
" Kau tidak bercanda kan? "
" Kau seorang Tabib? "
Kedua kakak adik itu tidak bisa mempercayai Arya begitu saja. Kondisi gadis ini benar-benar dalam bahaya.
" Aku tidak bercanda. Aku juga bukan seorang Tabib. " jawab Arya pada keduanya. " Walaupun belum pernah melakukannya. Aku rasa, aku bisa menyembuhkan anak ini "
Ciel langsung kehabisan kesabarannya. " Arya! Kau tidak bisa coba-coba disaat seperti ini. Ini menyangkut nyawa manusia! " Ciel membesarkan suaranya.
" Beri aku waktu sebentar jika aku gagal, maka kita cari Tabib. " pinta Arya.
" Kakak, sebaiknya aku saja yang memanggil Tabib. Kita tidak bisa menunggu Arya melakukan sesuatu yang dia sendiri belum pernah melakukannya "
Sebelum Luna sempat menyetujuinya, Ciel sudah berlari meninggalkan mereka. Bagaimanapun, bagi mereka Arya hanyalah pemuda yang aneh.
" Luna! Bisakah aku memintamu untuk memalingkan wajah ke sana sebentar? " pinta Arya.
Mendengar permintaan Arya, itu menimbulkan kecurigaan pada Luna" Kenapa? Apa yang akan kau lakukan pada anak ini? "
" Aku hanya ingin menyelamatkan anak ini. " kata Arya. " Hmm ... Tapi, aku rasa tidak apa-apa jika kau melihatnya " putus Arya.
Arya menggunakan teknik pengobatan yang di ajarkan oleh Obskura. Arya menutup mata untuk berkonsentrasi dan membuka kedua telapak tangannya. Aliran Energi mengalir ke sana.
Luna memperhatikan Arya dengan seksama. Di matanya Arya berlagak seperti orang yang memiliki tenaga dalam. ' Pemuda Aneh ' batinnya.
Luna tidak lagi memperdulikan Arya dan berdiri meninggalkannya untuk menunggu Ciel di jalan tidak jauh dari Arya dan dua anak kecil itu berada, berharap adiknya cepat membawa Tabib ke tempat mereka.
Setelah beberapa menit menunggu Akhirnya Luna melihat Ciel sedang berlari dengan seseorang yang sudah tua.
" Kalian cepatlah! " Teriak Luna agar mereka mempercepat langkahnya. Namun orang tua itu seperti akan mati karena kehabisan nafas.
" Di mana dia? " Tanya tabib itu saat sudah tiba.
" Di sana, Ayo! " ajak Luna.
Langkah Ciel dan Luna terhenti. Dua kakak adik itu terdiam membatu saat melihat dua anak kecil sedang menikmati buah duduk di kanan dan kiri Arya.
Tabib tua itu menatap ke sekeliling mencari " Mana? " saat itu dia menyadari bahwa dua gadis itu berdiri di belakangnya dengan tatapan kosong " Nona ... Di mana ... Anak ... Yang ... Sakit ... Itu? Tanya Tabib sambil menahan sesak di dadanya.
Karena telah berlari cukup jauh, penyakit Asma Tabib itu sepertinya kambuh.
" Nona? " panggil tabib itu sekali lagi " Mana ... Siapa ... Sakit? " rasa sesak di dadanya semakin parah.
Karena keduanya tak menjawab. Tabib yang juga sudah sangat lemah itu duduk di tanah. Mencoba mengatur nafasnya namun tak bisa. Asmanya benar-benar semakin parah.
Sekarang, tabib tua itu menyadari bahwa, dirinyalah yang sedang sakit dan tengah sekarat.
Tiba-tiba Tabib itu merasakan energi mengalir dari belakang punggungnya. Nafas nya mulai teratur dan tak lama kemudian Asma nya hilang. Nafasnya tak lagi sesak. Malah, dirinya merasa sangat, sehat?
Tabib itu segera berbalik. Dia melihat tapak tangan seorang pemuda yang berusaja menempel di punggungnya menggantung di udara.
" Sudah baikan Kek? " Tanya pemuda itu.
" Siapa kau? Bagaimana? Sakitku? " Tabib itu tercengang, dia tidak bisa merangkai kata-kata. Bingung memilih yang mana yang akan dia tanyakan lebih dahulu.
Arya tersenyum " Aku, Arya. Aku melihat nafas kakek sangat sesak. Dan ya, aku rasa sekarang kakek sudah sembuh " menjawab ketiga pertanyaan Tabib tua itu.
Luna dan Ciel berjalan di depan, di sebelah keduanya ada dua anak kecil yang ikut bersama mereka sambil memakan buah pemberian Arya yang entah dari mana pemuda itu dapatkan.
" Kakak. Aku rasa pemuda di belakang kita ini bukan orang sembarangan. Baru kali ini mataku tidak mampu mengukur tenaga dalam seseorang " bisik Ciel pada Luna.
Luna juga merasakan hal yang sama" Bukankah kau bilang, dia memiliki unsur Air di tubuhnya? "
" Iya!. Aku tidak begitu mengerti. Aku hanya melihat unsur air itu menyelimutinya. Tidak terpusat di titik manapun di tubuhnya. "
" Jadi maksudmu, dia bukan pengendali Elemen Air? "
Ciel tampak berpikir lalu menghela nafas panjang dan melepasnya kasar " Ah! Sudahlah. Kita sudah kehilangan kesempatan untuk bertanya. Kenapa Kau tadi memilih untuk tidak membahasnya? "
Luna sebenarnya juga penasaran. Tapi, mendengar kata-kata Arya sebelum dia mengobati gadis kecil itu, sepertinya Arya memang ingin menyembunyikan sesuatu. Luna hanya ingin menghargainya. Makanya dia memilih untuk tidak membahas lebih jauh dan mengajak mereka semua ke tokonya.
