
Saat mendengar teriakan pendekar itu, semua orang langsung berdiri siaga. Mata mereka langsung awas. Mengamati segala penjuru.
"Argh...!"
Satu orang terdengar berteriak di satu tempat. Membuat semua mata menoleh ke arah teriakan itu.
"Arrghhh!"
Satu lagi berteriak di ujung arah yang berlawanan.
Bersamaan dengan itu, Orang-orang yang ada di sana melihat sosok bayangan yang melesat sangat cepat masuk kedalam hutan.
"Ke hutan! Aku melihatnya!"
"Tuan Darius, perintahkan semua orang untuk saling memunggungi. Kita mungkin saja sedang di kepung."
"Baiklah! Tapi, Ki Kelang kau mau kemana?"
"Mau apa lagi?! Tentu saja mengejarnya!"
Belum sempat Darius berkata lagi, Kelang sudah melesat ke dalam hutan. Menuju arah yang di tunjuk beberapa pendekar tadi.
"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"
"Waspada! Ada pemanah!"
Mendengar beberapa teriakan dari pendekar itu, Kelang sempat ragu akan terus mengejar atau tidak. Karena prioritas utamanya adalah memastikan senjata-senjata itu sampai ke Basaka.
Namun, baru saja di berfikir untuk kembali, langkahnya terhenti. Dia melihat dua sosok berbaju hitam dengan wajah ditutupi kain hitam pula. Di tangan keduanya, Kelang melihat pedang yang sudah terhunus.
"Siapa kalian?"
Tidak menjawab, Keduanya langsung melesat dan menyerang Kelang.
"Trang!" "Trang!" "Trang!" "Trang!"
"Trang!" "Trang!" "Trang!" "Trang!"
Kelang dengan sigap menarik pedangnya. Pertukaran jurus antara mereka bertigapun tak dapat dihindarkan.
Pertarungan yang baru berlangsung sebentar itu, langsung diyakini Kelang akan segera di menangkannya. Karena sepertinya lawannya berada jauh di bawahnya dalam level kekuatan.
Kelang bersiap untuk Mengambil kuda-kuda hendak menyerang dengan jurus yang lebih kuat, tiba-tiba keduanya berpencar kabur dari pertarungan itu.
"Cih!" Mata Kelang langsung menatap ke arah yang larinya lebih lambat. "Kau yang pertama!"
Kelang langsung melesat mengejarnya. Tak terasa langkahnya sudah sedikit jauh dari rombongan tersebut.
Namun, saat dia hampir mencapai pendekar yang dikejarnya. Tiba-tiba Kelang merinding. Saat dia melihat ke sebelahnya, seekor siluman srigala besar langsung menerjangnya.
Beruntung Kelang sempat mengantisipasi Tanduk yang ada di kepala siluman itu. Namun, Saking cepat dan kuatnya hantaman dari siluman itu, Kelang terpental setidaknya dua puluh meter jauhnya.
Seumur hidupnya baru sekali melihat siluman yang seperti itu. Tapi, tentu saja itu belum cukup untuk menakut-nakutinya. Hanya saja, saat dia kembali berdiri dan bersiap menghadapi siluman tersebut, ternyata ketua Sekte Tanah Hitam itu, tidak lagi melihatnya.
"Ini Aneh!" Gumamnya.
Sementara itu, di lokasi rombongan yang mengawal kereta, mereka dikejutkan dengan munculnya siluman Kera besar, yang langsung menerjang dan memporak porandakan formasi pertahanan mereka.
Sangat tidak diduga ada kemunculan Sikuman kera Besar saat situasi sedang seperti ini.
Sadar bahwa yang di lawan mereka bukan musuh yang menggunakan taktik untuk bertarung, mereka berfokus untuk menumbangkan siluman kera itu terlebih dahulu.
"Sebagian tinggal dan tetap jaga Kereta-kereta itu. Sisanya kita bunuh dulu Siluman ini!"
Saat itu mereka merasa bahwa siluman Kera itu akan kabur karena mengetahui jumlah manusia yang akan menyerangnya sangat banyak. Mereka tidak menunda untuk mengejar dan berniat membunuhnya.
"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"
"Hei! Kenapa kau menyerang kami?!"
beberapa pendekar yang tinggal dan berada tidak jauh dari sana baru saja di serang.
Beberapa pendekar tiba-tiba mundur dan memisahkan diri dari yang lainnya. Mereka di kejutkan karena teman di sebelahnya menyerang mereka.
"Aku tidak menyerangmu!"
Kecurigaan mulai muncul dari fikiran mereka. Seperti yang mereka duga sebelumnya, pasti ada penyusup dari pihak tertentu di dalam rombangan tersebut.
"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"
"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"
Kejadian yang sama terjadi di sisi lainnya. Hal itu langsung membuat rombongan itu terpecah belah. Tak lama, mulai terlihat beberapa kubu yang dinyakini berasal dari pihak yang sama.
"Kalian telah merencanakan ini, kan?"
"Sepertinya kalian yang seperti itu. Jelas sekali karena itu, kalian langsung mengacungkan pedang pada kami!"
Darius menjadi kebingungan, dia tidak menyangka terlalu banyak kubu yang terbentuk di sana.
"Sial, Aku rasa Kelang telah membodohi kami." Darius langsung melirik ke arah kemana Kelang tadi berlari. "Kalian coba periksa ke arah sana!"
