
" Ki Handar, sebaiknya kita harus menemukan cara untuk mendapatkan informasi lebih banyak dari pemuda yang bernama Arya ini "
" Ya, Aku juga berpendapat sama dengan Ki Jurung "
Para sesepuh Sekte Awan Senja sudah sejak pagi buta berkumpul di vila milik Handar di sebuah bukit tidak jauh dari vila utama milik Tarim Saka.
Tidak ada satupun dari mereka yang bisa tertidur lelap sejak bertemu dengan Arya pada malam sebelumnya pada jamuan makan malam yang diadakan ketua Sekte mereka.
Terlebih dengan Handar sendiri. Tentu saja dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa dekat dengan pendekar sehebat Arya. Jika jauh lebih beruntung, Handar berharap bisa menjalin kerja sama dengan Sekte yang berada di belakang pemuda tersebut.
Desakan dari para sepuh ini sebenarnya tidak perlu. Karena Handar adalah wakil Sekte Awan Senja, tentu saja ini sudah menjadi tanggung jawabnya. Mengingat keahlian Tarim Saka sebagai ketua Sekte dalam menjalin hubungan kerja sama dengan pihak luar selama ini, terbilang cukup buruk.
" kalian tidak perlu mengingatkanku tentang itu. Untuk itu, aku sudah menyuruh salah satu muridku untuk menjemput Sugal ke kediamannya sebelum kalian kesini. Sebaiknya kita menunggunya untuk mendapatkan informasi lebih banyak terkait pemuda itu. "
Menurut Handar, Sugal adalah orang yang pertama kali berurusan dengan Arya. Mungkin saja saat jamuan itu, banyak informasi yang luput dari mereka karena mereka terlalu memandang remeh Arya sebelumnya.
Tak lama berselang, terdengar langkah kaki beberapa orang datang ke arah mereka.
" Selamat pagi! Ada apa gerangan para sesepuh memanggilku sepagi ini? Apakah ada misi baru untukku? " Sugal yang baru saja datang langsung menyapa dan bertanya prihal pemanggilannya itu.
" Ah, Sugal. Maaf memanggilmu sepagi ini " Jawab Handar " dan tidak! Tidak ada misi kali ini " lanjutnya.
Sugal mengernyit keheranan lalu memalingkan pandangannya pada seluruh orang yang ada di ruangan tersebut yang menatap sejak kehadirannya untuk mendapatkan jawaban.
" Sugal, duduklah di sini bersama kami. Ada hal yang sangat penting yang harus kita bicarakan saat ini! "
Sepuh paling tua yang bernama Ki Jurung menawarkan Sugal agar duduk bersama mereka. Tawaran yang belum pernah dia dapatkan sebelumnya.
Meski Sugal sudah cukup tua, Namun dia belum setua para sesepuh yang ada di sana. Sejak Sugal berada dan berlatih ilmu beladiri di Sekte Awan Senja lima puluh tahun yang lalu, Sugal sudah mengenal para sesepuh ini sebagai pendekar-pendekar muda hebat. Buktinya sekarang mereka menduduki jabatan penting di Sekte Awan Senja.
Sugal membungkukkan sebentar " Baik! " Jawabnya dan segera menduduki salah satu kursi yang tersisa di sana.
" Sugal. Tolong ceritakan pada kami, bagaimana sebenarnya kejadian saat kau pertama kali bertemu dengan pemuda yang bernama Arya itu! "
Sugal lagi-lagi terkejut dengan perkataan Handar. Belum pernah sekalipun kata tolong terucap dari wakil Sekte Awan Senja tersebut saat memberikan perintah padanya sejak pertama kali dia mengemban jabatan tersebut. ' Mungkin ini hari keberuntunganku. Sepertinya tidak lama lagi aku akan meninggalkan posisi ku sebagai ketua misi dan bergabung menjadi sesepuh di antara mereka ' batin Sugal.
Dengan bersemangat Sugal memulai " Baiklah! Hmm ... Sebaiknya aku menceritakan dari awal sekali " kata handal " Saat itu, beberapa hari sejak meninggalkan Sekte setelah mendapatkan misi, Kami sedang berpatroli ke sebuah desa untuk menyelidiki organisasi Kelabang Hitam dan kebetulan saat sampai di sana, seseorang mengaku telah mengalami perampokan dan meminta bantuan dari kami. Lalu ... "
Sugal mulai menceritakan semuanya dengan sangat detil tanpa menambah atau mengurangi keadaan yang terjadi saat itu.
Saat mendengar cerita dari Sugal, para sepuh itu, kadang mengangguk dan kadang menggeleng kecil. Beberapa kali kening mereka mengernyit dan terakhir mata mereka melebar.
" Benarkah! "
Teriak mereka serempak. Seolah tidak bisa mempercayai apa yang dikatakan oleh Sugal itu.
" Ya! Aku yakin pedang dari Baya itu berhasil menusuk perutnya. Darah yang mengotori bajunya itulah yang membuatnya menjadi murka. Penjahat bodoh itu mati dengan menggenaskan. Saat kami mengubur jasadnya, tubuh bagian dalamnya sudah hancur seperti bubur " jelas Sugal.
mereka semua terdiam. mencoba membayangkan apa yang ada dalam fikiran Baya sesaat sebelum ajal menjemputnya. hal itu membuat mereka sedikit bergidik, Ngeri.
" Jadi, kau dengan tanganmu itu, meninju Pendekar itu tepat di wajahnya? " Tanya Handar dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
Sugal tertunduk malu " Ya! Itu menjadi kebodohan terbesar seumur hidupku " jawabnya malu.
