ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Gelombang Ketiga


Di malam yang sama, di pusat Kota Basaka. Luna, Ciel, dan Bai Hua terkejut dengan apa yang barusaja di katakan oleh Rewanda.


Saat ini, mereka tengah bersiap begitu juga seluruh penghuni tempat itu. Karena sejak awal mereka yang ada di sana bukanlah pekerja biasa.


Meski benar-benar bekerja dan mempelajari banyak hal dalam beberapa bulan terakhir di sana. Tapi, semua itu di lakukan sambil menjalankan agenda lainnya.


Dan saat yang ditunggu-tunggu telah tiba. Sesuai dengan rencana mereka dalam menghentikan segala sesuatu yang menyebabkan seluruh penduduk Daratan Timur ini, menderita.


"Tuan Rewanda. Jadi Arya hanya melakukannya sendiri?"


Rewanda baru saja mengatakan pada mereka bahwa Arya sudah melenyapkan Kelang dan menggelamkan lembah Tonda tempat Sekte Awan Hitam berada.


Tidak mengerti kenapa Arya melakukan itu, tapi mereka yakin Arya memiliki alasan sendiri. Akan tetapi, mereka sudah mengetahui dari berbagai informasi bahwa Sekte Tanah Hitam sangat besar.


Hingga saat Rewanda mengatakan bahwa Arya baru saja menenggelamkannya, seharusnya itu terdengar sangat tidak masuk akal.


Karena yang mengatakan itu pada mereka adalah salah satu dari iblis langit, yang seharusnya juga tidak masuk akal, tidak ada pilihan lain selain mempercayainya. Apalagi, saat ini mereka sedang membahas Arya. Seolah segala sesuatu terasa normal saja jika pemuda itu yang melakukannya.


"Begitulah! Raja memintaku untuk memberi tahu kalian dan mereka agar bersiap-siap. Aku sudah mengawasi lembah Haru. Di mana tadi siang, aku melihat serikat Oldenbar juga sudah berada di sana."


Sambil memasukkan banyak senjata ke lingkar ruang miliknya, Ciel bertanya. "Apakah itu sudah semuanya? Berapa jumlah mereka jika dijumlahkan dengan seluruh Sekte Aliran Hitam?"


Pertanyaan Ciel membuat Rewanda tertegun. "Aku tidak menghitungnya, lagipula meskipun aku sangat kuat, sayangnya mataku tidak sehebat matamu."


Sebenarnya Rewanda bisa melihat dengan jelas semuanya. Tapi untuk menghitungnya, itu sama sekali tidak dipikirkannya. Lagipula, dia merasa tidak ada bedanya.


"Beberapa dari mereka terlihat cukup kuat, tapi itu masih bisa di kita hadapi."


Ketiganya mengangguk mengerti. Padahal mereka bertiga tidak mengetahui seberapa kuat sebenarnya kedua iblis langit. Hingga saat ini, mereka belum melihat kekuatan sesungguhnya pengawal Arya ini.


Sama seperti Arya. Entah bagaimana, energi dan segala sesuatu dari iblis langit tidak bisa mereka ukur. Bahkan, Ciel sekalipun tidak bisa melihat Aura kekuatan mereka.


Akan tetapi, saat kedua iblis langit bertarung bersama mereka, semua akan terasa baik-baik saja. Mereka mempercayai keduanya layaknya ketiganya mempercayai Arya.


"Bagaimana dengan Darmuraji?. Dia memanggil Ki Wisanggeni siang ini. Apakah terjadi sesuatu padanya?"


"Nona. Aku di lembah. Bukankah seharusnya itu bisa kalian selesaikan?"


Luna tersenyum karena Rewanda terlihat sedikit kesal karena seolah semua tugas di limpahkan padanya.


"Tuan Rewanda. Karena kau memiliki kemampuan mengubah wujud kami berfikir kau juga bisa melakukan beberapa tugas dalam sekali waktu."


Rewanda mengernyit heran. Bukan karena apa yang dikatakan Luna itu aneh. Masalahnya, seharusnya dia ounya kemampuan seperti itu. Hanya saja tidak dia pikirkan sebelumnya.


"Seharusnya aku dan anjing bodoh itu bisa melakukannya bahkan lebih dari hanya dua tugas. Tapi, perintah Raja tidak seperti itu."


Saat Ketiganya langsung menatap Rewanda, saat itu pula iblis langit itu sekali lagi merasa heran. Ketiga gadis ini, sekarang sama sekali tidak takut padanya ataupun Krama. Sangat berbeda dengan beberapa waktu yang lalu.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu?"


Ketiganya tersenyum. Ternyata Rewanda yang tidak banyak bicara sebelumnya, cukup lucu bagi ketiganya.


"Tidak ada apa-apa."


"Ya. Tidak ada apa-apa."


