
" A-aku ... cuma ... "
" Cuma?! Kau cuma apa? Hah?! "
Entah kenapa pertanyaan Ciel itu membuat Arya gugup.
" Ciel! Pelankan suaramu! Kita sudah membahas ini, kan? "
Ciel masih melototi Arya dengan wajah tidak senang. Ciel sendiri sebenarnya juga tidak tau kenapa dia menjadi kesal pada Arya.
" Aku hanya ingin melihat-lihat " kata Arya menyelesaikan kalimatnya sambil menunjuk area sekitar pemukiman itu.
" Huh! Orang-orang seperti kalian memang tidak memiliki perasaan. " Ciel kembali bicara dengan nada meremehkan. " kalianlah yang membuat mereka seperti ini. dan kau, ... Apa kau bilang? Ingin melihat-lihat? ... Memuakkan! "
" Ciel sudah! " Luna kembali mengingatkan.
" Kakak! Orang ini benar-benar menyebalkan! " protes Ciel.
Arya tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Ciel. Arya baru pertama kali berada di sini dan bagaimana pula dirinya yang menyebabkan orang-orang di sini menjadi seperti ini.
Luna mendekat pada Arya. " Tuan Muda ... " Sapa Luna " Apakah kami seharusnya memanggilmu begitu? "
Arya menggelengkan kepalanya cepat " Tidak! Panggil aku Arya saja "
Luna mengangguk " Maaf kalau saat itu kami menyinggungmu. Tapi, kami punya alasan sendiri untuk itu " jelas Luna " apa kepentinganmu ke sini? Benarkah kau hanya ingin melihat-lihat? " tatapan Luna terlihat mencurigai Arya
" Ya, aku berkeliling kota hari ini. Banyak tempat yang aku datangi dan berakhir di sini! "
Luna kembali memperhatikan penampilan Arya. " Lalu? Apa yang kau dapat setelah melihat-lihat? Kau merasa senang? "
Arya sedikit memundurkan kepalanya, heran " Kenapa aku harus senang setelah melihat banyak orang kelaparan? Aku justru bertanya-tanya. Apa yang membuat mereka bisa menjadi seperti ini? " jawab Arya sambil menatap Ciel sebentar lalu kembali pada Luna.
Jawaban Arya itu, tentu saja membuat kedua kakak beradik itu heran. Bagaimana mungkin orang yang mengenal Bajra dan Hattala tidak mengetahui hal semacam ini.
" Arya. Aku tidak tau kau ingin menyembunyikan apa dari kami. Tapi, jika kau bermaksud menyusahkan mereka, aku tidak akan segan-segan untuk menghajarmu! "
Arya memejamkan mata lalu menarik nafas panjang dan melepaskannya kasar. " Baiklah! Aku memang belum terbiasa bertemu dengan banyak orang. Aku berasal dari daerah yang jauh di sana? "Arya menunjuk ke Arah pegunungan Obskura. " ini kota pertama yang aku datangi. Jadi aku mendatangi banyak tempat untuk mempelajarinya selama aku di kota ini "
Sekarang Ciel sudah berdiri di sebelah kakaknya. Hendak mengatakan sesuatu namun Arya kembali berbicara.
" Aku tidak tau apa yang membuat kalian marah padaku. Apakah karena aku bisa membaca simbol di toko kalian? Atau kalian marah, karena Hattala datang menjemputku saat itu. " Arya menatap keduanya bergantian. " Agar kalian tidak menuduhku untuk hak yang tidak aku lakukan, Aku katakan pada kalian. ... Aku bisa membaca apa saja! " tutup Arya.
Kini kedua kakak beradik itu yang kehabisan kata-kata. Apapun yang dikatakan oleh Arya bukan sesuatu yang sebelumnya mereka harapkan.
Tapi, Arya mengatakan bahwa dia bisa membaca apapun. Tentu saja itu terdengar tidak masuk akal. Luna dan Ciel sama sekali tidak mengetahui bahwa simbol keluarga mereka bisa di baca.
Sebelumnya mereka mengira itu hanya sebuah gambar biasa seperti simbol dari keluarga lainnya di Negara mereka.
Sulit untuk mempercayainya. Tapi, pemuda yang ada di depan mereka ini benar-benar bisa membacanya. karena sebenarnya kekuarga Semith terkenal dengan perisainya.
Saat Arya pergi dengan Hattala, Luna dan Ciel langsung membahasnya. Mereka mengira Arya mengetahui rahasia keluarga mereka. Jadi mereka bersiap-siap untuk kejadian yang terburuk.
" Jika kau memang dari daerah terpencil, lantas apa yang membuatmu bisa mengenal Bajra dan si bajingan Hattala itu? "
Arya tampak berfikir sejenak lalu memperhatikan mata kedua gadis itu bergantian. " Aku bisa merasakan kecemasan di mata kalian saat melihatku. Aku memang ada alasan sendiri kenapa aku datang ke Kota ini. Tapi, aku pastikan pada kalian berdua kalau ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kalian! "
Setelah Arya mengatakan hal itu, entah kenapa keduanya merasa sedikit lebih lega. Mereka tidak merasa bahwa Arya sedang membohongi mereka.