PRAAK!
Handar menggebrak meja hingga membuat semua orang yang berada di sana terloncat dari duduknya " Itu tidak hanya bodoh, tapi ... Itu! Itu ... " Handar tidak bisa mengungkapkan apa yang ada dalam fikirannya saat itu dengan kata-kata.
Sementara itu di saat yang hampir bersamaan, Darya yang sudah tidak sabar berjalan sedikit kencang dari biasanya. Tubuhnya yang lemah itu bisa saja tersandung sesuatu dan jatuh. Membuat para pelayan yang mengikutinya menjadi sangat cemas.
" Nona, tolong pelankan langkah anda " pinta salah seorang pelayan.
Para pelayan itu hanya bisa menggelengkan kepala mereka sambil terus mengikuti langkah-langkah kaki Darya. Bersiap-siap menangkap tubuhnya jika tiba-tiba saja terjatuh.
" Kalian tunggu di sini! " perintah Darya saat sudah berada di depan pintu gerbang Vila yang cukup tinggi tersebut. " Dan untuk kebaikan kalian, jangan pernah mengintip kedalam " tambahnya.
" Tapi, Nona— "
" Aku dan Kakek sudah berjanji pada kak Arya, hanya aku yang boleh melihat Siluman itu!. " potong Darya.
Para pelayan tersebut tidak berani membantah. Karena saat sebelum ke sini, Tarim Saka juga mengatakan hal yang sama.
Ini juga pertama kalinya bagi Darya diizinkan oleh Kakeknya untuk mengenal orang lain. Apalagi orang itu berasal dari luar Sekte.
Sejujurnya mereka merasa senang dengan itu. Mereka telah menjaga Darya selama bertahun-tahun. Wajah Darya yang bersemangat dan tampak berseri meski masih terlihat sangat kurus dan pucat tersebut, membuat mereka ikut bahagia.
" Baiklah, Nona. Jika anda merasa tidak enak badan, segeralah memanggil kami. Kami akan selalu menunggu di sini " kata salah seorang pelayan di sana.
Darya tersenyum " Bibi Wulandari, kau memang selalu mengerti diriku. Dan kau sudah seperti ibu bagiku " kata Darya memeluk Wulandari.
" Ya, sekarang pergi dan bersenang-senanglah " Jawab Wulandari sambil melepas pelukan Darya. Matanya sedikit berlinang air mata karena bahagia.
Wulandari sudah mengasuh Darya sejak dari bayi. Tentu saja rasa sayang yang dia berikan pada Darya tidak hanya karena Darya adalah cucu Ketua sekte Awan Senja atau gadis yang baik, tapi Wulandari sudah menganggap Darya seperti anaknya sendiri. Apalagi sejak kematian Ayah dan Ibu Darya, Wulandari berperan menggantikan mereka.
Rewanda dan Krama mendengar langkah kaki seseorang memasuki vila. Dengan cepat keduanya berubah wujud menjadi anjing dan kera biasa.
Darya mengabaikan keberadaan keduanya dan langsung menuju pintu vila tersebut lalu mengetuknya.
Arya yang juga mendengar langkah kaki tersebut, sudah bisa menebak siapa yang datang. Hanya beberapa kali Darya mengetuk, Arya langsung membuka pintu.
Darya tersenyum. " Maaf, apakah aku kepagian? " tidak tampak wajah penyesalan sama sekali di wajahnya.
" Tidak, aku juga sedang menunggumu. " Jawab Arya.
Darya mencoba melirik ke segala Arah, mencoba mencari keberadaan siluman Srigala dan Kera. Menebak jika mereka berada di dalam Vila yang memang cukup besar dan luas itu.
Melihat gelagat Darya, Arya sedikit tersenyum. " Mereka tidak ada di dalam " kata Arya.
" Oh, maaf. Aku fikir mereka ada di sini " Darya tersipu.
" Mereka ada di sana! " tunjuk Arya pada Rewanda dan Krama yang kini berada halaman vila.
Darya mencari-cari keberadaan dua mahkluk besar. Menduga akan melihat mereka di arah yang Arya tunjuk. Mengabaikan keberadaan anjing dan kera yang kini menatapnya heran.
" Di mana? " tanya Darya sambil sedikit memicingkan matanya berharap pandangannya sedikit lebih fokus.
" Itu mereka berdua " Arya menegaskan arah yang dia tunjuk.
Darya akhirnya menyadari keberadaan anjing dan kera. Lalu menatap Arya. " Kak Arya, aku melihat siluman yang ukurannya jauh lebih besar daripada kera dan anjing itu sebelumnya " Darya berkata dengan nada sedikit kecewa. Berfikir Arya sedang mempermainkannya.
Arya tersenyum" Jadi, kau memang telah melihat wujud asli mereka? "
" Maksud, Kakak? " tanya Darya heran.
" Sudah, lupakan. Aku rasa memang tidak apa-apa. Ayo ikut aku! " Arya menarik tangan Darya. Sejenak perasaannya menghangat. ' Apakah Alya akan tumbuh menjadi gadis yang bersemangat seperti ini? ' Arya membayangkan saat itu sedang memegang tangan adik perempuannya.
Darya juga merasakan hal yang aneh. Baru kali ini kulitnya di sentuh orang asing selain keluarga dan pelayan-pelayannya. Namun dia mengabaikan hal tersebut dan berjalan mengikuti langkah Arya.
Saat mereka mendekat Arya langsung berseru pada keduanya. " Rewanda, Krama!. Darya ingin mengenal kalian! Tunjukkan wujud kalian yang sebenarnya " perintah Arya.