
"Kau mencuri Apa?! ... "
Citra Ayu terkejut dengan reaksi dua gadis asing itu. Seolah mereka mengetahui benda yang telah di ambilnya dari orang lain tanpa sepengetahuan orang itu. Ya, Citra Ayu mencurinya.
"Ya. Aku katakan. Aku mengambilnya. Dia tidak mengetahuinya."
Ciel dan Luna menggelengkan kepala mereka. Gadis ini jelas mencurinya, tapi tidak berniat mengakuinya.
"Arya. Gadis ini berbahaya. Apa yang di ambilnya ini akan memicu perang saudara." Tegas Luna, tepat di depan Citra Ayu.
Saat mereka mulai bicara, Citra Ayu memperkenalkan dirinya sebagai salah satu pendekar wanita yang berasal dari Sekte Lubuk Bebuai. Sebuah sekte tertutup yang hanya di isi oleh wanita di salah satu negeri di tengah Daratan Barat ini.
Dia mengaku bahwa dirinya dan sektenya baru saja mengambil sebuah benda yang telah menjadi pusaka di Daratan Barat ini sejak ribuan tahun yang lalu.
Citra Ayu tidak berbohong sama sekali. Dia memang tumbuh dan belajar di sekte itu. Ayahnya, Karpatandanu mengirimnya menuntut ilmu di sekte itu sesuai amanah mendiang istrinya. Karena, istrinya memang berasal dari Sekte tersebut.
Hanya saja, Karpatandanu tidak mengetahui bahwa sekte Lubuk Bebuai memiliki agenda mereka sendiri yang bahkan orang-orang di Daratan Timur ini tidak mengetahuinya.
Citra Ayu pulang ke Pasir Putih beberapa tahun yang lalu. Namun, sebuah berita mengejutkannya. Dia mendengar bahwa seseorang dengan kemampuan Alchemist tingkat tinggi, muncul di Daratan Timur.
Karena kemampuan itu berhubungan dengan benda pusaka itu, Citra Ayu pulang ke sektenya dan memberi tahu pemimpin sekte itu apa yang dia dengar.
Sejak saat itulah sektenya merencanakan pencurian benda pusaka itu.
"Nona pendekar. Ilmu mu tinggi, aku yakin kau yang terkuat diantara empat, tidak maksudku tiga. Tapi, darah akan tetap mengalir dengan kami mengambil atau tidaknya batu itu." Sangkal Citra Ayu.
Arya masih tampak berfikir. "Kau memulai sesuatu. Sektemu pasti tau akibatnya. Bisa saja kalian semua terbunuh, apakah itu sepadan?"
"Arya—"
"Ciel, biarkan dia menjawabnya."
Menurut Luna, pertanyaan Arya masuk akal. Batu itu tidak akan bisa di gunakan oleh sembarang orang. Jika mereka tidak mampu, apa yang mereka lakukan itu sama saja dengan perbuatan sia-sia.
"Yang memegang bukan yang berhak. Yang mengambil bukan mencuri. Kami tidak meletakkan kaki di kepala. Kami masih berpijak pada bumi."
Bai Hua menunjukkan wajah frustasi. Dia sama sekali tidak mengerti apa maksud perkataan gadis ini.
"Baiklah, aku mengerti. Jadi, dimana Batu itu sekarang?"
"Tuan Muda. Kau kaya dan tentu bijak. Sedikit tau akan baik untukmu. Untuk bagian ini, biarkan lah berlalu."
Untuk bagian ini, semua orang mengerti. Menurut mereka. Citra Ayu berfikir, dengan mengetahui keberadaan Batu tersebut, bisa saja membahayakan nyawa Arya di masa depan.
"Kau sudah membahayakan nyawaku sebelumnya. Kenapa kau berfikir sekarang kau tidak. Apa yang menjamin ke depan kami tidak akan dalam bahaya setelah kau menceritakan ini?"
Citra Ayu tertegun. Dia sama sekali tidak berniat melibatkan Arya. Dia kesini menjelaskan masalahnya, agar Bai Hua mau menjadi pengawalnya.
"Nona, aku akan memberitahumu satu hal. Kau tidak akan mendapat bantuan apapun dari kami, jika pemuda ini tidak berniat membantumu."
Penegasan Luna itu, membuat Citra Ayu semakin kesulitan. Dia benar-benar tidak ingin membahayakan pemuda yang sedang duduk bersama mereka itu.
"Jika, Senior menganggap sesuatu adalah bahaya, maka tidak ada satupun dari kami yang mampu mengatasinya."
Kata-kata Bai Hua itu membuat Citra Ayu keheranan. Seolah, gadis sakti di sebelahnya ini mengatakan bahwa pemuda ini sangat hebat.
Sekali lagi Citra Ayu memandang Arya. Mungkin saja dia melewatkan sesuatu. Namun selain terlihat kaya, menurutnya Arya tetap seorang pemuda kaya aneh yang memelihara seekor anjing dan seekor kera.
Meskipun, dia tidak menyangkal bahwa Arya adalah pemuda yang paling tampan yang pernah di temuinya.
"Ah Nona. Kau sungguh beretika. Aku menghargai bagaimana kau menghormati Tuan mu. Jika kau memang tidak bersedia. Aku sudah tak berdaya. Aku hanya ingin ke Daratan Timur, ada seseorang di sana aku hendak berjumpa."
