
Mereka telah mengambil banyak di hutan ini dan sama sekali tidak menghargai nyawa orang-orang di sini. Biarkan hutan ini yang menentukan nasib mereka.
Itulah yang Arya pikirkan saat memutuskan untuk meninggalkan para pemburu dalam keadaan terluka di hutan itu.
Hati kecil Arya tidak bisa menerima. Bagaimana bisa orang-orang asing ini datang ke sini seolah semua ini adalah milik mereka dan menghina orang-orang di Daratan Timur ini dengan sebutan, Bodoh.
Tidak sampai satu malam Arya menjalani pekerjaan sebagai pengangkut, sudah membuatnya mengerti bahwa memang ada banyak hal yang tidak bisa dia terima di daerah ini.
Arya tidak kembali menemui para pengangkut itu. Dia tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi pada mereka. Arya yakin mereka akan baik-baik saja. Setidaknya, begitulah untuk saat ini.
Arya tidak menyangka hanya untuk mengunjungi tempat terakhir kali dia terpisah dengan keluarganya bisa menjadi rumit seperti ini.
Arya kembali teringat beberapa perkataan dari Obskura saat bulan-bulan terakhir sebelum Obskura memutuskan untuk menyerahkan diri pada istana langit membawa rasa penyesalan bersamanya.
' Manusia adalah mahkluk yang paling rumit '
Itulah yang membuat Obskura merasa benar dengan memberikan manusia Rahasia Ilmu di Kitab Dunia dan hal itu pulalah yang membuatnya merasa bersalah dan menyesalinya.
Dalam perjalanan pulang ke penginapan, Arya tampak berfikir keras. Dengan keadaan dunia yang seperti ini, bagaimana dia bisa hidup selama yang dia mau.
Sebentar saja melihat betapa menderitanya kakak adik yang barusaja ditolongnya itu dan bagaimana orang-orang kesulitan hanya untuk sekedar untuk bertahan hidup, sudah membuat Arya sedikit mulai membenci dunia ini.
Di sisi lain, dia sudah berjanji di hatinya agar bisa hidup selama mungkin untuk menghormati keluarganya yang sudah rela mengorbankan hidup untuknya. Bahkan Alya adiknya yang belum mengerti apapun, juga harus menjadi korban.
" Aku harus melakukan sesuatu! "
***
Sesampainya di penginapan Bulan Fajar, di lantai bawah Arya mendapati meja-meja di sana sedikit lebih ramai daripada biasanya.
Arya hendak berlalu dan mengabaikan perubahan kecil itu, Namun, dia merasakan sedang diperhatikan oleh beberapa orang.
Secara naluri Arya bisa merasakan tatapan yang berniat membahayakannya. Seperti saat ini, Arya seolah sedang diincar oleh banyak pemangsa persis saat dia masih di hutan Obskura.
" Tuan Muda! "
Langkah Arya terhenti saat ingin menaiki tangga menuju kamarnya. Tidak perlu di tebak lagi siapa yang memanggilnya " Nona Sekar. Ada apa? "
Sekar langsung mendekat memperhatikan Arya lekat dari ujung kaki hingga ujung kepala. " Anda tidak apa-apa? " Sekar melihat pakaian Arya sedikit kotor " Penjaga mengatakan padaku bahwa, tadi malam sebuah kelompok pemburu salah mengira anda adalah seorang pengangkut " katanya dengan wajah cemas.
" Aku tidak apa-apa. Hanya perlu mandi dan mengganti pakaianku "
" Oh, begitu. Sukurlah! " Sekar menunjukkan ekspresi leganya " Lalu di mana para pemburu itu? "
" Ya, seperti katamu. Mereka salah berpikir bahwa aku seorang pengangkut. Saat ini mereka masih di hutan. Aku meninggalkan mereka di sana dan kembali ke sini "
" Jadi, Begitu? " Sekar mengangguk " Seharusnya dari awal anda menolak mereka. Tapi, melihat anda sekarang baik-baik saja, aku rasa tidak harus merasa cemas lagi "
" Jika tidak ada lagi, aku akan masuk ke kamarku dan membersihkan diri " kata Arya.
" Baiklah, Tuan Muda. Aku akan meminta pelayan menyiapkan makanan untukmu "
Arya tidak menjawab lagi dan langsung kembali ke kamarnya.
Setelah selesai makan Arya berniat untuk berkeliling kota untuk lebih mempelajari situasi di kota itu dengan lebih dalam lagi. Saat dia masih menikmati makanannya di lantai tiga di penginapan itu, Hattala baru saja naik dan langsung menyapanya.
" Tuan Muda. ... Hahaha! Kebetulan sekali bertemu anda di sini! " Hattala berbasa-basi.
Arya sedikit terkejut tapi tidak memperlihatkan itu pada Hattala. " Ya, Kau juga ingin makan? "
Hattala menggeleng, " Tidak, kebetulan aku punya sedikit urusan di sini. Dan prajurit yang bersama kita waktu itu mengatakan bahwa anda menginap di sini. Aku hanya berniat menyapa "
" Oh, begitu. " Arya mengangguk " Silahkan duduk " Tawarnya.
