ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Pengiriman


Baru dua hari yang lalu, Pusat Oldenbar di pegunungan Singa Emas di sibukkan dengan pengiriman senjata dan benda-benda yang di pesan Arya.


Butuh sehari penuh bagi mereka untuk memuat semuanya. Saat sudah selesai, ada lima puluh kereta yang sudah terisi penuh dan siap untuk berangkat menuju Basaka dengan di kawal oleh orang-orang dari Serikat petualang.


Sekarang, Serikat itu harus membawa setidaknya lima ratus senjata pelontar ke Basaka dari pelabuhan di kota Parinan.


Jika saja Arya meminta mereka membawa seluruhnya yang berjumlah seribu unit itu, mereka tidak akan mampu. Setiap satu dari Senjata yang memiliki ukuran cukup besar itu, perlu dua kereta untuk membawa bagian-bagiannya.


Dengan meninggalkan separuhnya di Parinan, Hari ini, Oldenbar harus mengawal seribu kereta ke Basaka.


"Pemimpin, jika seperti ini, kita memang tidak bisa membagi anggota. Beruntung Master Arya meminta serikat pekerja yang mengawal pengiriman tersebut."


Serikat Oldenbar hari ini terlihat sepi. Hampir seluruh anggotanya berangkat ke parinan guna mengawal keberangkatan senjata pelontar. Sisanya harus berjaga di Parinan.


Edward terpaksa memerintahkan seluruh petinggi untuk turun langsung selama proses tersebut. Sementara dia menunggu perkembangan tentang kedua pengiriman besar-besaran yang dilakukan serikat Oldenbar untuk pertama kalinya di Daratan Timur itu.


"Ya. Tapi, apakah kau sudah menyuruh beberapa orang untuk bergabung di dalam serikat petualang itu, kan?"


Kenneth mengangguk. "Sudah. Aku sudah mengirim setidaknya seratus orang bergabung di sana."


"Bagus. Semoga saja pengiriman ini berjalan lancar."


"Pemimpin. Menurutmu, kenapa Master Arya memberikan semuanya pada Kerajaan?"


Ini sudah menjadi buah fikiran seluruh anggota Oldenbar. Tapi, seperti Edward tidak terlalu memperdulikannya. Kenneth merasa saat ini pemimpinnya itu benar-benar akan mengikuti semua kemauan Arya.


"Kenneth, kau lihat sendiri bahwa dia sama sekali tidak mau menundukkan kepala di depan Darmuraji. Itu menandakan bahwa Raja sekalipun tidak ada artinya di depannya. Jika dia berani memberikan pasokan senjata yang sangat besar ini pada kerajaan, itu berarti hanya ada dua kemungkinan."


Kenneth sedikit terkejut dengan kata-kata Edward. Tapi tidak mungkin seseorang mau memberikan hadiah yang sangat banyak ini pada pihak lainnya tanpa menginginkan sesuatu.


"Dua kemungkinan? ... Apa itu?"


Edward berdiri lalu berbalik berjalan ke arah jendela. Sampai di sana, dia menatap pegunungan Singa Emas yang sangat luas.


"Yang pertama, Dengan tidak menghormati Raja, jelas dia tidak butuh pengakuan apalagi hanya sekedar rasa terimakasih. Itu sama sekali tidak penting baginya."


Kening Kenneth langsung berkerut. "Pemimpin. Jika begitu, berarti hanya tinggal satu kemungkinan. Apa itu?"


Edward berbalik dan menatap Kenneth. "Pemuda itu, ingin menguasai Daratan ini!"


Mata kenneth melebar. Tentu saja dia terkejut dengan kemungkinan yang di sebutkan pemimpinnya itu.


"Jika begitu, kenapa dia memberikan senjata-senjata itu pada kerajaan? Kenapa tidak langsung menyerang Basaka dan mengambil alih Daratan ini?!"


Kenneth tidak mengerti kenapa Edward bisa mengambil kesimpulan seperti itu. Dari sudut manapun dia berfikir, apa yang dilakukan Arya bertolak belakang dengan apa yang disimpulkan Edward.


"Hahahaha! Kau masih belum mengerti juga.?" Edward menggelengkan kepalanya, tidak percaya "Aku tidak pernah berhadapan dengan orang yang seperti ini dan sampai sekarang aku tidak tau cara apa yang akan mereka gunakan. Tapi yang jelas, aku mengingat kata-kata salah satu pengawalnya."


Kenneth tidak lagi bertanya. Dia hanya menunggu Edward menjelaskannya lebih jauh.


"Disamping Daratan ini sekarang ada kita, juga ada pendekar-pendekar yang setia pada kerajaan. Saat itu, salah satu dari tiga gadis itu mengatakan, Mereka membutuhkan alasan bahkan untuk membunuh semut sekalipun. Jadi, aku rasa mereka sedang merencanakan sesuatu untuk mengambil alih Daratan ini, dengan menghindari pertempuran!"


"Tapi pemimpin. Ini tidak masuk akal. Pergerakannya bertolak belakang dengan apa yang kita fikirkan!" Kenneth tetap merasa bahwa hal itu tidak ada hubungannya.


Edward mengangguk. "Ya, tentu saja! Mereka bergerak seperti itu, agar semua orang termasuk dirimu berfikir bahwa kemungkinan yang aku katakan ini, Mustahil."


Sedikit saja tambahan penjelasan Edward, langsung membuka fikiran Kenneth. Mungkin jutaan siling adalah nilai yang besar bagi sebagian besar orang. Namun, jika itu dibandingkan dengan seluruh Daratan ini, itu tentu saja tidak ada apa-apanya.


