
"Bagaimana benda itu ada padanya?!"
"Apa maksudmu?"
Saat pertempuran di bukit tengkorak, Kulkan yang saat itu telah terbangun, terkejut saat menyadari apa yang sedang di pegang oleh Bai Fan saat itu.
Ada dua hal yang tidak bisa dia lupakan selama lebih dari tiga ribu tahun. Pertama adalah Arangga dan janjinya sementara yang kedua, adalah pedang yang digunakan oleh Arangga untuk mengurungnya.
Bahuraksa. Begitulah Arangga menyebut pedang itu. Arangga pernah mengatakan pada Kulkan, jika janji nya pada Kulkan terpenuhi, Pedang itulah kunci agar Kulkan bisa keluar dari dimensi kematian.
Setiap hari sejak mengetahui Bahuraksa sudah begitu dekat dengannya, Kulkan selalu memaksa Arya untuk membangunkan pedang yang sudah di anggap mati oleh Bai Fan sebelumnya itu.
Tentu saja permintaan Kulkan tersebut ditolak Arya. Apalagi Arya sudah terlanjur membenci Bahuraksa. Baginya, Bahuraksa adalah salah satu penyebab banyak orang menderita.
Demi mendapatkan pedang tersebut, Nurmageda dan orang yang ada di belakangnya, melakukan segala cara untuk menemukannya.
'Apa jadinya jika dua penyebab bencana, bersama?' Itulah yang difikirkan oleh Arya saat Bai Fan menawarkan pedang terbut pada dirinya saat di kota Arsa, sebelumnya.
Dimulai dengan Wiratama yang mengincar tubuhnya yang berakhir dengan sebuah ledakan besar, di mana ledakan itu menarik banyak perhatian yang kemudian menyebabkan perubahan besar pada Daratan Timur.
Setelah itu, di susul oleh Nurmageda yang mengincar Bahuraksa. Jumlah Korban yang menderita yang disebabkan oleh Arya dan Bahuraksa sudah terlalu banyak.
Perubahan besar di Daratan Timur, tidak disertai oleh kesiapan penduduknya. Hingga akhirnya, kedatangan orang-orang asing ke tanah ini, membuat banyak orang-orang daratan ini menderita.
Saat Bai Fan mengatakan akan memberikan pedang tersebut pada orang yang paling berhak, Arya merasa itu mungkin keputusan yang paling baik. Saat itu, Arya sama sekali belum tau bahwa itu adalah Bahuraksa.
Bahkan, saat itu, Arya sama sekali tidak tau bahwa Bahuraksa adalah sebuah pedang hingga Kulkan menyebutnya.
Apalagi saat Kulkan mengatakan bahwa Pedang tersebut adalah kunci yang akan membebaskannya. Tentu saja Arya tidak ingin itu terjadi. Melepas Kulkan adalah bencana terburuk yang sangat tidak ingin dihadapi oleh seluruh umat manusia, temasuk dirinya.
Akan tetapi, untuk berjaga-jaga, sejak Kulkan menyebut bahwa pedang itu adalah Bahuraksa, Arya kembali memeriksa Kitab yang memuat enam nama di sampulnya.
Saat kitab tersebut berada di tangan Arya, sesuatu yang aneh terjadi. Namanya sudah muncul tepat dibawah nama Arangga. Menjadikan Arya Mahesa tertulis sebagai nama ke tujuh, di sana.
Hal lainnya juga terjadi didalamnya. di sana, muncul catatan yang menjelaskan apa itu Bahuraksa dan untuk apa ia diciptakan.
Namun keterangan di sana, tidak membawa Arya kemanapun selain beberapa jurus dan yang menegaskan bahwa, Nama-nama yang ada di sana, adalah pemilik sah pedang tersebut.
Dengan semua yang terjadi di sekitarnya, sebenarnya Arya sudah sangat gelisah. Akan tetapi, kegelisahan itu semakin lama semakin memuncak. Saat beberapa hari setelah dia mengetahui tentang Bahuraksa, Arya mulai merangakai semua kejadian yang telah dia alami.
Rentetan demi rentetan peristiwa yang terjadi hanya beberapa waktu sejak dia meninggalkan pegunungan Obskura, mengantarkan Arya pada saat seperti ini.
Orang-orang yang dia kenal saat ini dan benda-benda yang dia temukan. Semua saling terkait dan Seolah benar-benar sudah digariskan.
Pertemuan dengan Luna dan Ciel yang memiliki kitab keluarga, di mana kitab itu menerangkan segala sesuatu tentang keluarga kedua gadis itu, yang anehnya, kitab tersebut menggunakan huruf dan bahasa yang sama dengan yang digunakan di dalam Kitab Bahuraksa.
Menyelamatkan Bai Hua yang mengantarkannya pada Bai Fan, kakeknya. Di mana kedua orang itu, datang dari negeri yang jauh untuk mencari keberadaan penyebab ledakan, namun entah bagaimana bisa, di saat bersamaan Bai Fan di paksa oleh pihak lain untuk mencari keberadaan Bahuraksa.
Tentu saja ini terlalu berlebihan jika masih di anggap sebuah kebetulan belaka. Apakah ini yang di maksud dengan, takdir? Jika iya, Tapi, untuk apa? Kemana takdir ini akan membawanya?
Setiap hari, semakin banyak pertanyaan yang menyeruak di kepala Arya. Pertanyaan-pertanyaan itu, seolah memaksanya untuk mencari jawaban.
