
Bai Fan secara tidak sadar telah berteriak histeris. Hal itu menyebabkan semua yang ada di sana, sedikit terkejut diiringi rasa penasaran.
Bahkan, Luna yang sejak tadi tidak terlalu mengikuti pembicaraan itu, kini mendongakkan kepalanya. Terlihat baginya Bai Fan menatap Arya dengan wajah yang sulit di artikan.
"Kenapa? Ada apa?!"
Bai Hua tidak kalah penasarannya. Melihat dari bagaimana reaksi kakeknya, gadis itu menebak tubuh Arya pasti sudah memiliki level yang sama dengan level pendekar raja tingkat Akhir atau bahkan level pendekar Suci tingkat pertama. Dimana level tersebut hanya bisa dicapai oleh sedikit dari jumlah pendekar jenius yang keberadaannya juga sangat sedikit pula.
"Bagaimana, mungkin... ?"
Bai Fan tidak bisa mempercayai apa yang sudah dirasakannya. Ini benar-benar jauh dari apa yang dia perkirakan sebelumnya.
Dia kembali mengulang apa yang baru saja dia lakukan demi mamastikan kembali, namun hasilnya tetap sama saja.
Ciel sampai menghentikan kereta karena itu, kini kepalanya menjulur ke dalam. Gadis itu sama penasarannya. Bahkan dengan kekuatan matanya saja, dia tidak pernah bisa mengukur kekuatan Arya dengan benar. Bai Fan pasti telah mengetahui sesuatu terkait tubuh Arya itu. Namun saat melihat wajah Bai Fan, Ciel menjadi sedikit ragu.
"Ketua Bai? Apakah kau juga tidak mampu mengukurnya?"
Bai Fan menggeleng. "Ti-tidak! A-aku, bisa mengukurnya!"
"Kakek! Jangan buat kami mati penasaran. Katakan pada kami, level tubuh, Senior!"
"I-ini a-adalah... Tubuh dengan level... " Bai Fan tidak sanggup menyelesaikan kata-katanya. Bagaimanapun ini sangat tidak mungkin bagi siapapun.
Arya juga ikut penasaran, kenapa sekuat orang begitu ingin tau level kekuatan tubuhnya. "Kakek Bai, apakah kau menemukan sesuatu yang aneh, pada tubuhku?"
Bai Fan tidak menjawab. Tapi, Patriark keluarga Bai itu malah balik bertanya.
"Pendekar Muda. Dengan semua ilmu dan kekuatan yang kau miliki, bagaimana mungkin kau hanya memiliki tubuh seorang manusia yang sangat ... Sangat ... Biasa?!"
"Hah?!"
"Hah?!"
"Hah?!"
Ketiga gadis yang sejak tadi menunggu jawaban Bai Fan melongo.
"Biasa?!"
Bagaikan samudera. Semakin diselami, maka, semakin terasa sangat dalam dalam pula. Begitulah keempatnya menyimpulkan segala sesuatu tentang Arya.
Siapa yang menyangka, dengan semua kekuatan, kecepatan, ilmu pengobatan tingkat tinggi, serta kecerdasan dengan ilmu pengetahuan yang luas itu, mereka mendapati tubuh Arya benar-benar tubuh manusia biasa.
Menurut Bai Fan, Tulang dan Otot pemuda itu, terasa seperti tulang dan otot manusia normal yang belum pernah melakukan peningkatan kelas kultivasi apapun.
Dengan kata lain, jauh dari Unik atau Spasial yang diduga oleh Bai Fan sebelumnya, Arya benar-benar memiliki tubuh Manusia Normal.
Mereka tak lagi melanjutkan pembahasan tentang tubuh Arya. Apalagi setelah mereka merasa Arya sedikit bercanda saat mengatakan, bahkan dewa sekalipun juga tidak mengerti rahasia dari tubuhnya.
Akan tetapi, Bai Fan menjelaskan banyak hal baru yang tidak terlalu dimengerti oleh Arya. Sebenarnya Bai Fan sempat ragu jika Arya tidak mengerti dengan kualitas tulang dan otot seorang pendekar. Namun, melihat bagaimana tubuh pemuda itu, tentu saja kualitas otot dan tulang tidak bisa lagi dipakai sebagai tolak ukur kekuatannya.
Bai Fan menjelaskan, di kekaisaran Yang atau negara-negara besar lainnya. Seorang pendekar baru bisa dikatakan pendekar jika sudah sampai pada level mahir. Sementara itu, level dasar masih di anggap murid luar atau pemula bagi sekte manapun.
Perkataan itu juga di setujui oleh Ciel dan Luna. Kerajaan Swarna masih bisa dikatakan kerajaan yang lemah. Karena Prajurit-prajurit mereka masih banyak pendekar level dasar. Dimana, jika dibandingkan negara lain. Level itu hanya untuk kelas pekerja.
Keempatnya sepakat bahwa, di atas level Suci masih ada banyak level kependekaran lainnya. Namun, semakin tinggi level kependekaran, maka semakin sedikit pula orang yang berada di level itu.
Kabarnya, hanya pemegang sembilan Senjata Pusaka Dunia saja yang pernah sampai pada level legenda. Level tersebut bisa di capai jika sudah melewati level pendekar Suci tingkat sembilan.
Namun, pembicaraan mereka terpaksa harus berhenti karena tiba-tiba Ciel menghentikan kereta. Dan kembali mendongakkan kepalanya kedalam.
"Di depan ada sebuah jalan bercabang. Yang kekiri adalah ke kota Basaka, sementara yang ke kanan, sepertinya itu jalan kesebuah kota, persis seperti kata ketua Lamo sebelumnya."
