ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Ruang Penyimpanan Harta Oldenbar


"Huh! Kalian juga harus mengganti nama Sekte kalian!" Ciel berdengus sebal, kini dia menatap Salu dengan tampang sedikit mengejek.


"Kalian tau!? Nama Sekte kalian semua yang sengaja dibuat seram itu, lebih cocok hanya untuk menakut-nakuti anak kecil, itu sangat menggelikan!"


Setelah mengatakan itu, Ciel beranjak dari tempat mereka berkumpul. Bagaimanapun, Ciel masih sedikit kesal saat mengingat bagaimana mereka meremehkan Arya sebelumnya.


"Mulai sekarang, tanamkan pada kepala kalian bahwa, jangan pernah lagi meremehkan orang lain hanya karena kalian merasa orang itu lemah. Apalagi kalian sudah menghina sektenya. Aku pastikan kalian akan menyesal jika adiknya tau, bahwa kalian sudah menghina sekte mereka. Daratan ini akan dihancurkannya karena mulut konyol kalian itu!"


Bai Hua berkata pada kedua ketua sekte itu tidak kalah bengisnya. Puas dengan ekspresi yang telah disebabkan kata-katanya pada wajah dua ketua sekte itu, dia pun berbalik dan segera menyusul Ciel.


Bai Fan sedikit terperangah saat melihat cucunya itu. Dia tidak pernah menyangka bahwa, Bai Hua bisa berkata sangat panjang dengan nada seperti itu. Bai Fan mulai merasakan perubahan pada sikap Bai Hua.


Apalagi, sekarang dia melihat cucunya itu, terlihat sangat Akrab dengan Ciel. Gadis yang seumuran dengannya.


Seulas senyum tersungging di bibirnya. 'Akhirnya, dia memiliki seorang teman' Batin patriark keluarga Bai itu,


"Tuan Bai. Apa maksud cucu anda tentang adik Tuan Pendekar?"


Mungkin, kata-kata Ciel sebelumnya memang pantas mereka dapatkan. Hingga malam ini saja, keduanya masih takut hanya sekedar untuk berbicara dengan Arya. Beruntung, Arya tidak terlalu mengindahkan mereka dan sibuk mengobati tawanan-tawanan tidak jauh dari di mana saat ini mereka berkumpul.


Akan tetapi, apa yang dikatakan oleh gadis setelahnya, itu cukup membuat Lamo dan Salu tertegun. Salu mengingat kata-kata Bai Hua dengan sangat jelas. Gadis itu menekankan ancaman tentang nama Sekte dan adik dari Arya.


Dia dan Lamo, memang sudah mengenal Tarim Saka sebelumnya. Namun, saat melihat bagaimana kekuatan Arya yang mengaku sebagai cucunya itu, mereka tidak lagi berani meremehkan Tarim Saka dan Sektenya.


Bisa saja selama ini, Sekte Awan Senja yang telah berganti nama itu, menyimpan banyak rahasia. Sebab, letaknya yang sangat jauh di ujung Daratan Timur ini. Tidak banyak orang yang berkunjung kesana. Mereka berdua juga belum sekalipun pernah mendatangi Sekte tersebut.


Maka dari itu, Salu bertanya dengan sedikit gugup pada Bai Fan. Berharap Bai Fan menjawabnya.


Bai Fan menoleh pada keduanya. Melihat kegugupan di mata keduanya, Bai Fan menghela nafas panjang lalu melepaskannya.


"Cucuku itu, tidak sedang bercanda saat mengatakan tentang Adik dari Pendekar Muda. Menurut pendekar muda sendiri, Adiknya itu jauh lebih kuat dari dirinya. Aku sendiri, tidak bisa membayangkan bagaimana kekuatan adiknya tersebut. Karena, kata pendekar muda, adiknya itu memiliki tenaga dalam, dalam jumlah tak yang tak terbatas. " Ucap Bai Fan pada keduanya.


Luna mengangguk menyetujui kata-kata Bai Fan.


"Ya! Adiknya, adalah calon penerus Sekte Delapan Mata Angin. " Luna mengatakan itu dengan wajah sangat bangga tapi juga sangat serius.


"Aku yakin kalian belum pernah melihat seseorang yang kalian fikir tidak memiliki tenaga dalam, bisa mengendalikan elemen dengan cara seperti bagaimana Arya mengendalikannya. Jujur saja, aku dan ketua Bai, juga belum pernah melihatnya."


