ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Perang Benteng


"Keparat itu ... !"


Daisuke benar-benar menyesal tidak membunuh Umbara saat ada kesempatan. Bahakan saat ini, dia menyesal tidak menghancurkan negeri Jampa mulai dari membunuh Jakasona.


Meski hal itu dilarang, tapi masih termaafkan jika memang Daisuke memiliki alasan.


Namun, saat ini di depannya Umbara jelas menantang perang. Murka Daisuke tidak hanya geraman.


"Bersiaplah Kalian semua ... Kita hancurkan orang-orang bodoh ini!"


Daisuke masih tidak percaya, setelah membunuh utusannya, para pendekar-pendekar yang akan menjadi lawan mereka di depan, kembali berpencar dan membuat kelompok-kelompok kecil tak beraturan.


"Komandan, aku rasa mereka terbagi-bagi."


Seorang pemimpin pasukan di garis depan, mundur dan berdiri di depan Daisuke untuk mengatakan pendapatnya.


"Maksudmu?"


"Ya, karena berasal dari banyak sekte, mereka memilih untuk bertempur mengikuti pemimpin atau kelompok masing-masing."


Saat itu juga Daisuke langsung faham. Apa yang dikatakan anggotanya itu, sangat masuk akal.


Bukan seperti apa yang dia takutkan sebelumnya, tapi Daisuke berkesimpulan bahwa itu lebih karena pasukan musuh, tidak memiliki keterampilan berperang yang mumpuni untuk menghadapi mereka.


"Ya, aku rasa pendapat mu benar. Pendekar-pendekar itu pasti tidak memiliki rencana apapun."


Anggotanya mengangguk mengerti. "Lalu, kita akan menyerang langsung atau ... "


Daisuke menggelengkan kepala. "Tidak, tidak. Bawah pasukan dan Berbarislah di sekitar enam ratus kaki dari dimana senjata-senjata pelontar ini. Beritahukan ini pada yang lainnya. Kita akan menghabisi separuh dari mereka, saat pertempuran dimulai."


Saat itu juga, salah satu pemimpin pasukan itu mengangguk dan berbalik pergi. Dia sudah langsung bisa mengerti apa yang direncanakan komandannya itu.


"Orang-orang ini, benar-benar berfikir bisa bertempur melawan kami? ... Huh?"


Jangkauan serangan terjauh yang bisa di capai oleh senjata pelontar ukuran sedang itu, sekitar tujuh ratus hingga sembilan ratus meter.


Jadi, Daisuke sengaja memerintahkan pasukannya untuk berbaris dalam jarak enam ratus kaki, guna memancing pasukan musuh agar masuk dalam jangkauan serang begitu mereka memutuskan menyerang.


Sementara itu di depan benteng, Rangkupala dan yang lainnya saling berpandangan dan mengangguk mengerti.


Mereka telah melihat barisan pasukan musuh mulai bergerak maju dengan teratur. Saat itu juga, mereka maju ke arah yang sama dengan setidaknya tiga puluh kelompok yang berjalan secara acak.


Dimana, masing-masing kelompok berisi sekitar dua ratus hingga lima ratus pendekar. Jika di total, maka jumlah keseluruhan pasukan itu, tidak lebih dari sembilan ribu pendekar saja.


Di lihat darimanapun, gerakan mereka benar-benar seperti orang-orang yang tidak mengerti bagaimana cara bertempur.


Melihat itu, Senyum meremehkan tersungging semakin lebar di wajah Daisuke, komandan pasukan Nippokure untuk negeri Jampa itu.


Meski perang ini akan membawanya pada masalah di masa depan, namun Hal ini terasa mudah baginya sekarang. Jika, dia bisa memenangkan pertempuran dan merebut kembali benteng mereka, Daisuke akan memikirkan cara untuk menjelaskan penyulut pemberontakan dua negeri ini, pada atasannya, nanti.


Dalam segi jumlah saja, Pasukan Nippokure sudah unggul. Mereka datang dengan dua puluh ribu prajurit yang terlatih untuk menghadapi situasi seperti ini.


Apalagi, saat ini kekuatannya juga didukung oleh dua puluh empat senjata pelontar.


Dengan strategi dan taktik yang tepat, maka kemenangan sudah di depan mata. Setidaknya, itulah yang dia pikirkan saat ini.


Tepat saat jarak pasukan garis depan Nippokure berada pada enam ratus kaki dari barisan senjata pelontar, barisan itu langsung berhenti.


Dan sesuai dengan perkiraan mereka, pasukan musuh masih tetap melangkah semakin dekat. Senyuman para pemimpin pasukan garis depan Nippokure juga semakin lebar saat melihat kelompok-kelompok itu berjalan semakin cepat.


