ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Waktu


"Umbara, pergilah engkau melangkah, kita adalah orang-orang Jampa, jjka semua bersabung nyawa, tidak mungkin kita berdiam sahaja."


Jakasona dan Umbara sudah mengetahui komandan pasukan Nippokure Daisuke, sudah mengumpulkan Pasukannya.


Untuk itu, dalam dua hari istana Jampa sudah mengutus pesan untuk meminta bantuan pada Sekte-sekte dan padepokan yang memiliki pendekar suci dari segala penjuru negeri Jampa, agar datang kebenteng Nippokure di dekat Kota Pinang Merah.


Selain itu, dia juga sudah mengirim prajurit-prajurit dari istana Jampa yang menyamar dan bergerak secara bertahap.


Sekarang, dia meminta anaknya untuk pergi membantu mereka. Lagipula, sangat tidak masuk akal jika tidak ada perwakilan istana Jampa di sana. Meski dia tau di sana ada Salendra adiknya.


"Tabik Ayahanda Sultan Jampa. Sesuai titah dengan pinta ananda. Aku akan pergi membela Jampa."


Di saat bersamaan, di Benteng Nippokure di seberang Kota Jampa, Daisuke benar-benar sudah akan bergerak.


Semua pendekar kuatnya sudah berkumpul dan siap untuk bertempur. Dia sengaja tidak memberi tau atasannya tentang masalah ini, karena hal ini akan di anggap sebagai kegagalan.


Untuk itu, dia datang dengan kekuatan penuh agar bisa memastikan kemenangan. Masalah setelahnya, akan dia pikirkan kemudian.


"Komandan ... Dua puluh ribu Pasukan siap berangkat."


"Bagus, pastikan kita gempur saat tiba ... Aku menolak perundingan."


"Baik, mengerti ... !"


Lebih jauh dari sana, Nilam Sari kembali ke Sekte Lubuk Bebuai. Di sana, saat ini tidak hanya ada Lindu Ara, tapi Sedayu Sultana negeri Sungai sembilan, juga ada di sana.


"Nilam Sari, jika benar apa yang kau sampaikan, maka ini akan menjadi masalah seluruh Kerajaan. Tidak hanya Daratan ini saja."


Menanggapi kata-kata Lindu Ara, Sedayu berkata. "Guru, untuk apa kita menunggu?"


Lindu Ara menarik nafas dalam dan melepasnya. "Kau juga menerima pesan, pesan datang dari pangeran. Jika, kita tidak menahan, semua orang kehilangan peran."


Sedayu juga menerima pesan yang hampir sama dari Citra Ayu, namun sepertinya adik seperguruannya itu tidak berniat pulang dalam waktu dekat.


"Citra Ayu, sungguh berperan. Aku ingin dia berperan. Jika kalian tak merasa beban, aku ingin dia menjadi Sultan."


Saat mendengar itu, mata Nilam Sari langsung menajam. Sedayu yang menyadarinya langsung menjelaskan.


"Kakak, engkau sama denganku, tapi engkau tidak mau dan aku sibungsu ini hanya penggantimu."


Sedayu adalah adik Nilam Sari. Jika Nilam Sari mau, maka dialah Sultan Negeri Sungai sembilan.


Tentu saja dia memiliki alasan untuk menolaknya, dan lebih memilih untuk melindungi negerinya dalam bayangan adiknya itu.


Nilam Sari berbicara menggunakan bahasa isyarat untuk menjelaskan situasinya.


Hal itu tentu saja membuat Lindu Ara dan Sedayu terkejut. Masalahnya, segel yang dikatakan Nilam Sari, berbeda. Segel itu, hanya di gunakan untuk kondisi tertentu saja.


"Nilam Sari, jadi selama ini, itu kenapa kau tidak mau menunjukkan dirimu pada putrimu?"


"Dan itu juga yang membuatmu menolak tahta ini, bukan?"


Nilam Sari mengangguk mengiyakan pertanyaan beruntun dua orang itu.


"Karpatandanu tidak tau apa-apa tentang segel itu. Kenapa bukan mau saja yang kesana?"


Keduanya melihat Nilam Sari menjelaskan situasinya. Dan keduanya menarik nafas lemah. Pendekar wanita ini, benar-benar menjalankan sumpahnya.


Dia tidak bisa meninggalkan negeri sembilan dan Malka apapun alasannya. Meski, itu tentang nyawa putrinya sendiri.


"Nilam Sari, engkau sungguh kuat Raga maupun Jiwa, kami tau engkau tersiksa, maafkan kami tak bisa membantah."


Nilam Sari kembali mengangguk. Dia memang merasa tersiksa setiap detik dalam hidupnya. Hanya saja, dia sangat mengetahui apa yang sedang dia jaga.


Lebih dari Sedayu atau Lindu Ara sendiri, Nilam Sari benar-benar tau apa itu inti tanah.


Bahkan, demi menjaganya, meski dia harus mengorbankan anaknya maka dengan sangat terpaksa akan dilakukannya. Itulah, Sumpah darah yang dilakukannya dan pendahulu-pendahulunya.


****


"Tuan Muda, aku juga punya kalung lainnya. Perak, emas, perunggu bahkan


Permata semua aku punya. Apa itu juga bisa membantu putriku?"


Arya menggelengkan kepala. "Tidak, ini saja sudah cukup."


"Baiklah, aku mengerti."


"Tuan-tuan sekalian, aku sudah memiliki semua bahannya. Tapi ada satu hal yang membebaniku."


