ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Mata Ciel dan Harapan Bai Hua


Baru kali ini Ciel memaksa kekuatan matanya melebihi sebelumnya. Apalagi saat ini, Arya mengirimnya energi yang mampu membuat matanya bekerja melampaui apa yang di perkirakan sebelumnya.


"Arya, aku bisa melihat semuanya!!"


Arya mengangguk. "Ya, kau pasti bisa. Tapi, sekarang aku butuh bantuan kalian berdua."


"Baiklah, apa yang harus kami lakukan?"


"Ciel, aku rasa sekarang kau bisa melihat pusat energi Citra Ayu yang lainnya. Perhatikan semua nya dan lihat jalur energi yang tidak bekerja"


Ciel mengangguk dan langsung mempertajam tatapannya, " Baiklah, sekarang aku melihatnya."


"Apa yang kau lihat?" Tanya Arya lagi.


"Sebentar ... " Ciel mendekat dan melihat lebih lekat. "Jalur itu, tertutup elemen ... "


"Tanah?"


Ciel kembali mengangguk. "Ya, bisa aku pastikan itu elemen tanah."


"Baiklah, kita akan mulai!" tegas Arya.


"Arya, sebentar ... Apa yang harus aku lakukan? Kau bilang, kau membutuhkan bantuan kami, itu berarti termasuk aku, bukan?"


"Ya. Bantu aku membuka bajunya ... "


Saat itu, Arya membuat Berkah air, mengangkat tubuh Citra Ayu ke udara.


"Baik, aku mengerti"


Luna langsung mendekat, dan mulai melepas pakaian Citra Ayu. Karena, jenis pakaian Citra Ayu adalah jenis kain anjang yang di buat melilit seluruh tubuhnya, Luna terpaksa melepas semuanya.


"Apakah sudah?" Tanya, Arya pada mereka.


"Hah? ... Apa maksud—"


Saat Luna bertanya, Ciel langsung menyela. "Arya, kenapa kau menutup matamu?"


"Gadis ini tidak suka aku melihat tubuhnya." Jelas Arya.


"Hah? ... "


"Kau pernah mengintipnya?!"


"Tidak, tapi Aku sudah mengira ada yang salah di bagian dadanya dan terus memperhatikannya saat dia menggunakan jurus meringankan tubuh siang tadi. Namun, sepertinya itu membuatnya kesal. "


Kedua kakak adik itu tersenyum menahan tawa, sambil mengangguk, mengerti.


"Arya, kau tidak boleh melihat bagian tubuh wanita di bagian tertentu begitu saja, itu tidak sopan!" Jelas Luna.


"Aku tidak tau itu, tapi aku sudah melihat semua bagian tubuh kalian berdua, juga Bai Hua. Sepertinya, kalian bertiga tidak mempermasalahkannya."


Kedua kakak adik ini terdiam dan saling menatap. Saat ini, mereka sepakat akan mengajari pemuda jenius yang ternyata memiliki kebodohan yang sangat konyol ini, beberapa hal di masa depan.


"Arya, lupakan itu saat ini. Sekarang kau harus melakukannya dengan benar. Jika tidak, gadis ini dalam bahaya!"


"Luna, ambil beberapa pisau kecil Milik Ciel, dan belah bagian dia antara dua ini."


Saat mengatakan itu, Keduanya kembali terpana. Arya masih menutup mata namun memegang keduanya. Seolah tanpa rasa bersalah.


Namun, karena kondisi saat ini sedang tidak memungkinkan untuk memprotes pemuda itu, Luna akhirnya mengambil pisau dan mengarahkan tempat yang di tunjuk oleh Arya.


"Seberapa dalam dan seberapa panjang?"


Arya menunjukkan tanda yang langsung dimengerti Luna. "Ciel, katakan pada Luna seberapa dalam yang diperlukan."


"Baiklah, Luna lakukan."


Luma langsung menyayat tempat yang ditunjuk Arya, tak lama Ciel memintanya berhenti.


"Cukup. ... Cukup! Sekarang, bagaimana?"


"Karena kita tidak ada yang memiliki kemampuan mengendalikan elemen tanah, aku akan meleburnya dengan air, dan mengeluarkannya lewat pembuluh darah." Jelas Arya.


Kedua gadis itupun mengerti.


"Ciel, ini adalah teknik penyegelan Arus energi Dan aku tidak pernah membacanya sebelumnya. Aku akan mencoba memutus dan menyusun ulang jalur energi Citra Ayu. sementara aku melakukannya, perhatikan dan katakan padaku apakah aku sudah memegang jalur yang benar."


"Luna, kita tidak bisa melihat elemen tanah itu, tapi kau harus membersihkannya. Gunakan kain dan tanyakan pada Ciel apakah kau menyeka di tempat yang benar."


"Baik, aku mengerti."


"Arya. Aku melihat pusat energi elemen Citra Ayu yang lainnya cukup kuat. Apa kau merasakannya?"


