ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Jamuan Makan Malam


" Tidak apa-apa, Tuan Muda. Nona Darya sudah biasa seperti ini " kata salah seorang pelayan yang datang setelah Arya memanggil mereka.


" Biasa? " Tanya Arya heran.


" Ya " Pelayan itu menoleh pada Arya " Tapi, Tuan Muda ... Saya berharap kejadian ini tidak menjadi masalah bagi anda "


" Apa maksud, Bibi? " Tentu saja Arya merasa heran dengan permintaan pelayan wanita yang terlihat berumur sekitar pertengahan tiga puluh tahun itu. ' bukankah ini saat yang tepat untuk merasa cemas? '


Pelayan itu menunduk tampak sedang mempertimbangkan sesuatu, lalu kembali menoleh pada Arya " Sebenarnya, Nona Darya tidak diperbolehkan keluar dari kediamannya oleh Kakeknya. Jadi, jika kejadian ini diketahui oleh Kakek Nona Darya, maka Nona dan kami semua akan menerima hukuman "


Kening Arya berkerut keheranan. " Kakek?! "


" Ya, Nona Darya adalah cucu dari pemimpin Sekte Awan Senja ini, Ki Tarim Saka "


" Tapi kenapa? maksudku, kenapa Nona ini tidak boleh keluar? "


" Aku tidak begitu mengerti. Tapi, ... Karena Tuan Muda sudah melihat Nona, Saya rasa Tuan Muda sudah bisa menebak penyebabnya. "


Pada saat mendengar suara tubuh Darya terjatuh beberapa waktu yang lalu, Arya langsung menaruh buah yang nyaris mengisi perutnya jika saja kejadian seperti itu tidak terjadi dan segera berlari mendekati tubuh yang saat itu tergeletak di teras samping vila itu.


Arya langsung membalik tubuh tersebut. Matanya sedikit melebar. Bukan Karena tubuh itu adalah milik seorang gadis. Tapi, karena tubuh gadis itu sangat kurus dan terlihat sangat lemah. Seperti orang yang menderita suatu penyakit yang sangat parah.


Arya sempat ragu atas permintaan pelayan itu. Sebelumnya dia berfikir bahwa gadis yang bernama Darya ini pingsan karena melihat Rewanda dan Krama. Itu membuatnya sedikit cemas. Karena akan sulit menjelaskan semuanya pada orang-orang yang ada di Sekte Awan Senja ini.


Namun, karena pelayan wanita itu mengatakan bahwa gadis itu sudah terbiasa tiba-tiba tak sadarkan diri, Arya berharap bukan Rewanda dan Krama lah penyebabnya. ' semoga saja begitu '


" Baiklah, lagipula aku lebih mencemaskan keadaan Nona ini "


Pelayan itu tersenyum. Dan menundukkan kepala sedikit " Terimakasih, Tuan Muda. "


Akhirnya para pelayan tersebut membawa gadis itu kembali ke vilanya. Setelah semua orang-orang itu telah pergi, barulah Arya kembali bernafas lega.


" Aku rasa lebih baik kalian makan di dalam Vila ini saja! "


Rewanda dan Krama yang saat itu sedang berwujud Anjing dan Kera biasa, tampak sedikit sedikit tidak puas. ' Dunia manusia memang aneh, untuk makan saja sangat sulit ' Batin keduanya.


Setelah membersihkan diri, tak perlu waktu lama untuk Arya menunggu. Dua orang pendekar Awan Senja menjemput nya.


Tampak wajah terkejut dari keduanya saat pertama kali bertemu Arya. Mereka pikir sebelumnya, mereka akan bertemu dengan pendekar kuat setidaknya memiliki aura pendekar Level Ahli tingkat dua atau di atasnya.


Mereka merasa tertipu. Sebagai pendekar yang baru saja mencapai level mahir, seharusnya mereka tidak ditugaskan untuk mengemban pekerjaan seperti ini. Ini sangat merusak reputasi kependekaran mereka.