Rewanda mengangguk. Hal yang dia pelajari saat melihat seseorang memahami sesuatu. Karena dengan wujud aslinya, dia sebenarnya tidak memiliki bentuk fisik yang terlalu jauh berbeda dengan mereka. Selain fakta bahwa dia adalah Iblis langit.


"Sebentar! ... Kenapa kalian memanggil aku dan anjing bodoh itu Tuan sementara kalian memanggil Raja kami dengan sebutan nama?"


Ketiganya saling bertatapan bergantian. Mereka tidak memikirkan hal ini sebelumnya. Jika mereka mencoba mengingat kembali, tentu saja alasannya hanya menjurus pada satu hal.


"Soal itu ... "


"Sebenarnya ini sudah membebani kami sejak lama. Kalian bisa memanggilku atau Krama dengan memanggil nama Kami. Karena, Kami tidak mau lebihndi hormati melebihi Raja kami."


Hal ini sangat menarik bagi ketiganya. Mereka selalu menyebut Arya sebagai Raja mereka. Tapi, Arya selalu mengatakan bahwa kedua iblis langit itu, adalah gurunya.


Namun ketiganya memilih untuk tidak terlalu membahasnya. Mereka senang dengan hubungan ketiganya yang unik itu.


"Baiklah jika itu bisa membuat kalian nyaman." Putus Luna. Karena Saat ini, ketiganya telah selesai. "Rewanda, di mana Raja kalian itu sekarang?"


"Di pegunungan Singa Emas. Menunggu Darsapati dan yang lainnya."


Kata-kata Rewanda sedikit terasa janggal bagi ketiganya. Kenapa Arya menunggu Darsapati dan yang lainnya? Itu tidak sesuai rencana setidaknya menurut mereka.


"Kenapa Senior menunggu mereka?. Bukankah itu tidak seperti yang kita rencanakan?"


"Nona Hua. Raja tidak memerlukan kita untuk hanya membebaskan pegunungan itu."


Mata ketiganya melebar. Bahkan beberapa detik sebelumnya, mereka merasa akan berangkat ke pusat pegunungan untuk menghancurkan Oldenbar.


"Apa?!"


"Arya telah melakukannya?!"


"Lalu, untuk apa kita bersiap-siap?"


Ketiganya seperti sedang protes tak terima. Seolah apa yang mereka lakukan sia-sia.


"Dengan kecepatan ku, aku bisa sampai ke sana malam ini. Meski akan jauh tertinggal, Aku yakin kalian bisa menyusul, tapi untuk apa?."


Ketiganya tertegun. Tentu saja apa yang dikatakan Rewanda ada benarnya. Karena kekuatan mereka sudah meningkat dengan sangat pesat, kadang mereka lupa fakta bahwa Arya dan dua iblis langit ini, berada di level berbeda. Sehingga, seolah mereka bertiga merasa sudah mampu melakukan apa yang Arya dan keduanya mampu lakukan.


"Yah, aku rasa kau benar."


Jawab Luna, dengan nada sedikit kecewa. Namun, saat itu juga, Luna langsung memahami sesuatu.


"Sebentar.! ... Jika Arya memang sudah mengambil alih Oldenbar dan menyerahkannya pada Ki Darsapati malam ini, tidak ada pilihan lain bagi Edward dan serikat nya selain ikut bertempur."


Rewanda dan dua gadis lainnya mengangguk menyetujui kesimpulan Luna.


"Darmuraji, pasti juga sudah bersiap-siap." Ucap Ciel. "Aku bisa melihat setidaknya saat ini ada puluhan, bahkan mungkin sampai seratus lebih, pendekar suci, di Kota ini." Tambahnya.


Mereka telah menduga bahwa yang datang bersama Rantoba siang tadi, bukan pendekar-pendekar yang berasal dari daerah ini. Tapi, siapa sangka Ciel sudah menghitungnya.


"Rewanda. Jadi, malam ini kita akan memulai pertempurannya?" Tanya Bai Hua.


"Tidak. Malam Ini, kita akan menyerang Edward."


"Edward?!"


Luna langsung mengangguk. "Ya. Untuk memulai Kita tidak harus langsung ke lembah Haru. Kita cukup mengganggu salah satu dari mereka saja. Aku setuju dengan rencana Rewanda."


Rewanda terperangah. Seialah dia sudah mengatakan sesuatu yang hebat. Padahal, ini adalah perintah Rajanya, Arya.


Saat Rewanda ingin menjelaskan, Ciel langsung menyela. " Ya. Di lihat dari situasi saat ini, Sekarang Edward lah yang terlemah. Bukankah begitu? Rewanda, di mana Edward dan sisa pasukannya, saat ini?"


"Sebaiknya kalian suruh yang lainnya tetap bersiaga di sini. kita akan menyerang Edward berempat, dia di suatu tempat tidak jauh dari kota ini."