Hattala langsung duduk begitu Arya menawarkannya. Dengan tawa canggung dia bertanya " Tuan Muda, apa rencanamu hari ini? "
" Setelah ini, Aku berniat berkeliling kota untuk melihat-lihat. " Arya menatap Hattala " Apakah Walikota sudah pergi? "
Hattala menggeleng " belum. Tapi tenang saja. Itu tidak akan lama lagi "
" Sepertinya aku memang harus menunggu "
Arya mengangguk " Baiklah. Aku akan menyelesaikan makanku terlebih dahulu "
Hattala membawa Arya berkeliling kota. Menunjukkan beberapa tempat yang dia anggap akan menarik perhatian Arya.
Arya merasa beruntung Hattala yang membawanya berkeliling. Setidaknya, pemuda itu langsung membawa Arya pada tempat yang dinilai Arya banyak memberinya informasi baru.
Dari sekian banyak tempat yng mereka kunjungi, ada beberapa tempat yang menarik perhatian Arya. Seperti tempat hiburan, toko yang membeli dan menjual hasil perburuan, toko baju, gedung yang mengurus pekerjaan di kota dan beberapa tempat yang menjual perlengkapan pendekar.
Arya sempat melewati toko Ciel dan Luna. Namun, toko itu kini terlihat sedang tutup. Arya berpikir kedua kakak adik itu mungkin saja sedang berburu di hutan.
Lama mereka berjalan berkeliling kota itu. Hingga saat sore hari, akhirnya mereka sampai di ujung kota. Tidak banyak lagi toko-toko di sana. Hanya beberapa rumah warga. Namun, sekitar beberapa ratus meter dari tempatnya berdiri, Arya melihat beberapa gubuk yang dipenuhi banyak orang.
Penasaran, Arya bertanya pada Hattala di sebelahnya. " Tempat apa itu? "
" Hmm ... Itu pemukiman penduduk miskin. Sebaiknya anda tidak ke sana! " Saran Hattala.
Arya semakin penasaran " Kenapa? "
Hattala menatap tempat itu dan menyunggingkan senyum tidak suka " Mereka itu hanya orang-orang malas yang tak mau bekerja. Jika anda ke sana, mereka akan memaksa anda membelikan mereka makanan "
Arya terdiam. Mencoba mencerna apa yang barusaja dikatakan oleh Hattala. Arya ingin bertanya lebih jauh namun harus mengurungkan niatnya karena seseorang memanggil Hattala.
" Tuan Muda! "
Arya dan Hattala berbalik menoleh ke asal suara. Seseorang sedang berlari mendekat pada mereka.
" Ada apa? Aku sedang menemani Tuan Muda ini, berkeliling! "
" Maaf! ... " Orang itu sedikit menunduk pada Arya menunjukkan penyesalannya karena telah mengganggu lalu kembali menoleh pada Hattala " Tapi, Tuan Muda. ini penting! "
" Ada masalah apa? "
" Maaf. " Orang itu menatap Arya sebentar lalu mendekat Hattala hendak berbisik.
Arya hanya melihat ekspresi Hattala yang mengernyitkan keningnya saat orang itu sedang berbisik padanya. Lalu setelah itu selesai, ekspresi Hattala berubah sepenuhnya.
" Tuan Muda. Maaf! sepertinya aku harus meninggalkan anda di sini. Ada sedikit keributan di serikat dagang "
Arya mengangguk " Tidak apa-apa. Aku juga akan segera pulang "
Setelah mendengar itu Hattala dan orang tersebut langsung pergi meninggalkan Arya.
Arya kembali melihat area pemukiman penduduk miskin tersebut. Sempat sedikit ragu, namun akhirnya Arya melangkahkan kakinya ke sana. ' Aku harus tau semuanya '
Tepat seperti apa yang dikatakan Hattala. saat dia mendekat, Arya langsung diserbu banyak anak kecil dan beberapa dari mereka adalah wanita yang sudah tua.
Mereka meminta Arya memberi mereka uang atau makanan. Arya benar-benar kebingungan harus berbuat apa, karena anak-anak itu menarik-narik bajunya.
Persis seperti apa yang di lakukan oleh anak laki-laki beberapa hari yang lalu padanya. Apalagi Arya melihat kondisi mereka juga tidak jauh berbeda. Anak-anak ini memang seperti sangat kelaparan. mereka terlihat sangat kurus.
" Hei! Jangan ganggu orang itu! "
Sebuah suara langsung membuat mereka yang mendekati Arya diam. Mereka langsung menoleh pada orang yang memanggil. Senyum langsung mengembang di wajah mereka dan langsung berlari meninggalkan Arya.
Arya berbalik untuk melihat siapa yang baru saja datang itu. Arya melihat Luna dan Ciel membawa gerobak yang yang cukup besar, dipenuhi oleh banyak barang.
Mereka yang ada di sana menyambut keduanya dengan suka cita.
" Ya! Ya! Hari ini tidak ada satupun dari kalian yang akan kelaparan " Ciel menenangkan mereka.
" Kalian! bantu kami membersihkan bahan makan ini. Malam ini kita akan makan besar! "
Mereka langsung membantu keduanya membongkar isi di dalam gerobak itu. Arya melihat banyak bahan makanan yang di bawa dua kakak adik itu.
Arya hanya memperhatikan dari tempatnya berdiri mencoba mencerna situasi. Sampai akhirnya Ciel yang menyadari pertama kali. Bahwa, orang yang dikerubungi tadi adalah Arya saat pandangan mereka bertemu.
" Kau?! ... Sedang apa kau di sini?! "