ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Pusaka Bumi


"Ting!" "Ting!" "Ting!" "Ting!" "Ting!"


"Ting!" "Ting!" "Ting!" "Ting!" "Ting!"


"Ting!" "Ting!" "Ting!" "Ting!" "Ting!"


Di sebuah lereng bukit tidak jauh dari kota Basaka, para ketua sekte sedang berkumpul. Di depan mereka Merendra dan Bai Hua sedang berlatih tanding.


Dalam hal gerakan, jelas terlihat Marendra sangat unggul. Namun, semua ketua sekte yang melihatnya bahkan Merendra yang langsung menghadapi Bai Hua saat itu, merasa bahwa gadis itu mengalah.


Karena, saat ini tujuan mereka bukan untuk memamerkan jurus. Tapi untuk menguji senjata-senjata mereka.


Semuanya di undang ke sini oleh Ciel dan Luna. Banyak hal yang ingin mereka pastikan. Tentu saja semua menyangkut perkembangan senjata.


Ada alasan kenapa Bai Hua yang harus meladeni semua orang. Karena dua di antaranya, senjata mereka hancur di tangan cucu Bai Fan itu.


"Karaak ... !"


Beberapa saat yang lalu, baru saja milik Ki Lentoro yang rusak. Sekarang, jelas pedang Marendra mengalami nasib serupa.


Mulut Marendra menganga dan matanya membulat tampak nanar. Ini adalah pusaka keluarga serta sektenya yang sudah di wariskan secara turun temurun, selama ratusan tahun lamanya.


Dia sangat percaya diri saat menggunakannya saat pertarungan sesungguhnya dengan mempertaruhkan nyawa.


Namun, baru saja dia mendapati pedang di tangannya hanya membutuhkan satu tebasan lagi sebelum patah dan terputus sepenuhnya.


"Hahahhaha! Aku rasa, itu tidak bisa lagi di gunakan bahkan hanya untuk mengupas kelapa muda. Hahahahha!"


Lentoro melepas tawanya. Sebenarnya wajahnya sebelumnya tampak murung karena baru saja mengalami hal yang sama.


Tapi karena saat ini Marendra yang tadi juga menertawakannya, sekarang merupakan saat yang tepat untuk membalasnya.


Serabang dan Rapatni juga ikut tertawa. Meski pedang mereka yang sama berharganya juga telah rusak, tapi itu rusak di medan perang dan di gunakan untuk membunuh musuh yang sangat kuat.


Setidaknya, itu masih memiliki kebanggan sendiri, walaupun bukan mereka langsung yang menggunakannya. Sebaliknya, itu di pinjam tanpa persetujuan mereka, oleh gadis yang kini telah merusak empat senjata pusaka ketua-ketua sekte itu.


Prihal tentang senjata pengupas kelapa, entah bagaimana pembicaraan Moro dan Bai Hua itu, menjadi bahan lelucon bagi ketua-ketua sekte itu untuk mengejek senjata yang lemah.


Sepertinya, Itu akan terus digunakan sebagai standar untuk mengatakan betapa buruknya sebuah senjata.


"Tuan-Tuan dan Nyonya sekalian. Maaf jika gadis ini merusak senjata-senjata kalian."


Saat Luna mengatakan itu, muka Bai Hua memerah. Dia merasa canggung dan merasa tidak enak hati saat ini. Namun, saat pertempuran berlangsung, dia tidak mempunyai pilihan lain.


Bai Hua membungkuk lada ke empat nya. "Ya. Maaf kan aku soal itu."


"Tidak perlu ... Nona ... Anda tidak perlu meminta maaf. Senjata kami memang sangat buruk. Jadi sudah pantas rusak."


Serabang dan yang lainnya merasa gugup saat Bai Hua membungkuk. Bagi seorang pendekar, kehebatan dan kekuatan adalah segalanya.


Mereka telah melihat sendiri bagaimana Bai Hua bertarung. Bahkan saat ini mereka belum bisa mempercayai gadis muda ini begitu kuatnya.


Apalagi, mereka melihat sesuatu yang belum pernah mereka lihat sekalipun seumur hidup mereka. Gadis ini adalah pengendali elemen yang sangat mengerikan. Elemen petir.


