
" Arya! Kau harus menghenti— "
Ciel terdiam saat melihat sebuah pemandangan yang tak diduganya. Sekarang di depannya, Ciel melihat gadis yang tadi dia tinggalkan di sini, sedang berlutut di depan Arya.
Arya dan Tabib Kenar sedikit terkejut saat Ciel tiba-tiba saja membuka pintu dan mengatakan sesuatu sebelum akhirnya terdiam.
" Apa yang terjadi? Ada apa dengannya? "
Ciel melupakan maksud kedatangannya yang tiba-tiba itu. Dia sekarang lebih tertarik untuk tau apa yang membuat gadis itu kini berlutut di depan Arya. Berjalan mendekati Tabib Kenar, Ciel kini berdiri tidak jauh di sebelah gadis yang kini menundukkan wajahnya itu.
" Saat baru saja Tuan Muda menyembuhkan beberapa titik cakranya, Nona ini langsung berbalik dan berlutut " Tabib Kenar menjelaskan " Tuan Muda sudah memintanya berdiri, tapi dia tetap memilih untuk seperti itu. " lanjutnya.
Ciel mengernyitkan matanya " Sepertinya beberapa titik cakramu sudah membaik. Kenapa kau tidak berdiri? "
Gadis itu menggeleng dan tetap menundukkan kepalanya.
Arya menghela nafas panjang kemudian melepaskannya. " Nona. Aku tidak terlalu mengerti apa yang membuatmu berlutut seperti itu. Berdirilah "
" Jika cara berterimakasih di negaramu seperti itu, ketahuilah, Tuan Muda ini tidak mengerti. Sekarang kau sedang membuat dirinya kebingungan " Tabib Kenar coba berkata bijak.
Menurutnya, mungkin saja gadis ini sedang sedang mengungkapkan rasa terimakasihnya.
Ciel mengangguk " Hei, ingatlah. Kau di negeri asing. Setidaknya jika kau ingin berterimakasih, kau harus menyampaikannya dengan cara yang benar "
" Senior. Terimakasih telah menolongku! "
Gadis itu akhirnya bersuara. Dan itu langsung membuat Tabib Kenar dan Ciel menjadi lega. Ternyata dugaan mereka benar. Gadis ini memang ingin berterimakasih dengannya.
" Baiklah. Sekarang kau bisa berdiri! " Arya melangkah memutarinya. " Kau harus beristirahat. Aku belum bisa memperbaiki seluruh titik cakramu "
" Nona. Tolong dengarkan Tuan Muda. " berdiri dan istirahatlah di tempat tidur itu "
Gadis itu akhirnya mengikuti kata-kata Tabib Kenar. Dia akhirnya kembali ketempat tidur dan duduk di sana.
Ciel melihat gadis itu dengan sedikit keheranan. Saat dia hendak menanyakan lebih jauh, namun Arya menghentikannya.
" Ciel, apa yang ingin kau katakan? Sepertinya tadi kau mencemaskan sesuatu "
Ciel membeku sejenak. Hampir saja dia melupakan hal penting yang ingin dia sampaikan. Alasan kenapa dia berlari kesini beberapa waktu yang lalu.
Ciel langsung mendekat pada Arya. Wajahnya berubah sedikit cemas. " Arya. Kau harus menghentikan si tua gila Jabara itu "
Arya mengerjap sekali saat mendengar bagaimana cara Ciel memanggil nama Ki Jabara. " Ada apa dengan Ki Jabara? "
" Dia sedang bersiap-siap untuk berangkat ke Desa Paganti. Dan dia membawa banyak pendekar bersamanya. Si tua itu ingin melawan Nurmageda di sana. " Jelas Ciel.
" Jadi dia di sana? "
Ciel memgangguk " Ya, kami menemukan catatan Nurmageda di ruangannya di balaikota. Di sana kami mengetahui bahwa Nurmageda sedang mencari sesuatu. Dan benda itu sepertinya ada di dalam sebuah gunung yang ada di desa Paganti. "
" Kalian bukan orang-orang Nurmageda? " tiba-tiba gadis itu bersuara lagi.
Ketiganya menoleh pada gadis yang terlihat masih pucat itu.
" Jika kami di pihak Nurmageda, apa kau fikir kami akan menolongmu? Bukankah seharusnya kami membiarkan dirimu mati saja? Atau ... seharusnya kami membiarkan kau mati saja "
Ciel masih kesal dengan sikap gadis itu. Ditambah cara gadis itu yang tiba-tiba memotong pembicaraan mereka dengan tidak sopan.
" Maafkan kelancanganku " Gadis itu kembali mencoba berdiri, setelah itu dia menunduk sebentar memberi hormat " Namaku Bai Hua. "
Ketiga kembali merasa heran dengan perubahan sikap gadis itu. Apalagi setelah mendengar nama Nurmageda disebut Ciel beberapa saat yang lalu.
