ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Takdir


"Arya. Tidak ada cukup waktu untuk menjelaskan cerita yang panjang itu sekarang. Tapi, jika kau memang anak yang dijanjikan, maka kau pasti bisa menemukan apa yang tersembunyi di dalam bangunan ini!"


Itulah jawaban Darsapati saat Arya meminta penjelasan, ketika Darsapati mengatakan bahwa Arya adalah pemilik sah tempat itu.


"Senior, apakah orang-orang ini bisa dipercaya?"


Arya tidak memiliki ingatan masa kecil sedikitpun tentang tempat lain selain desa teluk berula, desa di mana dia tinggal bersama keluarganya.


Saat Darsapati mengatakan sesuatu tentang dirinya, tidak ada alasan lain untuk tidak percaya. Lebih tepatnya, Arya ingin mengetahui lebih tentang banyak hal, daripada hanya sekedar percaya saja.


"Apapun itu, untuk saat ini, sebaiknya kita mengikuti rencana mereka. Beruntung sekali kita bertemu di sini. Jika tidak, beberapa waktu kedepan, mungkin saja kita sudah terkubur bersama orang-orang itu."


Semuanya mengangguk menyetujui kata-kata Bai Fan.


Ekspresi yang dilihat Arya pada dua pendekar Suci Darsapati dan Kaungsaji, mengingatkan kembali pada saat pertama kali Arya menyebut namanya di depan Obskura. Saat itu, Obskura langsung berdiri terperangah dan menyebut-nyebut sesuatu tentang takdir.


'Bukankah ini hanya sebuah, Nama?' Batinnya.


"Melihat cara kalian masuk kesini, aku rasa kalian benar-benar tidak ingin melewati dua tangga di bawah. Apakah kalian sudah mengetahui jalan lainnya?"


Darsapati menduga Arya dan yang lain mengetahui jalan selain yang ada di Aula itu.


Ketika semua orang tidak menemukan petunjuk apapun saat setelah melewati sepuluh pintu yang di atas, mereka langsung memutuskan bahwa hanya tangga di bawah itu saja jalan masuk ke lantai berikutnya.


Akan tetapi, Darsapati dan Kaungsaji melihat Arya dan yang lainnya seperti sedang merencanakan sesuatu.


Darsapati yang berniat mengubur semua orang di lantai berikutnya itu langsung menaruh curiga pada mereka.


Apalagi, dia telah mengetahui Arya mengikutinya sehari sebelumnya. Kecurigaannya pun pada Arya yang sebelumnya, kian bertambah.


"Kami belum menemukannya. Tapi, aku tau ada yang berbeda dengan terowongan yang kami lewati."


Kening Darsapati berkerut. Sejak tadi, dia memiliki kecurigaan yang pada Ciel. Cara gadis itu memindai daerah sekitarnya, menunjukkan bahwa gadis itu mengetahui sesuatu, lebih dari yang lainnya.


"Maksudmu?"


"Batu di terowongan ini, berbeda." Kemudian Ciel berbalik. Dan mengedarkan pandangan sekali lagi. "Ada enam batu yang sama terletak di beberapa titik di dinding Aula ini"


"Di sana!"


"Di sana!"


"Di sana!"


"Di sana!"


"Di sana! Dan... Di sana!"


Ciel menunjuk ke enam titik tersebut dengan yakin. Setelah itu dia menoleh pada Luna yang sudah turun dan memastikan bahwa penglihatannya benar.


Melihat cara Ciel menjelaskan tersebut, Darsapati sedikit terkejut. Tidak ada yang bisa mengetahui itu, jika tidak diberi pentunjuk langsung oleh orang yang benar-benar mengenal bangunan tersebut.


"Aku tidak melihat kalian menggunakan peta sebagai petunjuk. Tanpa petunjuk, mustahil kalian bisa mengetahuinya."


Mata Darsapati yang sedang memperhatikan Luna memeriksa setiap titik yang ditunjuk oleh Ciel itu, kini beralih kembali padanya.


"Nona, Kau pasti memiliki kekuatan yang unik pada matamu, bukankah begitu?"


Ciel yangntidak biasa kekuatan matanya diketahui oleh banyak orang, sedikit canggung dan mengalihkan pandangannya dari tatapan Darsapati.


"Hmm... Bisa dikatakan seperti itu"


Pendekar Suci tingkat dua itu tidak bisa menutupi kekagumannya.


"Ini benar-benar, hebat! Hahahaha!"


Arya dan yang lainnya hanya bisa membiarkan Darsapati dengan tawanya. Sesungguhnya mereka juga kagum dengan kekuatan mata, yang dimiliki oleh Ciel.


Luna sendiri yang sudah mengetahui kekuatan mata adiknya sejak lama, tau bahwa, setelah Arya mengajarkan teknik Kultivasi yang unik pada mereka, kekuatan Mata adiknya itu sudah berada di level berbeda dari sebelumnya.


