
Rentangjala langsung menelan ludah. Jika yang mengatakan itu adalah orang lain, maka dia hanya akan menganggap itu hanya bercanda. Tapi, saat ini yang mengatakan hal tersebut adalah Rangkupala, maka ini sudah lain cerita.
Apalagi, saat ini pemuda yang dimaksud Rangkupala itu, entah sejak kapan sudah berdiri di sana.
Rentangjala langsung bereaksi, dia berdiri dan bergerak dengan cepat hendak menghadang Arya dengan pedangnya.
Namun, saat dia mencabut pedang di pinggangnya, tangannya tertahan. Rentangjala melihat tangan Rangkupala sudah menggenggam lengannya, erat.
"Tuan Muda. Kami tidak tau siapa kau dan urusanmu di sini. Aku tidak berhutang padamu demikian juga, aku tak merasa kau berhutang apapun padaku."
Rangkupala menatap Rentangjala tajam dan menggelengkan kepala, tanda menyuruh Patih negeri Ambang itu, untuk mengurungkan apapun niatnya.
Saat itu, Arya berjalan mendekat pada mereka. "Apakah kalian bodoh?"
Keduanya terbelalak saat Arya bertanya seperti itu. Siapa yang menyangka Patih Negeri Ambang yang terkenal sangat bijak, mendapat pertanyaan seperti itu dari seorang pemuda yang sama sekali tidak memiliki tenaga dalam.
Rangkupala sendiri, juga merasa sedikit tersinggung. Tapi, ada perbedaan antara kecerobohan dan keberanian. Pemuda di depannya ini, jelas sangat bernyali.
"Tuan Muda, kau sedikit berlebihan. Kami menghargaimu bukan berarti kau bisa berkata semaumu." Rangkupala berucap sambil menggeram.
"Dua orang tua sedang membicarakan Rahasia besar, membiarkan orang lain mendengarnya. Jika, itu bukan kebodohan, lalu apa?"
Mendengar kata-kata Arya, keduanya langsung tertegun. Ini bisa menjurus kedua makna.
Arya mendengar semuanya, itu sudah pasti. Tapi, melihat bagaimana cara Arya bertanya, itu hanya berarti bahwa ada orang lain saat ini yang juga ikut mendengar pembicaraan mereka.
Saat Rentangjala ingin memastikan, Arya sudah langsung berbalik. "Hanya ada dua dari mereka yang mendengar. Kalian bisa membersihkan sisanya. Aku masih ada urusan lain yang harus aku kerjakan."
Saat itu, Arya pergi meninggalkan mereka begitu saja. Seolah tidak terjadi apapun. Namun, saat Arya menghilang, keduanya langsung bergerak.
Di luar, mereka menemukan dua sosok mayat yang sudah tak memiliki kepala. Rentangjala langsung memeriksa keduanya.
Dari sana, dia mengetahui bahwa keduanya adalah pendekar Dari Daratan Utara. Dari cara bagaimana bisa mereka mengendap-endap dan mencuri dengar, sudah pasti keduanya pendekar yang sangat hebat.
Rangkupala dan Rentangjala saling bertatapan, dan mengangguk bersamaan. Siapapun yang bisa membunuh dua pendekar suci tingkat sembilan tanpa bersuara sama sekali, sudah bisa dipastikan sangat-sangat berbahaya.
****
Beberapa jam kemudian, di sebalik bukit tidak jauh dari Kota palas berada. Sebuah kelompok besar pendekar berjalan mendekat.
Dari gerak gerik mereka, jelas kedatangan semuanya ke kota ini bukan untuk berkunjung. Tiga ratus pendekar suci itu berniat menyerang secara terang-terangan.
"Huh, sepertinya mereka memang bukan dari Daratan ini."
Arya dan tiga gadis lainnya, sedang berdiri di atas dahan pohon besar. Ciel dengan kemapuan matanya telah lebih dahulu melihat kedatangan kelompok itu.
"Kalian bisa mencoba hasil latihan kalian saat ini. Ingat, jangan membuka gerbang Prana."
"Senior, mereka adalah pendekar suci. Sementara kami ... Ah, bahkan aku hanya seorang pendekar ahli saja."
"Arya, kau ingin kami mati pagi ini?"
Arya menggeleng. "Apakah kalian percaya jika aku mengatakan bahwa saat aku kecil, aku hampir mati tiga puluh kali dalam sehari."
Mata ketiganya terbelalak. Arya bukan seorang yang suka melebih-lebihkan omongannya. Jika itu benar, maka terjawab kenapa pemuda yang mereka ikuti ini menjadi begitu kuatnya.
"Latihan, yang orang lain lakukan, tidak akan membuat kalian kuat. Aku baru menyadari itu. Hal yang membuat seseorang melebihi batas kemampuannya adalah dengan cara menantang kematian itu secara langsung. Bertarunglah, dan bertekadlah untuk tetap hidup setelahnya."
