ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Ciel dan Luna


Sementara itu di bagian kota lainnya, di sebuah toko yang menjual perlengkapan pendekar, Seorang gadis muda bernama Ciel sedang kewalahan melayani sekelompok pendekar yang sejak tadi mendatangi toko tersebut tapi seperti tidak berniat membeli apapun darinya.


"Nona, aku sudah melihat semua barang yang ada di sini tapi tidak menemukan satupun yang cocok denganku. bisakah kau menunjukkan senjata yang cocok untuk laki-laki seperti ku ini?" tanya seorang pendekar pada Ciel sambil menunjukkan otot-otot tubuhnya dengan penuh percaya diri.


Ciel memutar matanya dengan malas. Laki-laki ini hanya ingin menggodanya. Ciel memiliki mata yang unik. Meski pupil mata birunya terlihat normal bagi manusia yang berasal dari Benua Barat, Tapi dengan matanya itu Ciel bisa mengukur kelas kekuatan seseorang dengan sangat detil. Ciel bisa mengetahui Elemen apa yang bisa dikendalikan orang tersebut tanpa pernah sekalipun melihat orang tersebut menggunakan kekuatannya itu.


Namun, baginya lelaki di depannya ini hanyalah kumpulan manusia berotot tanpa otak. Di negaranya, manusia yang bisa membuka 90 titik cakra hanya akan menjadi tukang angkut barang alih-alih pendekar. Tapi di sini, mereka berani sombong hanya karna bisa berlari lebih cepat dari pada seekor anjing.


Ciel mengambil sebuah pedang dari sebuah rak yang ada di belakangnya. Pedang itu memang sedikit besar. Namun saat pembuatannya, besi yang di kandung oleh pedang itu sudah dicampur dengan batu energi dari siluman berumur seratus tahun.


Sebuah teknik penempaan biji besi untuk senjata yang membuat kekuatan besi menjadi sangat kuat. Proses yang membuat pedang tersebut bisa memutus baja tanpa menyebabkan kerusakan sedikitpun.


"Aku rasa pedang ini sangat cocok dengan tubuh tuan." Ciel menyodorkan pedang itu pada lelaki yang tadi bertanya.


Mata lelaki itu berbinar "Nona, aku rasa kita memang berjodoh, bagaimana kau tau selera ku? Aku rasa Pedang ini sangat cocok untukku!"


Lelaki itu meraih pedang tersebut. Namun, saat dia coba mengangkatnya, pedang itu terasa sangat berat baginya.


"Ada apa tuan?" Tanya Ciel berpura-pura keheranan.


"Ti-tidak ... Tidak apa-ap... "


Lelaki itu mencoba mengangkatnya dengan sebelah tangan namun gagal. Kini dia berusaha mengangkatnya dengan kedua tangannya dan berhasil.


Ciel melihat itu seolah sangat kagum "Tuan, anda kuat sekali, anda bisa mencoba untuk memotong besi yang ada di sana." Kata Ciel sambil menunjuk besi yang tertancap pada sebuah tiang kayu yang memang diperuntukkan untuk mencoba kualitas ketajaman sebuah pedang.


Pemuda itu berusaha mengayunkan pedang tersebut. Namun, saat pedang itu mengenai besi itu, pedang tersebut terhenti dan hanya meninggalkan suara dentingan kecil.


"Nona, meski pedang ini sangat indah tapi aku rasa tidak cukup tajam." kata lelaki itu dengan nada kecewa.


"Oh benarkah? biar aku coba."


Ciel segera meraih pedang tersebut dari lelaki itu dengan satu tangan. Lalu Ciel memutar-mutar sebelum mengayunkan pedang tersebut pada besi di tiang kayu. Besi itu putus tanpa suara dentingan sama sekali.


Lelaki itu melihat aksi Ciel seolah tidak percaya. Bagaimana bisa gadis sekecil ini mengangkat pedang yang begitu berat hanya dengan satu tangan seolah itu sangat ringan. Apalagi memutus besi yang sebelumnya gagal dia lakukan.


Ciel menatap mereka dengan mata menggoda "Bagaimana tuan-tuan pendekar, apakah masih meragukan ketajaman pedang ini?"


Mereka tertunduk malu, "Maaf Nona pendekar, kami telah membuang-buang waktumu. Aku rasa aku ingin membeli pisau saja." kata pemuda itu dengan nada menyesal.