Saat Arya mengatakan itu, semua orang di depannya memasang telinga mendengarkan.


Mulailah Arya menjelaskan betapa sulitnya membuat obat yang bisa menyembuhkan Citra Ayu, jika dia gagal dalam prosesnya maka Bayam Tiga Jari akan jadi terbuang sia-sia.


Sedangkan apa yang dia dapat dari Sikuman Kerang Darah Batu, tidak memberi dampak yang sama pada Citra Ayu. Tapi, tetap bisa membuat gadis itu hidup.


Penjelasan Arya itu membuat setidaknya Karpatandanu bisa bernafas sedikit lega. Dia tidak terlalu berharap Citra Ayu menjadi kuat. Saat ini, yang paling penting baginya, adalah keselamatan putrinya itu.


Arya juga menjelaskan, prisesnya bisa berjalan lama dan ini melibatkan semua gadis yang ikut bersamanya. Karena, Arya hanya bisa mempercayakan segala sesuatunya pada mereka.


Hal itu tentu saja masuk akal bagi semua orang. Bahkan, jika Arya meminta mereka untuk membantu, maka mereka akan memilih untuk berperang saja. Karena itulah yang bisa dilakukan pendekar, alih-alih meramu obat.


Penjelasan Arya cukup mereka mengerti, akan tetapi, Rangkupala maju dan bertanya.


"Tuan Muda, berapa lama waktu yang kalian perlukan untuk segala sesuatunya."


Saat ditanyakan hal itu, Arya langsung berfikir dan mengira-ngira. Namun, semakin lama semakin membuat keningnya berkerut.


"Jujur saja, sebenarnya aku tidak tau. Tapi, bisa saja ini memakan waktu sekitar satu minggu bisa kurang atau bahkan, lebih."


Semua orang mengangguk mengerti. Tentu saja mereka bukan mengerti proses pembuatannya. Akan tetapi, mereka mengerti hal apa yang membebani Arya.


"Tuan Muda, kau bisa terus melakukannya, sementara itu, jika memang Pasukan Nippokure datang lebih cepat, maka kami yang akan berperang."


"Ya, Tuan Muda jangan mencemaskan hal itu. Selama kau melakukannya, kami yang akan yang akan menghadapi Daisuke."


"Baiklah, terimakasih.".


"Tidak perlu, kamilah yang seharusnya berterimakasih padamu, karena semua ini, jelas kau lakukan demi kami dan Daratan ini."


Saat mereka terus membahas itu, beberapa pendekar datang dari gerbang. Melihat dari bagaimana pakaian mereka, Rangkupala dan yang lainnya tau dari mana asal mereka.


"Tabik, kami datang atas titah Sultan Jakasona."


Hal itu sudah mereka duga. Pendekar-pendekar ini, datang dengan pakaian yang tidak mencerminkan mereka pendekar sebuah sekte atau padepokan seperti yang berdatangan sebelumnya.


"Titah Jakasona, kami terima. Apakah kalian membawa berita?"


Tau siapa yang bertanya, prajurit itu mengangguk. "Tabik, Sultan. Pasukan Nippokure sudah bergerak, jika kami tidak salah menebak. Dua hari kedepan mereka sudah di puncak."


Semua orang menoleh lada bukit yang mengarah pada arah Kota Jampa, dari mana para prajurit itu juga datang.


"Baiklah, kami mengerti. Kalian bisa bergabung dengan semua pendekar yang telah datang terlebih dahulu."


"Tabik, jika begitu, kami undur diri."


Jauh lebih cepat dari apa yang Arya dan Luna perkirakan. Saat itu, Arya sempat berfikir untuk menunda untuk menyembuhkan Citra Ayu.


Karena baginya, Citra Ayu ataupun bukan, dia tidak ingin siapapun menjadi korban.


Menyadari keraguan Arya, Rangkupala langsung bersuara.


"Tuan Muda, kami tak sekuat kalian, tapi percayalah pada kami. Kami tidak akan kalah."


"Ya, kau bisa meneruskannya, maka percayakan sisanya pada kami." Tambah, Salendra.


Arya segera mengangguk, "Baiklah, terimakasih."


Mereka mengangguk setekah Arya mengatakan itu. Berfikir bahwa tudak ada lagi yang harus dibicarakan, mereka segera hendak bersiap.


Akan tetapi, Arya kembali bersuara. "Tuan-tuan, aku tak mengizinkan satu orang oun dari kalian mati. Jadi, bertahanlah sekuat tenaga, sampai kami datang."


Setelah mengatakan itu, Arya langsung meninggalkan mereka dan masuk kedalam ruangan.


Semua orang yang di tinggalkan Arya, baru saja merasakan sebuah Aura yang asing.


Saat itu, kata-kata Arya terasa seperti titah dan titah itu tidak boleh di bantah.


Rangkupala yang sudah berhadapan dengan maharaja ayahnya sekalipun, tidak pernah merasakan aura ini sebelumnya.


Semua yang ada di sana menyadari satuhal, entah siapa pemuda yang mengatakan itu, tapi mereka sangat yakin bahwa, Inilah adalah Aura sang Raja. Raja sesungguhnya.


Di dalam, Arya langsung meminta semua orang bersiap.


Inilah yang di cemaskan Arya. Karena, untuk kali ini, bahkan dia harus melibatkan Rewanda dan Krama dalam segala proses yang akan dilakukannya beberapa hari ke depan.


"Kita tidak punya banyak waktu, aku berharap kita berhasil dalam sekali percobaan."


"Baiklah, mai kita lakukan."