
Tujuan pertama Arya adalah lokasi di mana terakhir Obskura menyelamatkannya delapan tahun yang lalu. Tempat di mana Arya berpisah dengan keluarganya yang tewas dibunuh oleh Wiratama dan Kudra.
Sebelumnya, Arya berniat berlari untuk bisa sampai ke sana. Namun, Krama menawarkan diri pada Arya untuk naik kepunggungnya. Jadilah Arya dan Rewanda dengan wujud kera biasanya menunggangi Krama. Hal yang tak pernah terlintas di kepala Arya sebelumnya.
Dengan kecepatan Krama, seharusnya tidak butuh waktu lama bagi ketiganya untuk sampai di tujuan. Saat perjalanan mereka baru berlangsung sekitar sepuluh menit, Arya menyuruh Krama untuk berhenti.
Sebuah suara teriakan meminta tolong dari bawah bukit kecil yang mereka lewati menarik perhatian Arya. Dari tempat mereka sekarang berada, Arya bisa merasakan bahwa suara teriakan itu tidak jauh dari mereka.
Tak lama, dari atas punggung Krama Arya bisa melihat dua orang laki-laki sedang berlari sambil terus berteriak meminta pertolongan. Setelahndi lihat lebih lekat, salah satunya terluka dan sedikit tertinggal di belakang yang lainnya.
Krama berlari searah dengan kedua orang itu namun di tempat yang lebih tinggi untuk mendahului mereka sesuai perintah Arya.
Sekarang Arya telah menunggu keduanya di tempat yang diperkirakan Arya akan dilalui oleh orang itu. Dan benar saja orang yang di depan muncul berlaru ke arah Arya dengan terus berteriak minta tolong seperti orang kesurupan.
" Ada apa paman?! " tanya Arya pada laki-laki yang kini terlihat berusaha memelankan langkahnya.
" Anak muda ... Apakah ... Kau ... Pendekar?" Tanya laki-laki itu terengah-engah saat berhasil berhenti selangkah di depan Arya.
" Tidak, aku bukan pendekar. Tapi ada apa paman? " tanya Arya sekali lagi.
" Jika kau bukan pendekar, ... maka ... Jangan kesana! " kata laki-laki itu menunjuk kebelakang sebelum kembali berlari menjauh meninggalkan Arya.
Kini satu orang lagi datang dengan berjalan terseok-seok. Sebuah anak panah yang telah patah tertancap di belakang paha kirinya. Arya segera mendekati orang itu.
" Paman, berhentilah! Katakan padaku, apa yang terjadi? "
Lelaki yang terlihat berumur sekitar awal 50 tahun itu menghentikan langkah kakinya. Setidaknya sekarang dia tidak sendiri. Di depannya kini ada seorang pemuda yang sepertinya cukup kuat.
" Anak muda ... " lelaki itu meringis menahan sakit di kakinya " Kami dikejar kawanan perampok "
" Perampok? "
Laki-laki itu mengangguk " Ya, ... Di sana " katanya sambil menunjuk arah kedatangan mereka " Jika kau pendekar, maka bantulah kami. Di sana, Keluarga majikan kami membutuhkan bantuan "
Mendengar kata keluarga keluar dari mulut laki-laki tua itu, Arya langsung memasang raut marah. " Paman, tunggulah di sini! Aku akan ke sana! " kata Arya kemudian langsung berlari cepat menuju arah yang di tunjuk oleh lelaki itu.
Dalam sekejap Arya telah memasuki jalan yang sepertinya memang sering di lalui oleh kereta pedati, terlihat dari jejak roda pedati yang ada di jalanan itu.
Melompat diantara pepohonan, Rewanda mengikutinya. Begitu juga dengan Krama yang kini berlari mendekat pada Arya.
" Rajaku! Apakah kita akan membantu mereka? " tanya Krama saat keduanya sudah melihat sekumpulan orang yang mengepung sebuah gerobak ditengah jalan tidak terlalu jauh di depan sana.
