
"Tuan Rangku, kita memerlukan waktu untuk menyembuhkan orang-orang ini."
"Nona Luna, aku mengerti. Jika begitu, biarkan aku dan Salendra yang berjalan terlebih dahulu ke kota Jampa."
Sehari sesudah menaklukkan benteng Nippokure, Arya masih terus mengobati para korban dari kekejaman pasukan Nippokure tersebut.
"Tuan Salendra, apa hanya ini benteng Nippokure di negeri ini? Sebaiknya kita fokus menyelamatkan orang-orang terlebih dahulu."
Melihat kekejaman yang di lakukan Nippokure di sini, mereka tentu tidak bisa tenang jika mengetahui ada banyak benteng seperti ini di daerah lainnya.
"Hanya ada dua yang aku ketahui. Satu di sini, dan satu lainnya ada di kota Jampa. Namun, sepertinya mereka tidak melakukan seperti apa yang mereka kerjakan disini."
Citra Ayu dan Bai Hua di sibukkan dengan pembuatan banyak obat untuk mengembalikan tenaga pemuda-pemuda yang ada di sana.
Arya sendiri fokus untuk mengobati korban yang menderita luka berat. Dan seperti biasanya, mengobati akan jauh lebih sulit.
Apalagi, saat ini beberapa dari wanita itu mengalami trauma. Tidak semua dari mereka bisa menerima kenyataan yang ada.
Setidaknya, dalam satu hari ini saja, sudah ada empat wanita yang mencoba mengakhiri hidup mereka sendiri.
"Arya, aku menemukan sesuatu. Apa kau bisa membacanya?"
Ciel menunjukkan beberapa beberapa gulungan kertas yang dia temui di bekas reruntuhan bangunan yang di hancurkan Arya.
Saat Arya membukanya, keningnya langsung mengernyit. "Tidak, aku tidak bisa membacanya."
Ciel cukup terkejut saat Arya mengatakan hal itu. Karena menurutnya Arya bisa membaca apa saja dan kali ini, baru pertama kalinya pemuda itu mengatakan bahwa dia tidak bisa membaca sesuatu, tentu saja menurutnya itu cukup aneh.
"Benarkah, apa aku menunjukkan dengan cara yang salah?"
Ciel memutar kertas itu dan kembali memperlihatkannya pada Arya. Saat Arya kembali melihat, dia tetap tidak bisa membaca tulisan itu. Namun, ada sesuatu yang mulai dia pahami di sana.
"Ciel, temukan semua benda yang seperti ini. Setelah aku selesai, aku akan mencoba mempelajarinya."
"Baiklah, aku mengerti."
Sementara Ciel terus mencari banyak hal, sekitar dua ratus meter dari benteng itu, api masih menyala. Di sanalah Krama dan Rewanda berada. Mengumpulkan dan membakar seluruh mayat-mayat pasukan Nippokure.
"Arya, kira-kira berapa lama waktu yang kita perlukan untuk menyembuhkan semua orang?"
Saat itu, Luna, Rangkupala dan Salendra menghampirinya.
"Untuk beberapa orang, mungkin akan memakan waktu seminggu dan yang lainnya bisa lebih cepat. Kenapa?"
"Tuan Muda, karena kita sudah mengirimkan pesan sebelumnya, sebaiknya aku terlebih dahulu menemui Sultan Jakasona."
Saat mendengar kata Rangkupala, Arya menggeleng. "Tidak, aku fikir biarkan saja mereka menunggu."
"Kenapa? ... Ini akan membuat Jakasona kebingunan, karena tidak tau apa yang harus dilakukan karena kita tidak kunjung datang."
Saat itu, Arya langsung menatap Luna. "Luna saat kita menaklukkan benteng ini, jalur komunikasi mereka pasti akan terputus, bukan?"
Saat mendengar Arya mengatakan itu, mata Luna langsung melebar, dan beberapa saat kemudian dia mengangguk. "Baik, aku mengerti."
Dua pendekar tua mengernyit heran. Bahkan Arya hanya bertanya, bagaimana gadis itu bisa mengerti?
"Tuan Rangku dan Tuan Salendra. Tidak kita sampaikan sekalipun, berita ini akan sampai pada Jakasona. Sebaiknya, kita fokus untuk memperkuat pertahanan di sini."
"Maksud Nona?"
"Hancurnya sebuah benteng bukanlah perkara biasa. Kita tidak perlu lagi mencari mereka. Pasukan Nippokure, pasti akan datang kesini dengan sendirinya."
"Jadi, maksud kalian ... ?"
Luna tersenyum "Ya, di sinilah pertempuran akan terjadi."
Kedua pendekar itu saling menoleh, dan kembali menatap pada Arya yang kini sudah kembali mengobati seorang pemuda di sana.
"Tuan Muda, kau pasti ... Raja Daratan timur, kan?"
Arya hanya menggelengkan kepala namun terus melanjutkan kegiatannya. Pemuda itu, sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan Rangkupala itu.
"Nona Bai, maaf jika aku salah bertanya. Dari mana saja melihat tentu tak akan biasa, kita sesama wanita, tapi kenapa kau begitu marah."
