ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Keluarga Tidak Akan Saling Meninggalkan


" Semuanya! Segeralah menjauh dari tempat ini! "


Seorang pendekar Sekte Awan Senja berteriak keras memperingati seluruh penduduk yang berada di dalam pusat sekte Awan Senja.


Tempat itu sedang di landa kehebohan. Semua penduduk di sana di oaksa keluar dari kediamannya dan di minta untuk segera bergerak menjauh.


" Pergilah sejauh mungkin! Sekarang tempat ini tidak aman! "


Suara peringatan dari pendekar lainnya juga terdengar tidak jauh dari sana. Teriakan yang hampir sama juga muncul dari banyak tempat di Sekte Awan Senja.


Suara pentungan di ketuk panjang terdengar di mana-mana. Begitulah cara Sekte Awan Senja memperingatkan penduduknya jika terjadi hal buruk terjadi seperti bencana Alam.


" Cepat mengunsi!  Pergi sejauh mungkin! "


" Hei, kau! Larilah! "


" Gendong Anakmu! "


Seluruh penduduk dilanda kepanikan. Mereka mencoba menyelamatkan diri dan keluarganya agar segera menjauh sesuai dengan apa yang di perintahkan pendekar-pendekar penjaga Pusat Sekte Awan Senja itu.


" Wuussshhh!!! "


" Booom! Booom! "


Suara angin kencang disertai suara ledakan bertubi-tubi terdengar dari bukit tertinggi di sana. Membuat semua orang semakin panik.


Beberapa pendekar yang membantu melihat sebuah bangunan baru saja ambruk di atas sana.


" Hei! Jangan melihatnya! Teruslah menjauh "


Berteriak para pendekar pada warga yang ikut melihat karena penasaran dengan apa yang sedang terjadi di bukit kediaman ketua sekte Awan Senja itu.


Sementara itu di tempat kejadian di bukit tertinggi yang di tempati Tarim Saka, satu Vila lagi baru saja rata dengan tanah. Sapuan angin yang sangat kencang mencabut bangunan tersebut hingga ke pondasinya sebelum akhirnya terhempas ke bawah dan rata dengan tanah.


Tarim Saka dan para sesepuh sekte Awan Senja tidak bisa berbuat apa-apa. Ini bukan bencana alam biasa. Ini sebuah amukan kekuatan yang sangat dahsyat dari seorang gadis yang baru saja kehilangan satu lagi orang yang sangat berarti baginya.


" Aaaaaaaaaa! Aaaaaaaaaa! "


Darya berteriak histeris. Teriakan itu di iringi sapuan angin kencang menyapu kesegala arah. Meluluh lantahkan apa saja yang di lewatinya.


Beruntung, setiap pelayan yang ada disana di bekali sedikit ilmu beladiri. Meski mengalami luka-luka, mereka masih sempat menyelamatkan diri mereka dari amukan kekuatan Darya.


Tarim Saka dan Wulandari ikut menangis setiap teriakan pilu Darya menggema. Mereka sudah mencoba menenangkan Darya namun usaha mereka gagal. Darya benar-benar lepas kendali.


Baik Tarim Saka dan Wulandari maupun para sesepuh lainnya terluka saat mencoba menenangkan Darya. Jika saja saat ini para sesepuh tidak memegang Tarim Saka. Mungkin pria tua itu sudah mati di tangan cucunya sendiri karena ingin mendekatinya.


Tidak ada yang menyangka bahwa Darya yang selama ini terlihat kurus dan sangat lemah, menyimpan kekuatan sebesar ini.


Meski jika mereka ingin menghentikan semua ini dengan cara melumpuhkannya sekalipun, mereka yang ada di sana, tidak ada yang memiliki kekuatan untuk menghentikan Darya saat ini.


Hal yang memicu kejadian ini adalah Arya. Ini terjadi saat Darya baru saja mendapatkan kesadarannya, setelah Tarim Saka dan yang lainnya membawa Darya ke Vila utama Sekte Awan Senja beberapa jam yang lalu.


