ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Seorang Putra


"Air apa ini?!"


Seorang pendekar baru menyadari ketika tiba-tiba kakinya terjerat air yang muncul dari tanah.


Tak lama dia melihat teman-temannya juga mengalami nasib yang sama. Tidak ada yang mengerti kenapa air itu bisa muncul begitu saja dan membuat mereka tidak bisa beranjak.


"Omi ... Obi!"


Arya menelusuri setiap seluk bangunan di lembah Tonda dengan kecepatan tinggi. Dan setiap melewati para pendekar, dia langsung membungkus kaki mereka dengan kekuatannya.


"Omi ... Obi!"


"Omi ... Obi!"


"Omi ... Obi!"


Perlu beberapa kali baginya untuk mengeluarkan jurus yang sama sebelum akhirnya dia memastikan bahwa seluruh pendekar aliran hitam itu terjerat.


Itu sudah cukup untuk saat ini. Sekarang, Arya sudah berdiri di pintu gerbang Sekte Tanah Hitam. Meski sudah cukup lama, dia menatap ke satu arah.


Buruan yang berlari tidak akan memilih jalan memutar. Sebaliknya akan mencoba berlari sejauh mungkin dan secepat yang dia bisa.


"Sial ... Sial ... Sial ... Oh, betapa sialnya!"


Seorang pendekar suci terus mengumpat sambil berlari. Tidak pernah terbayangkan olehnya bahwa di umurnya yang sudah tua dan di level kependekarannya yang terbilang cukup tinggi di daratan Timur ini, dia harus berlari dengan sepenuh hati tanpa berani menoleh kebelakang barang sekali.


Tenaga dalamnya hampir habis bukan karena bertarung. Tapi hanya untuk menjauh dari sosok yang paling menakutkan yang pernah dia temui seumur hidupnya.


"Aku tak pernah mendengar ada manusia bisa seperti itu. Dia pasti bukan manusia."


Pendekar itu mengumpat dan bergumam bergantian tak henti-hentinya sambil terus berlari.


Namun, Berlari sambil ketakutan benar-benar menguras tenaga. Jika tidak dalam kondisi seperti ini, bahkan dia bisa berlari selama dua hari tanpa masalah.


Namun jantungnya tidak bekerja untuk memompa darah agar bisa memberi stamina lebih sebagai mana mestinya. Melainkan karena merasa hidupnya akan segera berakhir.


Pendekar suci tingkat tiga itu merasa seolah malaikat maut sedang berada dibelakangnya dan akan mengambil nyawanya dengan paksa jika di berhenti melangkah.


"Wuuussshhhh... "


Pendekar itu terkesiap. Dia baru saja merasakan ada yang melewatinya. Hampir saja jantungnya yang malang itu berhenti berdetak, jika dia tidak cepat mengenal siapa orang yang baru saja mendahuluinya itu.


"Keparat ... Kau, Kelang!"


Kelang lari mentiting tanpa memperdulikan umpatan keras yang dilontarkan pendekar yang baru saja di lalui nya. Baginya, mungkin saja orang tersebut bisa memberinya sedikit waktu jika Arya sedang berlari menyusulnya.


Hanya ada satu tempat yang ada di kepala Kelang saat ini. Tempat di mana seluruh ketua Sekte Aliran Hitam kini berada. Menurutnya, hanya dengan bantuan mereka semua, masih ada kemungkinan untuk bisa melawan pemuda yang kini mengejarnya dan mengaku sebagai anak dari musuhnya di masa lalu, Natunngga.


Arya melesat ke arah dimana dia terakhir melihat punggung Kelang. Di belakangnya Bahuraksa berdiri tertancap di tanah.


Baru sekitar lima menit, dia merasakan seseorang sedang berlari kencang di depannya. Bukan Kelang, melainkan salah satu pendekar suci perwakilan dari salah satu sekte aliran hitam.


Pendekar itu sama sekali tidak menyadari bahwa Arya sudah berada di belakangnya. Barulah dia merasa setengah nyawanya hilang saat dia sedikit melirik kesamping dan melihat seseorang sedang berlari sejajar dengannya.


Saat tatapan keduanyanya beradu. Pendekar itu langsung kehilangan keseimbangannya. Tubuhnya terjatuh dan berguling-guking di tanah dan berhenti saat telah menabrak sebuah pohon besar.


"Buuuk!"


Benturan sangat keras. Tapi itu tidak terlalu menyakitinya. Dia segera berdiri mata nya langsung awas. Sekali lagi Naluri bertahan hidupnya berteriak seolah mengatakan bahwa dia akan segera mati.


"Hahahahha!" pendekar itu langsung tertawa. Ternyata pemuda tersebut sedang mengincar Kelang yang sejak awal membawanya ke Lembah Tonda.


