya berdiri.
Tak berbasa-basi lagi, Arya langsung bertanya pada Arangga.
"Kau meninggalkan sebuah tanda dan ingatan agar aku bisa membangkitkanmu. Bukankah, seharusnya sisa ingatan yang kini tersegel itu, pertanda bahwa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan padaku?"
Mendengar pertanyaan Arya, di kepala Arangga kini sedang terjadi sesuatu. Terlihat setelah Arya mengatakan hal tersebut, Arangga langsung memegang kepalanya.
"Apa yang terjadi dengannya?!"
Arya menoleh pada makhluk yang menyerupai dirinya tersebut. Bahkan Kulkan yang abadi juga bisa terlihat kebingungan.
Kulkan akhirnya mengerti kenapa Arangga bisa tiba-tiba terbangun. Padahal, dengan jelas bahwa dia tidak lagi merasakan aura kehidupan pada orang di depannya ini. Itu juga menjelaskan kenapa Arangga tidak lagi mengingat energi yang di lepasnya.
Beberapa saat setelah itu, Arangga sudah terlihat stabil. Saat matanya kembali terbuka, dia langsung menatap pada Arya.
"Karna kau sudah mengetahui segel ini, itu pertanda bahwa kau adalah orang yang aku tunggu. Tapi, aku harus memastikan sesuatu."
Arya membalas tatapan Arangga dengan penuh tanda tanya. Muncul sedikit rasa cemas di hatinya.
Arya mengangguk. "Mungkin memang begitu, mengingat terlalu banyak kejadian dan benda-benda yang aku temukan, berkaitan dengan dirimu!"
"Sebentar!"
Saat Arangga akan kembali berbicara, Kulkan langsung memotongnya.
"Bagaimana kau bisa mengingat cecunguk seperti Anhur, tapi kenapa kau sama sekali tidak mengingatku?!"
Kulkan masih tidak terima jika Arangga melupakannya. Namun Sepertinya Arangga benar-benar mengabaikannya, karena setelah itu Arangga kembali berbicara, tapi hanya pada Arya.
"Siapa namamu?!"
"Arya!"
"Tidak, berarti kau bukan yang aku tunggu. Tapi, karena kau sudah berada di sini, aku terpaksa harus membunuhmu!"
Arya terkejut dengan reaksi Arangga. Bagaimana mungkin bahwa bukan dialah yang ditunggu oleh Arangga, sementara segala sesuatu yang telah dia alami, mengantarkan dirinya pada tempat ini.
"Mahesa! ... Arya Mahesa!"
Saat Arya menyebut nama lengkapnya, seketika ekspresi wajah Arangga berubah. Seolah telah menemukan apa yang selama ini dia cari.
"Mahesa?" tanya Arangga memastikan.
Arya mengangguk yakin. "Ya! Itu nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku "
"Jika begitu, Kau memang orang yang aku tunggu-tunggu!"
Kulkan yang merasa terabaikan menatap sinis keduanya saat mereka berbicara. Ingin sekali rasanya Kulkan menghancurkan Arangga yang telah melupakannya itu.
"Mahesa, Dengarkan aku baik-baik! Ingatan ini hanya bisa aku ucapkan satu kali saja. Aku berharap tidak ada sesuatu yang mengacaukan ini saat aku mengatakannya!"
Arya seketika menoleh pada Kulkan yang tadi tiba-tiba langsung menyerang Arangga. Namun, makhluk itu membuang muka, menolak merasa bersalah.
"Mahesa! Jika kau di sini, berarti ... Kulkan juga disini ..."
Arangga tampak menggantung kata-katanya.
"Mahesa! Aku berharap bisa menyampaikan ini langsung padanya, Tapi, Tolong Katakan pada Kulkan, bahwa aku ingin meminta maaf karena tidak bisa menepati janjiku, Padanya."
Itu adalah segel ingatan pertama yang di simpan Arangga.
"Mahesa! Ada banyak hal terjadi saat aku meninggalkannya di dimensi itu... "
Sepertinya interaksi Arya dan Arangga sangat terbatas. Hal-hal penting yang sudah tersegel di ingatannya, sepertinya tidak bisa di ingat lagi atau diucapkannya diluar dari ingatan yang di segelnya itu.
Beruntung, karena menggunakan salah satu jurus di Kitab Kosha itu, saat ini Arangga bisa merespon layaknya masih hidup.
Mengingat bahwa rasa bersalahnya pada Kulkan adalah ingatan penting pertama yang di segelnya, itu menandakan bahwa sampai saat terakhir hidupnya, dia tidak melupakan janjinya sama sekali.
Entah kenapa makhluk yang bergelar Sang Petaka itu, kehilangan rasa Amarahnya saat mengetahui bahwa janji pada dirinyalah yang terpenting diingatan Arangga.
"Mahesa! Aku tau kau memiliki tubuh yang unik, dan maaf jika itu menyulitkan hidupmu, tapi Jika kau sudah berhasil mencapai kekuatan tertinggimu dengan tubuh itu, maka aku memohon pada padamu..."
Arangga menggantung kembali kata-katanya, seolah hal berikutnya adalah sesuatu yang berat untuk dikatakan olehnya.
"Tolong hancurkan, Dunia ini!"