Jujur saja, saat ini mereka sangat senang di undang kesini. Luna dan Ciel tidak lepas dari kekaguman ke empatnya. Moro yang begitu mengerikan menurut mereka, hanya seperti bocah yang sangat menyedihkan di hadapan ketiganya.


Mereka terakhir melihat Moro sang pendekar Ranah Bumi itu, sesaat sebelum Luna menghantamkan Godam dan mengirim pendekar sesat itu terpelanting jauh ke udara, dengan santainya.


Sekarang, ketiganya di sini. Seolah para ketua sekte itu sedang berada di antara pendekar-pendekar hebat sepanjang masa. Tentu saja ini pengalaman yang sangat berharga bagi keempatnya.


ciel yang memperhatikan kecanggungan itu, langsung angkat suara. "Tuan-tuan dan Nyonya. Kami sengaja mengundang kalian kesini, untuk meminta maaf dan menebus kesalahan kami."


"Nona, kami tidak keberatan. Jangan terlalu memikirkannya."


Jawaban Lentoro mendapat anggukan dari ke empatnya.


Cirl hanya mengangguk, lalu melanjutkan. "Aku sudah memperhatikan cara kalian bertarung. Jadi, aku dan kakakku, sudah membuat beberapa penyesuaian."


Mereka berempat mengernyit, heran. Mereka sama sekali tidak mengerti apa maksud dari kata-kata Ciel itu. Namun, mata mereka langsung terbelalak.


Ciel baru saja membuat lingkaran di udara, dan mengeluarkan empat pedang dan memberikan pada mereka masing-masing, satu dan sepasang pedang, untuk Rapatni.


Luna hanya tersenyum melihat reaksi ke empatnya. Hal yang sama telah mereka rasakan saat Arya pertama kali menunjukkan lingkar ruang pada mereka.


Mereka menerima pedang-pedang itu dengan pikiran kosong. Mereka pikir, mereka telah melihat semuanya. Jadi, Tidak ada yang mempersiapkan diri untuk melihat satu lagi keajaiban hari ini.


Mata mereka mengerjap beberapa kali, sesaat setelah Ciel menutup lingkar ruangnya. Seolah merasa itu hanya mimpi.


"Pedang-pedang itu, di buat sesuai dengan cara bertarung kalian. Kami juga menambahkan beberapa bahan di sana. Kebetulan. Beberapa waktu yang lalu kami menemukan batu energi dari siluman Tersius dan mencampurnya pada bahan pedang-pedang itu"


Mereka memutuskan bahwa apa yang baru saja melihat adalah kenyataan. Seseorang dengan kemampuan yang sangat tinggi, bisa membuat lubang di udara. Karena yang melakukan salah satu dari ketiganya, tak ada alasan lagi untuk begitu terkejutnya.


Sekarang, mereka fokus pada pedang yang ada pada tangan mereka masing-masing.


"Cobalah!"


Serabang mengangguk dan langsung menarik pedang di tangannya keluar. Namun, baru sedikit saja, bilah pedang tertarik, Udara di sekitar langsung berubah.


"Ya, di tangan kalian sekarang, itu adalah pedang yang memiliki kekuatan setara dengan pedang pusaka bumi." Jelas Bai Hua dengan bangga.


Tiga yang lainnya, langsung mencoba sedikit menarik bilah pedang-pedang yang ada pada mereka. Semua menunjukkan perubahan yang sama.


Sontak mereka langsung menutupnya. Tekanannya sangat kuat. Dan mereka masih memiliki sedikit trauma dengan Aura yang di lepas Pusaka Bumi.


"Nona, maksudmu ini semua untuk kami?"  Tanya Rapatni tidak percaya.


"Ya. Itu sebagai ganti senjata-senjata kalian yang sudah rusak. Senjata ini jauh lebih kuat. Dan memiliki kelebihan dari senjata kalian sebelumnya."


Mereka hanya terdiam. Tentu saja mereka mengetahui hal itu. Karena mereka batu merasakan tekanan hebat dari bilah nya.


"Jika kalian merasa bahwa tekanan itu adalah kelebihannya, itu memang benar. Itu karena bahan yang kami gunakan memiliki kemampuan memberi tekanan. Tapi tidak itu saja."


