
Mata Sekar melebar saat mendengar Arya mengatakan itu. Tentu saja tidak akan semudah itu mempercayai perkataan orang asing di depannya ini.
" Maaf, Tuan Pendekar. Perkataan anda terlalu berlebihan. Kami hanya ingin bertahan " kata Sekar.
Arya tau bahwa Sekar tidak mempercayainya. Saat seperti ini, Arya jadi teringat saat bagaimana Obskura berusaha membuktikan bahwa dirinya adalah Dewa.
" Nona Sekar, mendekatlah " pinta Arya.
Mendengar permintaan Arya itu membuat Sekar menjadi waspada " Kanapa? Apa yang ingin anda lakukan padaku? Membunuhku tidak akan mengubah apapun! " tanya Sekar gugup.
Mengabaikan lerkataan Sekar, Arya berdiri dan berdiri di belakang Sekar.
Seketika tiba-tiba tubuh Sekar membeku. Seolah kematian akan segera menjemputnya. " Aku sudah bilang. Kematianku tidak akan mengubah apapun! " ingat Sekar sekali lagi.
Entah kenapa Sekar yang merupakan seorang pendekar level ahli tingkat pertama, benar-benar merasa terintimidasi oleh pemuda yang kini berdiri di belakangnya itu.
Mendengar Arya tidak menjawab apapun, membuat Sekar pasrah. Setidaknya, jika dia mati saat ini dia tidak akan memberikan informasi apapun pada Arya. Itulah keberanian yang tersisa dalam diri Sekar sebagai seorang pendekar aliran putih.
Sekar memejamkan matanya seolah sedang menjemput Ajal. Namun setelah beberapa saat, tidak terjadi apapun. Itu membuatnya heran sebelum akhirnya Sekar merasakan sebuah aliran Energi asing memasuki tubuhnya.
Aliran itu terasa hangat dan menenangkan. Hingga Sekar melupakan kegelisahan dan kecemasan yang beberapa detik yang lalu masih memenuhi pikirannya. ' Apakah pendekar yang sangat Sakti bisa membuat kematian sehangat ini ' Batinnya.
" Nona Sekar? "
Sekar terkesiap karena panggilan Arya tiba-tiba mengejutkannya. Dia membuka matanya dan melihat Arya sudah kembali duduk di depannya. Sekarbtidak ingat sudah berapa lama dia memejamkan mata dan larut dalam kehangatan itu.
" Ya? " Sekar menggeleng cepat seolah salah menggunakan nada bicara " Maksudku. ... Kenapa?! " Sekar kembali mempertegas suaranya.
" Kau sudah tidak apa-apa sekarang "
Sekar mengernyit keheranan karena sama sekali tidak mengerti apa yang di katakan Arya padanya. " Maksud anda? "
" Aku sudah menyembuhkan semua luka di tubuhmu, dan kau tidak perlu lagi menahan sakit saat berbicara denganku "
Sekar tidak langsung mengerti setelah Arya menjelaskan itu, Akan tetapi, beberapa saat kemudian dia baru menyadari rasa perih di punggungnya sudah menghilang. Begitu juga di wajahnya.
Sekar meraba wajahnya serta anggota tubuh lainnya. Dia benar-benar tidak merasakan rasa sakit apapun lagi.
Sekar menatap Arya penuh tanda tanya" B-b-bagaimana ... b-bisa? Luka ... Ku? " tanyanya masih sambil meraba-raba yang sebekumnya terasa sakit memastikan bahwa ini memang kenyataan.
" Aku tebak. Orang tadilah yang melakukan itu padamu. Bukan? "
Sekar tidak menjawab. Dia tampak sedang berfikir sangat keras sekarang ini. Seolah sedang memantapkan hatinya lalu beberpa saat kemudian dia menatao Arya penuh keyakinan.
" Tuan Pendekar. Benarkah anda ingin membunuhnya? Maksud ... Nurmageda? "
" Ya! Dan semua orang-orang yang memiliki hubungan dengannya " Jawab Arya mantap.
Sekar mengangguk. " Baiklah. Jika begitu, tunggundi sini. Akunakan segera kembali. " setelah mengatakan itu, Sekar pun turun ke lantai satu.
Sekitar setengah jam kemudian Sekar kembali. Namun tidak sendiri, melainkan beberapa orang ikut bersamanya menemui Arya.
Salah satunya terlihat sudah berumur sekitar 60 hingga 70 tahun. Sekar mengenalkan pria tua itu pada Arya sebagai Ki Jabara. Pemimpin kelompok mereka.
Ki Jabara menatap Arya seolah hanya melihat anak laki-laki kecil berumur sekitar tujuh tahun yang belum mampu membuka satu titik cakrapun. Hal itu membuatnya kembali meragukan perkataan Sekar dan sedikit meremehkan Arya.