" Ya! Krama berputarlah, jangan biarkan mereka lolos " perintah Arya.
" Baik "
Setelah itu krama berlari menjauh memutari area itu. Arya memberi tanda pada Rewanda di atas agar berhenti dan tidak membuat suara gaduh.
" Tunggu aba-aba ku! "
Arya berjalan mendekati orang-orang itu. Kedatangannya langsung di sadari oleh orang-orang berpakaian serba hitam yang bisa dipastikan Arya adalah kelompok perampok yang dimaksud.
Mata Arya mencoba mencari keberadaan keluarga yang disebut oleh lelaki sebelumnya. Arya melihat setidaknya ada empat orang yang kini terikat tidak jauh dari gerobak tersebut.
Kedatangan Arya secara terang-terangan itu langsung di sadari oleh kelompok perampok tersebut. Kini semua mata kelompok itu menatap padanya.
" Hei bocah, besar juga nyali— "
" Lepaskan orang-orang itu " potong Arya tanpa basa basi.
Arya tampak sangat berang karna keadaan ini tidak jauh berbeda dengan keadaan keluarganya terakhir kali.
" Siapa kau? Berani sekali kau berbicara seperti itu pada kami! "
Arya melihat orang yang barusaja berbicara. Sepertinya orang itu adalah pemimpin dari kelompok ini.
" Tidak penting siapa aku, lepaskan orang-orang itu " Arya memerintah.
Kesal karna anak muda yang baru saja datang itu sama sekali tidak merasa takut pada mereka, " Habisi dia! " kata orang itu memerintah anak buahnya.
Dua orang yang berada paling dekat dengan Arya langsung mengangkat golok yang ada di tangan mereka untuk menebas Arya. Namun baru saja golok itu terangkat ke atas, Arya langsung melibas mereka dengan kedua tangannya.
Dua orang itu langsung terhempas ketanah tak sadarkan diri dengan rahang keduanya telah bergeser jauh dari tempat seharusnya. Keduanya sama sekali tak berarti apapun di depan Arya.
Semua orang di sana dikejutkan oleh apa yang baru saja mereka saksikan. Pemuda itu dengan mudahnya mengalahkan dua orang yang sudah memiliki level pendekar tingkat tiga hanya dengan tangan kosong.
" Kenapa kalian malah diam! Serang dia " perintahnya pada beberapa orang yang memegang busur panah.
Beberapa anak anah melesat pada Arya, Namun, semuanya dihindari dengan mudah oleh Arya.
" Serang bersama-sama! " teriak pemimpin kelompok itu pada seluruh anak buahnya karna Arya semakin mendekat padanya.
Belasan orang mengangkat senjata mereka berlari untuk menyerang Arya.
Arya berhenti untuk menghindari tebasan golok yang menghadang jalannya lalu memberikan si pengguna benda itu tamparan keras di wajah yang langsung merontokkan sebagian besar giginya.
Serangan dari orang-orang itu dihindari Arya dengan mudah dan membalas mereka setelahnya.
Tidak butuh waktu lama bagi Arya membuat semua dari mereka terkapar di tanah dengan kondisi tulang di bagian anggota tubuh yang dipukul Arya patah bahkan remuk atau mulut dan hidung mereka pecah.
Cara yang tidak biasa dilakukan para pendekar pada umumnya.
Sadar bahwa pemuda ini bukan lawan yang bisa mereka kalahkan, semuanya yang masih sadar tidak berani bergerak terlalu banyak di tanah. Bahkan untuk meneriakkan rasa sakit saja mereka kini tak berani.
Sisanya, berdiri terpaku tak mampu lagi menggerakkan kaki mereka untuk menyerang. Takut hasil yang sama akan berakhir pada mereka.
Pemimpin kelompok perampok itu kini menjadi panik dan berlari pada empat orang yang telah terikat itu berniat menjadikan mereka sandra.