Ketiganya menelan ludah. Mereka sama sekali tidak merasa termotivasi. Jelas Arya tidak menjamin keselamatan mereka saat ini. Tanpa Prana, mereka benar-benar pendekar biasa.
Satu pendekar suci akan sangat berbahaya. Sedangkan di depan mereka saat ini, ada ratusan. Ini sama saja dengan bunuh diri.
"Kalian akan mengikutiku, bukan?"
"Baiklah, aku katakan pada kalian sebuah rahasia."
"Hah, kau masih memiliki Rahasia?"
Pertanyaan Luna, langsung mewakili keduanya. Arya memang banyak memiliki Rahasia, tapi mereka sama sekali tidak merasa bahwa saat ini adalah saat yang tepat untuk mengatakannya.
"Ya. Jika kalian ingin mengikutiku, di masa depan kalian tidak hanya akan menghadapi manusia."
"Senior, kita akan bertarung sebentar lagi. Kenapa senior menakut-nakuti kami?"
Luna dan Ciel mengangguk bersamaan. Bukannya memberi dorongan semangat, saat ini Arya seolah mengatakan sesuatu yang menyeramkan.
"Meteor yang menerjang reruntuhan kuno, bukanlah meteor biasa. Itu adalah kiriman seorang dewa, untuk memastikan punahnya energi Arangga."
Mata ketiganya melebar. Kali ini Arya terasa mengatakan pada mereka bahwa dewa baru saja menyerangnya dengan cara yang sangat menyeramkan.
"Ja-jadi ... Itu ... "
Luna tergagap untuk memastikannya. Namun, Arya kembali menegaskan.
"Di depan hanya manusia yang memiliki ilmu di atas kalian. Dan kalian adalah manusia yang suatu saat di masa depan, akan menantang para dewa bersamaku. Di lihat darimanapun, tentu saja kalian seharusnya lebih hebat dari mereka."
Saat ini, mereka benar-benar tak bisa berkata-kata. Jika saja Arya mengatakan ini sebelumnya, maka mereka akan berlatih lebih keras. melawan dewa? Arya bahkan tidak pernah mengungkit hal itu Sebelumnya.
Akan tetapi, Meski benar di masa depan mereka akan menghadapi para dewa, itu tidak mengubah fakta bahwa saat ini mereka masih sangat lemah.
Entah kesimpulan dari mana yang membuat Arya mengatakan bahwa saat ini, mereka lebih hebat dari musuh yang sedang datang ke arah keempatnya.
"Arya, kau adalah keturunan Arangga. Tentu saja kami percaya suatu saat kau akan mewarisi kekuatannya. Tapi kami, kami hanya manusia biasa. Hellion Smith, leluhur kami sekalipun, Tidak memiliki kekuatan sehebat Arangga."
"Apalagi aku. Aku bukan siapa-siapa. Kalian keturunan orang-orang hebat. Aku bahkan dikucilkan di keluargaku." Sahut Bai Hua.
Ciel dan Luna menatap Bai Hua yang paling merasa dirugikan saat ini. Benar bahwa dia tidak memiliki latar belakang apapun.
"Aku rasa, kalian lupa beberapa hal."
Menanggapi kata-kata Arya itu, Luna langsung menyela. "Katakan, apa yang kami lupakan. Lihat, saat ini musuh sudah semakin mendekat."
"Aku akan bertanya pada kalian, dan kalian akan langsung mengerti." Ucap Arya memastikan. "Siapa Hellion Smith sebelum bahuraksa ada? Dan Siapa Arangga, sebelum membunuh sembilan dewa?"
Ketiganya terdiam. Seketika di kepala mereka hanya ada satu kata.
"Manusia! " Tegas Arya.
"Mereka hanya manusia biasa yang memiliki tekad besar dalam pertempuran mereka. Arangga tidak peduli siapa lawannya. Itu hanya sebutan. Yang terkuat akan hidup dan yang lemah akan kalah, meski mereka adalah dewa.!
Saat itu Arya berbalik menatap musuh yang semakin mendekat. "Pendekar Suci? ... Huh?! Apakah gelar itu membuat mereka tak terkalahkan?"
Ketiganya hanya terdiam. Percikan api di dada mulai membakar semangat mereka.
"Kita tidak akan menjadi Hellion ataupun Arangga. Kita adalah kita. Dan kita, memiliki cara sendiri.!" Seru Arya.
"Sekarang, ... Tanyakan pada diri kalian sendiri. Apakah manusia-manusia itu benar-benar membuat kalian takut?"
Mereka menatap kemana Arah Arya menunjuk. "Jika Iya, Maka berhentilah sampai di sini dan kembalilah ... "
Mereka melihat kesungguhan dari kata-kata Arya. bagaimanapun, mereka sudah mengetahui sedikit siapa Arya. di tangan pemuda ini, masa depan dunia akan ditentukan.
"Jika tidak ... Maka maju, dan bertarunglah ... Tolong tunjukkan padaku bahwa, kita adalah manusia-manusia yang di masa depan, akan menjadi penantang para dewa!"