Meskipun memiliki wajah yang cukup tampan dan berpakaian seperti bangsawan, Pemuda yang berjalan di depan mereka sekarang ini sama sekali tidak memiliki tenaga dalam. Tugas yang seharusnya lebih cocok dilakukan oleh pelayan wanita.


Ada alasan kenapa Arya menyukai baju yang sebelumnya dia kenakan. Karena, itu satu-satunya baju yang terlihat biasa bagi Arya. Sedangkan yang di kenakannya saat ini, Arya membuat Arya sedikit kurang nyaman.


Handar, salah satu sesepuh Awan Senja berubah fikiran. Begitu melihat kedatangan Arya, dia tidak lagi meragukan perkataan Sugal sebelumnya. Melihat bagaimana cara berpakaian Arya sekarang, bagi Handar sudah tidak perlu diragukan lagi bahwa pemuda itu memang terlihat lebih kuat dari Tarim Saka. Namun, dalam pengertian berbeda.


Tidak jauh berbeda dari Handar, sebagian besar dari orang-orang yang berada di ruangan itu berpikir sama. Arya pasti salah satu keluarga bangsawan dari kota Basaka. Atau bahkan mungkin lebih jauh lagi, bisa saja Malka.


Tapi, karena mereka tidak pernah melihat pakaian seperti itu sebelumnya, ada yang menebak Arya dari Daratan Utara. Bangsawan dari kota Barus, Ibukota Kerajaan Swarna.


" Hahahaha! Malam ini aku merasa sangat bahagia sekali " Tarim Saka tidak sekali dua kali mengutarakan kebahagiaannya itu " Kita tidak hanya bisa menumpas Kelabang Hitam sampai ke akar-akarnya. Tapi, sesuatu yang telah lama hilang, kini telah kita dapatkan kembali " Umum Tarim Saka.


Semua orang yang ada di sana kini menatap pemimpin mereka tersebut. Kebanyakan dari mereka belum pernah melihat Tarim Saka sebahagia ini sebelumnya. Dan hal yang sangat penting tersebutlah yang membuatnya seperti itu. Tak perlu di ragukan lagi.


Akan tetapi, hampir semua yang ada di sana penasaran dengan hal itu. Kecuali Sugal yang duduk satu meja untuk pertama kalinya dengan Tarim Saka dan sesepuh Sekte Awan berarak.


" Ketua, apa hal penting yang ketua maksud? " Tanya sepuh yang terlihat lebih tua dari Saka dan Handar.


Sontak semua mata orang-orang di sana melebar. Beberapa sepuh yang cukup tua hampir saja mati karena jantung mereka seolah melompat keluar dari mulut mereka.


Kitab Tinju Beruang Tanah adalah Kitab tinju terkuat miliki Sekte Awan Senja. Jurus yang ada di Kitab tersebut sangat kuat. Apalagi jika pengguna jurus itu memiliki keahlian pengendalian elemen tanah. Kitab tersebut mampu memaksimalkan kekuatan orang tersebut.


" Sebentar! ... " Handar tiba-tiba bersuara " Jika Kitab tersebut benar kembali, itu berarti ... " Handar tidak meneruskan kata-katanya. Dia melirik Tarim Saka dengan penuh tanda tanya.


Tarim Saka mengangguk tersenyum, " Ya! Si pengkhianat Gandala sudah di kalahkan. Hahahaha! " Tarim Saka kembali tertawa.


Saat itu dia benar-benar melupakan posisi nya sebagai ketua Sekte Awan Senja. Karena Tarim Saka biasanya terlihat sangat tenang dan penuh wibawa. Tapi malam ini, Handar seperti melihat teman masa mudanya telah kembali. Si bodoh yang jenius, Tarim Saka.


" Ini,  memang sangat patut dirayakan. " teriak salah satu sepuh yang tadi hanya diam menyimak dan kini terlihat sangat bersemangat.


" Ya! " Timpal yang lainnya serempak.


Arya hanya menyimak sedikit pembicaraan pendekar-pendekar dari Sekte Awan Senja tersebut. Karena bagi Arya saat ini yang terpenting adalah mengisi perutnya.


