
Ini cukup mengejutkan Arya saat mengetahui bahwa gadis yang terluka sangat parah itu adalah seorang Putri Raja.
Terlebih lagi, dia adalah putri dari Putra Mahkota kerjaan Swarna ini. Tentu saja Keberadaannya sangat penting.
Bagi Arya, jika bisa menyelamatkan sang putri, ini bisa menjadi kunci dari jawaban keterlibatan Sekte Singa Emas atas kematian Raja Aditya, di kota Basaka.
Arya memutuskan untuk membawa tubuh Putri Jasmine itu ke paviliun tempat dimana dia tinggal. Karena, tidak ada tempat yang paling aman di wilayah itu, sekarang ini selain di tempatnya.
"Tuan Drey. Kenapa kau menghalangi jalan kami?"
Angus tidak menyangka saat dalam perjalanan, Kereta kuda yang membawa mereka, dihentikan oleh salah satu petinggi Oldenbar yang memiliki masalah dengan Arya.
Saat ini, Angus dan Arya baru saja turun dari kereta saat mendapati Drey dan beberapa anggotanya berdiri di tengah jalan yang akan mereka lalui.
"Angus, kau tau alasannya. Jika kau masih ingin hidup, Sekarang menyingkirlah dari sana!"
Angus menggeleng. "Aku tidak bisa melakukan itu."
Drey mengernyit heran. Dan melihat kearah kereta. "Kenapa kau bisa berada di kereta itu. Apa yang kalian bawa?" Tatapnya curiga.
Angus sudah menebak hal ini sebelumnya. Tapi, dia sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapi hal ini.
"Ini hanya bahan-bahan makanan yang di beli Master. Dia lebih menyukai jika salah satu pelayannya yang memasak untuknya."
Angus sengaja memasukkan banyak bahan makanan ke atas kereta untuk berjaga-jaga. Bisa saja penjaga gerbang istana menanyakan benda apa yang mereka bawa saat hendak memasuki area itu. Namun, siapa sangka Drey lah yang akan mempermasalahkan itu.
"Kalau begitu, biarkan aku memeriksanya.!"
Saat Drey ingin berjalan mendekat, Angus langsung maju kedepan seolah memasang badan untuk menghalangi.
"Tuan Drey. Aku sudah mendapat izin dari pemimpin untuk menemani Master Arya melihat-lihat di pusat kota. Berarti kenyamanannya sedang di bawah tanggung jawabku. Jadi, aku tidak bisa membiarkanmu membuat Master Arya merasa terganggu!"
Drey langsung menghentikan langkahnya. Petinggi Oldenbar itu terkejut saat mendengar kata-kata Angus padanya. "Apa kau bilang? Aku... Pengganggu?" Ucapnya tidak percaya.
"Maaf untuk mengatakan itu. Tapi, kau dengar sendiri saat pemimpin mengatakan bahwa tidak ada satupun anggota Oldenbar yang boleh membuat masalah dengan Master Arya bahkan dengan peliharaannya sekalipun!"
Peringatan Angus tersebut semakin menyulut emosi Drey. "Bahkan sekarang kalian lebih menghargai peliharaannya dari pada diriku? Kalian sudah melupakan sebesar apa jasaku untuk membesarkan Serikat Oldenbar di Daratan Ini?"
Angus hanya diam saat Drey mengatakan itu. Bagaimanapun, semua orang tau bagaimana sepak terjang Drey di serikat Oldenbar. Dia adalah petinggi yang paling ditakuti oleh semua orang. Hanya Edward saja yang bisa mengendalikan serta memerintahnya.
Tidak mendapat jawaban dari Angus. Drey kembali berjalan mendekat. "Angus! Terakhir kali aku mengingatkanmu. Menyingkir, atau matilah bersamanya."
Angus menggeleng. "Maaf Tuan Drey. Aku tak bisa."
Angus langsung mencabut pedangnya dan menghunuskannya pada Drey yang berjalan semakin cepat untuk melindungi Arya.
"Jika itu maumu. Baiklah! Terimalah kematianmu...!!"
Sekujur tubuh Angus bergetar saat melihat Drey sudah berlari mendekat. Namun, tekadnya sudah bulat. Dia lebih memilih mati daripada membiarkan Drey berbuat semaunya.
Saat Drey juga sudah mencabut pedang dan terlihat akan memberikan serangan pada Angus, tiba-tiba beberapa orang segera muncul di sana.
"Drey!! ... Hentikan!"
Drey tidak memperdulikan suara tersebut dan terus melayangkan serangannya. Hingga akhirnya pedangnya membentur sebuah pedang lainnya. Namun, itu bukanlah pedang milik Angus.
"Ting!"
Mata Drey melebar saat mengetahui pedang siapa yang baru saja mengehentikan serangannya.
"Ludwig?! ...kenapa kau menghentikannku?!" Tanya nya heran.
"Drey... Kau sudah kelewatan. Tenangkan dirimu!"
Beruntung kejadian tersebut sudah berada di dekat istana. Jadi, Ludwig dan beberapa bawahannya yang kebetulan berada di dekat sana sempat melihat dan langsung datang menghentikan itu tepat waktu.
"Ludwig, bagaimana bisa kau memihaknya?!"