"Tapi menurutku, enam batu tersebut bukanlah petunjuk untuk pintu yang lainnya."


Bai Fan yang sejak tadi diam, kini menyuarakan pendapatnya.


"Melihat bagaimana bangunan sebesar ini didirikan dengan sangat detil, tentu saja adak banyak rahasia atau bahskan menyimoan rahasia yang sangat besar di dalamnya. Jadi, tidak mungkin hanya itu yang diperlukan untuk mengetahui jalan lainnya."


Di tambah lagi saat dia memperhatikan Darsapati hanya bereaksi karena kekuatan Ciel. Bai Fan curiga bahwa Darsapati dan Kaungsaji juga sudah mengetahui hal tersebut.


"Tuan Darsapati. Aku rasa, kau sudah mengetahui tentang batu-batu tersebut, bukan?"


Darsapati langsung mengangguk. "Ya! Tentu saja Kami sudah mengetahuinya."


Pendekar Suci itu berjalan mendekati pagar pembatas jalan di depan terowongan tempat mereka berdiri.


"Petunjuk yang kami miliki hanya sampai di situ."


Saudara Cokropati itu berbalik dan melihat pada Arya dan yang lainnya.


"Tidakkah kalian berfikir bahwa, Dengan kekuatan yang kami miliki, tentu saja butuh waktu dan tenaga dalam yang sangat besar untuk menghancurkan bangunan ini, bukan?"


Bai Fan tersenyum sambil mengggelengkan kepalanya, seolah sudah bisa menyimpulkan segala sesuatunya.


"Sesuai dugaanku. Keenam batu tersebut adalah pemicu sebuah ledakan yang mampu menghancurkan lantai atas ini, serta meruntuhkan atap yang membentuk bukit dari bangunan yang sangat besar ini."


Ucap Bai Fan sambil melihat Atap Aula yang besar itu. Kemudian kembali berbalik menolehpada Darsapati dan Kaungsaji


"Kalian akan menggunakan itu untuk rencana kalian sebelumnya, jika kalian tidak bertemu dengan Arya, bukankah begitu?"


"Ya! Seperti Itulah rencana kami sebelumnya." Jawab Darsapati, Jujur.


"Hei! Kalian turunlah kesini!"


Luna berteriak dari bawah meminta semua orang untuk segera turun. Sepertinya gadis itu telah menemukan sesuatu.


Tak lama, mereka semua sudah berada di bawah dan berjalan mendekat pada Luna,di tengah Aula besar tersebut.


Di sana, Luna bertekut dengan sebelah lututnya dan menatap kebawah, terpaku. Tangannya meraba-raba sesuatu di lantai tersebut.


Inilah kenapa Luna bisa mengetahui bahwa Level kekuatan mata adiknya sudah bertambah kuat. Karena, kekuatan sentuhan yang dimilikinya juga sudah naik ke level berbeda pula.


"Kalian semua, lihatlah!"


Saat mendekat, mereka bisa melihat sebuah lobang yang pipih yang memiliki panjang satu jengkal manusia dewasa. Di balik salah sebuah batu yang menjadi lantai Aula raksasa itu.


"Kakak! Bagaimana kau bisa menemukannya?"


Sesuatu yang luput dari kekuatan matanya, ternyata bisa ditemukan oleh kakaknya. Itu membuatnya sedikit heran.


Luna tersenyum melihat ekspresi adiknya tersebut. "Tidak hanya kekuatan matamu saja yang meningkat. Milikku, juga!"


Baik Arya ataupun yang lainnya, sudah mengetahui kekuatan Unik Luna. Namun, tidak bagi Darsapati dan Kaungsaji.


Mereka sudah menghabiskan banyak waktu di tempat ini dan memeriksa banyak tempat. Mereka yakin bahwa batu yang dibalik oleh Luna tersebut, tidak luput dari perhatian mereka.


Namun, batu itu terlihat biasa saja sebelumnya. Akan tetapi entah bagaimana, gadis ini bisa langsung menebak bahwa ada sesuatu yang aneh di sebaliknya.


"Aku memiliki kekuatan unik pada mataku. Sedangkan kakakku, kekuatan uniknya, ada pada kedua telapak tangannya!"


Ciel mengatakan itu dengan wajah bangga, saat melihat keterkejutan Darsapati dan Kaungbsaji.


"Kakakmu?... Jadi, kalian... Bersaudara?"


Kaungsaji menatap Luna dan Ciel bergantian. Seolah tak percaya saat melihat anggukan kedua gadis itu.


"Tak bisa dipercaya!. Kalian berdua Sungguh, Mengagumkan!" Pujinya.


