ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Musuh Terburuk


"Apa kau bilang?! Mati?"


Nurmageda tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Bai Fan. Bagaimana sebuah pedang bisa mati, sedangkan pedang memanglah benda mati,bukan?.


Ki Jabara dan beberapa orang pendekar yang ikut bersamanya, berhasil menyusul dan mendekat pada mereka. "Tuan Pendekar!"


Setelah menyapa Bai Fan, Ki Jabara langsung menoleh pada Nurmageda, "Di mana dan apa yang telah kau lakukan pada pekerja-pekerja itu?"


"Wuuush!"


"Sreet!"


"Arrrrrrrgggggghhhhhh!"


Bai Fan tiba-tiba kembali menyerang Nurmageda. Kali ini, Bai Fan memutus pergelangan tangan Nurmageda dengan pedang yang ada di tangannya.


Serangan Bai Fan itu, mengejutkan semua orang yang ada di sana, "Tuan Pendekar. Apa yang kau lakukan?"


"Tidak perlu menanyakan itu padanya. Aku tau di mana mereka!"


Saat Ki Jabara melihat kembali pada Nurmageda, akhirnya Ki Jabara mengerti kenapa Bai Fan melakukan itu.


Nurmageda berniat menelan sebuah pil yang mampu menambah tenaga dalamnya dan melarikan diri. Namun, Bai Fan menyadari itu dan langsung menghentikannya.


Kini, Pil berwarna hitam itu terjatuh ke tanah bersamaan dengan lengan Nurmageda yang terputus.


Ki Jabara mengambil Pil itu. Dengan seksama dia memperhatikannya "Pil apa, Ini?" tanya Ki Jabara.


Bai Fan memberikan totokan pada beberapa titik di tubuh Nurmageda untuk mengunci peredaran tenaga dalamnya. "Itu adalah Pil Zulu, benda itu sangat terlarang di benua kami dan beberapa negara besar lainnya"


"Pil Zulu?" Tanya Ki Jabara penasaran.


"Ya." Jawab Bai Fan " Tapi Aku tidak bisa jelaskan itu sekarang. Sebaiknya kita membereskan mereka semua terlebih dahulu"


Bai Fan sudah melumpuhkan Nurmageda. Dia juga sudah mengetahui bahwa Ki Jabara dan rombongannya sudah berhasil mengalahkan pengikut Nurmageda.


"Baiklah" Ki Jabara menyetujui saran Bai Fan "Lagipula, kita harus kembali untuk melihat apa yang terjadi di lembah"


"Pemuda itu ... Siapa pemuda itu?"


Ki Jabara menghela nafas panjang lalu melepaskannya kasar. " Entahlah ... Yang aku tau sekarang, dia adalah cucu kenalanku!"


Ki Jabara sebenarnya memiliki pertanyaan yang sama. Untuk sekarang, hanya itu informasi tentang Arya yang paling di yakininya.


Melihat bagaimana kekuatan Arya dan apa yang bisa dilakukannya, Ki Jabara sudah tidak yakin lagi dengan penilaiannya selama ini. Baik penilaiannya pada Arya ataupun Sekte Tarim Saka.


Bagi Bai Fan sendiri, Arya juga menjadi pertanyaan besar baginya. Setelah banyak menghabiskan waktu untuk mempelajari sejarah dan bertemu dengan banyak pendekar-pendekar hebat, belum pernah sekalipun dia melihat seseorang bisa mengendalikan elemen tanpa menggunakan tenaga dalam.


Dan melihat bagaimana Wu Guo mati, itu juga menambah rasa penasarannya pada Arya. Bai Fan juga yakin bahwa Wu Guo di bunuh dengan cara yang sangat cepat. Terlihat dari matanya yang masih terbelalak saat sudah tergeletak di tanah.


Seorang pendekar Raja dari negerinya, mati dengan mudah di tangan seorang pemuda yang sama sekali tidak memiliki tenaga dalam.


Belum lagi dua makhluk yang tiba-tiba hadir entah dari mana itu. Bai Fan tidak bisa mengerti sama sekali tentang kekuatan pemuda itu. Dia yang selama ini telah mempelajari banyak rahasia penting dunia, hari ini merasa belum mengetahui apapun tentang dunia ini.


"Baiklah, aku mengerti" Bai Fan memaklumi jawab Ki Jabara. "Kita harus membebaskan orang-orang itu. Sebaiknya, kalian menyiapkan mental kalian."


"Mental?"Ki Jabara bertanya penasaran "Apa maksudmu, Pendekar?"


"Hmmm... kau akan mengerti saat melihatnya!"


setelah mengatakan itu, Bai Fan langsung berlalu. dengan memegang sebelah kakinya, Bai Fan, menyeret Nurmageda sepanjang perjalanan.


Sementara mereka mengamankan Nurmageda dan Seluruh anak buahnya, di lembah, tepatnya di tempat mereka tadi meninggalkan Arya dan dua iblis langit, sedang terjadi kejadian yang sangat menakutkan.