Makanan yang terhidang di meja itu terasa sangat lezat baginya. Sudah lama sekali Arya tidak memakan masakan yang menggunakan bumbu seperti itu. Arya mengabaikan pembicaraan mereka yang dirasa tidak mengandung informasi penting apapun baginya.


" Seperti dugaanku. Gandala tidak mampu menguasainya. Bagaimanapun seperti yang guru katakan dulu, perlu latihan yang sangat keras untuk menguasai jurus-jurus yang ada di Kitab tersebut " Handar yang juga merupakan salah satu dari murid dari Tarim Sadak, Ayah dari Tarim Saka sekaligus ketua Sekte Awan Senja sebelumnya tiba-tiba bersuara.


Kata-kata handar menerima anggukan setuju dari semua orang yang berada di meja tersebut, kecuali Tarim Saka dan Sugal. Tentu saja Arya tidak ikut mengangguk, itu bukan karena dia tidak setuju dengan pendapat Handar. Tapi, Arya tidak tau apapun tentang itu.


" Sayangnya, dugaanmu sepertinya salah " Tarim Saka menanggapi perkataan Handar, lalu menoleh pada Sugal " Jelaskan pada mereka " perintah Tarim Saka pada Sugal yang langsung diterima dengan anggukan cepat oleh Sugal.


" Para sepuh sekalian, Aku melihat sendiri bahwa Gandala sudah mampu memusatkan tenaga dalamnya pada tinjunya hingga mengeluarkan Cahaya ungu kehitaman " kata Sugal pada semua orang yang ada di meja tersebut.


Perkataan Sugal itu tentu saja membuat mereka terkejut.


" Tidak mungkin! "


" Ya! Itu tidak mungkin "


Semua sepuh yang ada di sana tidak mempercayai perkataan Sugal.


" Jadi, maksudmu, kau menghadapi Gandala yang sudah menguasai jurus Tinju Beruang Tanah secara langsung dan kau hanya terluka di bagian tanganmu itu? " Tanya Handar sambil menunjuk tangan kanan Sugal yang kini sudah di balut perban.


Sugal menatap tangannya yang sudah sedikit terasa lebih baik setelah diobati tabib Sekte Awan Senja. Matanya sempat menatap Arya sebentar lalu tertunduk malu " Bukan, ini ... Ini karena kebodohanku! " Jawab Sugal sambil kembali melirik pada Arya sekilas.


" Prak! " Handar memukul meja karena merasa Sugal sama sekali tidak menjawab pertanyaan menjadi sedikit kesal. " Jelaskan maksudmu! " tunjuknya.


" Handar, tenanglah! Biarkan dia menyelesaikan penjelasannya!" Tarim Saka langsung memberinya peringatan.


" Maaf Saka,  Ehem! Maksudku ... Ketua Saka " Handar jadi gugup saat semua mata yang ada di sana kini tertuju padanya karena secara tidak sengaja menyebut nama Tarim Saka secara langsung tepat yang bersangkutan.


" Maaf, Ki Handar ... Aku tidak pernah mengatakan bahwa akulah yang mengalahkannya " Sugal membela diri.


" Huh! Seperti dugaanku. Tentu saja bukan kau yang mengalahkannya " Kata Handar lalu menatap pada Tarim Saka " Jadi, Saka! Maaf! Maksudku, ... Ketua! Bagaimana cara Ketua mengalahkan si pengkhianat itu? " Handar langsung menyimpulkan Tarim Saka-lah yang mengalahkan Gandala. Sebagai saudara seperguruan, di antara semua murid Tarim Sadak. Saka adalah yang terkuat.


Dia dan Gandala tak pernah menang barang sekalipun melawan Tarim Saka saat latih tanding. Walaupun saat menghadapinya, Handar berdua dengan Gandala.


" Ah, Soal itu! Sayangnya yang mangalahkan Gandala juga bukan diriku! "


Mendengar jawaban Tarim Saka, Handar menjadi sangat prustasi " Lalu siapa?! Katakan padaku! " tanya Handar tidak sabaran.


Tarim Saka melirik pada Arya. " Pemuda ini! " Tunjuk Tarim Saka pada Arya yang sedang melahap daging Ayam di sampingnya.