Berfikir bahwa teman-temannya yang lain mungkin juga telah selamat, dia segera berbalik untuk berlari menuju arah yang berlawanan.


Belum sempat kakinya melangkah. Harapan untuk hidup lebih lama yang baru saja dia rasakan, langsung hilang seketika.


Siluman Kera dengan kobaran api yang menyelimuti tubuhnya menatap pendekar itu dengan sangat tajam. Dan tidak hanya itu saja, mata kuning besar dengan pupil hitam runcing yang sangat menyeramkan, milik siluman serigala berbulu perak berbadan sebesar kuda dan bertanduk runcing juga berdiri di sebelahnya.


Hanya beberapa detik waktu yang ada, ketika dua iblis langit menghambur ke arahnya. Saat itu, seolah waktu berjalan sangat pelan. ingatan tentang seluruh kesalahan yang pernah dia lakukan semasa hidupnya, menghujam dan berkelebat di kepalanya.


Pendekar itu langsung menyadari, Kematian yang akan dia rasakan, tidak akan mampu untuk menebus semua dosa-dosanya.


"Oh ... Matilah aku ... " Gumamnya sesaat sebelum berpindah dunia.


***


"Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!" "Booom...!"


Ini sudah untuk ketiga kalinya Kelang kembali berdiri setelah menabrak beberapa pohon akibat hantaman Arya yang tiba-tiba muncul di sebelah nya saat berlari.


Sudah kehilangan Arah, Kelang kembali memacu langkah kakinya. Yang dia tau dia harus menjauh dari pemuda itu jika ingin terus hidup. Namun, kali ini sepertinya tidak mungkin.


Arya sudah berdiri tidak jauh di depannya. Tatapan pemuda itu pada Kelang sangat tidak ramah.


"Master ... Aku mohon ... Ampuni nyawaku!"


Dari mulutnya yang mengeluarkan darah itu, Kelang memohon pengampunan nyawanya.


"Bukankah, kau kuat? Kenapa tidak mencoba melawanku? Mungkin saja kau bisa menang."


Kelang menggelengkan kelalanya. Dia tidak sebodoh itu untuk melawan seseorang dengan kekuatan yang tidak bisa di ukurnya.


Meski memiliki level pendekar suci tingkat empat. Namun, melihat Arya bisa membunuh seorang pendekar suci tingkat satu dengan sangat mudah dan saat itu terjadi bahkan Kelang tak menyadarinya. Memohon adalah pilihan yang paling tepat saat ini.


"Kau tetap akan mati. Melawan ataupun tidak. Aku menjamin bahwa kematianmu akan terus kau kenang bahkan saat kau sudah berada di neraka sekalipun."


Mata Kelang membesar. Kata-kata Arya jelas mengisyaratkan bahwa pemuda itu tetap akan membunuhnya apapun yang akan di lakukannya.


Akan tetapi, untuk beberapa saat dia mekihat Arya tidak sedang memegang pedang. Apalagi, sekarang tubuhnya sudah tidak menyala seperti sebelumnya. 'Apa dia sudah kehabisan tenaga?'


Tanpa fikir panjang, Kelang segera merogoh bajunya. Dan membuka paksa sebuah kantong kecil yang baru saja diambilnya di sana. Tiga butir Pil yang kini ada di tapak tangannya, segera ia telan.


Pil Zulu. Pil yang membuatnya benar-benar kehilangan kemanusiaannya saat setelah menelannya untuk pertama kali. Namun, hasil yang dia dapat, menurutnya sangat sebanding.


Kini, dia sudah berada di level pendekar suci tingkat empat. Level yang bahkan Darsapati ketua Sekte Singa Emas sekalipun, tidak mampu mencapainya.


"Arrrrgghhh....!"


Tiga pil belum pernah dia telan sebelumnya. Sekarang, tiba-tiba tubuhnya mendapatkan pasokan tenaga dalam yang sangat banyak. Namun bersamaan dengan itu, tubuhnya juga merasakan sakit yang sangat teramat pula.


Arya mengernyit. Bulu ditubuhnya sedikit merinding. Itu menandakan bahwa Kelang saat ini berubah menjadi lebih berbahaya dari sebelumnya.


Akan tetapi muncul kepuasan tersendiri di hati Arya. Dia ingin menghabisi Kelang dan menghancurkan Seluruh Sekte Tanah Hitam, sebagai seorang pendekar.


"Baiklah! Untuk hari ini, Aku adalah Arya. Arya Mahesa ... Putra dari Natungga, pendekar dari Sekte Singa Emas. Aku datang untuk menuntut balas, atas kematian seluruh keluargaku!"