
Beberapa hari kemudian, Wisanggeni, Darsapati dan Angus juga beberapa orang dari serikat Singa Emas, Darius dan Nick dari akademi militer juga seluruh ketua sekte aliran putih, berkumpul di aula istana.
"Paduka! Kenapa kita tidak mengundang perwakilan Sekte Paduka, untuk datang kesini saja?"
Wisanggeni telah mengutus banyak orang untuk menyampaikan undangan ke seluruh daerah. Dalam waktu satu bulan, akan di adakan pertemuan besar para pemegang tanggung jawab di seluruh Daratan itu.
Anehnya, meski Arya mengaku berasal dari salah satu sekte yang ada di ujung timur daratan tersebut. Dirinya tidak mengundang perwakilan sekte itu.
Padahal, Wisanggeni dan yang lainnya pasti sangat berharap untuk menjalin hubungan dengan mereka. Apalagi, saat ini Arya adalah raja mereka.
"Kek, aku juga ingin seperti itu. Tapi, saat ini mereka sama dengan Daratan ini. Saat mereka siap, aku yakin kalian akan bertemu. Saat itu, aku berharap kalian bisa saling menjaga."
"Baiklah, aku akan mengingatnya."
Wisanggeni tetap masih keberatan dengan rencana kepergian Arya. Tapi, dia tidak bisa apa-apa. Baginya, keinginan sang Raja adalah mutlak.
Apalagi saat Arya membuka segel Api keluarganya. Setelah itu, Wisanggeni jadi mengetahui siapa dirinya dan apa tugas yang selalu di emban keluarganya selain menunggu datangnya keturunan Arangga ini.
Di sisi lain, Darsapati yang sudah pasrah, saat ini hanya fokus pada tanggung jawabnya. Apalagi, dia dan yang lainnya menikmati peran baru mereka ini.
Melihat senyuman para penduduk, memberi arti baru pada dia dan banyak pendekar, makna perlindungan sebenarnya.
"Tuan Muda, semua sudah berjalan seperti rencana. Aku dan tuan Angus juga tengah mempersiapkan beberapa kelompok yang akan membuka cabang perdagangan. Dalam satu tahun ke depan, setidaknya kita sudah bisa merambah ke dua Daratan lainnya."
Arya mengangguk. "Terimaksih kek, maaf karena aku sangat menyulitkan kalian."
Darsapati tertegun. "Tuan Muda, apa yang kau katakan. Kami sama sekali tidak keberatan. Lagipula, tugas kami saat ini sangat menyenangkan. Aku tidak bisa menerima permintaan maaf ini, sebaliknya kami benar-benar berterimakasih karena mendapat kepercayaan untuk melakukannya."
Arya tetap tidak terbiasa dengan basa basi seperti ini. Dia masih berfikir dengan logika dan sedikit perasaan. Selebihnya dia menyampaikan apa yang ada di pikirannya saja. Saat ini, Arya tidak tau bagaimana cara menanggapi kata-kata Darsapati.
Hal itu, di nilai berbeda dengan orang-orang yang ada di sana. Jika Darsapati tidak meyakinkan mereka, tidak ada yang percaya bahwa Raja mereka ini, sekarang baru berumur sekitar sembilan belas tahun.
Bagi mereka semua. Arya adalah manusia paling bijaksana yang mereka temui. Selain, manusia paling mengerikan juga.
Setiap berhadapan dengan Arya, mereka mendapati diri mereka memandang Arya penuh kebanggaan, penghormatan dan tentu saja rasa takut yang tak terkira.
Tidak ada yang bisa tidur tanpa terus memimpikan pembantaian besar-besaran yang dilakukan Arya dan lima lainnya, pada pertempuran Daratan Timur, paling tidak seminggu lamanya.
Arya tiba-tiba merasa canggung saat menyadari bagaimana cara semua orang melihatnya saat ini. Menurutnya, menjadi Raja secara tiba-tiba, sungguh sangat merepotkan.
Tapi, dia tidak bisa terus berdebat hanya karena gelar Raja. Lagipula Arya berfikir bahwa dia akan meneruskan perjalanan. Jadi, sebisa mungkin bertahan dengan panggilan Raja yang sudah di sematkan padanya sejak akhir pertempuran.
Saat itu, dia melihat Darius dengan tatapan yang aneh. Segera dia mendapat ide untuk mengalihkan topik dan mengubah suasana.
"Tuan Darius, bagaimana perkembangan akademi militer yang kau rencanakan? Jujur saja, aku sebenarnya tidak terlalu mengerti. Tapi, sepertinya itu sangat bagus."
Darius langsung mengangguk. Dia begitu bersemangat. Siapa yang mengira orang luar sepertinya, mendapat kepercayaan yang begitu besar, Apalagi dari Arya.
