ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Pahlawan Terbesar Umat Manusia, Arangga


Ruangan yang Arya yakini berada di tengah bangunan kuno itu tidak sebesar dua Aula yang sebelumnya. Namun, entah mengapa berjalan mendekati singgasana itu, terasa sangat jauh baginya.


Setelah Kulkan dan Kosha meneriakkan nama Arangga, kali ini Arya merasa sangat gugup. Mungkin saja apa yang dia cari sudah berada di depan matanya.


Rahasia tentang tubuhnya, atau apa kaitan antara dirinya dan orang yang bernama Arangga itu. Saat Arya larut dalam fikirannya sendiri, tanpa sadar dia sudah berada tepat di depan Singgasana tersebut.


Di atas sana, dengan seluruh tubuh yang masih memakai zirah berwarna emas, di mana disetiap bagiannya tersusun rapi kepingan-kepingan logam berbentuk persegi itu terukir relif api yang menyala.


Meski dengan rambut dan jenggot panjang yang seluruhnya sudah memutih, serta kulit wajah yang sudah keriput yang menunjukkan usianya sudah sangat tua. Sosok itu duduk di takhta yang sangat megah, tahkta dengan patung berukir kepala singa di atas dan dua lengan lengkap dengan cakarnya di kedua sisi. Arangga, masih terlihat sangat gagah dan perkasa.


"Sial!" Tiba-tiba Kulkan mengumpat. "Jadi, kau benar-benar sudah mati?!" seru nya.


Kosha hanya melihat dengan datar tubuhbArangga yang sudah tak bernyawa itu. Sebagai Jiwa Bahuraksa yang telah melalui banyak pertempuran dengannya, Kosha tidak menyangka akhirnya melihat Arangga dengan kondisi seperti itu.


"Mati?" Arya menoleh pada Kulkan dengan heran. "Apa maksudmu?"


Hampir saja Kulkan mengumpat sekali lagi saat Arya menanyakan itu padanya. Namun, dia teringat jika Arya tidak memiliki tenaga dalam. Tentu saja Arya tidak bisa mengetahui hal tersebut.


"Tidak ada lagi Aura kehidupan padanya." Kosha juga menyadari hal yang sama, menjelaskan.


Ketika Anhur melepas segel yang memenjarakannya, itulah pertama kali bagi Kulkan berhadapan dengan Arangga.


Saat itu, Kulkan sangat yakin jika Arangga sudah berada di level Dewa atau, mungkin lebih. Bahkan, Saat melihat bagaimana Arangga terbang menyongsong kedatangannya tanpa keraguan sedikit pun, Makhluk yang memiliki gelar Sang Petaka Dunia sangat yakin bahwa lawannya itu sudah menjadi makhluk Abadi sama dengannya.


Satu-satunya lawan yang tak bergeming saat menatap langsung kedua matanya. Meski musuhnya, Arangga mendapat pengakuan darinya. Itulah kenapa saat Arangga berjanji akan melepaskannya, Kulkan memilih mempercayainya.


Saat kesadarannya berpindah pada tubuh Arya, Kulkan sudah mencoba merasakan Aura kehidupan Arangga. Saat itu, Dia sudah tau bahwa keberadaan Arangga di dunia, sudah tidak ada.


Namun, masih sulit baginya untuk langsung mempercayai bahwa Arangga Mati. Kulkan lebih memilih mempercayai bahwa sesuatu yang lain sudah terjadi, sehingga dia tidak bisa merasakan Hawa kehidupan Arangga.


Sekarang, semua sudah terjawab. Tidak diragukan lagi olehnya. Di depannya saat ini, jelas bahwa itu adalah Jasad Arangga.


"Ini sangat, memalukan! ... Aku, kalah dari makhluk, Fana!"


"Hahaha! Setidaknya, sekarang kau menyadari bahwa ada yang lebih kuat dari dirimu." Kosha menatap Kulkan. "Terimalah, Zolka! Kau bukan lagi yang terkuat di Dunia!"


Kosha tidak terlalu perduli jika Arangga masih hidup atau tidak. Karena, dia sudah berpisah dengan lima pemilik sebelumnya. Dia sudah ditakdirkan untuk menjadi milik siapapun yang mampu membangunkannya.


Akan tetapi, Ada sedikit rasa bangga bagi Kosha, Saat mengetahui bahwa Arangga mampu membuat dia dan Bahuraksa mampu membuka Dua belas gerbang, Dimana gerbang kedua belas adalah gerbang yang mampu mengantarkan musuh pada dimensi kematian. Dia menyadari bahwa Arangga-lah pemiliknya yang terkuat.


Hanya saja, sekarang berbeda. Bahkan mungkin sangat jauh berbeda. Pemiliknya saat ini, Arya, jauh lebih lemah daripada enam orang yang sebelumnya.


