ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Pertempuran Daratan Timur


Di waktu bersamaan, di Kota Basaka telah terjadi kehebohan. Penduduk di sana menjadi sangat cemas.


Memang berita tentang kematian Darmuaraji belum tersebar, tapi kabar tentang pertempuran yang akan terjadi di Lembah Haru sudah lebih dahulu menyebar layaknya virus di sana.


Kabar tentang jumlah pasukan kelompok SeKte aliran Hitam berjumlah ratusan ribu pendekar itu, benar-benar membuat suasana di kota itu, menjadi sangat mencekam.


Saat kembali ke Basaka pada malam hari sebekumnya, Ciel langsung mengabari apa yang dia lihat pada Luna dan Bai Hua. Sama seperti dirinya, keduanya juga sangat terkejut.


Mereka tidak begitu menghiraukan tentang kematian Darmuraji, karena sebelumnya ketiganya sudah tau betapa kejinya kakak Maharaja kerajaan Swarna itu, langsung dari putri Jasmine saat dia sadar beberapa bulan yang lalu.


Bahkan, mereka sangat kesal kenapa bukan mereka yang membunuhnya. Itu saja, karena Putri Jasmine menceritakan kejadian yang memang sangat mengerikan untuk di lihat oleh seorang gadis, apalagi masih sangat muda.


Saat sadar, putri Jasmine benar-benar trauma, butuh dua hari baginya untuk mempercayai Arya dan yang lainnya. Itu juga karena saat itu kebetulan Angus datang berkunjung.


Saat itulah Putri Jasmine mulai menceritakan, apa yang terjadi dengan keluarganya saat itu.


Ayahnya, Raja Aditya yang juga merupakan putra Mahkota kerajaan Swarna dan Seluruh keluarganya benar-benar di bantai dengan sangat kejam oleh beberapa pendekar.


Salah satu pendekar itu, di yakini Putri Jasmine pernah ia lihat beberapa kali bersama Darmuraji.


Sebelumnya, Jasmine melihat dengan mata kepalanya sendiri ibunya di perkosa secara bergilir oleh pendekar-pendekar tersebut. Itu juga menimpa seluruh anggota keluarga lainnya termasuk pelayan-pelayan wanita mereka.


Namun, saat Jasmine akan diperlakukan sama, tiba-tiba Ayahnya, Raja Aditya mengamuk. Meski tidak memiliki tenaga dalam yang kuat. Nyatanya pendekar-pendekar itu menjadi panik dan memulai pembantaian itu.


Putri Jasmine hanya mengingat terakhir kali di sana, bahwa ada pendekar yang melepaskan gerakan pedang yang sangat cepat hingga melukai hampir sekujur tubuhnya, hingga dia kehilangan kesadarannya.


Berfikir bahwa dia telah mati, putri Jasmine tiba-tiba saja tersadar dan sudah berada di dalam sebuah gerobak. Ia ingat sekali saat itu orang yang membawa nya dengan gerobak adalah Wisanggeni.


Namun, begitu sudah mendekat pada Pegunungan Singa Emas. Beberapa anggota Oldenbar, melihat mereka. Wisanggeni dengan berat hati menyuruh Jasmine masuk kehutan. Dan saat malam hari, dengan tubuh yang masih terluka, akhirnya dia menemukan restoran milik Angus.


Itulah penggalan demi penggalan ingatan yang bisa di ceritakan Putri Jasmine pada mereka.


Sisa ceritanya, Arya dapatkan saat menemui langsung Wisanggeni. Ternyata selama ini, Mantan walikota Basaka itu, terpaksa berpura-pura mempercayai kerajaan dan memusuhi Darsapati dan Sekte Singa Emas seperti yang lainnya, agar dia tidak di curigai bahwa dialah yang berhasil membawa Putri Jasmine kabur.


Tentu saja dia tidak akan bisa mempercayai hal tersebut. Sementara, Darsapati dan dirinya telah saling kenal hampir seumur hidup mereka. Dan menjaga Basaka, bersama.


Jika Darsapati memang ingin menguasainya, tentu saja dia seharusnya yang menjadi korban pertama. Karena, saat itu dialah penguasa Basaka.


Wisanggeni telah menjaga istana Basaka


Puluhan tahun, dan tau benar seluruh isi istana tersebut. Karena sejak awal, Wisanggeni dan seluruh keturunannya memang dipercayai untuk menjaga Basaka termasuk rahasia-rahasia di sana sejak lama.


Mendengar cerita Jasmine saat itu, tentu saja Darmuraji adalah target Arya dan yang lainnya. Itulah kenapa, saat Arya pertama kali melihat Darmuraji, dia tidak hanya berniat untuk tidak membungkuk, tapi Arya nyaris berfikir untuk membunuh Darmuraji, saat itu juga.


Hanya saja mengingat bahwa saat itu, mereka memiliki rencana jauh lebih besar daripada hanya sekedar membalas perbuatan terkutuk pria tua itu, Arya berhasil mengendalikan dirinya.


Kembali pada saat menceritakan apa yang dia lihat. Ciel bisa memastikan dua orang yang dia lihat tampak berlatih tanding itu, benar-benar kuat. Ciel sendiri sempat terkejut dengan kecepatan salah satunya saat mencabut jantung Darmuraji.


