ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Akhir Pertempuran Daratan Timur


Hantaman Godam Luna, membuat tubuh Moro terpental cukup jauh, Namun seseorang segera menangkapnya.


Godam itu jelas bukan benda pusaka, tapi tak diragukan lagi bahwa kenyataannya, rasa sakit yang diterima Moro, tak ada bedanya.


"Guru ... Sebaiknya kita pergi dan menghilang dari sini."


Moro menyadari bahwa Rantoba lah yang menangkapnya. Sedetik yang lalu, dia merasa kehilangan harapan. Tapi, bersama muridnya ini, seolah setitik asa terasa masih ada.


Wajar Rantoba masih selamat dan hidup sampai sekarang. Meski muridnya, Rantoba memiliki kelebihan lain daripada seluruh anggota sekte Pasir Besi, termasuk dirinya sendiri.


Entah bagaimana Rantoba bisa menguasai Ilmu ilusi tingkat tinggi hingga bisa membuat hawa keberadaannya bisa menghilang begitu saja.


"Rantoba, gunakan seluruh kemampuanmu. Kita tidak mungkin bisa selamat. Jika terus melawan."


"Baik Guru!"


Di antara banyaknya pasukannya yang sedang panik berlarian ke sana kemari, Rantoba membawa Moro pada kerumunan dan tak lama setelah itu, mereka pun menghilang.


Seiring dengan itu semua. Jumlah pasukan kelompok sekte aliran hitam sudah jauh menyusut. Arya benar-benar tidak memberi mereka pengampunan sama sekali, meski mereka telah memohon berkali-kali.


Arya tidak bisa menahan kemarahannya setiap mengingat korban kejahatan setiap pendekar dari kelompok sekte aliran hitam ini.


Setiap laporan yang dia terima, apalagi saat melihat jumlah dan bagaimana keadaan manusia-manusia yang di tawan sekte Tanah Hitam di Lembah Haru. Arya tidak lagi ingin melihat satupun pendekar aliran hitam ada di Daratan Timur ini.


Setiap nyawa yang dia cabut, setiap kepala yang dia hancurkan dan setiap tubuh yang di hilangkannya, itu semua Arya lakukan untuk mewakilkan seluruh penderitaan dari korban-korban kesesatan pendekar sekte aliran hitam.


"Kaungsaji. Di masa depan, aku yakin tidak akan ada lagi Sekte aliran hitam di tanah ini."


Kata-kata Darsapati itu bukan tanpa alasan. Ada puluhan ribu pendekar yang kini menyaksikan kejadian ini. Tentu saja cerita ini akan tercatat dalam sejarah sebagai tanda bahwa begitu tidak di terimanya kejahatan di Daratan ini.


Setiap orang di sana, pasti akan menceritakan dan mengingatkan pada anak, cucunya dan seluruh keturunannya agat jangan sekali-sekali berfikir untuk menjadi pendekar sesat. Karena, jika itu terjadi, Hukum di tanah ini sangat pedih.


Sejak kemunculan Arya dan yang lainnya, saat Darsapati mengatakan siapa dia. Berita itu menyebar ke seluruh pendekar-pendekar aliansi.


Di hadapan mereka saat ini, sang penguasa mutlak daratan ini sedang memberi pelajaran pada setiap yang masih bernyawa hukuman tertinggi adalah menyakiti sesama.


Meski saat ini semua orang di hadapkan dengan sebuah kengerian, tapi semuanya juga mengerti. Ke depan Daratan Timur akan sepenuh nya berubah.


Sekarang, mereka semua kembali berdiri dan menyaksikan sisa-sisa pasukan kelompok sekte aliran hitam yang masih terus di bantai meski mereka sudah terlihat mati berdiri.


"MATRA ... !"


"Omi ... Obi!"


Saat pasukan musuh hanya menyisakan dua puluh ribu lebih saja, tiba-tiba seluruh teriakan berhenti.


Luna, Ciel, Bai Hua, dan kedua iblis langit langsung menghentikan pembantaian mereka.


Sekarang, mereka mengikuti Arya berjalan menuju di mana seluruh pasukan aliansi berdiri.


Darsapati, Kaungsaji, Lamo, Salu dan seluruh orang yang tak kurang dari enam puluh ribu itu, berdiri gemetar.


Meski bukan musuh, namun sekarang ini tentu saja tidak ada satupun dari mereka yang masih cukup berani berdiri penuh kepercayaan diri di depan ke enamnya.


Di belakang ke enamnya, tampak dua puluh ribu lebih tubuh pendekar aliran hitam sedang membengkak dan terus membesar.


Bahkan Rantoba dan Moro yang merasa sudah berhasil bersembunyi pun, juga dipaksa keluar dan mendapatkan nasib serupa.


Di hadapan Arya, tidak ada bedanya antara pendekar tingkat dasar hingga Ranah Bumi. Semuanya akan sama menderitanya sebelum kematian menjemput mereka.


Dengan mata yang masih menyala, Arya mengedarkan padangan nya ke seluruh pendekar serta para petualang yang ada di depannya. Namun, tak ada satupun yang berani menatapnya kembali.


