ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Jiwa Seorang Pendekar


Benar saja, ternyata apa yang diketahui Bai Fan tentang Bahuraksa tidak salah. Saat pendekar raja itu mencoba mencabutnya, Pedang itu tidak bergerak barang sedikit pun.


Pendekar raja itu telah mencoba berkali-kali namun, gagal. Hal tersebut menarik perhatian semua orang yang ada di sana.


Meski pendekar Raja itu memasang kuda-kuda dan mememusatkan tenaga dalam pada tangannya, Bahuraksa tetap tidak bergerak sama sekali.


"Huh! ... Pendekar lemah sepertimu tidak akan mampu mencabut pedang seperti itu!"


Seorang pendekar Suci berseru meremehkan. Kemudian dia melompat kedalam lingkaran. Dengan penuh percaya diri dia mendekati Bahuraksa.


Pendekar Raja tersebut merasa sedikit kesal. Tapi, karena yang mengatakan hal tersebut adalah seorang pendekar suci, dengan sangat terpaksa manahan amarahnya dan memilih menjauh.


Darsapati sedikit cemas. Sebagai pendekar suci, dia tidak bisa meremehkan kekuatan seorang pendekar suci lainnya. Karena, dengan kekuatannya saja, dia bisa menghancurkan lantai Aula ini.


"Saudara Bai, apakah itu tidak apa-apa?"


Kali ini, Bai Fan tampak sedikit ragu. Namun, jika Bahuraksa tidak bisa dicabut oleh pendekar Raja, seharusnya dugaannya benar. Mengangkat Bahuraksa bukan perkara tenaga.


"Tuan Darsapati. Ada alasan kenapa Bahuraksa tidak bisa di cabut oleh orang lain. Tapi, jika sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi. Maka, bersiaplah!"


Darsapati mengangguk mengerti. Dia langsung memberi aba-aba pada seluruh anggotanya. Jika memang Bahuraksa berhasil di cabut, maka tujuan mereka hanya satu. Merebutnya kembali.


Meski percaya diri, akan tetapi, Pendekar suci itu tidak gegabah. Dia memejamkan matanya dan mulai mengalirkan tenaga dalam menuju tangan dan kakinya.


Dari kuda-kuda yang digunakannya, terlihat pendekar tersebut akan berhasil mencabut Bahuraksa. Apalagi, jumlah tenaga dalam yang dia gunakan tidak sedikit.


Seperti apa yang difikirkan Darsapati sebelumnya, tenaga dalam yang digunakan pendekar suci tersebut sanggup menghancurkan lantai aula ini.  Sepertinya, kekuatan itu juga bisa mencabut sebatang pohon kayu yang sangat besar, dengan sangat mudah pula.


Meski tidak tau tujuan mencabut pedang yang tertancap di tengah Aula itu untuk apa, namun saat seorang pendekar Raja tidak mampu hanya untuk mencabut sebuah pedang, rasa penasaran mereka terhadap pedang tersebut membumbung tinggi.


Seperti tertantang untuk membuktikan kekuatan mereka, semua pendekar yang ada di sana memiliki keinginan untuk mencabut padang tersebut. kini hampir semua orang di sana kecuali kelompoknya, berharap pendekar suci itu juga gagal.


Saat pendekar suci itu memegang gagang Bahuraksa, tiba-tiba suasana di aula tersebut menjadi hening. Barulah beberapa saat kemudian suara teriakan parau menggema di aula itu.


"Hiyyyaaaaaaa......!!"


Pendekar suci tersebut benar-benar serius untuk mencabutnya. Dengan mengeluarkan tenaga dalam yang besar, saat ini lantai aula mulai sedikit bergetar. Lalu tak lama kemudian terdengar suara ledakan teredam dari lantai Aula tersebut.


"Bum...!"


Udar bercampur debu, menyeruak dari seriap selah-selah batu yang tersusun rapat pada lantai Aula. Saat mereka merasa pendekar suci.itu telah berhasil mencabutnya, Namun saat memastikan itu, semua mata yang melihatnya seketika melebar.


Bahuraksa, benar-bernar tidak bergerak apalagi terangkat, sedikitpun.


Terdengar hembusan nafas lega menderu di seluruh Aula. Tidak terkecuali dari Sekte Singa Emas.


Setelah itu, susana menjadi sedikit kacau. Para pendekar berebut untuk saling mendahului agar bisa mencabut pedang tersebut.


Namun lama kelamaan, mereka mulai putus asa. Kini tidak banyak orang tersisa yang mencoba keberuntungan untuk bisa mencabut Bahuraksa.


Selama kejadian itu, Gurat memperhatikan gerak gerik orang-orang dari sekte Singa Emas. Menurutnya,  Darsapati memang mengetahui sesuatu. Apalagi, Gurat tidak melihat keinginan dari mereka untuk mencabut pedang yang sedang diperebutkan itu.


Beruntung di antara mereka sekarang, ada Ciel yang sejak tadi memperhatikan setiap orang. Gadis itu, cepat mengetahui gelagat-gelagat yang menurutnya akan membahayakan mereka.


Sekarang tidak hanya Gurat saja, melainkan seluruh kelompok sudah memandang mereka dengan kecurigaan yang sama. Tapi, belum menunjukkan akan bergerak dalam waktu dekat.