"Jika ini kalian anggap itu sangat mengagumkan, maka kalian akan muntah darah jika mengetahui bahwa ada sepasang saudara lainnya, yang jauh lebih menganggumkan!"


Darsapati dan Kaungbsaji langsung menatap Bai Hua. "Maksudmu?!" tanya mereka serempak.


Bai Hua sedikit terkejut, dan baru menyadari bahwa dia dengan tidak sengaja, telah menyuarakan isi hatinya.


"Oh, tidak! Lupakan saja!" Kata gadis itu cepat seraya menatap Arya, merasa bersalah.


Arya menanggapinya dengan senyuman. Toh dia juga tidak berniat menyembunyikan hal itu saat ini.


"Aku bisa merasakan energi yang tidak asing di sepanjang terowongan yang kita masuki tadi. Dan energi yang sama juga bisa aku rasakan ada di sekitar batu-batu itu!"


"ENERGI... ?!"


Hampir semua orang yang ada di sana, menanyakan hal yang sama sesaat setelah Arya mengatakan bahwa dia bisa merasakan Energi yang tidak ada satupun dari mereka bisa merasakannya.


Arya mengangguk. "Meski aku tidak memiliki tenaga dalam seperti kalian, tapi aku sangat mengenal Aura dari Energi ini... "


Arya menjeda kata-katanya sejenak untuk memastikan.


"Ya! Tidak salah lagi, aku bisa pastikan bahwa, energi ini adalah energi yang sama dengan Energi ledakan Besar delapan tahun yang lalu!"


"HAH...?!"


"APA?!"


"Aku tidak akan menyembunyikan ini lagi dari kalian." Ucap Arya pada keempat orang yang selalu bersamanya itu.


"Aku adalah sember ledakan yang terjadi delapan tahun yang lalu itu!"


Mata semua orang di sana langsung terbelalak. Tentu saja mereka semua terkejut. Ledakan yang sangat besar tersebut, memang tidak sampai menghancurkan sebuah Daratan. Tapi berita tentang itu, mengguncang hampir ke seluruh Dunia.


Sekarang, seseorang di depan mereka baru saja mengakui bahwa, dialah sumber ledakan tersebut. Tentu saja itu sangat sulit dipercayai bagi siapapun, bahkan mereka sendiri.


Namun, itu tidak akan lama. Karena semuanya akan terbukti beberapa saat lagi.


"Mungkin, ini kenapa guruku mengatakan bahwa saat dia bertemu denganku dahulu, dia mengatakan itu adalah sebuah takdir. Dan kenapa kita semua bisa berkumpul di sini saat ini, aku rasa, juga sudah ditakdirkan!" Ucap Arya.


"Arya, jadi kau, benar-benar... "


Arya mengangguk menatap Bai Fan.


"Ya! Aku adalah orang yang kakek Bai, Cari!" Ucap Arya.


"Dan sepertinya, aku juga ditakdirkan untuk memiliki benda yang selalu kakek Bai bawa-bawa itu!"


Tambah Arya sambil menatap pedang besar yang terbalut kain, yang selalu di sandang Bai Fan kemanapun ia pergi itu.


Mata Bai Fan semakin membesar. "Ma-maksud ... Mu?" Tanya-nya, terbata.


Tidak menjawab perkataan Bai Fan, Arya langsung berteriak.


"BAHURAKSA, BANGUNLAH!"


****


Hello,


MOONMARVEL di sini.


Terimakasih sudah terus mengikuti cerita ini, Ya!


Maaf, kemaren karena satu dan lain hal, akuntidak bisa update Arya Mahesa. padahal, ini akan menjadi episode-episode yang akan menjawab banyak tanya, di Arch pertama ini. tapi, seperti biasa, aku akan mengantinya dengan menambhakan beberapa episode hari berikutnya.


Dan terimakasih juga untuk kalian yang sudah memberikan Like dan Vote pada ceritaku ini. itu benar-benar sangat berarti buatku.


Rate dengan memberikan Bintang Lima pada kiri tampilan awal Cerita, tidak di pungut Biaya lho. jika kalian berkenan, aku sangat menghargai jika kalian mau meluangkan sedikit waktu untum memberikan cerita ARYA MAHESA ini, Rate dengan 5 bintang.



Begitu juga dengan Vote. mungkin bagi kalian itu bukan hal yang besar. Tapi, bagi penulis amatir sepertiku ini, itu sangat berarti dan memberikanku semangat untuk terus menulis.



LIKE dan Komentar, kritik dan sarannya juga akan membantuku untuk terus mengembangkan cerita ini agar kedepan akan semakin lebih baik lagi.


TAPI, APAPUN ITU, TERIMAKASIH ATAS SEGALA BENTUK DUKUNGANNYA.


IKUTI TERUS CERITA ARYA MAHESA HINGGA AKHIR YA!.


M.M