ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Kerja Sama Dan Jalinan Yang Rumit


Kemenangan bisa dipastikan sudah di depan mata. Begitulah setidaknya apa yang mereka rasakan saat ini.


Saat ini, Arya melesat sangat cepat dan benar-benar sudah berniat memenggal kepala Siluman kerang itu.


Akan tetapi, tiba-tiba saja naluri bertahan hidupnya meneriakkan tanda bahaya. Saat itu juga, Arya berhenti.


"Arya ... "


Meski Arya menyadari ada yang salah, namun Ciel-lah yang pertama kali melihat hal itu. Dan itu langsung menyebabkan gadis itu memekik keras.


"Wuuuuuffff ... " "Wuuuuuffff ... "


"Wuuuuuffff ... " "Wuuuuuffff ... "


"Wuuuuuffff ... " "Wuuuuuffff ... "


"Wuuuuuffff ... " "Wuuuuuffff ... "


"Wuuuuuffff ... " "Wuuuuuffff ... "


"Wuuuuuffff ... " "Wuuuuuffff ... "


"Wuuuuuffff ... " "Wuuuuuffff ... "


"Wuuuuuffff ... " "Wuuuuuffff ... "


Arya langsung melompat dan mengindar saat tentakel-tentakel raksasa itu tiba-tiba kembali menyerangnya.


Hal itu tentu saja membuatnya heran. Karena, dia sudah sangat yakin telah menebas semuanya.


Namun, beberapa saat kemudian saat dia masih berlari dan melompat ke sana kemari untuk menghindari serangan itu, matanya langsung melebar.


Dari bekas tebasannya, tentakel-tentakel milik Siluman Kerang itu segera beregenasi dengan sangan cepat. Dan hal yang lebih mengejutkan lagi adalah, setiap bekas tebasan, memunculkan dua tentakel.


Secara tidak langsung, kini mereka akan melawan musuh yang dua kali lipat lebih sulit dari sebelumnya.


"Wuuuuuffff ... " "Wuuuuuffff ... "


"Wuuuuuffff ... " "Wuuuuuffff ... "


"Wuuuuuffff ... " "Wuuuuuffff ... "


"Wuuuuuffff ... " "Wuuuuuffff ... "


Arya memang sudah bergerak lebih kencang dari sebelumnya. Namun, jumlah tentakel itu juga bertambah. Hal tersebut, membuat ruang untuk menghindar semakin kecil.


"Sreeeeet ... "


"Sreeeeet ... "


"Sreeeeet ... "


"Sreeeeet ... "


Arya harus menebas tentakel-tentakel itu untuk membuat selah agar bisa menghindar. Akan tetapi itu benar-benar sebuah kesalahan. Setiap dia memutus, makan akan muncul dua tentakel setelahnya.


Ciel kembali mengingat berapa lama waktu yang dihabiskan Arangga untuk mengalahkan Siluman Kerang Darah Batu yang sedang mereka hadapi ini.


Akan tetapi saat ini gadis itu berfikir, mungkin saja saat melawannya, saat itu Arangga sudah jauh lebih kuat dari Arya sekarang.


Hal itu benar-benar membuatnya cemas. Karena cara bertarung mereka saat ini, benar-benar akan membuat mereka semakin kesulitan


"Hahahahhaha ... !"


"Hahahahahaha ... !"


"Manusia, kali ini kau akan mati dan benar-benar mati.  Hahahhaha ... !"


Jika hanya Tentakel besar, mungkin Arya masih bisa menghindarinya. Namun, sama seperti Ciel yang melihat, Arya juga merasakan pergerakan dari tentakel-tentakel kecil di sisi cangkang.


"Arya, dia menggiring kita ketempat yang akan membuat kita menerima serangan langsung dari tentakel di atas."


Arya kembali merasa beruntung karena saat ini, ada Ciel bersamanya. Gadis itu, bisa langsung menyadari apa yang terjadi.


"Baik aku mengerti ... Katakan saat kita akan mendekat pada tempat itu."


"Baik, akan aku lakukan."


Arya bergerak sangat cepat namun tidak berusaha menghindar malah seolah mengikuti kemana tentakel-tentakel besar itu berusaha menggiring mereka.


Akan tetapi, begitu mereka akan mencapai tempat itu, Ciel langsung berteriak.


"Arya, di depan ... !!"


"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"


"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"


"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"


"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"


"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"


"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"


"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"


"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"


"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"


"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"


"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"


"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"


Saat itu juga Arya melompat tinggi dan berbalik ke atas, lalu berlari kencang melintasi tentakel-tentakel kecil yang sedang menembakkan energi yang terpadatkan tersebut.


"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"


"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"


"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"


"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"


"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"


"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"


"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"


Tentu saja ini akan jauh lebih mudah dari sebelumnya. Karena tebasan Arya saat ini jauh lebih kuat, hal itu menyebabkan energi yang di lepas Bahuraksa memperpanjang jarak serangnya lebih Sepuluh Kali lipat di tamba kecepatan Arya saat ini sekejap saja, tentakel-tentakel kecil yang ada di langit-langit itu tinggal setengah.


"Manusiaaaa ... !! Matilah ... !!"


"Zeup ... !" "Zeup ... !" "Zeup ... !"