Mereka tadinya juga merasa heran, dua makhluk yang ada di sana, sama sekali tidak berniat membunuh mereka. mengabaikan itu, mereka terus-terus menyerang Arya.


Kombinasi serangan mereka sulit di hindari Arya. Hingga senjata-senjata para pendekar yang menjadi lawannya itu, berkali-kali melukainya.


Dengan serangan bertubi-tubi, mereka terus menyerang Arya. Merasa Arya telah terpojok, mereka berusaha menghabisi Arya secepat yang mereka bjsa dan tentu saja tanpa ampunan.


Akan tetapi, mereka akhirnya menyadari. Sekuat apapun usaha pendekar-pendekar itu untuk menyerang Arya. Semuanya sia-sia. Tubuh Arya bisa sembuh dengan sangat cepat.


Sehingga saat satu orang memberikan serangan yang terlalu dekat. Arya akan menangkapnya, lalu menjadikan orang itu seperti bahan percobaan sebuah jurus.


"Yah. Seperti dugaanku, merusak memang jauh lebih mudah daripada memperbaikinya." Gumam Arya.


Arya mencoba menggunakan tenik penyembuhan cakra yang baru saja dia pelajari dengan cara terbalik.


Teknik itu dia pakai bukan untuk menyembuhkan melainkan merusak titik-titik cakra pendekar-pendekar itu. Kerusakam yang di buat Arya secara acak itu, membuat tenaga dalam mereka tidak bisa dikendalikan.


Hingga akhirnya, tenaga dalam mereka, merusak saraf dan pembuluh-pembuluh darah ditubuh mereka sendiri.


Siapapun yang merasakan teknik Arya ini, seolah sedang melawan racun yang sangat mengerikan ditubuh mereka sendiri. Ironisnya, racun itu adalah tenaga dalam mereka sendiri.


Sadar bahwa Arya bukan lawan yamg bisa mereka kalahkan dengan taktik ataupun strategi, Beberapa pendekar mencona melarikan diri.


Rewanda dan Krama akan mengejar dan menangkap mereka, lalu melemparkan mereka pada Arya. Sudah bisa ditebak, apa yang Arya lakukan pada mereka.


Arya yakin, teknik ini tidak akan membunuh. Tapi kelumpuhan sudah pasti. Hanya saja ini lebih buruk. Organ-organ di dalam tubuh lawannya juga akan bekerja tidak sebagaimana mestinya.


Arya sengaja membiarkan cakra dan aliran darah dikepala lawannya tetap normal, semua itu dia lakukan agar lawan-lawannya tidak gila dan bisa dengan jelas merasakan penderitaan yang sangat luar biasa itu.


Bahkan Arya sedikit memperlancar aliran darah di kepala mereka agar tidak bisa pingsan.


"Ini benar-benar mimpi buruk" Ucap seorang pendekar dengan putus asa saat melihat teman-temannya tampak sangat tersiksa.


Setelah mengatakan itu, pendekar itu menaruh pedang di lehernya sendiri. Memilih mati daripada merasakan apa yang sedang di rasakan yang lainnya.


"Buk!" Sebuah pukulan dari Rewanda, menggagalkan usaha bunuh dirinya. Pukulan itu, juga menerbangkannya tepat kedepan Arya.


Hal yang hampir serupa juga terjadi dengan yang lainnya. Namun, Krama juga melakukan hal yang sama. Menggagalkan usaha bunuh diri mereka dan melemparkannya pada Arya.


Dengan wajah pucat, pendekar itu berusaha menjauhi Arya yang menatapnya tersenyum. Bukan, pendekar itu yakin Arya bukan sedang tersenyum. Akan tetapi, Arya sedang menyeringai padanya.


"Tolong!. Bunuh saja aku." Mohon pendekar itu pada Arya.


"Kau bisa memohon pada Bai Hua. Bukan padaku!"


"Arrggh!"


Sebagian dari mereka sengaja menyerang Krama dan Rewanda dengan putus asa. Berharap keduanya mau membunuh mereka. Tapi, sepertinya kedua makhluk itu hanya mempermainkan mereka, setelah itu melemparkannya pada Arya.


Sudah banyak pertarungan dan pertempuran yang mereka lalui. Hidup dan mati sudah menjadi pertaruhan mereka sepanjang waktu. Hidup mereka sekarang adalah bukti bahwa mereka selalu memenangkannya.


Ironisnya, saat ini mereka sama sekali tidak ingin bertempur ataupun bertarung. Mereka hanya ingin mati, Itu saja.


Sungguh, mereka tidak pernah menyangka akan menghadapi musuh seperti pemuda itu. Bahkan, untuk mengakhiri hidup sendiri saja, mereka tidak mampu.


Saking menakutkannya sosok yang mereka hadapi kali ini, menggigit lidah sendiripun menjadi sangat sulit. Karena, gigi-gigi mereka gemulutuk menggigil. Rahang mereka seolah menjadi sangat lemah.


Mereka benar-benar sedang menghadapi  lawan terburuk yang pernah ada.


"Ku Mohon. Biarkan aku mati!"