Layaknya seorang wanita, siapapun akan marah melihat apa yang terjadi di benteng itu. Namun, melihat bagaimana reaksi Bai Hua, hati gadis itu benar-benar tergelitik untuk bertanya.
"Citra Ayu. Aku mengalami hal yang hampir sama dengan wanita-wanita ini, saat Senior dan yang lainnya menemukanku. Bahkan, saat itu aku sudah akan mati."
Mata Citra Ayu langsung melebar. "Aku tak mengira akan membuka luka. Maaf ku pinta."
"Tidak apa-apa ... Aku tidak lagi memikirkannya. Malah, kadang aku merasa bersyukur. Karena hal itulah yang mempertemukan aku dengan senior."
Kening Citra Ayu mengernyit heran. "Bersyukur? Bagaimana bisa?"
Bai Hua menarik nafas dan melepasnya. Lalu dia kembali kepala. "Mungkin ini terdengar gila. Tapi ... Itulah yang aku rasakan dan itulah garis takdir yang harus aku terima. Kejadian itu, membawaku pada senior dan dia menyelamatkanku."
Citra Ayu mengangguk lalu tersenyum. "Nona Bai, apa kau menyukai Tuan Muda? Aku melihatmu begitu menghormatinya."
Mendengar pertanyaan Citra Ayu tersebut, Bai Hua langsung menghentikan apapun yang dengan dilakukannya. Saat ini, dia menatap Citra Ayu dan tersenyum.
"Katakan padaku, apakah ada alasan untuk tidak menyukai pemuda sepertinya?"
Kali ini, Citra Ayu dibuat terdiam, Saat Bai Hua balik bertanya padanya. Karena, saat itu juga otaknya berhenti bekerja.
Melihat Citra Ayu seperti itu, Bai Hua menggelengkan kepala dan kembali bekerja. "Aku, Ciel dan Luna, tidak hanya menyukai senior. Kami mempercayainya dan akan rela mati untuknya. Kau mengerti maksudku?"
"Maaf, sebelumnya aku berfikir kalian bertiga adalah istri-istri dari Tuan Muda."
Bai Hua kembali menghentikan kegiatannya. Kali ini, dia meletakkan tangannya di kedua Bahu Citra Ayu.
"Apa kau akan menolak Jika dia memintamu menjadi istrinya?"
"Hah?! ... Soal itu, aku ... Aku ... "
"Kami akan mengikutinya kemanapun dia pergi. Membantunya, menjadi senjatanya atau apapun itu. Tapi, saat ini untuk menjadi istrinya, sepertinya itu ... tidak bisa atau ... "
"Kenapa? Apa dia memiliki wanita lain di hatinya?" Tanya Citra Ayu cepat.
"Hahahahahaha ... "
Citra Ayu langsung keheranan saat tiba-tiba saja Bai Hua tertawa.
"Kenapa ... Kau, tertawa?"
"Nona, mungkin senior adalah manusia paling jenius yang pernah kita temui. Tapi ketahuilah, bahkan sampai saat ini, dia sama sekali tidak mengerti apa itu cinta ... "
Citra Ayu langsung terperangah. Informasi ini tentu saja tidak dia duga sebelumnya.
"Nona Bai, kau bercanda?"
Bai Hua menggelengkan kepalanya. "Tidak, dia benar-benar tidak mengerti hal-hal seperti itu."
Namun, saat Citra Ayu kembali ingin bersuara, Bai Hua langsung mendahuluinya.
"Senior tidak mengerti apa itu cinta. Tapi, dia memilikinya. Bahkan, Cintanya sangat melimpah. Tidak hanya untuk kita, bahkan aku yakin, Cinta yang di miliki oleh senior itu, akan memenuhi seluruh dunia."
Citra Ayu begitu terpananya saat mendengar kata-kata Bai Hua. Jelas baginya bahwa ketiga gadis ini, begitu mempercayai Arya. Tapi, apa maksud dari Cinta yang akan memenuhi dunia itu.
"Nona Bai, Siapa Tuan Muda sebenarnya."
Mendengar pertanyaan itu, Bai Hua hanya kembali menggelengkan kepala, seperti tak percaya Citra Ayu masih menanyakan hal itu. Namun, dia tetap menjawabnya.
"Kau sudah melihat kekuatannya juga kehebatan serta ilmu pengetahuannya. Dia bisa menjadikan siapa dirimu sebenarnya hanya dalam satu malam. Di Daratan Timur sana, dia adalah Raja."
Bai Hua meletakkan telapak tangannya di dada. "Dia adalah Raja yang bertahta di sini." lalu Bai Hua juga meletakkan tangannya di dada Citra Ayu. "Dia juga sudah bertahta di sini."
Citra Ayu hanya bisa terdiam saat Bai Hua mengatakan itu. Namun setelahnya Bai Hua mengatakan padanya sebuah kalimat yang membuat Citra Ayu benar-benar terperangah.
"Citra Ayu, ketahuilah. Pemuda yang menjadi Raja di hati kita dan seluruh penduduk Daratan Timur itu, di tangannya, kelak di masa depan, nasib Dunia ini, akan di tentukan."