Mereka semua saling menatap seolah menunggu salah seorang dari mereka menanggapi apa yang baru saja dikatakan oleh Ciel itu.
Melihat tidak ada yang bersuara, Bai Hua akhirnya lebih dahulu bertanya. "Senior, apa kau keberatan jika kita sedikit memutar dan singgah di kota itu?"
Arya tersenyum. Karena, dia berfikir hal yang sama. "Ya! Aku juga ingin melihatnya."
Mereka sepakat untuk memilih jalan sedikit lebih jauh untuk ke Basaka. Setidaknya di kota yang akan mereka singgahi tersebut, mereka bisa mencari sebuah penginapan daripada harus tidur di hutan seperti beberapa hari sebelumnya.
Benar saja, baru sekitar satu jam setelah Ciel mengarahkan kereta mereka ke sana, di jalanan telah terlihat beberapa orang berjalan menuju arah yang sama.
Semakin lama mereka menelusuri jalan itu, semakin banyak pula manusia terlihat. Dan tak lama setelahnya, sampailah mereka di depan gerbang sebuah kota.
Di atas gerbang itu tertulis drngan cukup besar nama kota tersebut. Kota Gomba. Itulah nama kota itu saat Ciel membacanya.
Di gerbang tersebut terlihat beberapa orang sedang mengantri. Beberapa dari mereka terlihat datang dengan kereta kuda dan sebagiannya lagi terlihat membawa gerobak kayu yang di tarik oleh kerbau.
Saat sampai giliran mereka, Seorang penjaga berdiri dan menghentikan kereta tersebut. Dengan wajah sedikit penasaran prajurit penjaga itu bertanya.
"Kalian petualang?!"
"Ya! Bisa dikatakan seperti itu" Jawab Ciel cepat. "Apakah, ada masalah?"
Penjaga itu menggelengkan kepalanya. "Tidak! Bukan itu, beberapa hari ini penginapan sudah mulai penuh. Tapi, jika kalian beruntung, aku rasa kalian mungkin masih bisa mendapatkannya"
Mendengar kata-kata penjaga itu, Ciel langsung mengedarkan pandangannya jauh ke dalam kota. Gadis itu menyadari, untuk kota sekecil itu, di dalam sana terlihat cukup ramai.
"Apakah akan ada sebuah acara?" Tanya Ciel penasaran.
"Hahahaha! Sepertinya kalian belum mengetahuinya. Tapi sebagai petualang, kalian memang cukup beruntung. Untuk mengetahui acara itu, kalian bisa mendatangi serikat petualang yang terletak di tengah kota" Jawab penjaga sambil menunjuk jauh ke tengah kota.
Ciel mengangguk mengerti. "Baiklah! Terimakasih"
Setelah membayar biaya masuk sebesar seribu Arta untuk satu orang dan dua ribu Arta untuk sebuah kereta, Akhirnya mereka memasuki kota yang bernama Gomba itu.
Seperti apa yang telah dikatakan oleh penjaga di gerbang tadi, ternyata memang cukup sulit untuk mendapatkan sebuah penginapan yang masih memiliki cukup kamar untuk mereka.
Mereka terus berjalan hingga akhirnya Ciel kembali melihat sebuah penginapan. Gadis itu menghentikan kereta tepat di depan sebuah penginapan yang cukup besar.
Di lihat dari ukurannya, memang sepertinya ini adalah penginapan terbesar di kota ini. Tanpa pikir panjang lagi, Ciel langsung melompat dan berjalan memasuki penginapan tersebut.
"Maaf Nona, kamar di sini sudah penuh!"
Itulah kata sambutan yang diterima Ciel dari seorang pria paruh baya saat baru saja mendatangi sebuah meja tempat penerima tamu di penginapan itu. Hal itu langsung membuat wajah gadis itu seketika berubah kecewa.
Akan tetapi, pria itu menatap lekat pada Ciel. Menyadari bahwa gadis itu adalah orang asing, senyum mengembang di wajahnya "Tapi, kami masih menyediakan sebuah vila. Hanya saja biayanya sedikit lebih mahal"
Wajah Ciel kembali cerah. Bagaimanapun, saat ini sudah mulai gelap. Akan sia-sia memasuki kota ini jika ternyata tidak menemukan penginapan.
"Benarkah? Apakah cukup untuk lima orang atau lebih?!"
Pria itu mengangguk. "Vila itu cukup besar. Tapi biayanya sebesar dua ratus ribu Arta untuk satu harinya"
Seperti para pendatang asing lainnya, Pria itu menebak bahwa Ciel memiliki banyak uang. Jadi, dia mencoba mendapatkan sedikit keuntungan lebih.
Mulut Ciel seketika ternganga mendengar biaya untuk menyewa vila itu. Tentu saja itu karena, Dua Ratus Ribu Arta terlalu mahal hanya untuk menyewa sebuah vila.
"Tuan! Apakah itu tidak terlalu mahal?!"
"Maaf Nona, menurutku harga itu sudah cukup pantas."
Tidak perlu berfikir lagi. Menurutnya tidak mungkin akan membuang uang sebanyak itu hanya untuk menyewa sebuah Vila. Gadis itu hendak berbalik pergi sebelum akhirnya dia melihat seseorang menaruh sesuatu di atas meja.
"Kami akan menyewanya!"
Mata Pria itu langsung terbelalak saat melihat sepuluh keping siling emas terletak di atas mejanya.
"Apakah itu iltidak cukup?!"
Tanpa menunggu lebih lama lagi, pria itu langsung mangaup siling itu. Dan berdiri dan menatap Arya.
"Tidak! Ini sudah sangat cukup. Kalian bisa tinggal disana selama kalian mau!" Ucapnya, girang.