ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Berburu


Tarim Saka dan yang lainnya ingin mengikuti Arya. tapi saat mereka melihat dari tepi tebing, mereka langsung mengurungkan niat dan bergidik ngeri.


" Untung saja tadi aku tidak langsung melompat " Gumam Tarim Saka saat melihat betapa dalamnya jurang tersebut.


Mereka langsung berbalik dan mulai berlari ke arah di mana Rewanda tadi menghilang.


Krama berlari kencang setelah akhirnya mencium keberadaan Darya. Aroma Darya yang khas, sudah terekam di ingatannya. Kini aroma itu terasa semakin dekat.


Tak lama, Krama melihat Darya berlari di atas tanah dan kemudian melompat ke atas pohon dari dahan satu kedahan lainnya. tatapannya menjurus kedepan, tidak menoleh kemanapun selain itu.


Seperti perintah Arya, Krama hanya mengikutinya. Hingga Akhirnya dia berhenti saat menyadari Darya tiba-tiba menghilang dari pandangannya.


Krama langsung melompat menjauh saat  dia merasakan sesuatu mencuat dari dalam tanah. Setelah berhasil mengelak, dia kembali menatap tempat tadi di mana dia berdiri. Sebuah gundukan tanah sekeras batu baru saja muncul disana. Dengan bentuknya yang meruncing, tentu saja kemunculan benda itu untuk melukainya.


" Cih! Seperti dugaanku, kau bukan Siluman! Makhluk apa kau?! "


Darya muncul kembali. Kini dari dalam tanah sekitar dua puluh meter jauhnya dari hadapan Krama.


" Jadi kau tidak bisa bicara? Baiklah! "


Darya membuat semacam gerakan dengan tubuhnya. Seperti kuda-kuda sebuah jurus. " Maka, Matilah! "


Krama kembali merasakan serangan dari bawah dan segera melompat menjauh. Namun, kali ini serangan dari bawah tanah itu juga muncul di tempat dimana dia baru saja mendarat.


Perlu belasan kali lompatan bagi Krama untuk menghindari semua serangan dari kekuatan Darya tersebut. Sebelum akhirnya serangan itu berhenti.


" Cepat juga! "


Krama tidak bereaksi apapun, dia hanya ingin memastikan bahwa Darya masih tetap bisa dia lihat. Tepat seperti perkiraan Arya. Gadis yang senang bermain dengannya itu kini seperti orang lain.


" Kau bahkan baru mengenal gadis ini! Biarkan aku pergi! "


Krama tak bergeming dan terus memperhatikan Darya dengan tenang.


" Keluar dari tubuh Darya! "


Darya dan Krama menoleh ke arah asal suara. Mereka melihat kedatangan Arya.


Darya menatap tajam mata Arya, lalu sebuah senyum tersungging, kemudian tertawa " Hahahaha, berani sekali kau berbicara seperti itu padaku! " Wajahnya meremehkan Arya.


" Aku hanya memintamu keluar dari tubuh Darya. "


" Huh, aku tidak menduga orang sepertimu yang tidak memiliki tenaga dalam bisa menjinakkan makhluk seperti itu "


" GRRR! " Krama menggeram.


" Hahahaha, apakah aku telah membuatmu kesal? "


" Sepertinya memang tidak ada cara lain selain memaksamu! " Arya langsung melompat untuk menangkap Darya yang sedang di kendalikan itu.


Akan tetapi, Entah bagaimana tiba-tiba tubuh Darya menghilang.


" Dia bisa masuk ke dalam tanah! " Krama menjawab rasa penasaran Arya.


Arya mengerti, berarti pendekar yang sedang mengendalikan tubuh Darya memiliki kekuatan untuk mengendalikan tanah.


Arya menyadari kemunculan Darya tidak begitu jauh dari mereka dan mulai berlari kembali. " Krama, memutar! "


Arya langsung berlari mengejar sementara Krama langsung melesat memutar untuk menyergap Darya.


" Hahahaha! Maaf anak muda, sekarang kekuatanku belum sempurna. Suatu saat kita akan bertemu lagi. "


" Aku tidak akan melepaskanmu! " jawab Arya sambil terus mengejarnya.


" Aku akui kau sangat cepat meski tidak memiliki tenaga dalam. Tapi, ini bukanlah kemampuanku sesungguhnya. Gadis ini masih terlalu lemah "


Dia memilih berbelok berlawanan dengan arah di mana dia mendengar langkah Krama. " Kau mungkin cepat. Tapi kau tidak terlalu pintar! " gumamnya.


" Kalian tidak boleh melukainya. " Amia kembali bersuara di saat Arya masih berlari mencoba menyusul Darya.