Bagi Darius, Arya benar-benar menilai orang dari sisi kemanusiaan bukan asal usulnya. Jadi, dia bertekad untuk benar-benar menjaga kepercayaan itu.
"Paduka, terimakasih telah memberi kepercayaan penuh. Akademi sedang dibangun. Aku juga berterimakasih pada Tuan Darsapati dan Tuan Angus yang memberikan dukungan pekerja yang sangat banyak. Aku yakin dalam tiga bulan ke depan, semua sudah selesai. Dan tak lama setelahnya, Kelas sudah bisa di mulai."
"Baiklah, aku rasa itu sangat menjanjikan untuk masa depan Daratan ini."
Darius juha melaporkan perkembangan yang lainnya menyangkut keamanan kota dan pertahanan wilayah. Hal yang tak pernah di perhatikan para pendekar-pendekar Daratan Timur sebelumnya.
Saat ini saja, Darius secara terang-terangan meminta anggaran untuk membeli kapal dengan jumlah besar untuk menjaga perairan yang langsung di setujui oleh Arya tanpa fikir panjang.
"Kalian harus memahami satu hal. Kita sangat jauh tertinggal. Apa yang kita lakukan saat ini, bukan hal batu di luar sana. Tapi, saat ini aku ingin kita langsung melampaui mereka. Jadi jangan takut dengan perubahan. Jika hal itu baik bagi Daratan ini, jangan menundanya lakukan saat itu juga."
Kata-kata Arya, langsung mendapat anggukan dari semuanya. Memang tidak ada alasan lagi bagi mereka meragukan keputusan-keputusan yang di ambil Arya.
Hanya saja ada sedikit penyesalan di hati mereka. Kenapa manusia sepertinya, baru muncul saat ini. Hal itu semakin memberatkan hati mereka melepas rencana Arya untuk melanjutkan perjalannya.
"Paduka, bagaimana dengan para pendatang? Kita semua tau bahwa, kebanyakan masalah bermula dari mereka. Apa kita akan membatasi atau langsung menutup diri?" Darius kembali bertanya.
"Untuk sementara, kita batasi. Tapi, ke depan saat kita siap, kita akan terbuka untuk siapa saja."
"Tapi Paduka, jika kau pergi maka—"
Wisanggeni tidak bisa meneruskan kata-katanya karena saat itu juga Arya langsung memotongnya.
Arya mengangkat tangan dan menggeleng. "Kakek, aku belum memberitahumu tentang ini. Tanpa aku di sini, kalian akan tetap aman dari ancaman."
Kata-kata Arya langsung menarik perhatian. Tentu saja bagi mereka, jika Arya di sini tidak akan ada ancaman berarti meski itu dari pihak luar. Kekuatan Arya pasti akan membuat musuh menyesal karena dengan konyolnya mengganggu wilayah Daratan Timur.
Tau bahwa dia kembali menarik perhatian, kali ini Arya tidak mengelak. Karena Ini juga bagian dari rencana panjangnya, dia akan mempertegasnya saat ini juga.
Arya berdiri dan menatap semua orang. Dia tampak berfikir sebentar seolah menimbang sesuatu. Lalu, dia mulai berbicara.
"Mungkin kalian merasa aman karena menurut kalian aku sangat kuat. Bukankah begitu?"
Pertanyaan Arya langsung mendapatkan anggukan dari semuanya. Hal itu membuat Arya tersenyum sambil menggeleng.
"Jujur saja, saat ini, aku bukanlah yang terkuat di Daratan ini."
"HAAAHH... !"
Informasi itu sangat tidak di duga mereka. Bahkan sampai saat ini mereka masih sulit mempercayai bahwa Arya bisa memiliki kekuatan yang sangat mengerikan itu.
Tentu saja mereka lebih tidak bisa membayangkan lagi jika ada yang lebih kuat darinya.
"Ada alasan kenapa aku tidak melibatkan Sekte Delapan Mata Angin saat ini. Itu karena adikku, belum menyelesaikan masa latihannya."
"ADIIII...K?!"
Mereka berseru serempak.
"Ya, Adikku. Namanya Darya. Sebentar lagi, dia akan memimpin Sekte Delapan Mata angin, setidaknya saat ini, dia sepuluh kali lipat lebih kuat dariku ... "
Mata semua orang terbelalak. Jika yang mengatakan itu bukan Arya langsung, maka mereka akan menganggap siapapun yang mengatakan hal itu, pasti bercanda atau berniat meremehkan raja mereka. Tentu saja mereka tidak akan segan-segan memenggal kepala orang yang meremehkan Raja mereka ini. Tapi...
"Kalian teruslah memperkuat pertahanan di Daratan ... "
Mereka melihat tangan Arya yang kini terangkat dan menunjuk ke atas.
"Sang Dewi Angin, akan menjaga kalian semua, dari ... Angkasa!" Tegasnya.