Darius memerintahkan beberapa anggotanya unguk melihat kemana perginya Kelang.
"Tuan Darius, apakah kau mencurigai Sekte kami?!"
Salah satu pendekar yang berasal dari Sekte tanah Hitam, berfikir Darius mencurigai ketuanya Kelang yang telah merencanakan ini.
"Meski kalian sekarang adalah oenjaga Basaka, bjsa saja kalian merencanakan sesuatu di belakang Raja. apalagi, Kalian datang tepat sebelum penyerangan ini terjadi.Sekte Aliran Hitam. memang tidakakan pernah bisa di percaya!"
Setelah mengatakan itu, Darius langsung menghambur dan menyerang pendekar dari Sekte Tanah Hitam tadi. Pertarungan antara mereka langsung terjadi. Di ikuti masing-masing pengikut mereka.
Tanpa sadar mereka telah sedikit mulai menjauh dari tempat dimana mereka seharusnya menjaga Kereta-kereta yang bermuatan senjata itu.
"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"
"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"
Anak panah terus menyerang kubu yang lebih banyak. Itu membuat mereka benar-benar sudah menyimpulkan bahwa penyerangan ini sudah di rencanakan.
Tanpa fikir panjang, mereka langsung menyerang kubu yang lebih sedikit. Perpecahan di antara mereka benar-benar terjadi. Dan pertarungan seperti itu berlangsung cukup lama.
"Ciel, berapa lama sebelum pendekar-pendekar itu sampai kesini?"
Bai Hua menghampiri Ciel yang sejak tadi melesatkan lima anak panah dalam sekali tembakan. Untuk memecah belah para pendekar yang ada di bawah.
"Tidak akan lama lagi. Sebaiknya setelah ini kita langsung mundur saja!"
Dari atas pohon, Mereka melihat pertarungan antara pendekar itu sudah semakin memanas. Konsentrasi pendekar itu sudah terpecah.
Bai Hua melirik sedikit pada Ciel dan menggelengkan kepalanya. "Bagaimana kau bisa menembak dari jarak sejauh ini, apalagi ini malam hari? kau, benar-benar musuh yang mengerikan!"
Ciel hanya tersenyum menanggapi kata-kata Bai Hua. karena jarak mereka dengan rombongan tersebut memang sangat jauh.
Sementara itu, Rewanda menggiring ratusan pendekar ke satu arah. Hingga Akhirnya pendekar-pendekar yang mengejarnya berhadapan dengan satu lagi kubu yang baru saja tiba.
"Jadi kalian yang merencanakan ini?!"
Tanpa fikir panjang, mereka langsung menyerang kubu yang baru tiba itu, dan melupakan siluman yang tadi mereka kejar.
Kubu yang tidak menyangka akan mendapat serangan yang mendadak tersebut. Tidak sempat bereaksi untuk mengutarakan pembelaan. Pertempuran baru pun langsung terjadi.
Kelang juga terkejut karena tiba-tiba di hampiri oleh anggota dari serikat petualang. Dari tatapan mata mereka, jelas Kelang melihat bahwa orang-orang tersebut mencurigainya.
"Jangan lakukan apapun. Jika tidak, aku terpaksa membunuh kalian semua."
Kelang yang pertama kali merasakan ke anehan dari serangan ini, mencurigai sesuatu. Sampai saat ini dia tidak merasakan jumlah tenaga dalam, dalam jumlah besar di wilayah itu.
Jika memang ada kelompok yang berniat merampok senjata-senjata yang ada di kereta, setidaknya mereka harus membawa banyak orang.
Hampir saja Kelang benar-benar membunuh mereka karena tidak mendengar ucapannya, sebelum seseorang bertiak lantang di lokasi dimana mereka meninggalkan Kereta-kereta tadi.
"Kereta-keretanya menghilang!"
Merasa kalimat yang diteriakkan pendekar tersebut terasa janggal, Darius langsung berteriak.
"Hentikan pertarungan kalian...!"
Dua kubu di depannya langsung berhenti bertaraung dan mundur bersamaan. mereka juga mendengar teriakan yang terdengar janggal itu.
"Kalian! Kemarilah... Kereta-kereta itu menghilang!"
Semua orang yang mendengar teriakan itu, tentu saja merasa heran. Bagaimana kereta yang berjumlah lima puluh itu dan memiliki beban yang berat tersebut, bisa menghilang. Itu sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
Meski sudah berhenti bertarung, mereka tetap saling mewaspadai. Hanya beberapa orang saja yang kembali ketempat dimana Kereta-kereta tadi berada untuk memastikan kebenarannya.
"Kalian semua! Jangan ada yang beranjak dari tempat masing-masing." Darius sekali lagi berteriak.
Setelah itu, dia dan beberapa orang kembali ketempat semula. Tak lama Kelang juga sudah berada di sana.
Meski tidak mempercayai apa yang mereka lihat. Tapi, tepat di depan mata mereka, lima puluh kereta yang bermuatan senjata-senjata sihir itu benar-benar telah menghilang.
"Bagaimana caranya orang-orang ini, bisa mati seperti ini?!"
Darius bergumam dengan nada tak percaya melihat ratusan mayat terkapar tanpa kepala.
"Ini benar-benar Aneh!" tambah Kelang yang juga berdiri tak jauh dari sana.