Karena setelah hari dimana Luna memenggal kepala Linton tepat di depan matanya, lalu melihat Edward tidak memberikan wajah padanya sama sekali, membuat Drey sangat kesal lalu pergi meninggalkan istana untuk beberapa waktu.
"Tenanglah... Dan ikut aku! Pemimpin memanggimu!"
Meski sudah termakan amarah, tapi melihat Ludwig yang biasanya hanya diam dan tidak suka terlibat dengan hal-hal seperti ini, membuat Drey berfikir ulang.
Merasa ada banyak hal telah terlewatkan olehnya semenjak hari itu. Lagipula, meski Drey memiliki kontribusi yang sangat besar pada Oldenbar, jika Ludwig berani memasang badan untuk Arya dan balas menyerangnya, itu akan sangat tidak baik.
Karena meski tidak banyak bicara, diantara delapan petinggi Oldenbar, Ludwiglah sebenarnya yang paling kuat. Dan yang terkuat itu, sekarang tidak hanya menghentikannya, Ludwig melepas Aura pembunuh yang menunjukkan bahwa jika Drey tetap melanjutkan apa yang ingin dia lakukan, maka pertarungan antara keduanya tidak dapat di hindari.
"Master. Bisakah anda menganggap kejadian ini tidak pernah terjadi?"
Arya mengangguk. "Ya. Aku rasa ini hanya salah faham saja."
Ludwig menunduk sekali dan kembali berbalik melewati Drey yang menatap kejadian itu dengan tatapan tidak percaya.
"Drey... Aku tidak akan mengulangi untuk ketiga kalinya." Ucap Ludwid penuh penekanan. "Ikutlah denganku. Pemimpin memanggilmu!"
Tersentak. Drey langsung menyarungkan pedangnya dan berbalik lalu menyusul langkah Ludwig.
Angus langsung menarik nafas dan melepasnya dengan sangat lega. Sempat terfikir olehnya bahwa dia akan mendapatkan luka serius atau mungkin saja sudah mati beberapa saat yang lalu. Sukurlah itu tidak terjadi.
Mereka akhirnya sampai pada paviliun. Saat kereta baru saja berhenti, terlihat ketiga gadis itu sedang berada di depan tampak sedang membaca sesuatu.
Bagi Angus, itu bukanlah pemandangan yang wajar melihat tiga pendekar wanita hebat, sedang menghabiskan waktu dengan cara membaca buku.
"Tuan Muda, anda sudah kembali?!"
Mereka bertiga akan memanggil Arya dengan sebutan tuan saat ada orang lain di sekitar mereka.
Ketiganya melihat ada banyak barang yang sedang diturunkan dari kereta. Namun, mereka terfokus melihat sesuatu yang di angkat Arya dengan sangat hati-hati.
"Apakah itu bahan makanan?!"
Angus mengangguk menjawab pertanyaan Ciel. "Ya, Nona. Bukankah kalian ingin memasak?!" Sambungnya.
"Oh tentu saja. Kami akan memasak sendiri!"Jawabnya.
Sontak kata-kata Ciel langsung menarik perhatian Luna. 'Sejak kapan adiknya ini bisa memasak?' Batinnya.
Ciel sudah mengetahui apa yang sedang di bawa Arya. Tidak sulit baginya untuk melihat bahwa Aura air yang selama ini menyelubungi Arya, kini membungkus sesuatu yang Ciel yakini adalah tubuh seseorang di sana.
Angus langsung pulang dengan kereta itu. Pria paruh baya itu telah mempercayakan keselamatan Putri Jasmine pada Arya.
Beberapa waktu setelah Angus pulang. Ketiga gadis itu terkejut saat mengetahui siapa gadis kecil yang sedang dibawa Arya itu.
Hal yang mengejutkan lainnya adalah. Saat mereka memakan hasil masakan dari bahan yang dibawa Arya dengan Angus tadi. Ternyata itu mejadi hidangan yang sangat enak setelah di masak.
Namun, bukan Ciel yang memasak melainkan Bai Hua.
"Bai Hua, kenapa kau tidak pernah mengatakan bahwa kau bisa membuat makanan seenak ini?!"
"Ya. Seharusnya kau membuka sebuah restoran. Aku yakin itu akan menjadi sangat besar dan terkenal!"
Arya tidak memuji Bai Hua seperti kedua kakak adik itu. Namun, pemuda itu tidak berhenti dan terus memakan dan mencicipi semua jenis hidangan yang ada di meja.
"Hmmm... Nenekku pernah mengatakan hal seperti itu padaku. Lagipula, semua anggota keluargaku juga mengatakan bahwa Aku lebih berbakat untuk menjadi juru masak dibandingkan menjadi seorang kultivator!"
"Jika kita telah berhasil, Kau harus memasukkan alat-alat untuk memasak ke lingkar ruangmu, nanti!"
"Ya, aku setuju." Ucap Luna bersemangat. "Arya, bagaimana menurutmu?"
Mereka bertiga menatap Arya yang sedang lahap mencoba semua jenis makan yang di hidangkan di sana.
"Aku rasa ... Masakan Bai Hua adalah yang paling enak, Di seluruh dunia!" Jawab Arya seolah dia sudah pernah keliling dan merasakan semua masakan di dunia.