" Hmm ... Jadi namanu Bai Hua? " tanya Ciel datar.
" Lalu, kenapa kau tadi berlutut pada Arya? Bukankah itu sangat aneh? "
Bai Hua sempat terdiam sebentar " Aku bisa jelaskan itu. Tapi, aku dengar kalian ingin melawan Nurmageda, apakah aku benar? "
Ciel mengangguk " Ya. Kami akan menghancurkan Nurmageda. Setidaknya begitulah rencana kami sebelumnya "
" Nona benar. Sebaiknya hentikan siapa saja yang berniat melawan Nurmageda, apalagi di Desa Paganti "
Arya menjadi tertarik. Ada alasan lain kenapa Arya sangat ingin menyelamatkan gadis ini sebelumnya.
Ini ada kaitannya dengan informasi yang dia dapatkan dari Bajra sebelum akhirnya orangtua itu bersama Hattala berniat merampok dirinya dan menghancurkan sekte Delapan Mata Angin.
" Nona Bai Hua. Sepertinya kau banyak mengetahui tentang Nurmageda dan Desa itu. Bisa kau jelaskan pada kami? "
Bai Hua mengangguk " Ya. Aku akan jelaskan. Tapi, sebaiknya hentikan orang yang Nona ini maksud terlebih dahulu. Akan sangat berbahaya bagi mereka berhadapan dengan Nurmageda sekarang " Ingat Bai Hua pada Arya.
" Baiklah! " Arya langsung berdiri dan beranjak pergi. namun langkahnya langsung terhenti saat Ciel memanggilnya.
" Hei. Nanti dulu! "
" Ada apa? "
" Kenapa kita harus mengikuti kata-kata gadis ini? " tanya Ciel sambil menunjuk gadis yang barusaja mengaku bernama Bai Hua itu.
" Nona, setidaknya jelaskan dulu kenapa kau sangat ingin kami menghentikan Ki Jabara menyerang Nurmageda itu? " Tabib Kenar berfikir sama dengan Ciel.
" Itu karena kalian tidak akan bisa menang melawannya. Apalagi di sana! " jelas Bai Hua.
" Baiklah! Aku akan menghentikan Ki Jabara " kata Arya, lalu pemuda itu langsung pergi begitu saja.
Ciel menjadi bingung. Niatnya kesini memang ingin meminta Arya menghentikan Ki Jabara. Tapi, karena gadis ini juga menginginkan hal yang sama, dia menjadi sedikit curiga.
" Bai Hua. Aku tidak tau bagaimana kau bisa berakhir buruk dengan Nurmageda. Tapi, jika kau berniat buruk pada kami terutama Arya yang telah berkorban dan menyelamatkanmu, aku sendiri yang akan langsung membunuhmu! "
Setelah mengancam Bai Hua, Ciel langsung menyusul Arya tanpa memberi kesempatan Bai Hua menanggapinya.
Sesampainya Arya di balaikota, itu sudah terlambat. Ki Jabara dan puluhan pendekar sudah berangkat menuju Desa Paganti.
" Aish! Sial! " Ciel mengumpat kesal. " Kanapa kalian tidak menghentikannya? "
" Ciel! Jaga sikapmu! " Luna merasa adiknya ini semakin lama semakin kesulitan untuk mengendalikan emosinya.
" Maafkan aku! " jawab Ciel dengan nada menyesal " Kakak! Kenapa kau dan Nona Sekar tidak bisa menahannya lebih lama? Aku sudah membawa Arya ke sini "
" Kalian yang terlalu lama dan Orangtua itu sudah tersulut oleh amarah " Jawab Luna sedikit ketus.
" Ini karena gadis yang bernama Bai Hua dari Benua Timur itu, bersikap aneh! " Kesal Ciel.
Sekar sedikit terkejut saat mendengar kata-kata Ciel. " Bai Hua? Jadi itu namanya? "
" Sebaiknya kita kembali ke penginapan. " Arya langsung berbalik dan kembali berjalan dengan cepat ke Bulan Fajar.
Ada banyak hal yang ingin ditanyakan Arya pada Bai Hua. Namun, sampai saat ini sepertinya dia masih harus menunda.
Ketiganya mengikuti Arya kembali kepenginapan. Mereka juga penasaran dengan gadis dari Benua Timur itu.
Mereka merasa Bai Hua memang lebih banyak mengetahui pergerakan Nurmageda daripada mereka. itulah kenapa saat sudah berada di kamar Bai Hua, semua ingin bertanya.
" Bai Hua! Ceritakan apa yang kau tau tentang Nurmageda. Dan juga, kami berhak tau siapa dirimu dan apa tujuanmu di Daratan ini sebenarnya! "