"Satu saja ... Cukup satu saja, dari kalian berfikir untuk menjadi pendekar sesat. Maka aku bersumpah akan kembali dan mendatangi kalian. Karena ... "


Suasana yang tiba-tiba menjadi sangat lengang di padang rumput di Lembah Haru itu, membuat kata-kata Arya terdengar sangat jelas.


"Tak ada tempat bagi pengkhianat di tanah leluhur ini."


Kata-kata itu tentu saja bukan sekedar peringatan tapi jelas sebuah ancaman.


Arya mengangkat tinggi satu tangan dengan telapak menghadap ke atas. Saat itu, seolah waktu berhenti.


"OMI ... OBI ... !"


"BUSSSSSTTTTT........!"


Seluruh sisa pasukan kelompok sekte aliran hitam terbang ke udara karena tembakan air yang besar dan sangat keras, tinggi ke udara.


"BOOOOOOOOOOOMMMMM.....!"


Dentuman besar menggelegar ke seluruh penjuru lembah dan menggema di pegunungan yang memagarinya. Bahkan suara ledakan dari tubuh-tubuh pendekar sesat itu, mungkin mencapai puluhan kilometer dari sana atau lebih.


Darsapati langsung bertekuk lutut. Disusul Kaungsaji. Lamo dan Salu tak berselang. Seluruh ketua dan tetua sekte aliran putih, Darius dan Nick, hingga enam puluh ribu pendekar dan para petualang melakukan hal yang sama.


Gemuruh lutut-lutut membentur tanah beruntun membahana, di hadapan Arya dan yang lainnya. Lalu, Hening.


Satu Nafas.


...


Dua Nafas.


...


Tiga Nafas.


Lalu, ...


Darsapati berteriak lantang.


"Daulat ... Raja ... !"


Sedetik kemudian, enam puluh ribu lebih manusia, mengikuti dan berteriak, bersamaan.


"DAULAT ... RAJA ... !"


Dengan begitu, Pertempuran Daratan Timur ini benar-benar berakhir. Seluruh pendekar sekte aliran hitam terbunuh, begitu juga dengan seluruh serikat Oldenbar dan Sekte Pasir Besi dari Daratan Barat.


*****


Di ujung Daratan Timur, Di Sekte Delapan Mata Angin. Di puncak bukit tertinggi, Tarim Saka berdiri menatap jauh ke arah Barat.


"Ketua ... Ternyata, Kau di sini."


Setelah mencari ke beberapa tempat, Handar baru menemukan Tarim Saka berdiri seorang diri di depan istana, yang hampir selesai dibangun.


Tidak berbalik, namun Tarim Saka tetap menjawab. "Ya, Handar."


Handar yang melihat gelagat ketua Sektenya itu sedikit asing, kembali bertanya.


"Saka. Kenapa kau terus menatap ke arah sana? Aku tau kau merindukan dan mencemaskannya. Darya pasti tidak apa-apa. Sebaliknya, aku sangat yakin dia sudah bertambah sangat kuat."


Handar terbiasa menyaksikan Saka temannya itu, melihat ke satu arah saat merindukan Darya. Seolah berharap cucu yang sangat di sayanginya itu, kembali.


Akan tetapi, kali ini sedikit berbeda. Tarim Saka tidak melihat ke arah di mana terakhir Darya menghilang saat terbang meninggalkan mereka.


Tarim Saka menggeleng. "Handar, hari ini, sudah berapa lama sejak Arya memulai perjalananannya?"


"Tuan Muda?! ... "


Meski Handar memanggil Arya dengan nama saat di hapannya langsung, Namun saat Arya tidak ada, Orang nomor dua sekte Delapan Mata Angin itu, selalu memanggilnya dengan sebutan Tuan Muda saat seseorang mengungkit dan membicarakannya.


Itu karena bagi Handar sendiri, meski masih sangat-sangat muda, Arya merupakan seorang yang sudah mengubah hidupnya dan menemukan potensi terbaik dirinya. Handar sangat menghormati pemuda yang sudah menjadi keluarga besar mereka itu.


"Ya. Enam bulan? ... Setahun? ... "


"Lebih dari enam bulan, Kenapa?"


Tarim Saka menghela nafas panjang dan melepasnya pelan. Sebuah senyuman terukir di wajahnya. "Entah kenapa, hari ini aku begitu memikirkannya. Aku tidak cemas. Sebaliknya, sangat bahagia."


Senyum yang sama terukir di wajah Handar.


"Ya. Seperti biasanya, Dia pasti sedang melakukan sesuatu yang sangat hebat. Aku yakin itu."


"Ya. Tentu saja. Di akan selalu melakukan sesuatu yang hebat. Seperti, Biasanya."


Kini keduanya menatap pada Arah yang sama dengan Bangga.


Di bawah mereka. di depan istana, ribuan pekerja sedang sibuk membangun. dalam beberapa bulan terakhir, Sekte Delapan Mata Angin mengalami kemajuan yang luar biasa pesatnya.


Tak butuh waktu lama lagi, sebelum mereka menunjukkan keberadaannya. dan menjadi yang terkuat dan akan menjadi pelindung baru Daratan Timur.