ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Rencana Tiga Arah


Bai Fan menarik nafas panjang dan melepaskannya. "Arya. Apa rencanamu dengan tempat yang kau inginkan di tengah kota itu? Apakah kau akan menetap di sini untuk beberapa tahun?"


Pertanyaan Bai Fan ini mewakili semua orang di sana. Karena jika Arya ingin berkeliling dunia, lalu untuk apa semua ini.


"Tidak. Aku hanya menggunakan ini, sebagai tempat untuk mengumpulkan informasi dan pusat pergerakan kita. Aku rasa tidak mungkin kita bisa mengetahui siapa yang membuat penduduk Daratan Timur ini begitu menderita dalam waktu beberapa hari saja, kan?"


"Senior, bukankah sudah jelas itu semua karena Oldenbar dan pihak kerajaan yang mementingkan diri mereka sendiri?"


Arya mengangguk menyetujui pendapat Bai Hua. Jelas bahwa kerajaan hanya mengambil manfaat tanpa memperhatikan kehidupan manusia-manusia di daratan timur ini, apalagi serikat Oldenbar bahkan mereka mengorbankan manusia untuk perkembangannya.


"Ya. Sepertinya memang begitu. Tapi, menurutku bukan hanya itu saja. Penduduk Daratan ini juga memiliki kesalahan yang sama besarnya."


"Kesalahan?!"


"Apa kesalahan mereka?!"


Luna dan Ciel bertanya bersamaan.


Arya tersenyum masam. "Bukankah kalian juga sudah mengetahuinya?"


Berempat, mereka mencoba memahami apa yang dimaksud oleh Arya. Namun, tidak ada satupun jawaban yang melintas dikepala.


"Bodoh!"


Semua tersentak saat Arya sedikit mengeraskan suaranya. Mengira Arya baru saja mengatakan mereka semua yang di sana bodoh, karena tidak mendapatkan jawaban yang mereka cari.


"Itulah kesalahan penduduk Daratan Timur. Mereka jauh tertinggal, hingga penyakit yang bernama bodoh itu, menggerogoti hidup mereka." sambung Arya.


Meski sempat terdiam entah karena terkejut entah karena cara Arya menyampaikan hal itu dengan sedikit ketus, sesuatu yang belum pernah ditunjukkan Arya sebelumnya. Namun, akhirnya Semuanya mengangguk.


Bagaimanapun itulah masalah yang sebenarnya. Kebodohan memang sebuah kesalahan mendasar bagi manusia.


Itu juga yang membuat penduduk Daratan ini memiliki kehidupan yang suram saat kemajuan datang tanpa diiringi dengan ilmu pengetahuan. Mereka hanya akan menjadi budak perputaran roda kehidupan.


"Arya. Jika memang begitu, bukankah seharusnya lebih baik kita menghancurkan kerajaan ini dan Oldenbar secara bersamaan. Dengan dukungan sekte Singa Emas dan beberapa Sekte lainnya, kau bisa menjadi Raja, kemudian mengubah semuanya."


"Aku rasa kata-kata Luna ada benarnya. Kita tidak akan bisa mengubah sesuatu jika kita berada di bawah. Hanya orang-orang yang berada di puncak kekuasaannlah yang memiliki kemampuan seperti itu." Tambah Bai Fan.


Arya mengangguk. "Aku rasa itu masuk akal. Tapi, tidak sepenuhnya benar. Menurutku, untuk mengubah sesuatu, kita tidak harus berdiri paling atas. Dari cerita kalian, aku belajar sesuatu."


"Aku belum pernah mengatakan apapun tentang hal ini sebelumnya. Jangan bilang kau belajar dari kata-kataku!"


Luna yang terbiasa banyak membahas sesuatu dan beberapa waktu belakangan sering di katakan bahwa dari kata-katanya lah Arya mengambil tindakan, langsung bereaksi. Karena dia tidak pernah berfikir sejauh ini sebelumnya.


"Justru hal ini benar-benar aku pelajari dari kalian berdua." Ucap Arya. "Dan aku sangat bersyukur bisa sampai di Basaka ini, dengan kalian semua!" Tambahnya dan menatap semua orang.


"Apa yang kami katakan, yang membuat kau bisa belajar tentang hal seperti ini?"Tanya Ciel penasaran.


"Sejak kalian menceritakan Oldenbar dan bagaimana mereka bisa mengambil alih negara kalian, aku berfikir, jika mereka bisa, kenapa kita tidak."


"Maksudmu, Kau juga ingin membangun sebuah serikat?"


Bai Fan tidak bisa menahan rasa penasarannya. Dia tidak berfikir Arya akan jauh melenceng sejauh ini dari pendekar ke Alchemist. Sekarang membicarakan serikat perdangangan Dunia.


