ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Makanan Seharga Ratusan Ribu Arta


" huh huh huh huh huh "


Tengah malam di dalam hutan, seorang gadis tengah berlari kencang di antara pepohonan dan semak belukar yang memadati hutan itu.


" Sial! Sial! Sial! " Umpat gadis dan terus berlari.


Meski malam itu sangat gelap, dengan jarak tidak kurang dari 200 meter Di depannya, dia bisa melihat dengan jelas bebatuan besar di tepian sebuah sungai.


Berharap berhasil sampai di sana dan segera mencari tempat untuk bersembunyi sebelum makhluk yang kini mengejarnya itu berhasil menangkapnya.


Selagi berlari dia mencari selah kecil yang bisa memuat tubuhnya. Saat bebatuan itu sudah berjarak sekitar 50 meter, dia menemukannya. Ciel semakin memacu larinya semakin cepat agar bisa mencapai selah di antara dua batu besar itu.


srrrrrrrrppp!


Ciel berhasil meluncur masuk ke dalam sela batu itu dan tetap diam di sana agar makhluk itu tidak mengetahui keberadaannya. Ciel menahan nafasnya saat melihat makhluk yang tadi di belakanhnya berlari melewati tepian sungai dan tidak lagi mengejarnya.


" Au Au Au Auuuuuu ... ! "


Suara lolongan itu membuat Ciel merinding. Dengan suara yang menggema ke seluruh penjuru hutan tersebut, Ciel bisa memastikan makhluk itu adalah siluman terkuat di hutan ini.


" Benar-benar sial! Tak ada seorangpun yang pernah memberitahuku ada makhluk mengerikan seperti itu di hutan ini. " Ciel mengumpat kesal di dalam persembunyiannya.


Ciel terpaksa harus berdiam di lobang ini setidaknya sampai dia merasa benar-benar aman. Walaupun jika itu harus menunggu hingga hari terang.


Setelah sekitar satu jam bersembunyi, Ciel mendengar suara yang berteriak memanggilnya.


" Ciel!? ... Ciel!? ... Ciel!? ... "


Luna tidak memiliki penglihatan yang tajam seperti Ciel adiknya. Di tengah malam, ditambah lagi di dalam hutan yang lebat seperti ini jarak pandang Luna sangat terbatas. Dia harus berteriak untuk mengetahui keberadaan adiknya itu.


Mereka tadi sempat terpisah karena kejaran siluman Srigala yang sangat besar. Rasa cemas akan keselamatan adiknya itu tidak bisa membuatnya menunggu di persembunyiannya.


" Ya! ... Luna!  ... Aku di sini! " Ciel segera keluar dari lobang tersebut.


" Oh ... Sukurlah " Luna merasa sangat lega mendengar suara Ciel, ternyata hal yang ditakutkannya tidak terjadi.


Saat Luna mendekat, Ciel menepuk-nepuk bajunya, berusaha membersihkan tanah yang menempel di sana. " Apa yang harus kita lakukan sekarang? "


****


Arya memutuskan untuk tidak terlalu terburu-buru sampai di kota Arsa. Dia sudah berjalan selama 3 hari untuk menuju kesana.


Selama waktu siang, Arya mempelajari beberapa ilmu beladiri dari Kitab yang sama dengan kitab-kitab yang di berikannya pada Tarim Saka dan para sesepuh Sekte yang kini bernama Delapan Mata Angin tersebut.


Arya menyadari bahwa pentingnya ilmu beladiri. Bukan saja sebagai media untuk bertarung. Namun, saat menyalin Kitab Pernafasan Beruang Tanah, dia menemukan manfaat yang hebat dari Kitab itu untuk pernafasannya.


Arya juga menemukan keunggulan-keunggulan yang berguna bagi tubuhnya pada Kitab-kitab lainnya. Pada malam hari, Arya mencoba mempraktekkan teori dari Ilmu-ilmu tersebut.


Seperti malam ini, setelah sebelumnya menyantap daging hasil buruan Krama, Arya sedang duduk bersila berusaha memusatkan fikirannya.


Arya mencoba bernafas seperti petunjuk yang ada di Kitab Pernafasan Beruang Tanah. Arya sudah berada pada mode ketenangan sesuai dengan petunjuk hingga bisa merasakan setiap titik cakra yang ada di tubuhnya.


Ini adalah hal yang paling mendasar dari semua jurus yang ada di dalam Kitab itu. Namun, ketenangan itu harus terusik dengan kehadiran suara langkah kaki orang yang sedang mendekat padanya.


" Krama! Rewanda! "


Arya selalu menyuruh kedua Iblis Langit yang menemaninya itu berubah saat berada di dekat manusia.


Ciel yang pertama kali menyadari keberadaan Arya, langsung bertanya begitu sampai di sana. " Hei, sedang apa kau di sini? " lalu Ciel melihat sekeliling, keningnya mengernyit saat melihat Krama manatap tajam padanya.


" Guk! "


Mereka berdua sedikit terkejut, apalagi Ciel. Dia menyadari warna anjing itu sama persis dengan siluman srigala yang memburu mereka berdua. " Ada apa dengan anjing ini? "


" Ciel, bersikaplah lebih sopan! " protes Luna pada adiknya itu, lalu menatap Arya yang juga menatap pada mereka " Maaf! Kami melihat kau menyalakan api di sini. Jadi, kami berjalan kesini. Jika kau merasa terganggu, maka kami akan pergi  saja "


Arya bisa merasakan kecemasan yang ada pada diri dua orang wanita itu. " Oh, tidak!  Silahkan, jika kalian ingin bergabung " Tawar Arya ramah.