Saat Darya barusaja membuka matanya, bayangan Arya langsung melintas di kepalanya. Darya langsung menanyakan keberadaan Arya pada orang-orang yang ada di sana.


Tidak ada yang mampu menjawab pertanyaan Darya. Hanya wajah sedih penuh sesal yang dia dapatkan dari semuanya. Sejak saat itu perasaan sedih mulai meremukan hati Darya.


Saat tubuhnya dikuasai oleh Kundari, ternyata Darya masih memiliki kesandarannya. Dia mengingat dengan jelas apa yang dikatakan Arya pada roh yang sedang mengendalikan tubuhnya itu.


Arya mengatakan pada Kundari akan menukar tubuh Darya dengan tubuh miliknya. Arya juga mengatakan bahwa dia rela mengorbankan tubuhnya demi Darya, karena Arya sudah menganggap Darya sebagai adiknya.


Dia sudah kehilangan orangtuanya, dan sekarang barusaja mendapatkan saudara tapi juga langsung harus kehilangan orang tersebut.


Penyebab itu semua itu ternyata adalah dirinya sendiri. Tubuh lemah yang selalu menyulitkannya itu, ternyata juga membuatnya kehilangan keluarga.


Rasa sedih  itu sangat meremukkan hatinya membuat dadanya terasa sesak. Rasa sedih itu berubah jadi rasa sesal dan rasa penyesalan itu akhirnya menjadi rasa marah. Kemarahan Darya akhirnya semakin besar dan terus membesar. Hingga akhirnya dia mulai berteriak histeris.


Kemarahan itu akhirnya memicu kekuatan yang ada di dalam dirinya terjaga. Seluruh titik cakra nya satu-persatu mulai terbuka. Udara di sekitar Darya saat itu mulai berubah.


Tarim Saka dan yang lainnya yang berada di sana, terlambat menyadari itu. Mereka hanya ingat saat Darya mulai mengerakkan udara di sekitarnya. Yang mula-mula hanya hembusan angin kecil. Namun, lama kelamaan angin itu membesar.


Hingga akhirnya mereka menyadari bangunan vila utama sudah mulai bergoncang. Teriakan Darya semakin keras seiring semakin besar pula tenaga dalam yang keluar dari tubunya.


Saat mata Darya menyala, di situlah awal bencana ini bermula. Bangunan utama vila terangkat ke udara membawa semua yang ada di dalamnya, tinggi. Sebelum akhirnya terhempas kembali ke tanah.


Sejak saat itu setiap pekikan Darya di sertai angin besar yang menyapu ke segala Arah. Dampaknya semakin besar, hingga tak ada satupun orang di sana yang mengetahui batas kekuatan Darya. Karna tubuhnya semakin terang menyala.


" Kalian Semua! Menjauhlah! "


Tiba-tiba suara Arya berteriak di dengar oleh Tarim Saka dan yang lainnya.


" Nak, Arya! ... kau, Selamat?! "


" Ya, Kek! " Arya langsung memandangi semua orang yang menatap kedatangan " kalian mundurlah sejauh mungkin! Aku tidak tau aku akan bisa menyelamatkannya kali ini "


Mendengar perkataan Arya, mereka. Semua mundur. Tarim Saka tidak ingin mundur terlalu jauh. Jika harus mati maka matilah. Kesedihan Darya juga sudah menghancurkan hati Kakeknya  itu.


" Jika kalian masih di sini, dan aku gagal. Maka kalian semua akan ikut mati dengan kami. " sekali lagi Arya memperingatkan mereka.


Semua orang di sana mulai bergerak semakin jauh. Tapi Tarim Saka tetap teguh dengan pendiriannya. Jika harus mati maka dia memilih untuk mati hari ini. Setidaknya dia tidak menanggung kesedihan jika setelah ini kehilangan cucunya.


