
Kelompok pemberontak Ki Jabara, baru saja tiba. Mereka tidak mengalami kesulitan saat membuka gerbang. karena prajurit penjaga gerbang itu langsung kabur saat melihat kedatangan mereka.
Saat baru masuk, Ki Jabara langsung menyipitkan matanya. " Sepertinya mereka sudah menunggu kedatangan kita! " Dia melihat puluhan bahkan mungkin ratusan prajurit berlari seolah sedang menyerbu mereka.
Sekar yang berada di sebelah Ki Jabara dan beberapa pendekar lainnya langsung bersuara.
" Kalian bersiaplah! "
Para pemberontak di bawah kepemimpinan Ki Jabara itu, langsung bersiap untuk menghadapi pertempuran di depan mereka.
Dan tak lama kemudian, denting pedang beradu pertama kali terdengar selanjutnya bentrokan di antara dua kubu itupun terjadi.
Di tengah kota, Ciel dan Bajra masih bertarung dengan sengit. Keduanya sudah bertukar puluhan Jurus sejak pertama kali mereka memulainya.
Dengan pertarungan yang menggunakan teknik tingkat tinggi itu, keduanya terpisah cukup jauh dari pertarungan antara Luna dan Prajurit Hattala.
Meskipun Ciel terlihat seperti seorang pendekar pedang, sebenarnya Ciel bukanlah pendekar yang cukup ahli dalam pertarungan jarak dekat.
" Hehe ... Aku rasa, aku terlalu lama tidak bertarung " Bajra merasa tubuhnya sudah sedikit kaku. " Tapi aku akui, kau lawan yang cukup menyulitkanku! "
Keduanya mengambil jarak untuk sama-sama mengumpulkan tenaga sebelum akhirnya saling menyerang lagi.
" Aku tetap tidak suka dengan ular licik sepertimu! Pujian dari mulut busukmu itu, hanya membuat telingaku gatal dan perutku menjadi mual! "
" Sayang sekali ... Aku menyukai gadis kasar sepertimu! " Bajra memandang Ciel dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan bernafsu " Hmm ... Benar-benar sangat disayangkan. Saat aku membunuhmu, tubuhmu yang indah itu akan jadi sia-sia "
" Itu kenapa aku sangat membenci orang seperti mu " Kata Ciel dingin. " Ingatkan aku untuk menghancurkan ekor bututmu itu sebelum memenggal kepalamu! "
Bajra menggeleng " Ck! Benar-benar tipe yang aku suka. " Wajah Bahra berubah serius. " Aku akan menemukan yang sepertimu di lain waktu. Tapi sekarang kau harus mati. Disini! " Bajra kembali berlari mendekat untuk menyerang Ciel.
" Huh! ... Kau mundur terlalu jauh. Pak tua! "
Ciel langsung melemparkan pedangnya pada Bajra. Pedang besar itu berputar-putar di udara mengarah langsung pada Bajra.
" Hahaha! Kau meremehkan ku! "
" Teng! "
Bajra menangkis pedang Ciel dengan mudah. Membuat pedang itu terpelanting kesamping sebelum berakhir di tanah beberapa meter dari mereka.
" Ceroboh sekali " Kata Bajra saat berhasil melempar pedang besar itu jauh dari Ciel. " Sekarang gikiranku! "
" Benarkah?! " Ciel tersenyum.
Bajra mengernyit heran. Tiba-tiba kakinya tidak bisa dia gerakkan. Saat dia mencoba untuk memastikan. Ternyata di pahanya sudah menancap beberapa pisau kecil. Dan tak lama dia juga merasakan pisau itu sudah berhasil mengenai nadi di tangannya. Darah langsung mengalir deras dari sana.
" Gadis Licik! " Umpat Bajra.
Pedang yang dilemparkan Ciel padanya tadi, ternyata hanya pengalihan. Saat Bajra fokus untuk menangkis pedang itu, Ciel mengeluarkan sejumlah pisau kecil dan langsung melemparkannya setelah itu.
Inilah keahlian Ciel sebenarnya. Dengan matanya, Ciel merupakan pendekar yang ahli dalam pertarungan jarak jauh. Bajra sudah termakan perangkapnya.
Pisau itu tidak akan menahan Bajra lama, karena bajra memiliki tenaga dalam yang cukup besar untuk memulihkan kondisinya. Ciel langsung berlari mendekati Bajra dan tersenyum tepat di depan wajahnya.
" Aku tak ingin pedangku di kotori oleh darah mu! " Ciel langsung mengambil pedang ada di tangan Bajra.
" Sebentar! ... " Bajra panik " Jang ... Ng— "
" Buuuk! "
Ciel menendang pangkal paha Bajra dengan kuat.
" Srreeet! ... "
Bajra tiba-tiba melihat dunia berputar-putar. Sesaat sebelum membentur tanah dan menutup mata untuk terakhir kalinya, Bajra sempat melihat tubuhnya masih berdiri dengan dua tangan memegang selangka dan leher menyemburkan darah ke udara.