Dua minggu berbaur dengan banyak manusia, sudah sedikit membuka fikiran Arya. Bahwa, perlunya berbasa-basi agar bisa berkomunikasi dengan baik pada orang lain.


Luna sangat senang mendengar tawaran Arya. Setidaknya mereka bisa sedikit tenang karena tidak harus berdua saja menghabiskan malam di hutan yang kini berubah menjadi sangat menyeramkan itu. " Terimakasih "


" Ya! sama-sama. "


Ciel yang masih berdiri, tampak mencari sesuatu. Tapi, tidak menemukannya " Kau sendirian? " tanyanya heran.


" Tidak, aku tidak sendirian " Jawab Arya sambil menunjuk Krama.


Ciel memutar bola mata nya " Aku tidak bercanda. Aku juga tau kalau itu, maksudku, yang lainnya! "


" Oh, kau menyadarinya? " tanya Arya.


" Tentu saja! Tidak mungkin hanya kau dan anjingmu saja di sini, bukan? "


Arya tersenyum. " Rewanda! Turunlah "


Saat itu juga Rewanda langsung meloncat turun ke depan mereka.


" Errrggghh ... Maksudku ... Maksudku " Ciel prustasi merasa dipermainkan oleh pemuda di depannya itu. " Kau pasti bersama beberapa orang, bukankah kau seorang pengangkut? "


Arya tidak tau harus menjawab apa, dia benar-benar hanya bertiga di sini. Dan soal pengangkut itu, dia tidak mengerti sama sekali " Aku— "


Saat Arya ingin menjawab. Luna langsung menyela.


" Bukankah inu daging yang mereka sebut, Bubalu? " tunjuk Luna pada daging yang tersisa di atas api " Dan ini ... ini ... Ini pasti ... Benggala! " teriaknya histeris.


Ciel melupakan masalahnya dengan Arya dan langsung melihat ke daging yang di panggang Arya itu. Seketika matanya melebar. Apa yang di katakan Luna tidak salah.


Bubalu adalah Siluman langka yang sudah berumur di atas 1000 tahun. Tidak banyak yang pernah berhasil mendapatkan sikuman itu saat berburu.


Namun, benggala adalah hal lainnya. Luna dan Ciel kesini memang ingin berburu benggala yang ada di hadapan mereka sekarang ini. Tapi, benggala di depan mereka itu sangat besar. Mungkin yang terbesar yang pernah mereka lihat atau dengar.


" Jika kalian mau, kalian boleh memakannya. Kami sudah selesai "


Luna dan Ciel bertatapan dan menoleh perlahan pada Arya secera bersamaan. Seolah tidak percaya apa saja yang barusaja dikatakan oleh Arya tersebut.


" Kau tidak sedang bercanda, kan? " tanya mereka serempak.


" Ya, aku rasa dagingnya lumayan enak. Meski aku tidak tau sebelumnya, ternyata dua siluman ini memiliki nama benalu dan beng ... Beng ... Apa? Kau bilang namanya apa? "


Ciel dan Luna segera mengeluarkan pisau mereka dan mengiris daging kedua Siluman itu. Mereka kompak untuk tidak menjawab pertanyaan Arya tadi.


' Pemuda ini harus menunggu mereka selesai. Jika tidak, bisa saja dia berubah fikiran dan menarik tawarannya ' itulah yang ada di dalam pikiran dua kakak adik itu sekarang.


Arya hanya menatap mereka menyantap daging itu dengan tersenyum menggeleng. ' sepertinya mereka berdua memang sedang lapar ' batinnya.


Ada hal yang sedikit mengganjal di pikiran Arya. Menurutnya, Kedua gadis ini memiliki rambut dan warna mata yang unik. Mata biru dan rambut berwarna merah yang belum pernah Arya lihat dimiliki oleh orang lain sebelumnya.


Ciel dan Luna tidak menyangka bahwa kesialan mereka akan berakhir dengan keberuntungan. Kedua daging siluman ini sangat baik untuk menambah kekuatan.


Jika ini mereka temukan di rumah makan. Setidaknya mereka harus membayar 50.000 arta untuk satu porsi Bubalu dan tidak akan kurang dari 100.000 untuk Benggala.


Tentu saja itu sangat mahal menurut mereka. Kedua kakak adik itu tidak cukup gila untuk menghabiskan pendapatan toko mereka selama tiga bulan untuk itu saja.


Akan tetapi, Arya barusaja memperbolehkan mereka memakan itu sepuasnya. Tentu saja kedua kakak adik ini tidak akan melewatkan kesempatan langka itu begitu saja.


" Ting! "


Pisau yang digunakan oleh Luna membentur sesuatu. Saat dia mengambil benda itu untuk memastikan, seketika matanya melebar. " Kau belum mengambil batu energi ini? "


Luna menunjukkan pada Arya sebuah batu energi berwarna kuning keemasan yang lebih besar dari gengamannya.


" Ini juga! " Ciel barusaja mengeluarkan batu energi yang sedikit lebih besar dari Benggala namun berwarna merah gelap.


" Oh itu, " Arya melihat kedua batu itu lalu menatap kedua mata kakak adik itu, Arya langsung menyadari keduanya sangat tertarik dengan benda yang berada di tangan mereka " Jika kalian mau, kalian boleh menyimpannya " putus Arya.