"Cih! ... Jika dia memang sudah mati! Maka, aku kembali menjadi yang terkuat!"


Kosha menggelengkan kepalanya, dan mencibir pada Kulkan. "Sekarang, kau hanya sebuah kesadaran. Bagaimana kau bisa menyebut bahwa dirimu adalah yang terkuat."


Kulkan terdiam sejenak, sebelum akhirnya dia menjawab. "Hanya menunggu waktu saja sampai aku dan Bocah ini menemukan cara agar aku bisa keluar dari dimensi yang kau buat itu"


"Zolka! Sudah banyak yang terjadi selagi kau berada di dimensi itu. Dan lebih banyak hal terjadi selama kau terkurung, puluhan ribu tahun sebelumnya!"


"Apa yang telah terjadi?"


Senyum hambar Kosha menyambut pertanyaan Kulkan tersebut. "Kau bukan satu-satunya lagi di dunia. Aku dan Arangga, setidaknya sudah bertemu tiga yang sepertimu!"


Arya begitu terpana saat melihat sosok yang tersebut tidak terlalu memperdulikan apa yang di bicarakan olel Kulkan dan Kosha. Tak lama, dia menyadari bahwa tidak ada kemiripan sama sekali antara dirinya dan Arangga.


Saat itu, Arya mencoba mencari tau, apa yang membuatnya terhubung dengan Arangga. Sekuat apapun Arya berfikir, tidak ada satupun petunjuk yang dia dapat.


Namun, Berbeda dari apa yang di rasakan Kulkan, Arya merasa bahwa Arangga tidak mati. Mungkin Arangga telah mati, tapi menurut Arya itu tak sepenuhnya benar.


Kata-kata Kosha sebelumnya mengejutkan Kulkan. Bagaimana bisa ada makhluk lain seperti dirinya di Dunia ini. "Apa mungkin... "


Akan tetapi, belum sempat Kulkan mengutarakan apa yang akan ditanyakannya, kata-kata itu harus menggantung di udara. Dia menoleh pada Arya yang kini sudah berjalan mendekat pada Arangga.


Saat sampai di atas, Arya langsung menyentuh kening Arungga dengan telunjukknya untuk memastikan sesuatu. Dan ternyata benar, saat baru saja Arya menyentuh kulit di Wajah Arangga itu, dia langsung mendapatkan sebuah ingatan.


"Apa yang dilakukannya?" Ucap Kulkan.


Jelas apa yang sudah di lihatnya, Segera Arya berbalik. Sempat bertatapan dengan Kulkan sejenak, lalu ia menoleh pada Kosha dan bertanya.


"Bukankah kau sudah tau apa yang harus kau lakukan, saat ini?!"


Mata Kosha sempat melebar sebentar namun akhirnya dia mengangguk mengerti, sebelum akhirnya menghilang.


Tak lama setelah menghilangnya Kosha, Arya membatin. 'Jadi begitu. Baiklah! aku rasa kau dan aku memang terhubung. '


"Arangga Sarka. Demi Segala hal yang telah kau perjuangkan dan untuk terakhir kalinya, Bangunlah!" Seru Arya.


Begitu kata-kata itu terucap, Mata Arangga seketika terbuka. Tatapan, langsung tajam kedepan. Manusia terkuat yang pernah ada itu langsung berdiri. Tak mengindahkan semua orang yang ada di sana, dia langsung berseru lantang dengan penuh amarah.


"ANHHUUURRRR......!"


****


Di tempat yang sangat-sangat jauh. Sembilan puluh sembilan Istana tiba-tiba bergoncang hebat. Kepanikan langsung melanda semua penduduk yang mendiami seluruh wilayah itu.


Kejadian ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Jangankan bencana, Bahkan dewa sekalipun tidak sanggup menggocang satu di antara semua Istana. Kenyataannya, sekarang hal yang mustahil ini sedang terjadi. pertanda sesuatu yang tidak baik akan segera terjadi


Di istana terbesar atau istana ke seratus di sana, sedang berkumpul seluruh dewa langit. Semua mata di sana kini menatap kedatangan satu dewa yang baru saja memasuki istana tersebut, berjalan dengan tergesa-gesa.


Sampai di depan sebuah singgasana yang sangat megah, Sang dewa itu langsung berlutut. Kepalanya tertunduk. Ketakutan yang sangat hebat kini tampak menyelimuti wajahnya.


"Anhur! Bukankah kau bilang, Manusia bernama Arangga itu, telah mati?!"


Di atas singgasana di depan Anhur yang tengah berlutut itu, duduk bertakhta sosok yang sangat mendominasi ruangan tersebut.


Sang penguasa Prana. Kaisar langit. Mahadewa, Rah-Amun.