ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Pertempuran Daratan Timur IX


Jantung semua orang seolah terhenti saat itu juga. Seluruh ketua dan para tetua sekte, berbalik menoleh untuk melihat dari mana asal suara itu.


Mereka melihat ada tiga pendekar wanita sedang berjalan ke arah mereka. Dua diantaranya berjalan dengan tubuh menyala.


"Wusssh ... !"


Tidak terlalu yakin, sepertinya mereka baru saja merasakan sesuatu melewati mereka dengan kecepatan luar biasa. Tapi tidak ada satupun yang bisa melihat apa itu, sebelum suara ledakan lainnya kembali mengudara.


"Booooom ... "


"Arghhh ... !"


Baru saja mendarat dan berbalik, saat mendengar tiga suara teriakan beruntun di belakang para ketua sekte aliran putih, sekarang Moro mendapati dirinya sudah terpental jauh kebelakang.


Sebuah hantaman pukulan yang sangat keras, mendarat di dadanya yang mengirimnya terbang menerobos hutan di lembah Haru. Tubuhnya beberapa kali menabrak pepohonan sebelum akhirnya berguling-guling di tanah.


Moro benar-benar tidak sempat bereaksi, beruntung tubuhnya memiliki daya tahan yang sangat kuat. Namun, kurang sedikit saja, kekuatan pukulan itu sudah bisa dipastikan bisa menghancurkan tulang-tulangnya.


Meski begitu, rasa terbakar di dadanya membuatnya memuntahkan seonggok darah.


Edward dan Daga mematung saat menyadari Moro yang baru saja menyelamatkan mereka dari hantaman pedang besar yang kini melayang di atas cekungan tanah itu, menghilang.


Kini mereka melihat tempat di mana tadi Moro berdiri, sudah digantikan oleh sosok yang begitu menakutkan.


Matanya yang menyala menatap keduanya, dingin. Tatapan itu begitu mengerikan hingga keduanya tidak bisa bergerak.


Sebelum keduanya sempat berfikir, Edward dan Daga juga sudah di kirim terbang menghantam barisan pasukan mereka.


Daga berhenti tepat di ujung kanan baris pasukan sekte aliran hitam sementara Edward berakhir di sisi lainnya.


Kejadian sejak kemunculan pedang besar itu, hanya memakan waktu tidak lebih dari lima detik. Namun, keadaan benar-benar sudah berubah.


Berbicara tentang kekuatan, tentu saja itu yang paling penting dalam sebuah pertempuran. Apa yang di katakan Moro tidak ada yang salah. Tapi, yang paling di kejutkan saat ini tentu saja dia. Karena kekuatannya yang tampak menakutkan beberapa saat yang lalu tersebut, sama sekali tidak berguna.


Pendekar Ranah Bumi itu tidak menyadari kehadiran sosok yang begitu mengerikan. Bahkan dia tidak merasakan apapun sebelumnya.


Menurutnya, tidak akan ada pendekar yang satu level dengannya di Daratan ini. Dan dia baru menyadari bahwa, di situlah letak kesalahan terbesarnya.


Sekarang, di sinilah dia. Sempat terbaring di tanah dan mencoba untuk segera berdiri dan berjaga-jaga untuk serangan berikutnya. Namun, sedetik kemudian otaknya berfikir cepat.


Lari. Itulah yang di perintahkan otaknya saat itu juga. Tak lengah, Moro mengikuti kata hatinya dan langsung memacu langkah kakinya ke segala Arah.


Tidak penting kemana, naluri bertahan hidupnya meronta-ronta meneriakkan bahwa dia harus menjauh sejauh mungkin dan secepat yang dia mampu dari sana.


"Sial!"


Moro merasakan kembali kedatangan sosok itu dengan kecepatan tinggi. Dan tak lama, tubuhnya kembali melambung tinggi ke udara.


"Paman Guru, Pendekar level apa itu?"


Daga tak kalah terkejutnya. Baru kali ini dia melihat ada pendekar seperti itu. Sebagai pendekar suci tingkat akhir. Dia tentu merasakan kekuatan yang sangat besar baru saja muncul.


Meski tidak terukur. Namun, kekuatan untuk mengintimidasi lawan yang di lepasnya, jauh lebih besar dari apa yang bisa di tunjukkan Moro kakaknya.


Buktinya, kini dia berada di tanah dengan mulut yang baru saja memuntahkan seteguk darah. Jika saja Rantoba tidak menghentikan momentum terbangnya, bisa dipastikan Daga terpental lebih jauh lagi.


Di sisi lain, Edward tak kalah menyedihkannya. Dia tak habis fikir, jelas pendekar yang baru saja memukul dan membuatnya terpental itu adalah Arya. Masalahnya, dia tidak menyangka Arya bisa menjadi semengerikan itu.


Sama dengan apa yang di fikirkan Moro, Edward juga langsung berfikir untuk lari. Namun, baru beberapa langkah, sebuah Godam besar menghantam dadanya dan kembali mengirimnya ke tengah lembah.