Mereka hanya mengangguk. Padahal sama sekali tidak mengerti maksud penjelasan Luna itu.


"Bai Hua, tunjukkan pada mereka."


Bai Hua terpaksa patuh. Karena semua ini bermula darinya.


"Kakek, pinjamkan aku pedangmu. Aku akan menunjukkan sesuatu."


Serabang sontak langsung memeluk pedangnya dan menggeleng cepat, saat Bai Hua mengatakan itu. Begitu juga Rapatni dan dua lainnya. Mereka sangat tau bahwa gadis ini sangat berpotensi merusak pedang.


Sungguh jika ada orang yang tak akan mereka izinkan memegang senjata-senjata mereka, tentu saja orang itu adalah gadis petir mengerikan ini.


Mereka tidak siap untuk kehilangan senjata setara Pusaka Bumi yang baru mereka terima, padahal mereka sendiri belum pernah sekalipun menggunakannya.


"Tidak apa-apa. Berikan saja. Jika Senjata itu tidak sanggup menahan kekuatan Bai Hua, aku tidak akan berani mengatakannya bahwa pedang-pedang itu setara dengan pedang Pusaka Bumi."


Serabang menelan ludah dan menoleh pada tiga lainnya. Berharap salah satu dari mereka mau menggantikan senjatanya. Rapatni yang memikiki dua langsung mempererat pelukannya.


"Aku pengguna dua pedang. Tidak bisa kalau hanya tersisa satu." Jawabnya cepat.


Sementara itu, Lentoro dan Marendra langsung mengalihkan pandangan pura-pura tak melihat tatapan Serabang.


"Cih, tak setia kawan!" Umpat Serabang pelan.


Dengan berat hati, Serabang menyerahkan senjatanya pada Bai Hua, tatapannya memelas, berharap gadis itu menurunkan kekuatannya saat menggunakan pedang pusaka nya itu.


Bai Hua menerimannya dengan canggung. Namun, beberapa saat kemudian, jantung Serabang langsung berdetak kencang saat Bai Hua mengatakan sesuatu yang menegaskan bahwa dia tidak akan setengah-setengah.


"Tolong sedikit menjauh dan perkuat diri kalian dengan tenaga dalam. Pedang ini sangat kuat."


Termasuk Luna dan Ciel, mereka langsung memusatkan tenaga dalam. Beberapa saat kemudian Bai Hua membuka segel prana nya dan ratusan kilatan petir langsung keluar dari tubuhnya.


Tak cukup sampai di sana, saat Bai Hua menarik pedang itu, sebuah tekanan besar langsung menyeruak dari bilah nya.


Bai Hua mengakat tinggi pedang tersebut, dan langsung melibaskannya kedapan.


"Booom ... !"


"Booom ... !"


"Booom ... !"


"Booom ... !"


"Booom ... !"


"Booom ... !"


Dengan pedang Serabang yang ada di tangannya, Bai Hua menembakkan energi elemen petir yang baru saja di kumpulkan pedang itu. Hasil, nya enam batang pohon besar, baru saja hancur.


Bai Hua langsung menyegel Prananya dan menyarungkan pedang yang kini sudah menjadi milik Serabang itu.


Bai Hua langsung mengembalikan pedang itu pada Serabang. Melihat pedangnya tidak mengalami lecet sedikitpun matanya berbinar.


Jika kekuatan gadis ini tidak menghancurkannya. Maka sudah di pastikan, bahwa senjata ini memang sangat kuat.


"Kalian adalah ketua-ketua Sekte besar. Pedang ini tidak hanya mampu melepas Aura, tapi juga bisa membuat kekuatan kalian meningkat. Kami rasa pedang ini akan membuat kalian semakin kuat di masa depan."


Keempatnya hendak berlutut pada ketiganya. Namun, Luna langsung menyela.


"Kalian tentu tau bahwa Raja kalian tidak akan memperbolehkan kalian berlutut pada siapapun bukan? Jika padanya saja kalian dilarang, apalagi pada kami!"


Keempatnya langsung terdiam. Namun, serentak tersenyum. Seperti sudah memikirkan sesuatu.


"Nona-nona ... Terimakasih!"


Ucap mereka sambil membungkuk.


"