Luna melihat ketiganya mengangguk menyetujui ucapannya. "Sekarang, coba kalian lihat kedua binatang itu!"


Belum lama ini keduanya baru tau bahwa Anjing dan Kera itu adalah pengikut Arya. Mereka masih ingat dengan jelas bagaimana kedua makhluk itu, dengan wujud aslinya memprorak-porandakan pertahanan musuh.


Membayangkan bagaimana perasaan musuhnya saat melihat kemunculan keduanya saat itu, Seketika keduanya bergidik ngeri. Lamo dan Salu merasa beruntung, mereka bukan musuh dari dua makhluk tersebut.


Apalagi keduanya saat itu malah menjadi pelindung mereka. Kedua mahkluk itu bahkan menahan semua tembakan hanya demi memastikan tidak ada jatuhnya korban dari pihak mereka.


Sekarang, orang yang bisa membuat dua makhluk seperti itu bisa patuh padanya, tentu saja bukan orang yang biasa. Dan mereka dengan bodohnya, telah menghina orang itu.


Belum sempat mereka menyesali kata-kata mereka pada Arya sebelumnya, Luna membuat semuanya semakin jelas.


"Aku masih ingat bagaimana kalian menghina nama sekte itu. Tapi, kalian harus mengingat ini."


Luna menatap keduanya dengan tajam. Seolah akan mengatakan sesuatu yang paling penting. Lamo dan Salu menelan ludah dan mencoba mendengarkannya dengan seksama.


"Arya pernah mengatakan pada kami semua, Adiknya masih sangat muda. Tentu saja seperti anak muda lainnya, dia sangat mudah untuk marah. Apalagi itu menyangkut sekte dan keluarganya."


Setiap kata-kata yang diucapkan oleh Luna pada mereka, Lamo dan Salu seperti anak kecil malang yang sedang ditakut-takuti oleh orang dewasa lainnya. Ironisnya, sekte mereka yang bernama sangat seram tersebut, kini tidak ada apa-apanya dibandingkan setiap hal yang dikatakan gadis di depan mereka ini.


"Arya juga mengatakan bahwa, jika kalian membuat adiknya marah, dengan satu jurusnya saja, maka, seluruh Daratan Timur ini akan rata dengan tanah!"


Setelah mengatakan itu, Luna menoleh pada Bai Fan. Pri tua itu langsung mengangguk menyetujui kata-kata gadis tersebut.


"Yah! Jika kalian merasa kami berbohong, Kalian bisa nilai sendiri.  Apakah menurut kalian, Pendekar Muda di sana, tampak seperti orang yang suka berbicara besar?"


Mereka berempat kembali melihat pada Arya yang masih tampak sibuk mengobati orang-orang. Keduanya kembali menoleh pada Bai Fan dan Luna. Tatapan mereka menjadi kosong.


"Sebaiknya, kedepan, kalian memperbaiki cara kalian memperlakukan orang-orang yang belum kalian kenal. Beruntung, Arya masih mau menyelamatkan kalian. Jika tidak, kalian berserta sekte kalian hanya akan tinggal nama!"


Berbeda dengan Bai Fan yang tampak sangat bijak, Luna tidak berniat demikian. Menurutnya, kedua orang ini benar-benar harus diberi pelajaran. Agar kedepannya, tidak lagi meremehkan orang lain apalagi sebuah sekte hanya karena mereka menganggap orang atau sekte lain itu lemah.


Mendengar kata-kata dari Bai Fan dan Luna, keduanya menelan ludah mereka masing-masing. Lamo dan Salu yakin bahwa baik Bai Fan maupun Luna, tidak sedang bercanda.


Lama mereka termenung memikirkan betapa bodohnya mereka. Keduanya saat ini sedang memikirkan cara meminta maaf sekaligus cara berterimakasih yang pantas pada Arya, yang pada kenyataannya, sekarang pemuda itu adalah penyelamat mereka.


Keduanya masih berdiri termangu, sibuk dengan fikiran masing-masing. Namun, lamunan mereka buyar saat tiba-tiba Bai Hua datang menghampiri.


"Aku dan Ciel, menemukan ruangan penyimpanan harta Serikat Oldenbar!"