Melihat itu, Daga langsung menipis tangan Rantoba. Tidak berfikir panjang lagi, dia juga berniat untuk melarikan diri.


Dengan kecepatannya, Tidak sampai beberapa puluh meter saja dia berlari, empat anak panah dengan kecepatan yang luar biasa terasa sedang mengincar punggungnya.


Beruntung naluri pendekarnya masih bekerja. Daga menyadari itu langsung berhenti dan segera berbalik untuk menangkisnya.


"Ting!" "Ting!" "Ting!" "Ting!"


Daga memusatkan perhatiannya pada anak-anak panah tersebut. Namun sayangnya, dia tidak menyadari bahwa seseorang telah berdiri di belakangnya.


"Sreeeeet ... !"


"Argghh ... !"


Sebuah tebasan pedang berhasil membuat luka panjang di punggungnya.


Tubuh Daga adalah tubuh dengan daya tahan pendekar suci tingkat akhir, seharusnya tebasan pedang biasa tidak mampu melukainya.


Otaknya tidak sempat berfikir saat itu. Meski merasakan ada seorang pendekar berdiri di belakangnya, entah kenapa Daga tidak berbalik untuk melawan, tapi kembali berlari ke tengah pasukan sekte aliran hitam dengan wajah ketakutan.


Entah itu aura pembunuh atau apapun. Melihat ada tubuh pendekar menyala saja sudah membuat hampir semua orang yang berada di sana membeku. Terlebih itu tidak satu tapi tiga orang.


Lembah Haru yang tadi sudah menyeramkan setelah Moro menunjukkan kekuatannya, kini menjadi jauh lebih mencekam.


Marendra, Rapatni, Lentoro dan Serabang, hanya bisa terdiam seribu bahasa. Baru saja, ada tiga orang pendekar di belakang mereka.


Kini dua pendekar wanita dengan pedang serta yang satu lainnya menghilang begitu saja. Hanya tinggal satu dengan warna mata berubah-ubah yang baru saja melepaskan dua kali tembakan anak panah.


Mereka baru menyadari apa yang terjadi setelahnya, saat mereka berbalik mendengar teriakan Edward dan Daga.


Meski tampak tidak akan membahayakan mereka ataupun pasukan aliansi, Namun Tidak ada satupun dari mereka yang dapat mencerna kejadian tersebut.


"Kalian sudah menunjukkan kesungguhan. selebihnya biarkan mereka yang menyelesaikannya."


Para ketua sekte dan pendekar suci yang berada di garis depan. Kembali tersentak karena tiba-tiba sebuah suara mengejutkan mereka.


"Ki Darsa?! ... "


"Ki Kaungsaji?! ... "


Serabang langsung bisa mengenal siapa yang berbicara. Dalam waktu yang benar-benar relatif singkat. Entah berapa kali semua orang di sana di kejutkan.


Sekarang saja contohnya. Darsapati dan Kaungsaji yang telah di kabarkan menghilang, sudah berdiri di dekat mereka.


"Ki Darsa ... Kau masih hidup?"


Marendra tidak menyangka bahwa Darsapati masih hidup. Tidak hanya itu, bahkan Kaungsaji juga. Dua sosok yang sangat di hormati ayahnya itu ternyata benar-benar masih hidup. Entah kenapa dia merasa sangat lega.


Darsapati menatap Marendra. Dia melihat Simbol Sekte Singa Emas terikat di kepala pemuda itu. Sebuah senyuman terukir di wajahnya. "Hmm ... Marendra,  kau sudah besar rupanya."


"Sebentar! ... Hentikan ini semua.! Ki Darsa,  apa itu tadi?"


Rapatni tidak perduli dengan hal lainnya. Kemunculan pendekar aneh yang kini mereka ketahui berjumlah empat orang itu, benar-benar menyita perhatiannya.


"Sudah aku katakan, mungkin kalian tidak menyimaknya ... Kalian sudah menunjukkan kesungguhan. selebihnya biarkan mereka yang menyelesaikan."


Mata mereka melebar, tentu saja apa yang dikatakan Darsapati itu tidak menjawab pertanyaan mereka yang di wakili oleh Rapatni tadi.


"Ki Darsa ... Aku tidak mengerti."


Tidak mengindahkan kata-kata Serabang, Darsapati malah mengatakaan hal yang menurut mereka tidak masuk akal.


"Sebaiknya, Tarik mundur semua pasukan kalian. Sekarang, kita hanya akan menghalangi mereka.!"


"Mundur?! ... Ki Darsa, kita tidak akan mundur!"


Semua orang di sana mengangguk menyetujui ketegasan Marendra.


Darsapati juga mengangguk, mengerti. Kemudian berbalik. Sekarang mereka semua melihat ke medan tempur.


"Baiklah kalau begitu. Perhatikan dengan baik. Jangan kedipkan mata kalian barang sekalipun." Perintah Darsapati.


"Lihat dan belajarlah dari sini, bagaimana cara Penguasa mutlak Daratan Ini, menghancurkan siapa saja yang berani menganggu ketentraman tanah leluhur kita!"