" Aku tau, jadi apa saranmu?! "


" Huh, kau masih menanyakan itu? Tentu saja menangkapnya hidup-hidup! "


Arya hanya menggelengkan kepala. Tentu saja itu yang sekarang sedang di usahakannya. Hanya saja, roh pendekar di dalam tubuh Darya itu sepertinya sangat pintar.


Ketika mereka hampir saja berhasil menangkapnya, dia akan menghilang. namun begitu mereka lengah, Darya akan muncul kembali dan menjauh secepat mungkin.


" Kalau aku jadi dirimu, aku akan menggiringnya berlari ke arah bebatuan "


" Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?! " 


" Jangan kesal begitu, aku baru saja mendapatkan ide itu! " protes Amia.


Seperti saran Amia, Arya berusaha menggiring Darya untuk berlari ke arah tanah yang lebih padat dan di penuhi bebatuan.


Tidak mudah memang. butuh waktu setidaknya dua jam bagi Arya hingga berhasil membuat roh pendekar yang sedang mengendalikan tubuh Darya itu, berlari di atas bebatuan.


Namun saat Arya berhasil menyusul dan sedikit lagi berhasil menangkapnya. Tiba-tiba tubuh Darya itu melompat tinggi dan menjauh seketika.


" Ternyata itu yang membuatnya sangat cepat " simpul Arya.


Meski tidak bisa menguasai elemen tanah, tapi Arya sudah mempelajari dasar-dasar pengendalian semua elemen. Hal yang baru saja dilakukan tubuh Darya adalah salah satu cara memanfaatkan teknik pengendalian elemen udara dan ilmu meringankan tubuh.


Pengguna elemen udara jika sudah ahli bisa membuat momentum loncatan dan dibantu dorongan angin untuk membuat lompatannya sangat tinggi atau sangat jauh.


" Hahahaha! Aku sudah menghadapi banyak pertarungan selama aku jadi pendekar. Meski aku sekarang sangat lemah, jangan berfikir kau bisa menangkapku dengan mudah! Hahahaha! "


Suara mengejek itu sedikit membuat Arya menjadi kesal. Namun, bicara soal pertarungan, Arya adalah orang yang selamat dari belasan bahkan puluhan ribu kali dari kematian dalam perjuangannya untuk menjadi kuat.


Hanya ada satu kata yang bisa di artikan gagal oleh Arya. Dia gagal saat dia mati. Sebelum itu, dia tidak akan pernah berhenti.


Jika musuhmu kuat, buat dia lelah. Saat dia lelah maka dia lemah. Berburu adalah hal yang dilakukan Arya setiap waktu sejak berumur sepuluh tahun. Jika bukan karena ingin menyelamatkan Darya. Maka, ini sudah berakhir tidak lama dari sejak dia memulai.


Roh yang mengendalikan Darya sedikit menemukan celah untuk melarikan diri. Di ujung Hutan berbatu ini, dia melihat sebuah jurang yang memisahkan dua buah tebing yang sangat lebar.


Seulas senyum terukir di wajahnya. ' Hahahhaha, kalian tidak akan bisa menyusulku lagi saat aku berhasil melompati itu ' batinnya.


Namun, saat dia melihat kebelakang, dia mendapati Arya dan Krama memelankan langkahnya. Senyumnya semakin melebar melihat Arya dan Krama yang sudah menyerah untuk mengejarnya.


" Hahahaha! Kau sangat tidak beruntung anak muda! Kau telah menyia-nyiakan kesempatanmu untuk menangkapku, saat aku telah menguasai tubuh gadis ini sepenuhnya, Ingatlah! ...Namaku Kundari, suatu saat aku akan mengguncang dunia persilatan ini! Hahahhaha! " teriak Kundari merasa telah berhasil lolos dari Arya.


Setelah mengatakan itu Kundari melompat tinggi  untuk melintasi jurang itu. Saat barusaja berada di udara, dia melirik Arya untuk terakhir kali berusaha mengingat wajah pemuda tersebut.


Jika suatu saat mereka bertemu lagi, dia akan menghancurkan pemuda yang telah merusak rencananya ini.


Akan tetapi saat melihat Arya, senyumnya langsung terasa hambar. Kundari merasa ada yang salah di sini. ' Kenapa pemuda ini malah tersenyum? ' .


" Wooooo Hoooooo! "


Kundari terkejut saat tiba-tiba mendengar suara yang menggema dari dalam rumpun dedaunan menuju tepian hutan dengan kecepatan tinggi.


Rewanda dengan wujud iblisnya muncul menembus pohon yang sangat tinggi di tepian tebing, melesat cepat ke arahnya.


Kundari lupa. Pemuda itu memiliki tidak hanya satu tapi dua makhluk Aneh yang selalu bersamanya.


" Sial! "