"Bersiaplah, sesuai aba-aba ku, maka lepaskan energi dari senajata-senjata ini."


Meski kelompok pasukan dari benteng itu berjumlah acak, namun mereka bergerak sejajar.


Mereka tidak berhenti saat pasukan musuh bergenti, malah berjalan semakin cepat untuk mendekati.


Semua dari mereka hanya tinggal menunggu tanda dari Umbara. Dan tanda itu, akan segera terdengar.


"SERAAAAANNNNG ... !"


Mendengar teriakan Umbara, seluruh pasukan itu langsung memacu langkah hendak langsung menerjang musuh.


"Tahan ... Sedikit lagi."


Saat itu, tangan para prajurit sudah berada pada tuas lontar senjata sihir itu, dengan sebuah energi terpadatkan, sudah berada di Hulu lontarnya. Hanya menunggu perintah saja sebelum mereka menembakkan energi itu pada pasukan musuh.


Sejauh ini, semua terlihat sesuai rencana. Namun, saat ini Daisuke tau agar tidak meremehkan musuh. Sebagai komandan Pasukan, Daisuke tetap menyadari satu hal bahwa, Dalam perang, segala kemungkinan bisa saja terjadi.


Tiga ratus kaki, tinggal tiga ratus kaki saja sebelum semua pasukan musuh masuk dalam jangkauan senjata mereka.


Tidak semakin melambat, saat memasuki dua ratus terakhir, maka saat itu, Daisuke tidak bisa menahan senyumnya.


Begitu musuhnya sudah berada seratus kaki dari jangkauan ledakan, saat itu juga Daisuke berteriak lantang.


"SEKARANG ... !"


Saat itu juga para prajurit menarik tuas yang langsung menyebabkan mekanisme senjata itu, melontarkan energi di Hulu dan mengirimnya jauh kedepan.


"Buft ... " "Buft ... " "Buft ... " "Buft ... "


"Buft ... " "Buft ... " "Buft ... " "Buft ... "


"Buft ... " "Buft ... " "Buft ... " "Buft ... "


"Buft ... " "Buft ... " "Buft ... " "Buft ... "


"Buft ... " "Buft ... " "Buft ... " "Buft ... "


"Buft ... " "Buft ... " "Buft ... " "Buft ... "


Energi terpadatkan itu, langsung melesat cepat ke arah pasukan dari benteng. Daisuke sudah memperkirakan kecepatan kedatangan musuh dengan kecepatan daya lontar senjata-senjata tersebut.


"BOOOM ... !" "BOOOM ... !" "BOOOM ... !"


"BOOOM ... !" "BOOOM ... !" "BOOOM ... !"


"BOOOM ... !" "BOOOM ... !" "BOOOM ... !"


"BOOOM ... !" "BOOOM ... !" "BOOOM ... !"


"BOOOM ... !" "BOOOM ... !" "BOOOM ... !"


"BOOOM ... !" "BOOOM ... !" "BOOOM ... !"


"BOOOM ... !" "BOOOM ... !" "BOOOM ... !"


"BOOOM ... !" "BOOOM ... !" "BOOOM ... !"


Dua puluh empat ledakan besar langsung mengguncang tanah saat energi-energi itu menghantamnya.


Sesaat sebelum itu terjadi, Daisuke dan seluruh pasukannya, masih melihat pasukan itu berlari.


Tidak salah lagi, dengan tidak berpengalamannya musuh dalam bertempur, saat ini, dia bisa memastikan, setidaknya, setengah dari mereka sudah cedera parah dan sudah banyak yang mati.


"Hahahahaha ... "


"Hahahahahhaha ... "


Merasa telah berhasil menjebak musuhnya, para pasukan Nippokure mentertawakan mereka. Pertempuran ini terasa begitu mudahnya, karena melawan pendekar-pendekar yang terlihat tidak kompak itu.


Namun, tawa mereka langsung memudar, saat kabut yang di sebabkan ledakan itu, mulai mereda.


Mata mereka melebar saat melihat musuh berdiri jauh di seberang, dan tak ada satupun yang terluka. Ini benar-benar mengejutkan. Karena, mereka yakin musuh akan tiba bersamaan dengan datang nya energi dalam kecepatan tinggi itu.


Salendra memberi tanda tepat sesaat setelah Daisuke berteriak keras di seberang sana. Saat itu juga, semua pendekar dari benteng langsung berusaha menghentikan langkah mereka.


Dan sekarang, setelah semua reda, mereka langsung kembali berlari dengan kecepatan tinggi, menuju musuh saat mereka masih lengah, seperti saat ini.


"Habisi sebanyak yang kalian bisaaaaa ... !" Teriak Umbara dengan semangat membara.