"Zeup ... !" "Zeup ... !" "Zeup ... !"


"Zeup ... !" "Zeup ... !" "Zeup ... !"


"Zeup ... !" "Zeup ... !" "Zeup ... !"


"Zeup ... !" "Zeup ... !" "Zeup ... !"


"Zeup ... !" "Zeup ... !" "Zeup ... !"


Siluman itu benar-benar sudah murka. Bahkan, saat itu dia sudah tidak memperdulikan apa yang dia gunakannya untuk menyerang Arya itu, mengenai tentakel-tentakel kecil miliknya sendiri.


"Ciel eratkan peganganmu."


Arya harus langsung melompat kebawah demi Menghidarinya. Namun, tentu saja di bawah dia sudah ditunggu dengan tentakel-tentakel yang besar.


Sebisa mungkin Arya menghindar sambil memikirkan cara, bagaimana mengalahkan Siluman ini. Akan tetapi apapun yang dia pikirkan, tidak memberi petunjuk apapun.


"Arya, berikan aku energi yang besar!"


"Apa? ... "


Arya sedikit heran dengan permintaan Ciel itu. Jika dia memberikan energi pada gadis itu, pikirannya akan terbagi dan tenaganya akan sedikit berkurang.


Arya tidak akan bisa menghindar, dan menyerang dengan kuat saat harus mengirimkan energi pada gadis itu.


"Kau juga percaya padaku bukan?"


"Kosha ... !"


"Jurus pertama ... Gerbang Cakra!"


Ciel tidak perlu jawaban Arya. Terbukanya gerbang cakra miliknya itu, sudah menandakan bagaimana percayanya Arya pada dirinya.


Tak berselang, Saat itu, Ciel langsung berteriak.


"Ke kanan ... !".


Reflek Arya mengikutinya, meski tidak tau apa yang di rencanakan gadis itu, saat ini Arya mempercayakan semua padanya.


"Ke atas ... !"


Arya langsung melompat saat itu juga, namun Ciel berteriak lagi.


"Bawah ... !"


"Atas ... !"


"Kiri ... "


"Bawah ... "


"Atas ... "


Ciel terus berteriak memberi tanda dan Arya terus mengikuti apa yang dikatakan gadis itu.


"Bawah ... !"


"Atas ... !"


"Kiri ... "


"Bawah ... "


"Atas ... "


"Bawah ... !"


"Atas ... !"


"Kiri ... "


"Bawah ... "


"Atas ... "


Arya masih terus mengikuti sampai pada beberapa saat selanjutnya, dia merasakan ada perubahan pada serangan Siluman itu


Saat ini, Arya merasakan gerakannya semakin leluasa. Ruang untuk menghindar juga semakin luas. Arya yakin untuk terus mengikuti petunjuk Ciel itu, dan Hal itu terjadi untuk beberapa lama.


"Bawah ... !"


"Atas ... !"


"Kiri ... "


"Bawah ... "


"Atas ... "


"Bawah ... !"


"Atas ... !"


"Kiri ... "


"Bawah ... "


"Atas ... "


Arya terus mengikuti tanda yang diberikan gadis yang memeluk erat dia dari belakang itu, tanpa bertanya apapun.


Dan tiba-tiba saja, seluruh serangan tentakel-tentakel besar dari Siluman Kerang Darah Batu, sepenuhnya berhenti.


Saat itu juga Arya juga menghentikan langkanya dan setelah sebelumnya melompat sedikit tinggi dan kembali menginjak di bawah.


"Sudah ... !" Ucap Ciel, dengan nada bangga.


Mata Arya melebar saat melihat apa yang terhampar kini di depannya. Tentakel-tentakel raksasa itu, terjalin sedemikian rupa rumitnya, hingga Siluman Kerang Darah Batu itu sendiripun, terlihat kesulitan saat mencoba mengurainya.


"Manusia ... Apa yang kau lakukan ... Ini ... Ini ... "


Keduanya melihat siluman masih berusaha mengurai tentakel-tentakel nya sendiri.


Entah kenapa saat itu, Arya tersenyum. Hal ini benar-benar di luar apa yang dia pikirkan.


"Ciel, kau cerdas sekali." Puji Arya.


"Yah, tentu saja ... " Jawabnya bangga.


Dengan tubuh menyala, keduanya mendekat pada kepala Siluman itu.


"Manusia ... Matikau ... Matikau ... "


Beberapa kali Siluman itu menembakkan jarum-jarum besar namun Arya bisa menghindarinya dengan mudah.


Meski di tambah dengan tembakan energi dari tentakel-tentakel kecil di atas sana, itu sudah tidak ada bedanya.


Serangan putus asa yang membabi buta dari Siluman Kerang itu, membuat dirinya tidak menyadari Arya dan Ciel sudah tidak ada lagi di depannya.


Saat setelah dia menyadari bahwa dia sudah kehilangan jejak musuhnya, saat itulah dia merasa ada yang salah di dekat kepalanya. Saat itu, dia mencoba melirik ke samping.


Di sana, telah berdiri Arya dengan mata biru terang, di tangannya Bahuraksa terangkat Tinggi ke udara, siap menebang.


"Siluman Jelek ... Kau saja yang mati ... !!"


Teriak Ciel, sambil mengejek.