" Wulandari! Kenapa kau masih di sini? "


Tarim Saka menyadari tidak hanya dirinya yang masih ada di sana. Ternyata Wulandari juga tetap berdiri di tempat dan tidak ingin mundur lebih jauh lagi.


" Aku akan mati jika Darya mati. Bahkan jika aku masih hidup saat Darya mati. Itu sama saja dengan bahwa aku telah mati. Aku tidak mau menanggung sakit kehilangan Darya. "


Tarim Saka bisa merasakan kasih sayang Wulandari pada Darya yang begitu besar. Akhirnya dia tidak bisa melarangnya untuk tetap di sini. Keluarga tidak mungkin akan saling meninggalkan.


Mereka menatap Arya mulai mendekat pada Darya yang terus berteriak. Namun, tubuh Darya sudah menyala sangat terang.


Arya mendapati tenaga dalam yang di kumpulkan oleh tubuh Darya semakin besar. Itu sudah melebihi kapasitas yang mampu di tahan oleh tubuhnya.


Saat Arya berjalan, puing-puing bangunan menghantam tubuhnya. Namun dia masih tetap melangkah untuk mendekati Darya.


" Darya ... " Arya coba memanggil namanya. Namun sepertinya masih terlalu jauh untuk Darya mendengar nya. Suara angin membawa suara Arya entah kemana.


Arya melompat mendekati tubuh Darya. Kini mereka berhadapan. Namun Darya masih melepaskan energi dalam jumlah besar yang menggerakkan udara.


" Darya "


Darya bergeming. Sepertinya kali ini dia mendengar suara Arya. Melihat itu Arya sekali lagi mencobanya.


" Darya "


Suara Arya ternyata memang mampu membuat Darya sedikit mendapatkan kesadarannya.


" Kak ... Arya? "


" Ya, ini aku. ... Darya, tenanglah! "


" Kak Arya? "


Darya mulai tenang, matanya yang menyala kini mengekuarkan air mata.


" Ya, aku disini! "


" Kakaaaak ... "


Darya langsung menghambur pada tubuh Arya segera memeluknya. Kesadaran Darya mulai kembali sepenuh nya. " Aku pikir ... Hiks ... Aku pikir ... "


Darya mulai menangis.


Arya membelai rambut Darya yang memeluknya. " Aku selamat, tenanglah! "


Saat Darya sudah mulai tenang, angin pun ikut mereda. Darya menangis di pelukan Arya.


Tarim Saka dan Wulandari juga melihatnya saat Arya berhasil menenangkan Darya. Hal itu membuat mereka merasa lega.


Namun, kelegaan itu tak berlangsung lama.


" Tubuhku ... Kenapa dengan tubuh ku? "


Darya mendapati tubuhnya sedang mengeluarkan cahaya. Hal yang tidak dia sadari sebelumnya.


Arya juga menyadari bahwa cahaya di tubuh Darya tidak meredup dan malah sekarang semakin terang.


Baginilah cara kerja tubuh Spasial. Jika tidak bisa mengendalikannya, maka tubuh itu akan terus mengumpulkan tenaga dalam. Dan saat tubuh tidak mampu lagi menahanannya. Sudah bisa ditebak apa yang akan terjadi selanjutnya.


Arya tau sesaat lagi tubuh Darya tidak akan mampu menahan tenaga dalam yang terus terkumpul di dalam titik-titik cakranya. Ledakan pasti akan terjadi dan Arya sangatbyakin dengan itu.


Di saat-saat terakhir, Arya membisikkan sesuatu pada Darya. Bisikan Arya itu tiba-tiba membuat Darya menjadi tenang. Sesaat sebelum tubuhnya meledak, sebuah senyuman hangat terukir di wajahnya.


" Walaupun baru sebentar, Aku sangat beraukur bisa menjadi, Adikmu! "


Setelah mengatakan itu, untuk sedetik tubuh Darya menyala sepenuhnya.


" BOOOOOMMM! "