Mengulur waktu dengan rahasia Bahuraksa memang sangat menguntungkan. Namun, itu sudah hampir berlalu. Sekarang, keadaan kembali seperti semula. Pertempuran yang timpang sudah di depan mata.


"Kaungsaji, bersiaplah! Jika waktunya tiba, kita harus melakukannya!" Darsapati mengingatkan.


"Kami tau yang kalian fikirkan, tapi, jika kita bisa mengulur waktu hingga senior kembali, maka mereka semua akan musnah!" Ucap Bai Hua menggebu-gebu.


"Ya! Kita hanya harus mengulur waktu!"


Sungguh Darsapati dan Kaungsaji benar-benar tidak mengerti dengan cara berfikir orang-orang yang datang bersama Arya ini. Apa yang mereka harapkan dengan bertambahnya satu orang.


"Nona, meski kami tidak mengetahui kekuatan Arya, tapi, satu orang tidak akan mengubah banyak hal di saat seperti ini." Kaungsaji coba mengingatkan. "Lagipula saat ini, tujuan kami adalah untuk melindunginya, bukan membawanya dalam pertempuran seperti ini!" Tambahnya.


Kaungsaji menekankan pada keempatnya apa yang menjadi hal penting bagi Sekte Singa Emas sekarang ini. Namun, kata-kata Kaungsaji itu, mendapat balasan yang tidak terduga.


"Hahahaha!"


"Hahahaha!"


Ciel dan Bai Hua langsung tertawa saat mendengar penjelasan Kaungsaji. Mereka tidak bisa membayangkan jika keduanya tau, orang seperti apa yang ingin mereka lindungi tersebut.


Meski tidak ikut tertawa, Bai fan dan Luna sedikit kesulitan menahan senyum. Namun, demi menjaga harga diri Darsapati dan Kaungsaji, Bai Fan mencoba menjelaskan.


"Tuan-tuan. Jika ada bagi semua yang ada di sini, seseorang yang tak ingin mereka musuhi, maka, Arya-lah orang itu!" Ucap Bai Fan sambil menahan senyum.


"Ya, seperti kata ketua Bai, Arya adalah mimpi terburuk bagi siapa saja yang memusuhinya" Tambah Luna.


Belum sempat, Darsapati dan Kaungsaji mencerna apa yang dikatakan keempat orang tersebut, Bai Fan kembali menambahkan.


"Lagi pula, di sini, tidak hanya kita saja yang akan bertempur untuknya. Pertama-tama, Mereka harus melewati dua pengawal terkuatnya terlebih dahulu sebelum menghadapi kita semua."


Setelah Bai Fan mengatakan itu, keempatnya menoleh pada Rewanda dan Krama.


Darsapati dan Kaungsaji secara tidak sadar mengikuti arah tatapan mereka. Keduanya melongo saat mendapati Kera dan Anjing yang sebelumnya selalu mengikuti Arya, terlihat sedang duduk siaga.


"Bagaimana di saat ini, kalian masih bisa, bercanda!" Ucap Kaungsaji.


Berbeda dengan Kaungsaji yang sedikit kesal, Darsapati justru terlihat senang.


"Hahahahaha!"


"Hahahahahahah...!"


Seketika suara Tawa terbahak-bahak dari Darsapati, menggema keseluruh Aula. Membuat ribuan orang yang tadi sibuk mencoba mencabut Bahuraksa dan seluruh yang ada di sana, menatapnya heran.


Puas dengan tawanya yang membahana itu, pendekar suci tingkat dua tersebut menatap keempatnya.


"Aku tidak menyangka, bahwa pewaris Sekte Singa Emas diikuti oleh pendekar-pendekar hebat yang, Gila!"


Setelah mengatakan hal itu, dia kembali tertawa. Yang lebih mengejutkan lagi, sekarang semua pendekar-pendekar dari Sekte Singa Emas ikut tertawa. Dan tawa itu benar-benar menggema keseluruh bangunan kuno tersebut.


Menurut Darsapati, hanya pendekar-pendekar yang tidak memiliki rasa takut sama sekali saja lah, yang bisa bercanda di saat-saat seperti sekarang ini. Tentu saja itu gila, tapi entah kenapa hal tersebut membuatnya senang.


Hal yang sama juga dirasakan oleh semua pengikutnya termasuk Kaungsaji yang akhirnya mengerti. Mereka terus tertawa hingga tidak memperdulikan lagi jika pertempuran benar-benar terjadi.


Bagaimanapun, Seperti inilah Sekte Singa Emas seharusnya. Jangankan hanya manusia, Sembilan Dewa perang bahkan Kulkan yang membawa malapetaka dunia sekalipun, tidak membuat leluhur mereka, bergeming.


Mereka adalah pengikut sang Pahlawan Terbesar besar umat Manusia, sungguh memalukan jika mereka takut hanya menghadapi manusia. Jiwa kependekaran mereka sebagai anggota Sekte yang didirikan Arangga itu, jelas menolaknya.


Tanpa pikir panjang lagi, Darsapati langsung berbalik dan berjalan ketengah aula dimana Bahuraksa berada. Sebuah kegilaan yang sangat mengerikan terlintas di kepalanya. Dengan penuh percaya diri, Darsapati berteriak lantang.


"Jika kalian semua memang ingin menyerang kami, maka datanglah! Kami, Sekte Singa Emas akan dengan senang hati, melayani kalian semua!"


Tantang Pendekar Suci itu.