Arya hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Ciel tersebut. Setelah itu, Arya kembali berkata. "Sekarang, kita akan mulai."


Merekapun melakukan tugas mereka sesuai instruksi Arya.


Saat itu, tanpa mereka sadari, ketiganya sedang melakukan sebuah operasi medis tingkat tinggi, dengan kerumitan kerja yang bisa dikatakan mustahil untuk pertama kalinya, di dunia mereka.


Tidak ada yang pernah memutus saraf dan jalur cakra di saat bersamaan untuk melepas sebuah segel dan merangkai semuanya ulang setelahnya.


Entah bagaimana hasilnya ke depan, tidak ada yang bisa mengetahuinya. Hanya saja, jika ada manusia di dunia yang bisa melakukan itu pada manusia bernyawa, tentu saja saat ini, hanya mereka bertiga yang bisa.


Setiap apapun yang saat ini di lakukan Arya, Otaknya bekerja sangat cepat. Merasakan, menganalisa memahami dan memutuskan apa yang harus dilakukan, dalam waktu yang sangat singkat.


Ciel yang bisa melihat langsung bagaimana Arya bekerja benar-benar dibuat terperangah. Gadis itu benar-benar tercengang dengan bagaimana cara otak Arya membagi semuanya.


Sementara itu, di luar rumah yang terlihat seperti istana itu, Bai Hua dan Rangkupala terlihat cemas.


"Nona, aku tidak tau bagaimana Tuan Arya sebenarnya. Akan tetapi, aku penasaran cahaya apa itu?"


Rangkupala menatap Cahaya yang keluar dari rumah tanah yang di bangunnya. Itu menggelitik rasa penasarannya. Dia tidak mengira cahaya itu hanya cahaya yang biasa di keluarkan oleh seorang pendekar saat memusatkan tenaga dalamnya pada suatu benda.


"Itu adalah salah satu kekuatan ketiganya. Aku tidak boleh menceritakannya pada siapapun. Dan itulah yang membuatku cemas."


Jawaban Bai Hua itu, malah semakin membuat rasa penasaran Rangkupala semakin membesar.


"Kekuatan? Apa maksud Nona."


Bai Hua menatap tubuh Rangkupala sebentar." Tuan Rangku, kau pasti sudah di bantu Senior untuk menyerap energi Siluman itu. Menurutmu, bagaimana dia membantumu?"


Rangkupala baru teringat. Arya tidak menunjukkan apapun padanya. Pemuda itu hanya meletakkan telapak tangan di punggungnya, dan seolah tubuhnya bekerja dan bisa menyerap energi Siluman yang dimakannya itu, dengan sempurna.


"Nona, jadi ... Dia ... Dia adalah?!"


Bai Hua menggeleng. "Senior bukan siapa-siapa. Tuan Rangku pasti juga bisa merasakannya. Dia manusia biasa. Namun, begitu. ... Dia bisa segalanya."


Rangkupala menelan ludah. Otaknya mencoba mencerna kata-kata Bai Hua. Hingga saat ini, dia merasakan Arya tetap seperti seorang pemuda lemah yang tak memiliki tenaga dalam.


Tapi pemuda tanpa tenaga dalam itulah manusia yang pertama kali mengalahkannya, dan membuatnya tak sadarkan diri hanya dengan satu tamparan keras di di dada.


Rangkupala tidak bisa membayangkan jika Arya serius ingin membunuh mereka saat itu terjadi. Mungkin, saat ini gelar legenda yang melekat pada dirinya selama ini, terasa sebagai lelucon belaka.


Keduanya terdiam dalam pikiran masing-masing. Namun saat fajar menjelang, Arya keluar dari Rumah itu.


"Senior ... !"


"Tuan Muda ... !"


Seru keduanya bersamaan. Namun Arya memberikan senyum. Yang membuat keduanya langsung bernafas lega.


"Bai Hua, Sepertinya kau harus memasak lebih banyak pagi ini. Karena, ketiganya benar-benar membutuhkan energi."


Bai Hua langsung mengangguk dan menghambur pada Arya.


"Senior ... Terimakasih ... Aku takut ... Aku takut, gadis itu ... Mati."


"Ya, sekarang sudah tidak apa-apa. Malah, dia akan seperti harapanmu."


Bai Hua melepas pelukannya. "Harapanku? Apa yang aku harapkan selain keselamatannya?" Tanya Bai Hua, Heran.


"Lihatlah kedalam, dan kau akan mengerti!" jawab Arya.


Saat itu juga, Bai Hua langsung berlari ke dalam.


"Tuan Muda, apa yang terjadi?"


Tidak menjawab pertanyaan Rangkupala, Arya hanya tersenyum menggeleng dan berkata.


"Aku meragukan kau, bahkan pendekar wanita yang bernama Lindu Ara Ketua sekte Lubuk Bebuai itu, benar-benar mengetahui apa itu, Inti Tanah."