
"KOSHA ... !"
"Jurus Pertama ... Gerbang Cakra."
Saat keduanya di hisap menuju cangkang kerang Itu, Arya langsung membangunkan Bahuraksa. Saat itu entah kenapa, Arya benar-benar merasa dalam bahaya.
"Wuussstt ... "
Terlambat, saat Arya memotong dinding tentakel itu, dia dan Ciel sudah berada di dalam cangkang yang sangat luas itu.
Beruntung, di dalam sana ada udara, hingga mereka bisa bernafas dengan leluasa, meski di sana, bau amis begitu menusuk indra penciuman keduanya.
"Ciel ... Kau tidak apa-apa?"
"Ya, aku baik-baik saa ... "
Meski energi yang sangat besar kini ada di dalam tubuhnya, itu tak membuat Ciel untuk tidak terkejut.
Saat ini, untuk pertama kalinya, Ciel melihat dengan sangat jelas aliran arus energi memenuhi seluruh pandangannya. Dan seluruh energi itu benar-benar sangat kuat.
Akan tetapi, tidak seperti apa yang mereka duga, di dalam ternyata cukup luas. Ini tidak seperti kerang-kerang kecil yang pernah di lihatnya.
Saat ini, Arya dan Ciel sedang melihat ratusan tentakel sangat besar dan juga sangat panjang, dialiri energi yang juga sangat kuat.
Saat itu juga, Ciel sudah bisa melihat pusat energi tersebut. Dan itu benar-benar membuatnya terkejut. Pusat energi itu berwana merah pekat namun memiliki ukuran hanya sebesar kelapa.
Sangat jauh dari ukuran makhluk ini sebenarnya. Tapi, tidak hanya sampai di sana. Dinding-dinding yang mereka yakini adalah sisi dalam cangkang itu juga di penuhi tentakel yang jauh lebih kecil, namun juga memiliki energi cukup besar.
"Ciel, berhati-hatilah, makhluk ini benar-benar berbahaya."
Saat itu, Arya bisa merasakan bahwa semua tentakel itu memiliki kemampuan untuk menghancurkan tubuh Ciel jika gadis itu terkena pukulannya.
Tentu saja Ciel juga menyadarinya. Bahkan, dia bisa merasakan satu tentakel itu saja bisa meremukkan tulang-tulangnya.
Memang mereka tidak mengharapkan akan menghadapi Kerang Darah Batu dengan mudah. Akan tetapi saat ini, bagi Arya sendiri pun, ini terasa berlebihan.
Tidak mau gegabah, Arya mencoba mempelajari situasi di sana. Nalurinya mengatakan bahwa ini bukan jenis Siluman yang bisa di hadapi begitu saja.
Dan benar saja, tiba-tiba sebuah suara seolah memecah telinga menggema di sana.
"Hahahahahahah ... !"
"Hahahahahahah ... !"
"Hahahahahahah ... !"
Arya dan Ciel langsung memasang kuda-kuda, bersiaga. Siapa yang menyangka di dalam kerang yang sangat besar ini, mereka akan mendengar suara tawa.
"Manusia ... Akhirnya kau kembali, aku telah menunggumu sekian lama."
"Hahahahahahah ... !"
"Hahahahahahah ... !"
"Hahahahahahah ... !"
Arya dan Ciel mengernyit heran. Mereka telah mendengar bahwa memang ada Siluman yang sudah mencapai umur tertentu akan bisa berbicara.
Akan tetapi, mereka tidak menyangka akan bertemu untuk pertama kalinya dengan siluman yang sudah memiliki kemampuan itu, saat ini dan di dalam cangkang raksasa seekor kerang di dalam lautan.
Saat itu, dari tentakel yang banyak seperti menari-nari itu, muncul sebuah kepala. Saat ini, bentuk makhluk yang ada di depan mereka ini lebih mirip Gurita Raksasa alih-alih seekor kerang.
"Aku tidak tau siapa yang kau tunggu. Tapi, yang jelas aku bukan orang itu."
"Arya, mungkin dia berfikir kau adalah Arangga."
"Wuuuuuffff ... "
"Wuuuuuffff ... "
"Wuuuuuffff ... "
"Wuuuuuffff ... "
"Ciel ... Menghindar ... "
Saat itu tanpa aba-aba tentakel-tentakel besar penuh otot itu melibas ke arah mereka.
Dengan ukurannya yang sangat besar, jangkauan serangnya sangat luas. Apalagi jumlahnya yang sangat banyak itu, membuat ruang untuk menghindar sangat sedikit sekali.
Beruntung saat ini, Arya memiliki kecepatan yang luar biasa.
"Hahahahahahah ... !"
"Hahahahahahah ... !"
"Hahahahahahah ... !"
