ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Perang Benteng VII


"Coba bungkam mulut ku, jika kau memang mampu ... "


Daisuke langsung mengarahkan tendangan pada Umbara, namun serangan itu tentu saja bisa di hindari dengan mudah.


Akan tetapi, Jika hanya itu yang dia punya, Daisuke tidak akan menjabat sebagai komandan Pasukan Nippokure untuk di letakkan di negeri ini.


Sebuah Ayunan pedang sebagai serangan balik langsung dia tebaskan pada Umbara.


"Ting ... !"


Mata Umbara melebar. Karena tidak hanya cepat, namun serangan itu juga sangat kuat.


"Level kependekaran ... Huh? Persetan."


Umbara menyadari Daisuke ternyata juga menyembunyikan kekuatannya yang sebenarnya.


Sangat terasa saat ini, karena Umbara sedikit kesulitan menghadapinya. Namun, tentu saja tidak sesulit hingga dia tidak mampu membalasnya.


"Aku juga tidak perduli dengan itu, bedebah ... !"


Saat keduanya bertukar jurus dan saling menyerang, hari sudah semakin gelap. Hal yang akan sangat merugikan pendekar-pendekar pembela negeri Jampa, jika pertempuran tidak segera di selesaikan.


Karpatandanu yang sudah mengetahui taktik pasukan Nippokure, awalnya tidak terlalu cemas. Begitu juga dengan Rangkupala dan Salendra.


Pasalnya, jauh sebelum pertempuran terjadi, Ciel sudah menunjukkan jalan-jalan rahasia yang ada di benteng tersebut.


Luna juga sudah memberitahu mereka apa yang harus dilakukan, saat musuh mencoba memanfaatkannya.


Akan tetapi, Karpatandanu tetap merasa itu terlalu mudah. Meski belum pernah bertempur dengan pasukan asing sebelumnya, Sultan negeri Pasir Putih itu, menduga bahwa Daisuke tidak memanfaatkan jalan Rahasia, sebagai mana yang mereka bayangkan sebelumnya.


"Tuan Salendra ... Aku akan meninggalkan tempat ini. Bisakah kau mengurusnya?"


Mata Salendra melebar tak percaya saat mendengar teriakkan Karpatandanu, nun jauh di sana.


"Aku tau kalian merasa bahwa aku sangat kuat ... Tapi, aku tidak bisa menangani semuanya sendiri ... !"


Tiba-tiba saja, Aura di sekitar Karpatandanu berubah. Saat itu, semua orang di sekitarnya, merasa bahwa Sultan Pasir Putih itu baru saja melepas Aura pembunuh dengan energi yang besar di saat bersamaan.


Bahkan, Salendra yang berada jauh darinya, juga bisa merasakan hal tersebut.


"Apa aku membuatnya marah? ... Apa dia tidak biasa bercanda? Aneh sekali Sultan yang satu itu ... "


"Pembalik Ombak ... !"


Satu ayunan pedang Karpatandanu, berefek sangat kuat. Tebasan itu melepas energi besar, yang mengeluarkan tekanan udara yang mampu melempar musuh, tinggi ke udara.


"Tebasan ... Gelombang!"


"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"


"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"


"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"


"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"


"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"


"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"


Karpatandanu baru saja memperlihatkan kekuatannya yang Sebenarnya. Hal itu langsung menyebabkan pasukan Nippokure terkejut.


Namun, yang paling terkejut adalah Salendra. Dia benar-benar merasa aneh saat ini.


"Huh! ... Sejak kapan orang-orang ini memiliki senjata yang hebat?"


Serangan Karpatandanu, berhasil mengurangi jumlah musuh yang cukup kuat dalam jumlah besar, dengan waktu yang sangat cepat.


Setelah itu, dia mengatakan pada kelompoknya agar bergabung dan membantu kelompok Salendra dan Rangkupala.


Setelah itu, Sultan Pasir Putih itu menerjang musuh, namun langkahnya saat itu, seolah akan meninggalkan medan tempur.


"Kalian ... Kejar dia ... !"


"Srreeet ... "


"Kemana kau melihat, Daisuke? ... Sepertinya, Kau benar-benar meremehkanku."


"Kau ... !"


Daisuke baru saja mendapatkan luka dari satu tebasan pedang yang diayunkan Umbara padanya.


Saat ini, Karpatandanu, benar-benar beresiko merusak rencana awalnya.


Namun, Umbara ternyata adalah lawan yang tak bisa diremehkannya. Salah bergerak sedikit atau jika sekali lagi dia lengah, bukan tidak mungkin putra Jakasona ini, benar-benar berhasil membunuhnya.


"Kenapa? ... Apa Sekarang kau akan mengatakan bahwa kau akan serius?"


Ejekan Umbara itu, berhasil membuat Daisuke menarik nafas dalam dan melepasnya kasar, murka.


"Sepertinya, Aku memang harus membunuhmu terlebih dahulu, ke sini kau bodoh ... !"