Siang ini, saat mereka tengah bersiap-siap dengan segala kemungkinan. Tiba-tiba seseorang masuk keruangan tempat di mana mereka kini berada.


Saat melihat siapa yang kini berada di pintu, ketiganya langsung mengembangkan senyum, lega.


"Arya!"


"Senior!"


****


Angin berhembus meniup rerumputan di padang yang sangat luas. Matahari bertengger tepat di atas kepala. Namun, tidak ada yang memperdulikan itu semua saat ini.


Lembah Haru, Tempat yang di pilih kelompok Sekte-sekte aliran hitam sebagai perkemahan pasukannya, kini sudah di pastikan akan menjadi saksi sejarah pertempuran besar Daratan Timur dalam beberapa Dekade terakhir.


Di antara dua pasukan yang berjarak tidak lebih dari dua ratus meter itu, di tengahnya telah tertancap ke tanah Jasad Darmuraji dengan tertusuk tongkat panjang menembus tubuhnya dari bawah hingga ke atas.


Sosok yang paling bertanggung jawab atas terjadinya pertempuran yang akan terjadi beberapa saat lagi.


Akan tetapi, tidak lagi ada yang peduli lagi dengan itu semua. Dua kubu yang sedang berhadap-hadapan ini, sekarang berada di sini hanya demi satu tujuan. Menangkan pertempuran atau mati bersimbah darah.


Terlebih bagi Marendra dan seluruh anggota Sekte Bulan Sabit. Pulang drngan kemenangan atau mati dengan membawa kehormatan diri sebagai pendekar. Itu tak bisa lagi di tawar.


Rantoba yang baru saja datang dan bergabung di belakang pasukannya, akhirnya mengerti apa yang di katakan gurunya, Moro, beberapa saat yang lalu.


Berbeda dengan cara pasukannya yang berjumlah lebih dari sepuluh kali lipat itu, yang menatap seluruh musuh mereka dengan angkuh, Marendra balas menatap dengan tatapan mengancam.


Seolah seluruh tatapan dari pasukan mereka berkata, setidaknya jika aku mati hari ini, maka aku akan membawa dua atau tiga musuh mati bersamaku.


Di depan, Empat ketua Sekte besar beraliran hitam dan puluhan ketua sekte kecil lainnya, benar-benar meremehkan musuh mereka.


Jika di fikirkan kembali apa yang diperintahkan Daga tadi, ada benarnya. Menyerang musuh yang memiliki kekuatan jauh lebih sedikit, ini akan membuat kemungkinan jatuh korban di pihak mereka menjadi jauh lebih kecil.


"Ki Sapujagad, sepertinya ini bisa kita menangkan dengan mudah.!"


Sapujagad mengangguk. "Ya. Kita tidak mengikuti orang yang salah. Hahahaha!"


Hari ini, mereka mengakui bahwa Daga memang pantas menjadi pemimpin. Ilmu beladiri, tenaga dalam serta kepintarannya, sangat jauh di atas Kelang. Bagaikan langit dan bumi.


Mereka tersenyum bangga saat itu, Namun itu tidak lama. Karena mata mereka melebar saat tiba-tiba melihat apa yang di lakukan Marendra dan pasukannya.


"Nyai Anjaran, bukankah itu, Panji Perang milik Sekte Singa Emas?!"


Entah kenapa saat melihat itu, dia dan kedua sekte Lainnya sedikit ketakutan. Saat itu mereka begitu terperangah hingga tidak begitu mendengar seseorang berteriak.


"Apa yang kalian lakukan?! ... Serang?!"


Saat Itu baru mereka tersentak dan mendengar Daga telah berteriak beberapakali untuk balas menyerang.


Bersamaan dengan itu pula, mata mereka kembali terperangah. Di belakang sepuluh ribu pendekar Sekte Bulan Sabit yang ternyata sudah berlari hendak menyerang mereka, seluruh pasukan Aliansi Sekte aliran Putih tiba-tiba muncul dan langsung ikut berlari.


"Serang...!"


"Serang...!"


"Serang...!"


Dengan teriakan dari ketiga, Kedua kubu akhirnya benar-benar akan melakukan pertempuran.


Saat jarak mereka sudah kurang dari seratus meter, salah satu anggota Sekte Bulan Sabit yang berada di sebelah Marendra, berkata. "Ketua, kau berhasil. Mereka semua ikut bertempur."


Marendra menoleh sebentar kebelakang, lalu tersenyum. "Akhirnya kalian sadar, orang-orang tua. Ini bukan lagi tentang Sekte atau kelompok manapun. Ini tentang masa depan seluruh Daratan Ini."


Marendra langsung memusatkan tenaga dalamnya pada kaki dan melesat lebih cepat. Saat jarak mereka hanya berkisar lima puluh meter saja, ketua Sekte termuda dalam sejarah Daratan Timur itupun melompat tinggi dan jauh kedepan.


"Jurus Tinju Guntur...!"


Saat Marendra mendaratkan tinjunya pada salah satu pendekar yang menjadi musuhnya, tubuh pendekar itu terbawa dan hancur saat kepalan tangan pemuda itu membentur tanah dengan sangat Keras.


"Booom!"


Puluhan pendekar di sekitarnya terpental saat itu juga. Serangan pertama itu menjadi pertanda bahwa Pertempuran Daratan Timur, benar-benar di mulai.