" Berhenti! Atau aku akan membunuh mereka! "
Arya menghentikan langkahnya. Melihat empat orang yang sudah terikat itu terancam akan mati jika dia salah mengambil keputusan.
" Tadinya aku berniat mengampuni kalian jika kalian langsung membebaskan mereka " kata Arya.
Ketua kelompok itu heran dengan perkataan Arya. Tampaknya menjadikan keluarga ini sandra bukan oilihan yang tepat.
" Aku benar-benar akan membunuh mereka jika kau mendekat " Kata lelaki itu mencoba sekali lagi mengancam Arya.
" Rewanda! " teriak Arya.
Tak lama salah satu pohon besar bergoyang sebelum sebuah sosok besar melompat dari atas sana dan langsung mendarat di tengah-tengah mereka.
Sosok Rewanda yang menyeramkan sontak membuat semua orang di sana hampir mati karena terkejut. Tak terkecuali empat orang yang kini menjadi sandra tersebut. Bahkan salah satu dari mereka kini telah kehilangan kesadarannya.
" Rewanda akan menghancurkanmu jika satu tetes darah saja keluar dari kulit mereka " Ancam Arya.
Mendengar ancaman Arya, Tubuh pemimpin kelompok itu seketika gemetar. Pedang yang digenggamnya terlepas jatuh ke tanah. Dia menyadari sebentar lagi akan menjadi akhir bagi dirinya. Dengan sedikit nyali tersisa dia mencoba untuk melarikan diri.
" Krama! "
Baru saja hendak melangkah, pemimpin kelompok itu langsung terhenti.
Dari balik semak keluar makhkuk setinggi kuda dewasa berbentuk srigala berwarna perak yang tak kalah menyeramkannya dari makhluk berwujud kera berwarna emas yang lebih tinggi dari manusia yang lebih dahulu tiba.
" Aku sarankan kalian m tetap diam di tempat. Jika tidak, Krama akan menerkam orang yang pertama kali bergerak! "
Semuanya kini mematung. Jantung mereka semua seolah menendang-nendang rongga dada. Bernafas saja sangat sulit bagi mereka saat ini. Bukan karena tidak adanya udara. Tapi, mereka takut jika itu masih dianggap sebuah gerakan oleh Makluk bertanduk yang mereka fikir Siluman Srigala yang baru saja muncul itu.
Arya berjalan mendekati empat orang itu dan melepaskan ikatan mereka. Meski Arya adalah penolong mereka tapi tak ada satupun yang berani menatap mata Arya.
Mereka tidak tau bahwa ada manusia yang sanggup memerintahkan Siluman seperti pemuda yang ada di depan mereka ini. Bahkan mereka kini meragukan bahwa pemuda ini sebenarnya bukan manusia biasa.
Jika yang berwarna emas itu adalah Siluman Kera dan yang bertanduk Siluman Srigala, bukan tidak mungkin pemuda ini adalah Siluman Manusia. Begitulah setidaknya yang ada di fikiran mereka saat itu.
Hello
Sebelumnya aku mengucapkan terimakasih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca ceritaku ini ya!
Bagaimanapun saat menulis cerita ini, aku sangat berharap akan ada yang menyukainya.
Jadi, terlepas dari like dan vote yang ternyata berpengaruh besar pada level karya di Platform ini, aku merasa cukup puas dan senang dalam waktu yang singkat cerita ini sudah di baca oleh kalian.
Aku tidak berani berharap terlalu banyak, silahkan berikan dukungan kalian dalam bentuk apapun jika kalian terhibur dan menyukai cerita ini.
Aku juga tidak menutup diri dari kritik dan saran yang membangun. Aku berusaha untuk terus bersemangat dalam menulis dan meningkatkan kualitas cerita ini.
Semoga kedepan kalian tetap mengikuti ceritaku ini ya!
M.M