"Pemimpin! berarti, Dengan kata lain, mereka sengaja membuat pengalihan yang sangat besar agar memuluskan rencana mereka yang lainnya?"


Kenneth akhirnya tau alasan lain orang yang ada di depannya ini diberi kepercayaan penuh oleh serikat Oldenbar, untuk mengurus situasi di Daratan Timur ini. Edward terbukti bisa menganalisa sesuatu dari banyak sisi dan bisa menyimpulkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak difikirkan oleh orang lain.


"Jika begitu, berarti keberadaan kita di Daratan Timur ini, juga sedang terancam!"


Edward lagi-lagi menggeleng. "Itu kenapa, aku meminta Serikat kita yang berada di Daratan Barat mengirim sepuluh ribu anggota tambahan."


"Ya. Aku juga sudah mengetahuinya. Tapi, bukankah itu melanggar perjanjian dengan Kerajaan Swarna? Di sini, kita hanya diperbolehkan memiliki sepuluh ribu anggota saja sebagai penyeimbang kekuatan Kerajaan."


Edward tersenyum bangga. "Beruntung sekali Master Arya meminta kita membawa Lima ratus pelontar saat ini. Itu bisa menjadi alasan kita pada Darmuraji. Bahwa kehadiran mereka di sini, hanya sebagai pengawas perjalanan senjata pesanan Master Arya."


Pertanyaan yang awalnya menurut Kenneth biasa saja, berakhir pada pembahasan yang sangat penting.


"Pemimpin. Jika kemungkinan ini benar-benar terjadi, apakah kita akan memilih untuk menekan pihak Master Arya dengan kekuatan kita?"


"Aku rasa dua puluh ribu pasukan dan ditambah pendekar-pendekar bodoh dari beberapa sekte Daratan ini yang berada di bawah pengaruh kita, sudah lebih dari cukup untuk mengimbangi kekuatan mereka saat berhasil mengambil alih Daratan ini. Kedepan, kita akan melihat, jika dia bisa bekerja sama dengan kita, itu akan sangat bagus. Jika tidak, maka, kita adalah serikat Oldenbar. Tentu kau tau apa yang harus kita lakukan, bukan?"


Saat Edward mengakhiri penjelasannya, muncul senyum licik di kedua wajah mereka. Bagaimanapun, mereka adalah serikat yang mampu menumbangkan sebuah Negara. Hal seperti ini, tentu bukan masalah besar bagi mereka.


Sementara di hari yang sama saat Edward membahas tentang pergerakan Arya, pada malam harinya, di sebuah bukit, iring-iringan kereta yang membawa senjata dari pusat Oldenbar sedang berhenti untuk beristirahat.


Saat hampir menjelang tengah malam, mereka melihat sekelompok pendekar dalam jumlah besar, datang mendekat.


Mereka langsung bersiaga. Namun, sepertinya para pendekar itu, tidak berniat menyerang.


"Aku Kelang. Utusan Raja Darmuraji. Kami, datang ingin membantu mengawal pengiriman ini."


Seketika mereka mengetahui siapa yang memimpin kelompok pendekar itu. Ternyata benar bahwa itu memang Ki Kelang, salah satu pendekar terkuat di Daratan Timur.


Pendekar suci tingkat tiga, Ketua Sekte Tanah Hitam. Sekte yang menggantikan Sekte Singa Emas sebagai penjaga keamanan kerajaan Swarna di Daratan Timur ini.


"Aku Darius, pemimpin pengawalan dari serikat Petualang."


Rombongan itu menyambut kedatang Sekte Tanah Hitam. Menurut mereka penambahan kekuatan akan memperlancar pengiriman ini.


Tapi, sebenarnya ada banyak pihak di sana yang tidak menyukai keterlibatan Kelang di sini.


"Ki Kelang, tumben sekali seorang ketua Sekte sebesar Tanah Hitam mau menjadi pengawal barang. Apa itu tidak berlebihan?"


Kelang yang tidak mengenal siapa yang bertanya hanya berdengus. "Huh, aku tidak perlu memberi penjelasan pada kau. Lagipula, senjata-senjata ini akan di serahkan ke kerajaan. Tentu saja ini sudah menjadi tugas kami."


Sebagian orang yang ada di sana, memang sudah mendengar kabar ini, namun sebagian lainnya tidak. Berita ini, sedikit mengejutkan mereka.


Melihat itu, Kelang tersenyum miring. "Aku tidak yakin, bahwa senjata-senjata ini akan sampai di Basaka jika tanpa bantuan kami!"


"Tuan kelang, Apa maksud perkataan anda? Apakah anda meremehkan serikat petualang?" Tanya Darius dengan Nada tersinggung.


"Tidak! Aku tidak bermaksud begitu. Serikat petualang memiliki kerja sama dengan kerajaan. Bahkan beberapa anggota ku ada dirombongan kalian ini."


"Jadi, apa maksud perkataanmu tadi?"


"Ck, Tuan Darius, kau tentu sudah tau bahwa yang ada dirombongan ini, banyak dari pihak yang tidak kau ketahui bukan? Bisa saja salah satu pihak itu sudah merencanakan perampokan dalam pengiriman ini!"


Darius juga sudah mewaspadai kemungkinan tersebut. "Ya, mungkin saja. Tapi, melihat kau sudah di sini, aku rasa semua akan lebih baik kedepannya."


Kelang baru akan menganggukan kepala dengan bangga tapi tiba-tiba mereka mendengar suara beberapa teriakan dari beberapa pendekar yang berjaga di mana kereta-kereta itu berada.


"Kita di serang!"