Mendengar nama Daratan Timur di sebut, Arya dan yang lainnya langsung bereaksi. Jika gadis itu berniat kesana, maka apa yang dilakukannya pasti ada hubungannya dengan Daratan dimana Aryalah yang menjadi Raja di sana.
"Nona, kau menyebut Daratan Timur, siapa yang ingin kau jumpai di sana?" Tanya Ciel, curiga.
"Batu bernama Inti Tanah. Tak ada ilmu yang bisa melerainya. Aku mendengar berita. Sang Alchemist menunjuk wajah di sana. Jika apa yang disangka benar. Dialah yang akan bisa."
Ketiga gadis itu melirik Arya. Tentu saja jika berita tentang Alchemist di Daratan Timur sampai di sini. Pemuda inilah yang ingin di temui Citra Ayu.
Namun, karena apa yang dilakukan sektenya sangat berbahaya. Luna langsung menyela.
Mata Citra Ayu melebar. Dia tidak menyangka bahwa gadis sakti ini memiliki ilmu lain yang begitu berharganya.
"Nona, kau begitu merendah. Aku melihat kau membunuh pendekar dengan sangat mudah. Alchemist adalah ilmu tiada tara dan kau menguasainya. Apa yang membuat mu menjadi pengawal sang tuan muda?"
"Luna ... Apa yang—"
Bai Hua hendak protes namun Arya langsung Memotongnya.
"Ya. Bai Hua seorang Alchemist. Jadi, apa rencanamu sekarang?"
"Senior ... !"
Bai Hua menjadi panik. Dia tidak pernah menganggap dirinya seorang Alchemist. Tapi, melihat tatapan Arya, dia mengerti bahwa pemuda itu sedang merencanakan sesuatu.
"Maafkan aku Nona. Aku terlalu memandang mu rendah. Jika kau mau mengikutiku. Aku akan membayar mu sangat tinggi. Bahkan jika kau meminta nyawaku. Ambilah setelah kita di sana."
Bai Hua menatap Arya untuk memberi tanda bagaimana cara menanggapi permintaan gadis di sebelahnya ini.
Arya menganggukkan kepala tanda menyuruh Bai Hua menyetujuinya.
"Baiklah, kami akan mengikutimu. Tapi, jika kau mencoba menipu kami, maka aku akan mengambil nyawamu, bahkan jika kita belum sampai di sana. Bagaimana?"
"Aku mengemban amanah. Tidak ada yang berharga selain itu. Jika aku ingkar, ambilah nya hingga tak bersisa."
Keempatnya langsung mengangguk menunjukkan persetujuan mereka. "Baiklah kalau begitu. Jadi, kemana tujuan kita."
"Negeri Sungai Sembilan. Tempat dimana kami menyimpan benda."
"Baiklah."
Saat semua ingin bergerak, Namun Citra Ayu masih tetap duduk. Di wajahnya tampak sedang berfikir. Dia memang sedikit yakin bahwa Bai Hua berkemungkinan menguasai ilmu Alchemist. Namun, untuk memastikannya tentu butuh sebuah bukti.
"Nona, apa yang kau lakukan?" Tanya Bai Hua, heran.
"Nona pendekar. Rahasia sudah aku katakan. Sudikah Nona memperlihatkan? Alchemist ilmu tak biasa. Tolong benarkan!" Ucap Citra Ayu sambil menunduk.
"Ini ... !"
Baik Bai Hua dan yang lainnya, sudah menduganya. Meski sedikit terlambat. Tidak mungkin Citra Ayu mempercayai begitu saja.
"Apakah gerangan?"
citra Ayu bertanya heran saat Bai Hua meletakkan sebuah kantung kecil di atas meja.
"Bukalah. Kau akan mengetahuinya."
Citra Ayu mengambil kantung kecil itu dan segera membukanya. Seketika itu juga matanya melebar.
Sebagai pendekar, tentu dia tau bahwa yang ada di dalam kantung itu adalah beberapa Pil. Akan tetapi, Pil-pil yang ada di dalamnya, memiliki kualitas yang sangat jauh daripada apa yang pernah dia lihat.
"Sungguh sangat menakjubkan. Alchemist bukan bualan. Ini keajaiban." Ucapnya dengan mata berbinar.
"Simpanlah untukmu. Aku rasa, suatu saat kau akan membutuhkannya." Ucap Bai Hua.
Saat Citra Ayu ingin mengatakan sesuatu, Bai Hua langsung menyela. "Tidak usah sungkan. Sebaiknya kita langsung jalan."
Bai Hua dibuat pusing dengan Kata-kata Citra Ayu. Jadi, sebelum gadis itu mengucapkan sesuatu yang akan semakin membuatnya sakit kepala, dia langsung memotongnya.
Mereka akan kembali berjalan, namun Citra Ayu masih diam di tempatnya.
"Apa lagi? Apa itu tidak cukup?" Tanya Bai Hua kesal.
"Negeri sembilan jauh di sana. Banyak tenaga diperlukan. ... "
Bai Hua menghela nafas panjang dan melepasnya. "Ya. Lantas, kenapa?"
"Jika Tuan dan Nona-nona berkenan. Sudah tiga hari aku tidak makan ... !"