"Eh, aku bukan pendekar. Aku hanya berjualan di sini. Jadi, pisau mana yang kalian inginkan. Pilih saja, Aku akan memberi diskon ada kalian" Ciel menunjuk rak yang berisi banyak jenis pisau.


Lelaki itu langsung berjalan ke rak yang di tunjuk Ciel dan mengambil salah satu pisau yang ada di sana secara acak "Aku rasa yang ini cukup bagus, aku beli yang ini saja."


Hampir saja Ciel meledakkan tawanya karna ulah pemuda tersebut. Tapi untungnya dia bisa menguasai dirinya "Oh, pisau yang sangat bagus. itu hanya 20 Arta atau kalian bisa membayarnya dengan satu batu energi dasar."


Pemuda itu langsung mengeluarkan koin sebanyak 20 Arta untuk membayar pisau tersebut dan segera keluar dari toko itu.


"Ciel, jangan mempermainkan pelanggan. Itu tidak baik untuk bisnis kita." Ucap seorang gadis yang saja datang dari belakang toko itu.


"Ah, kakak! Aku hanya berusaha membuat mereka membeli pedang ini" Jawab Ciel sambil menunjukkan pedang yang panjangnya hampir sama dengan tinggi Ciel saat didirikan. "Siapa sangka dia akan membayar 20 arta untuk sebuah pisau dapur, Hahahaha!" Ciel melanjutkan tawanya sambil memegang perutnya yang terasa kram.


Gadis itu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya tersebut. Tapi daripada dirinya, Ciel lebih bisa di andalkan saat berjualan. Pernah beberapa kali pembeli pria mencoba merayunya. Pria itu berakhir dengan mengalami beberapa bagian tulang yang patah. Dan beberapa orang lainnya meneriaki dirinya seorang Monster setelah mendapatkan luka yang mengerikan di sekujur tubuhnya.


Tawa Ciel tiba-tiba berhenti, dia memperhatikan tubuh kakaknya lekat dari ujung kaki hingga ujung kepala "Luna, kelas mu bisa naik lagi? Kau sama sekali tidak pernah bertarung di sini!" tanya Ciel heran.


"Hei, jangan gunakan kekuatanmu padaku! Sudah berapa kali ku ingatkan" protes Luna.


"Ops, maaf ... Aku lupa, tapi bagaimana bisa?"


Luna memilin-milin rambut merah lurus miliknya dengan jari telunjuk, tampak berfikir "Aku rasa,  ini ada hubungannya dengan sejarah keluarga kita."


Ciel mengerjap keheranan "Maksudmu tentang sarung pedang itu?."


"Ya, aku rasa itulah kenapa dulu, Ayah kita sangat ingin ke daratan ini dan membawa sarung pedang itu bersamanya."


Ciel pernah berfikir tentang hal yang sama sebelumnya. Sarung pedang tersebut sama sekali tidak terlihat berasal dari Benua Barat. Namun, Ciel yakin kandungan bahan yang ada di sarung pedang tersebut di proses dengan teknik yang hanya di kuasai keluarganya.


"Apakah kau berfikir sama denganku?" Tanya Luna.


"Ya, meski sampai sekarang kita tidak tau kandungan bahan dari sarung pedang itu, aku rasa sarung bahkan Pedangnya itu sendiri memang berasal dari Daratan ini. Beberapa jenis ukiran di beberapa tempat  di sini dengan ukiran di sarung pedang itu memiliki pola yang setidaknya mirip daripada ukiran-ukiran dari Daratan manapun yang pernah kita singgahi sebelumnya."


Luna mengangguk puas "Ciel, jangan terlalu sering menggunakan kekuatanmu, itu akan membahayakan banyak orang, dan itu juga berdamlak buruk padamu!"


Ciel menunduk mengingat bagaimana sukitnya mengubah kebiasaannya ini. meski kekuatannya unik, tapi itu punya resiko "Baiklah, aku akan mengandalkan penilaian yang lainnya mulai dari sekarang."


"Baguslah, sekarang kembalikan pedang itu pada tempatnya ... Dan bantu aku!" Kata Luna sambil berjalan kembali kebelakang.


"Oke, ini saat nya keluarga Smith beraksi,  apakah kita akan membuat perisai?."


"Jangan bermimpi!"


"Kenapa? aku rasa kita sudah mampu!"


"Nyalakan api, Aku akan menyiapkan bahannya"


"Bukankah itu Kini jadi tugasmu! Kau sekarang sudah bisa mengendalikan api, bukan?"


"Ciel!"


"Oh, maaf! Salahku, aku tidak sengaja!"