Berbeda dengan Tabib yang mereka bawa. Orangtua itu sekarang seperti anak kecil yang sedang merayu Ayahnya untuk dituruti kemauannya.
Sejak mengetahui Arya punya teknik penyembuhan tingkat tinggi, Tabib itu memohon kepada Arya untuk menerimanya sebagai murid. Itu dilakukannya sepanjang perjalanan ke toko Ciel dan Luna.
" Tuan Muda. Terimakasih telah mengobatiku. Dan jika kau berubah pikiran, aku tetap ingin menjadi muridmu "
Itu lah kata-kata tabib tua sebelum pergi tepat saat mereka sampai di depan Toko kakak adik itu.
Hal itu menarik minatnya. Dan Ciel dengan senang hati menerangkan semuanya pada Arya. Sementara Luna sedang membersihkan sebuah kamar untuk ditempati oleh kedua anak kecil itu.
Melihat keadaan mereka, luna tidak tega membiarkan mereka hidup berdua di luar sana mulai saat ini. Ciel juga setuju untuk menampung mereka di sana.
" Ternyata kau dan kakakmu yang membuat senjata-senjata ini? "
Ciel tersenyum bangga. " Ya, tentu saja. Meskipun kami wanita, tapi kami adalah keturunan Smith. Keluarga pandai besi terhebat sepanjang sejarah " kata Ciel setengah berbisik.
Arya mengangguk. " Jadi Smith itu nama keluargamu? " tanya Arya memastikan.
Kening Ciel berkerut heran " Kau pernah mendengar nama Smith sebelumnya? Luna yang mengatakan padamu. Tapi, kapan? "
" Oh tidak, luna tidak mengatakan itu. " Arya menunjuk ke depan " di sana tertulis dua kata ... Perisai dan Smith "
Mata Ciel membesar. " kau bisa membaca lambang itu? "
" Ya! " jawab Arya santai.
" Luna! Kakak! " Ciel tiba-tiba berteriak Histeris.
Luna langsung berlari keluar. Mengira ada kejadian yang tidak terduga, Luna memasang wajah waspada " Ada apa?! "
" Arya mengatakan padaku, simbol di toko kita itu memiliki arti Perisai dan Smith "
Kata-kata Ciel itu membuat Luna menyadari sesuatu. wajahnya kini benar-benar waspada " Ciel kemarilah! " perintah Luna. " Berdiri di belakangku "
Arya terkejut dengan perubahan keduanya. Luna sekarang sedang memegang sebuah pedang dan Ciel tampak meraih pedang yang sangat besar.
" Kau! ... Siapa kau sebenarnya?! " Luna menghunuskan pedangnya pada Arya.
Naluri Arya mengatakan bahwa kedua orang itu benar-benar akan menyerangnya.
" Aku Arya. " jawab Arya dengan nada sedikit keheranan.
" Bukan itu. Bagaimana kau bisa membaca simbol itu? Darimana sebenarnya kau berasal? "
" Aku hanya bisa saja. Dan aku berasal dari Sekte Delapan Mata Angin "
Ciel dan Luna bertatapan tampak berpikir dan kemudian sama-sama menggeleng. " Kami tidak pernah mendengar nama Sekte itu sebelumnya "
Arya baru menyadari tentang nama Sektenya itu. " Oh iya! ... Maaf, aku lupa. Sekte itu baru saja berganti nama. Sebelumnya namanya adalah— "
Kata-kata Arya sempat terputus saat suara beberapa orang baru saja masuk. Mengabaikan orang-orang itu, Arya kembali menatap Ciel dan Luna " Awan Senja "
" Oh jadi begitu, Tuan Muda dari Sekte itu? "
Hattala yang baru saja masuk langsung mendengar kata terakhir Arya dan menyimpulkan bahwa Arya baru saja mengatakan dari mana dia berasal.
" Ya. Awan Senja. Kau pernah mendengarnya? " tanya Arya pada Hattala.
" Ya. Sekte itu jauh terpencil di ujung daratan ini, bukan? " Hattala menjawab Arya dan menoleh pada Ciel dan Luna yang sedang menghunuskan pedang pada Arya " Kalian menghunuskan pedang pada orang yang menolong kalian? Sungguh keterlaluan! " tuduh Hattala.
Luna dan Ciel menatap Arya dan Hattala bergantian. " Jadi, sebenarnya kalian saling mengenal? "
" Tidak! "
" Ya! "
Jawab keduanya serentak. Lalu mereka saling berpandangan. Hattala langsung mengerti bahwa dia sudah membuat kesalahan.
" Maafkan aku. Kami belum saling berkenalan. Tapi, kami akan segera saling mengenal " jelas Hattala.
Arya merasa heran dengan penjelasan Hattala. " Apa maksudmu? "
" Tuan Muda. Aku dan prajurit ini ke sini ingin menjemputmu. ... Bajra sudah menunggu. " jelas Hattala.
Seorang prajurit yang sudah beberapa kali bertemu dengan Arya, maju dan membantu Hattala menjawab. " Ya. Tuan Muda! "
" Oh begitu. " Arya menatap pada Luna dan Ciel yang menatapnya bertambah curiga " ini tidak seperti yang kalian fikirkan " Arya coba menjelaskan.
" Sudah pergi saja! " usir Luna.
Arya lagi-lagi dihadapkan dengan situasi yang sangat asing baginya. Walaupun membuatnya tidak nyaman, Arya memutuskan untuk pergi.
" Baiklah! " Arya menatap kembali pada prajurit itu " Di mana dia? " tanya Arya sambil berjalan keluar.
" Kami akan mengantarkan anda padanya. "