" Anak Muda. Apakah kau benar-benar ingin membunuh Nurmageda? " Ki Jabara menanyakan hal itu guna memastikan sebelum melanjutkan pembicaraan mereka.
" Ya, Ki! Ingin mengurangi oenderitaan penduduk di sini " Arya beralasan.
Ki Jabara mengangguk " Dan kau barusaja menyembuhkan luka Sekar dengan teknik tingkat tinggi. Boleh aku tau dari sekte mana kau berasal? "
Arya sempat berfikir sejenak menimbang bagaimana cara dia memperkenalkan nama Sektenya. Karena sekte itu barusaja berganti nama. " Aku berasal dari Sekte Awan Senja " Kata Arya.
Ki Nurmageda langsung tersedak saat Arya menyebut nama Sektenya. " Kau murid Tarim Saka? " tanyanya langsung.
Arya mengangguk " Bisa di katakan begitu " jawab Arya " Ki Jabara mengenalnya? " tanya Arya penasaran.
" Tentu saja aku mengenalnya. Saat muda aku beberapa kali bertemu dengannya " Jawab Ki Jabara " Maaf, bukan maksud meremehkan Sektemu. Tapi, Nurmageda berada di puncak pendekar ahli. Aku rasa Tarim Saka sendiri tidak akan mampu membunuhnya. Katakan padaku, apakah kau merasa mampu membunuh orang yang mungkin gurumu sendiri tidak mampu melakukannya? "
Arya menganggap Tarim Saka adalah gurunya karena banyak mengajarkan hal padanya. Terlebih lagi sekarang dia mempelajari jurus yang sama dengan orang yang sudah menjadi kakeknya itu.
" Ya memang aku baru beberapa hari mempelajari jurus yang sama dengan jurus yang di kuasai Kakek. Tapi aku rasa, aku bisa membunuh Nurmageda itu. " kata Arya yakin.
" Hahahahah! Anak muda. Aku menyukai semangatmu! " Ki Jabara berfikir mungkin saja Sekte Awan Senja memiliki teknik pengobatan tingkat tinggi. Jadi Arya akan sangat berguna jika memang terjadi pertarungan. Namun, mengenai teknik bertarung, Ada alasan kenapa Sekte Awan Senja menjadi Sekte terkecil di Daratan timur ini. Itu karena Teknik bertarung dari sekte Awan Senja itu tergolong lemah.
" Terimakasih " Jawab Arya. " Oh iya, Sekte itu sebenarnya sudah berganti nama. Jadi aku sengaja memberi tahu nama yang lama agar lebih mudah dikenali. Sekarang nama Sekte itu adalah Delapan Mata Angin " tambah Arya.
Hampir saja Ki Jabara muntah darah karena menahan tawa. " Delapan Mata Angin? " Tanya Ki Jabara.
" Ya, walaupun menurutku Awan senja juga terdengar bagus "
Ki Jabara menggeleng " Tidak! Jelas Delapan Mata Angin lebih bagus. Aku setuju nama itu di ganti saja. Karena Sekte Awan Senja terkenal lemah "
Ki Jabara tertawa dalam hati ' Si Saka Bodoh itu berpikir dengan mengubah nama Sekte bisa membuat Sekte itu menjadi kuat? '
" Ya! Aku fikir Sekte Delapan Mata Angin akan jadi yang terkuat di Swarna beberapa tahun kelak. " kata Arya percaya diri.
" Hahahahaha! Tarim Saka memiliki orang yang sangat lucu sebagai muridnya. Dia sama sekali belum berubah. Selalu seenaknya saja "
Arya hanya tersenyum. Setidaknya Ki Jabara mengenal Tarim Saka. Jadi dia tidak dicurigai lagi oleh yang lainnya. Ini lebih mudah dari yang Arya perkirakan.
Sekar mengerti kenapa Ki Jabara terlihat sedikit meremehkan Arya. Namun, dia tidak bisa menyalahkannya. Bagaimanapun Arya memang terlihat sangat lemah.
" Jadi, Ki! Apa yang terjadi jika Nurmageda dan orang-orangnya berhasil kita kalahkan? "
Mendegar oertanyaan langsungbdari Arya itu, Ki Jabara langsung tau bahwa Arya belum mengetahui apapun tentang dunia.
" Kita tidak bisa mulai membahas dari sana " jawab Ki Jabara.
" Tolong jelaskan padaku " pinta Arya.
Ki Jabara menarik nafas panjang dan melepaskannya. Menggeleng sedikit dan pasrah. apakah pemuda ini akan mengerti tentang apa yang akan di jelaskanya. Namun, orangtua itu memilih untuk terus melanjutkan.
" Dalam perang, Kita harus memiliki sesuatu yang biasa di sebut. Strategi! "