ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Pertempuran Daratan Timur VI


Benar, perang adalah tentang kekuatan. Tapi kapan menggunakan kekuatan yang sesungguhnya adalah salah satu faktor terpenting dalam perang.


Daga dan Moro bisa merasakan kedatangan kelompok yang memiliki kekuatan besar saat ini. Meski masih jauh kelompok tersebut sama sekali tidak menutupi kekuatan mereka.


Jelas bahwa kedatangan mereka tidak hanya untuk mengintimidasi lawan. Masalahnya kelompok ini datang dengan kecepatan yang sedikit, lambat.


"Daga, Ini cukup aneh. Apa sebaiknya aku memeriksanya?"


Daga juga merasa ini aneh. Bagaimanapun, seharusnya jika mereka tidak menggunakaan tenaga dalam sekalipun pergerakan mereka tidak akan selamban ini.


Daga menggeleng. "Tidak, aku rasa itu tidak perlu. Mereka tetap akan sampai di sini dalam wakti dekat. Sebaiknya, kita fokus pada apa yang ada di depan saja saat ini."


"Ya kau benar."


Darius dan Nick memang sukses menggiring pasukan aliansi menerobos masuk ke dalam pertahanan kelompok sekte hitam. Namun, kali ini langkah mereka harus terhenti.


"Hoho, ternyata Tuan Rantoba. Apakah kau yang membunuh Rajamu sendiri?"


Darius berhadapan dengan Rantoba dan puluhan pendekar suci yang kini berada di belakang.


Sebenarnya, Darius bisa saja terus melangkah, namun itu sama saja mengantarkan pendekar-pendekar dari aliansi sekte aliran putih yang mengikuti kelompok petualang yang dipimpinnya pada kematian.


Jumlah pendekar suci yang kini ada di depannya akan sangat mudah menghabisi mereka, baik secara langsung ataupun tidak.


Saat ini, membiarkan mereka bertarung dengan lawan yang sesuai di wilayah lawan adalah pilihan terbaik. Setidaknya, untuk itulah serangan kejutan ini di lakukan.


Rantoba tidak menjawab tapi mencoba tetap untuk berkomunikasi. Menurutnya, sedikit negosiasi mungkin akan membawa perubahan besar. Petualang adalah kelompok yang memburu hadiah. Mereka akan bertindak untuk siapa yang menguntungkan.


"Tuan Darius, kami akan memenangkan pertempuran ini. Bukankah akan bijak bagi kalian untuk membantu kami. Ke depan, aku akan mempertimbangkan sebuah posisi untukmu dan tentu saja serikat petualang akan tetap terjamin."


Darius mendengus. Ini benar-benar membuktikan bahwa orang-orang sudah sangat meremehkan para petualang akhir-akhir ini. Bahkan di timur dunia sekalipun, para petualang sudah tidak dihargai sebagai mana mestinya.


"Maaf Tuan Darius, situasi sudah berubah. Kami bukan lagi petualang yang sebelumnya kau kenal. Seseorang telah mengingatkan kembali siapa diri kami sebenarnya. Apa yang kau tawarkan itu, simpan untukmu sendiri. Lagipula, kenapa dirimu percaya diri sekali. Bukankah kalian sekarang sedang terdesak?"


Kedua kubu mengerdarkan pandangan. Darius memang cukup cerdik. Dengan menembus pertahanan lawan, itu tidak hanya melemahkan kekuatan pasukan namun juga mental mereka.


Dalam hal ini, serikat petualang jelas melampaui mereka. Namun, sesuatu menarik perhatian Rantoba. Darius baru saja mengungkit nama seseorang. Dia sangat penasaran tentang itu.


"Apakah orang itu yang memberikan misi ini padamu? Berapa serikat kalian di bayar? Kami akan membayar sepuluh kali lipat?"


Rantoba hanya asala bicara. Dia sendiri juga tidak punya gambaran jelas bagaimana seseorang bisa membayar serikat petualang untuk bertempur. Ini memerlukan bayaran yang cukup besar.


Dia menebak, Darmuraji sudah membayar mereka untuk kemungkinan terburuk. Masalahnya, Darmuraji telah mati, mereka tentunya tidak harus memenuhi kesepakatan itu.


Tidak jauh berbeda. Darius sendiri tidak mempercayai kata-kata Rantoba. Melihat mayat Darmuraji tertancap di tanah, siapa yang mau mempercayai kata-kata itu. Namun, seandainya itu benar adanya, dia tetap akan menolaknya.