Persimpangan jalan yang membawanya ke kota Gomba, penemuan reruntuhan bangunan kuno, serta pertemuan mereka dengan Darsapati yang ternyata mengenal keluarganya dan mengatakan Arya adalah pemilik sah temlat ini, Hingga Energi yang ada di dalam bangunan ini yang memiliki gelombang yang sama dengan yang ada di dalam tubuhnya.
Semua itu, benar-benar memaksa Arya untuk melakukan hal yang sebenarnya tidak ingin ia lakukan sebelumnya. Untuk menguak misteri yang di bawa dan mengungkap takdirnya tersebut, Arya memutuskan untuk membangunkan pedang itu.
Aula maha besar itu bergoncang tatkala pedang besar yang selalu di sandang Bai Fan di punggungnya itu tiba-tiba menyala.
Pedang itu langsung mengoyak kain yang menutupinya dan berputar-putar mengelilingi seluruh Aula besar itu sebelum akhirnya turun perlahan dengan Bilah menghadap ke atas, tepat di depan Arya.
Biru. Itulah Warna Aura yang di pancarkan pedang yang di gadang-gadang lebih kuat daripada sembilan Senjata Pusaka Dunia tersebut.
"Kakak!"
Ciel langsung memanggil Luna seolah baru menyadari sesuatu. Panggilan tersebut langsung tanggapi dengan anggukan mengerti oleh Luna.
Di saat bersamaan, seluruh ruangan itu semakin bergetar hebat. Bukan, seluruh bukit mungkin ikut bergetar.
"Sebaiknya kalian menjauh!"
Itulah kata-kata terakhir Arya sebelum akhirnya dia mengangkat tangan dan meraih gagang Bahuraksa.
Seketika tekanan udara semakin berat. Entah cahaya dari Bahuraksa yang mengaklir pada tubuh Arya atau tubuh Arya-lah yang mengalirkan energi pada Bahuraksa.
Mereka tidak bisa membedakannya. Karena saat Arya menyentuh Bahuraksa, seolah dua energi asing yang tak satupun orang di sana pernah melihat, kini bersatu dan berpijar semakin terang.
"kalian! Cepat, Keluar dari lingkaran ini!"
Kali ini, Ciel yang pertama kali menyadarinya. Meski tidak terlalu jelas, namun garis-gari berwarna hitam kini muncul di bawah kaki mereka.
Mereka semua serempak mundur keluar dan sedikit menjauh dari garis yang mulai membentuk lingkaran yang berdiameter sekitar lima meter itu.
Garis-garis tersebut seperti mencuat begitu saja dari lantai secara acak dan kini bergerak membentuk sebuah mozaik.
Bentuk yang sama persis dengan apa yang telah tergambarkan oleh Luna, saat menyentuh batu di lantai itu, sebelumnya.
Meski semua orang di sana tau bahwa energi yang memenuhi ruangan yang membuat seluruh tempat itu bergetar, tidakk ada yang bisa menjelaskan namun mereka yakin bahwa energi tersebut tidaklah berbahaya bagi mereka.
"KHOSA...!"
"Jurus Pertama ... Gerbang Cakra!"
Mereka sedikit terkejut saat tiba-tiba Arya meneriaknya nama sebuah jurus.
Sekarang mereka melihat seluruh titik-titik cakra di tubuh Arya menyala. Mereka juga bisa melihat setiap titik itu kini mulai terhubung oleh garis energi berwarna putih kebiruan, yang menyala lebih terang mengalir di sepanjang tubuh dan mengisi setiap titik cakra, Arya.
Uniknya, garis-garis itu membentuk pola yang sama dengan garis-garis yang membentuk mozaik di bawah tempat Arya kini berdiri.
"Aku tidak pernah melihat susunan titik-titik cakra seperti itu!" Gumam Ciel.
"Ziiiiieng...!"
Bahuraksa berdengung saat Arya memutarnya dengan kedua tangannya. Kini, mata pedang itu menghadap kebawah tepat di atas lobang di tengah mozaik yang di temukan Luna sebelumnya.
"Jadi... ?"
Kata-kata Bai Fan tergantung. Dia tidak menyangka bahwa segala sesuatu, kadang, memang memiliki arti lebih dari pada yang seharusnya diketahui.
Sekarang, saat Arya membenamkan pedang itu, Mereka akhirnya mengerti. Tidak hanya sebuah pedang. Tapi, Bahuraksa juga merupakan sebuah kunci.
Begitu Bahuraksa terbenam sepenuhnya, Energi dari tubuh Arya mengalir ke garis-garis yang ada di lantai. Seketika, Mozaik itu menjadi sangat jelas.
"MATRA...!"
Saat kata itu Arya ucapkan, seketika lingkaran tersebut menembakkan cahaya yang sangat terang lurus keatas.
Saking terangnya, Cahaya itu sangat menyilaukan. Hingga, tidak ada mata satu orang pun di sana sanggup melihatnya. Bahkan bagi mata Ciel sekalipun.
"Bufffff...!"
Hanya sekitar dua detik saja, tiba-tiba Cahaya itu menghilang. Namun, tidak hanya sampai di situ saja. Arya, juga ikut menghilang.
Mereka semua terdiam. Ini pertama kali bagi semuanya melihat kejadian luar biasa seperti apa yang barusaja mereka saksikan.
Tak satupun dari mereka sempat bersuara. Namun, keheningan itu terpecahkan oleh banyak suara lainnya di sana.
"Hei! ... Apa itu, tadi?!"
Saat mereka menoleh, semua orang yang tadi bersama Arya, baru menyadari bahwa ribuan pendekar yang tadi berada di bawah, sedang atau entah sejak kapan, juga sudah berdiri di sana.