Namun setelah tiga kali mereka bertemu dengan pemuda ini, dua kali sebelumnya, Arya selalu mengejutkan mereka. Mereka mencoba percaya namun tetap mewaspadainya.
Mereka bertiga kini menoleh pada pemukiman miskin itu. Sebuah pemandangan yang ironis di bandingkan keadaan yang ada di tengah kota.
" Bagaimana bisa, mereka berada di sini? "
" Hahaha! Itu pertanyaan paling bodoh yang pernah aku dengar " ejek Ciel.
Arya langsung membalasnya dengan tatapan tidak suka " Aku bertanya karena aku memang tidak mengetahuinya " protes Arya.
" Kau seharusnya bertanya. Apa yang menyebabkan mereka seperti ini?" Luna menjelaskan.
Arya hendak meluruskan pertanyaannya, Namun kedua kakak adik itu telah berjalan.
" Kau bisa langsung bertanya pada mereka nanti. Tapi, kau harus menunggu terlebih dahulu. Kita tidak bisa membiarkan mereka menunggu lebih lama. Banyak perut yang harus diisi di sini! "
Keduanya pergi mempersiapkan makan untuk semua orang di sana.
Arya memperhatikan segalanya dengan teliti. Arya bisa merasakan bahwa Luna dan Ciel sangat dihormati oleh orang-orang di sana. Arya menebak bahwa kedua kakak beradik itu bukan pertama kalinya membawakan mereka makanan di sini.
Arya memutuskan untuk ikut membantu. Karena di sana banyak wanita tua yang lebih mengerti tentang masakan, Arya lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bermain dengan anak-anak di sana.
Luna dan Ciel sekali-sekali menatapnya yang sedang berlarian dengan anak-anak. Terlihat itu sangat alami dan tidak di buat-buat. Mereka tersenyum orang seperti Arya masih ada di sini.
Mereka merasakan bahwa ada rasa aman saat bersama Arya tapi bersamaan dengan itu juga, mereka merasakan Arya sebenarnya sangat berbahaya. Hanya saja mereka tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata.
Selama menghabiskan waktu bersama dengan anak-anak itu, Arya menyempatkan diri bertanya pada mereka di mana orangtua mereka. Dan jawaban mereka hampir sama.
Setelah mereka selesai makan, Akhirnya Arya mulai berencana menggali informasi untuk menjawab rasa penasarannya.
Arya menanyakan pertanyaan yang di sarankan Luna tadi. Jawaban dari orang-orang di sana, Langsung membuat dadanya terbakar.
Ternyata orang-orang itu adalah penduduk-penduduk di sekitar kota Aska. Namun, sejak kota ini dibentuk, kerajaan mengirim prajurit dan orang-orang dari pemerintahan.
Awalnya mereka menyambut dengan suka cita. Karena kerajaan akhirnya memperhatikan rakyatnya. Akan tetapi, semua tidak seperti yang mereka harapkan.
Tiba-tiba saja mereka dikenakan pajak dari ladang mereka sendiri. Berdalih demi pembangunan daerah dan karena tanah itu sebenarnya adalah milik kerajaan, akhirnya mereka membayarnya.
Pajak itu semakin lama semakin tinggi. hingga mereka tidak mampu lagi membayarnya. Nurmageda, sebagai pemilik jabatan tertinggi di wilayah ini, menyita tanah mereka.
Sebagian dari Mereka dipekerjakan di ladang bekas milik mereka sendiri oleh pemerintah tapi Sebagian lagi tidak. Apalagi untuk yang tua-tua, tenaga mereka sudah tidak dibutuhkan lagi.
Karena sudah tidak memiliki lagi lahan untuk digarap, akhirnya penduduk-penduduk desa itu datang ke kota untuk mencari pekerjaan.
Mereka yang memang tidak memiliki keterampilan sama sekali, hanya bisa menjadi pengangkut atau orang-orang suruhan di rumah orang kaya yang datang dari kota Basaka setelah membuka usaha di sini. Mereka di bayar dengan upah yang sangat rendah.
Hal yang lebih mengejutkan Arya lagi adalah, beberapa pemuda dan ayah-ayah dari anak-anak ini sekarang bekerja di desa yang bernama Paganti. Namun, setelah mereka pergi, tak ada satupun yang pernah kembali.
Sisanya, wanita-wanita tua dan lemah serta anak-anak berakhir di pemukiman ini. Mereka terpaksa mengemis mengharapkan belas kasihan pada orang-orang di kota hanya untuk sekedar bertahan hidup.
" Gadis? ... Di mana anak-anak gadis?! " Arya kembali bertanya.
Arya baru menyadari dari semua keterangan yang di dapat. Tidak menjelaskan kemana anak-anak gadis desa itu pergi. Arya tidak menemukan satupun dari mereka di pemukiman ini.
Arya tidak mendapatkan jawaban selain tangisan orang-orang di sana. Hal itu membuatnya semakin heran.
" Arya! "
Arya langsung menoleh pada Luna dan mendapatkan tatapan yang sangat tajam.