" Pedang yang jelek sekali! " Ciel membuang pedang Bajra lalu berjalan untuk mengambil pedangnya yang berada tidak terlalu jauh dari sana.
Sementara itu, Rewanda sudah hampir selesai dengan semua prajurit yang menyerangnya. Rewanda sempat melihat Luna yang sepertinya sedang terdesak.
Luna sendiri sebenarnya sudah sangat hebat bisa menghabisi beberapa pendekar mahir dan satu pendekar ahli sampai saat ini. Tapi, tentu saja Luna belum sehebat itu untuk mengalahkan semuanya.
Beberapa serangan yang dilancarkan pendekar ahli tersebut, akhirnya berhasil membuat Godam terlepas dari tangannya.
Kini Luna yang hanya bertarung dengan tangan kosong, berusaha menghindar dari hunusan dan tebasan dari pedang pendekar-pendekar itu. Beberapa kali tebasan pedang dari mereka hampir saja membuat Luna Celaka.
Nahas, karena hanya mengelak tanpa bisa memberikan serangan berarti, Luna Akhirnya terjebak. Prajurit-prajurit itu kini sudah berhasil mengepungnya.
" Cepat! Habisi dia! " Teriak Hattala histeris.
Luna merasa bahwa mungkin saja ini akhir dari dirinya. Tidak mau mati begitu saja, Luna ingin membawa beberapa dari mereka bersamanya.
" Buuuk! "
Dua pendekar di depan Luna tiba-tiba terbang melayang puluhan meter jauhnya, berakhir dengan membentur dinding yang membuat keduanya, meregang nyawa.
Kejadian itu sangat cepat hingga membuat semua orang terkejut. Saat mereka menyadari siapa yang melakukan itu, semuanya langsung membeku.
" Kau tidak apa-apa? "
Rewanda sudah berada di dekat mereka dan mengacungkan gagang Godam yang dia gunakan untuk memukul dua prajurit tadi kembali pada Luna.
" Y-ya ... A-ak ... Aku, tidak apa-apa! " Luna tergagap. Saat menjawab Rewanda yang bertanya padanya.
Luna tidak bisa memilih harus terkejut untuk kejadian yang mana. Dua pendekar yang tiba-tiba terbang itu, cukup mengejutkan. Kehadiran Rewanda di sana lebih mengejutkan lagi. Apalagi, mengetahui bahwa ternyata makhluk itu bisa berbicara. Mungkin yang terakhirlah yang paling mengejutkannya.
" Baguslah. Ini punya mu! " Rewanda kembali mengacungkan gagang Godam padanya.
Luna mengambil Godamnya, dalam keadaan setengah Sadar.
Hattala sejak tadi hanya menonton bawahannya bertarung dengan Luna, hanya berteriak-teriak seperti orang kesurupan.
" Apa yang kalian lakukan?! Bunuh gadis dan kera jelek itu!! "
Hattala kembali berteriak pada seluruh prajurit yang kini berdiri membeku itu.
" Tung! "
Hattala terkejut saat kepalanya barusaja terasa seperti dihantam benda keras dari belakang.
" Argh! " Hattala membalikkan badan dan melebarkan matanya " Kau?! ... " Hattala.
" Jika Luna tidak memintaku untuk tidak menghabisimu, maka barusaja seharusnya kepalamu sudah terpisah dari badanmu! "
Mereka tiba-tiba bisa mendengar suara orang dalam jumlah besar datang kearah mereka. Membuat semua orang di sana langsung Wasapada.
" Sepertinya itu kelompok Nona Sekar! "
Ciel langsung bisa melihat siapa yang datang, memberi tahu Luna.
Rewanda juga bisa mendengar suara Sekar, dan memperhatikan keadaan sekitar. " Jika begitu, aku rasa kalian sudah aman. Aku harus menyusul Raja! "
Setelah mengatakan itu Rewanda langsung pergi ke arah di mana Arya dan Krama terakhir kali mengarah.
Hattala yang memang benar-benar tidak mengerti keadaan, tiba-tiba mencabut pedangnya dan langsung melibaskan pedang itu pada Ciel.
" Ting! "
Tentu saja serangan lemah dan lamban dari Hattala itu, bisa dengan mudah bagi Ciel untuk menangkisnya.
" Kau lebih bodoh dari seekor kutu babi! "
" Buk! "
Ciel yang benar-benar sudah kesal langsung menendang perut Hattala.
" To ... tolong aku! Gadis ini ingin membunuhku! " Hattala meringis sambil berlutut memegang perutnya.
" Luna! Selesaikan urusan mu, atau aku yang akan menghabisi orang bodoh yang sangat menyebalkan ini! "
Ciel benar-benar ingin menghempaskan sisi pedang besarnya menghancurkan kepala Hattala, untuk memastikan apakah sebenarnya orang itu memiliki otak atau tidak.