Pola serangan Daisuke langsung berubah. Umbara bisa langsung merasakan perubahan gerakannya. Selain semakin cepat, tenaga yang dilepasnya dalam setiap serangannya juga semakin kuat.


"Mati kau ... !"


"Mati kau ... !"


Benar-benar serangan cepat yang sangat sulit untuk di hadapi. Memang, sejak awal Umbara tidak pernah meremehkan Daksuke, itu kenapa dia sudah mengeluarkan kemampuannya dan bersungguh-sungguh untuk mengalahkannya.


"Sreeeet ... !"


"Sreeeet ... !"


"Sreeeet ... !"


"Sreeeet ... !"


"Buk ... !"


"Arggh ... !"


Empat tebasan pedang dan satu terjangan kuat yang tepat mendarat di dadanya, berhasil mementalkan tubuh Umbara jauh kebelakang.


"Rasakan itu, Bocah ... "


"Uhuk ... "


Umbara baru saja memuntahkan darah segar dari mulutnya. Saat ini, dia memegang dadanya, yang terasa sakit dan memanas.


Akan tetapi saat itu dia tersenyum. "Aku tidak mengharapkan lawan yang lemah."


"Sial, kali ini aku akan memastikan kau mati ... !"


Daisuke menanti Umbara dengan sebuah kuda-kuda berpedang yang bisa di gunakan untuk menangkis maupun menyerang dalam saat bersamaan.


Namun, tentu saja Umbara tidak cukup bodoh untuk menyerangnya secara langsung.


Saat umbara hampir mendekat, dia mengayunkan pedangnya pada Daisuke, akan tetapi di saat bersamaan, Komandan pasukan Nippokure itu, mengernyit heran.


Umbara mengayunkan pedangnya dengan kuat, lalu saat itu juga pedangnya terlepas.


"Apa dia bodoh?"


"Ting ... !"


Daisuke dapat menangkis pedang Umbara yang menyongsongnya, dengan sangat mudah. Namun, di saat bersamaan, Umbara terus berlari padanya.


"Hehe ... Kau fikir kau bisa mengecohku?"


Daisuke yang baru saja menangkis pedang Umbara, tentu tidak bisa menyerang balik dengan pedangnya.


Akan tetapi, jika umbara berniat untuk melancarkan serangan jebakan, tentu saja Menurutnya pemuda itu sudah salah besar.


Saat tendangan umbara mendekat, Daisuke tersenyum. Dengan cepat dia memusatkan tenaga dalamnya pada kepalan tangannya, dan langsung menyongsong tendangan Umbara.


"Boooooommm ... "


"Arrrrrrrgggggghhhhhh ... !"


Tubuh Daisuke terpental jauh kebelakang, setelah benturan tersebut. Tidak hanya itu saja, saat ini, dia merasa beberapa ruas tulang jarinya baru saja patah.


"Kau ... ?!"


Umbara tersenyum mengejek. "Memang aku bersumpah akan memenggal kepalamu. Tapi ... Tentu saja hal itu tidak berarti bahwa aku seorang pendekar pedang, bukan?"


Tepat seperti apa yang dikatakan Salendra sesaat setelah Umbara memenggal lima utusan Daisuke saat mencoba berunding, sebelum peperangan ini terjadi.


Umbara bisa memenggal Prajurit-prajurit itu bukan karena jurus pedangnya sangat hebat. Akan tetapi, sama dengan dengan dirinya, Umbara adalah pendekar dengan kekuatan fisik yang sangat kuat.


Daisuke benar-benar salah perhitungan, dia tidak menyangka bahwa tendangan Umbara akan sekuat ini.


"Sial ... Sejak awal, Aku memang terlalu meremehkannya."


Belum sempat Daisuke berdiri, Umbara sudah kembali berlari padanya. Takut bahwa lawannya akan memberikan tendangan yang sama kuatnya, Daisuke langsung melompat tinggi.


Akan tetapi, di saat bersamaan Umbara juga melompat.


"Apa kau tidak tau bahwa, pemilik tendangan kuat, juga pasti bisa melompat dengan sangat cepat ... "


"Buukkk ... "


Lagi-lagi Daisuke di buat terpental jauh. Dan terseret sedikit lebih jauh, begitu tubuhnya mendarat di tanah.


"Uhuk ... !"


Kini, giliran komandan pasukan Nippokure iyu yang memuntahkan seteguk darah.


Umbara tau bahwa tendangannya itu, tidak akan cukup kuat untuk membunuh Daisuke begitu saja.


Itu kenapa dia terus berlari mengejar setelah tendangan itu berhasil mengenai lawannya.


Namun, begitu dia semakin dekat, tubuh Daisuke yang sangat jelas ada di hadapannya tadi, tiba-tiba saja menghilang.


Itu mengakibatkan dirinya menendang udara, yang hampir saja membuatnya terjungkal, jika tidak cepat mengendalikan keseimbangannya.


"Sial, di mana dia?"


"Di sini ... !"


Mata Umbara melebar, saat mendengar suara Daisuke, tepat di belakangnya.