"Kau cukup lincah. Tapi, sekarang aku sudah tidak seperti dulu."
Sesaat setelah mengatakan itu, Arya bisa merasakan sesuatu yang sangat bahaya. Bahkan, Ciel saat ini bisa melihat dari mana asal bahaya tersebut.
Gadis itu bisa melihat konsentrasi energi dari tentakel-tentakel yang ada di dinding dalam cangkang tersebut, semakin tinggi.
"Arya, dari atas ... "
"Ciel ... Naik, ke punggungku."
"Langkah Seribu Bintang."
"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"
"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"
"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"
"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"
"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"
"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"
"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"
"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"
"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"
"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"
"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"
"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"
Tembakan itu benar-benar mengejar kemanapun Arya berlari. Saat ini, keduanya merasa telah di kepung oleh ribuan pemanah.
"Hahahahahahah ... !"
"Hahahahahahah ... !"
"Hahahahahahah ... !"
"Manusia, matilah ... "
"Wuuuuuffff ... "
"Wuuuuuffff ... "
"Wuuuuuffff ... "
"Wuuuuuffff ... "
Tepat seperti dugaan Arya. Siluman ini tidak hanya kuat tapi juga cerdik. Saat ini, dia sengaja membuat Arya semakin mendekat dan tentakel-tentakel besar itu, sudah menunggu dan langsung berniat melibasnya.
"Ciel, apakah kau sudah menemukan di mana inti energinya?"
"Ya, tapi itu sangat kecil sekali. Itu berada di pangkal semua tentakel ini."
"Baiklah, aku mengerti ... "
Arya langsung menambah kecepatannya. Namun, saat itu juga semakin banyak tentakel itu berusaha menghantamnya.
Kali ini tidak hanya melibas saja. Karena di saat bersamaan puluhan tentakel itu juga berusaha menerjangnya.
Ciel bisa memastikan, jika saat ini orang yang bersamanya bukanlah Arya, maka mereka sudah hancur sejak serangan pertama.
"Wuuuuuffff ... "
"Wuuuuuffff ... "
"Wuuuuuffff ... "
"Wuuuuuffff ... "
"Sreeeeeet ... "
"Sreeeeeet ... "
"Sreeeeeet ... "
"Sreeeeeet ... "
Arya melibaskan Bahuraksa pada tentakel-tentakel yang tidak bisa dia hindari. Sama sepertinya yang bergerak semakin cepat, saat ini tentakel-tentakel itu juga memberikan serang yang semakin cepat pula.
Saat itu, tiba-tiba saja seluruh tentakel itu tidak lagi menyerang mereka.
"Hahahahhaha ... "
"Aku tau tidak akan mudah. Penantianku tidak sia-sia. Tapi, kali ini aku akan membunuhmu. Hahahahhaha!"
"Wuuuuuffff ... "
"Wuuuuuffff ... "
"Wuuuuuffff ... "
"Wuuuuuffff ... "
"Arya Awas, ... dari atas."
Saat mendengar Ciel mengatakan itu, Arya segera berlari memutar dan menjauh dari pusat tentakel yang besar, sebelum tembakan-tembakan bola energi itu, kembali mengejar dan menghujani mereka.
"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"
"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"
"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"
"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"
"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"
"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"
"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"
"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"
"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"
"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"
"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"
"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"
Arya terus berlari, kali ini kali ini dia tidak berniat terpancing lagi oleh taktik Kerang itu.
"Ciel, berpeganglah lebih erat ... !"
"Hah?! ... "
Ciel sudah merasa memeluk Arya dengan cukup kuat. Itu kenapa dia sedikit terkejut saat Arya memintanya memeluknya lebih erat.
"Lakukan, seperti saat kau memelukku di dalam air ... "
Entah kenapa saat itu, tiba-tiba wajah Ciel memerah. Namun, saat itu juga dia melakukan seperti apa yang Arya minta.
"Bagus, ini lebih baik."
Saat Arya mengatakan itu, entah kenapa Perasaan Ciel langsung tidak enak. Apalagi saat ini, gadis itu melihat kemana Arya berlari.
"Arya, apa yang akan kau lakukan? ... "
Arya tidak menjawab Ciel namun menambah pasokan energi dalam jumlah yang sangat besar ke kakinya sebelum dia melakukan lompatan tinggi dan berputar di udara.
Ciel memejamkan mata saat Arya melakukan itu, namun anehnya bukan kembali kebawah, tapi di merasakan saat inI Arya kembali berlari.
Saat Ciel membuka matanya, sontak di terkejut. Sekarang Arya sedang berlari kencang dengan posisi terbalik, di langit-langit cangkang Kerang yang sangat besar itu.
"Ternyata aku juga bisa ... " Gumam Arya, senang.
"