Arya mengangguk. "Ya. Kita akan memulainya dari Daratan Paling Timur Dunia ini, dan akan bergerak terus hingga keseluruh kerajaan Swarna dan terus keseluruh Dunia."


Mereka semua menelan ludah setelah mendengar ucapan Arya yang penuh tekad itu. Ingin sekali rasanya mereka mengatakan bahwa itu hal yang mustahil. Tapi, entah kenapa karena kata-kata itu keluar dari pemuda yang ada di hadapan mereka ini, jauh di hati kecil mereka, semua itu mungkin saja terjadi.


Melihat keempatnya hanya terdiam, Arya kembali bersuara. "Aku tau itu tidak akan mudah dan memerlukan banyak waktu. Tapi, aku rasa itu tidak masalah."


Ketiga gadis itu menganggukkan kepala mereka saat Bai Fan mengatakan itu.


"Ya. Kita akan sangat tua jika suatu saat itu memang terjadi." Tambah Luna.


"Seratus tahun! Tidak, menurutku rencana senior akan memakan setidaknya dua ratus tahun untuk bisa di selesaikan!"


"Mungkin saja. Tapi itu tidak masalah, bukan?" Ucap Arya enteng pada ketiganya.


Mereka langsung melongo. Mereka tidak bisa melihat garis tipis yang memisahkan antara kejeniusan dan kebodohan yang dimiliki pemuda itu.


"Arya. Normalnya manusia tidak hidup sampai dua ratus tahun. Kultivator terhebat di negeriku, mungkin sudah ada yang berumur tiga ratus atau lebih. Bagimu, itu mungkin saja terjadi. Tapi bagi yang lain, itu terdengar sangat mustahil."


"Kenapa mustahil? Beberapa waktu lalu, aku menganggap itu mungkin sulit. Tapi, sekarang Aku tidak menganggap itu masalah lagi."


Mereka semua menarik nafas panjang dan kemudian melepaskannya dengan kasar secara bersamaan. Sepertinya memang agak sulit bagi mereka untuk mengerti jalan fikiran Arya.


Arya mengernyit heran. Seolah mereka semua tidak mengerti apa yang dia katakan.


"Jadi, apa yang akan kita lakukan ke depan?"


Memilih untuk tidak membahas hal tersebut lebih panjang. Luna mengalihkan fokus untuk membahas tentang apa yang akan mereka lakukan dalam waktu dekat.


"Kita akan tetap dengan rencana Awal, tapi mungkin dengan gerakan yang lebih besar. Sebelum tempat yang akan menjadi pusat pergerakan kita itu ada. Kita selesaikan urusan senjata dan yang lainnya dengan Oldrnbar terlebih dahulu."


"Ya. Tuan Darsapati dan Ketua Lamo juga sudah mulai bergerak. mereka akan sampai di sini setidaknya dua minggu lagi."


"Baiklah. kita semua sudah tau apa yang harus di lakukan.!"


Mereka mengakhiri pembicaraan malam itu dan kembali ke kamar masing-masing.


Sementara itu di tempat berbeda, Darmuraji sedang berbicara dengan beberapa orang.


"Aku tidak peduli. Penuhi seluruh permintaan Alchemist itu. Kita tidak bisa membiarkan Oldenbar mengambil keuntungan darinya untuk serikat mereka sendiri."


"Paduka! Wilayah Pusat kota itu adalah gedung walikota. Apakah kita akan memberikan itu padanya?"


Darmuraji menatap tajam pada salah seorang penasehatnya. "Tampaknya kalian memang belum mengerti betapa berharganya seorang Master Alchemist bagi sebuah kerjaan. Itu hanya gedung walikota. Beruntungdia tidak meminta sebagian dari istana ini!"


Mata semua orang di sana terbelalak saat mendengar penegasan Darmuraji itu. Dan itu langsung membuat pikiran mereka lebih terang dan menjelaskan segalanya.


Dan di tempat lainnya. Di markas besar serikat Oldenbar di Kota Basaka, di depan semua petinggi Oldenbar yang ada di sana, Edward menatap semua orang dengan geram.


"Jika kalian membuat kesalahan yang sama sepergi si bodoh ini. Maka, kalian akan berakhir lebih menyedihkan!"


"Bruuukk!"


Edward melempar tubuh Drey yang sudah mengering ke depan semuanya.


Kini mereka tau kenapa selama ini ada kata di Sukkel di tengah namanya. Ternyata itu bukan sebuah nama melainkan gelar.


Dengan kekuatannya, Edward bisa menghisap tenaga dalam seseorang hingga tubuh orang itu benar-benar mengering.


"Kalian mengerti ... ?!"


"Siap! Pemimpin... !!"


Setelah itu Edward berbalik meninggalkan mereka semua. "Aku tidak akan membiarkan Raja Bodoh itu mengambil keuntungan dari ini!" Geram Edward.