"Dia membayar kami dengan sesuatu yang tak bisa ditukar dengan emas setinggi gunung sekalipun. Sayang sekali, aku rasa ambisi kalian disini karena kalian miskin. Jadi, tak mungkin kalian bisa membayar kami, bukan?"


Tidak menyangka jawaban Darius akan begitu menghinanya. Darah Rantoba seketika mendidih. Tidak ada pilihan, saat ini dia harus memukul mundur atau bahkan menghancurkan Darius dan kelompoknya saat ini juga.


"Sial, kau terlalu besar kepala. Aku akan pastikan dirimu dan seluruh serikat petualang musnah hari ini."


"Tunjukkan jika kalian mampu. Ini perang, saat ini, berbicara tidak akan menghasilkan apapun. Majulah!"


Darius dan Nick juga seluruh petualang segera menghambur. Meminta lawan untuk maju, tidak mengharuskan mereka untuk menunggu. Tidak ada aturan seperti itu.


Kedua kubu yang hampir sama. Kuat itupun bertarung dengan sekuat tenaga mereka.


Meski tidak mengimbangi Rantoba dan pasukannya dengan kekuatan, serikat petualang punya kelebihan lainnya saat bertempur. Pengalaman mereka menghadapi musuh kuat benar-benar berguna.


Tidak seperti pertempuran pendekar-pendekar mahir dan ahli, ratusan pendekar raja dan pendekar ahli yang bertarung dalam waktu bersamaan benar-benar membuat area sekitar mereka menjadi sangat berbahaya.


Pertempuran di dalam pertempuran itu, secara tidak langsung membuat dua kubu secara tidak langsung terpisah.


Saat ini, pendekar-pendekar yang memiliki kekuatan yang jauh di bawah itu, terpaksa mundur. Tekanan udara dan intensitas serangan dan daya kejut dari setiap tenaga dalam yang di lepas dua kelompok itu, membahayakan mereka.


Bagaimanapun, mereka kesini untuk membunuh atau di bunuh. Bukan mati konyol karena serangan acak yang tidak di sengaja.


Pertarungan dua kubu itu sontak merubah kondisi medan pertempuran. Mereka yang ada di sana, mencoba menjaga jarak sejauh mungkin dan mencari musuh sepadan.


Namun, belum sempat mereka. Melakukan itu, sebuah sorakan dari sisi lain kembali terdengar.


Sebuah kelompok besar lainnya batu saja tiba. Kedatangan kelompok tersebut membuat semangat satu kubu bersemangat namun kubu lainnya tersulut rasa takut.


Beberapa saat yang lalu, Moro sudah berdiri dan hendak bereaksi saat kelompok itu semakin dekat. Namun, tiba-tiba Daga segera menghentikannya.


Dari wajah adiknya itu muncul seringai, kepalanya menggeleng, menandakan bahwa dia tidak harus melakukan apapun.


Tidak seperti apa yang sempat dicemaskannya beberapa waktu yang lalu, ini seperti angin segar bagi mereka. Jauh lebih cepat daripada waktu yang di perkirakan. Namun, Akhirnya mereka benar-benar datang.


Tanpa menunggu aba-aba, dari sisi kanan serikat Oldenbar yang berjumlah lebih dari sepuluh ribu orang, langsung datang menyerbu kedalam pertempuran.


Dari kejauhan Daga melihat Edward dan para petinggi serikat Oldenbar, datang mendekat.


"Hahahahahaha!"


Daga tertawa lantang. Sepertinya perang membuatnya terlalu banyak berfikir, hingga meragukan banyak hal. Padahal sebelumnya, dia cukup yakin dengan kekuatannya.


Kedatangan Edward dan seluruh pasukan serikat Oldenbar seolah menyadarkannya bahwa dia tidak harus sewasdapa itu.


"Sepertinya aku terlalu banyak berfikir hingga menakutkan hal yang tidak penting." Gumamnya.


"Daga, itukah pemimpin serikat Oldenbar?"


Moro melihat Edward hanya memiliki level pendekar suci tingkat empat. Tapi, sepertinya itu belum seluruhnya. Ada hal lain yang membuat pemimpin serikat itu cukup mengintimidasi.


"Ya. Dia Edward. Jika dugaan ku tidak salah, maka dia juga memiliki kekuatan itu."


Moro mengangguk. "Kau tidak salah, dia memang memilikinya."