ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Restoran Keluarga Bai


"Apa-apaan ini?!"


Darmuraji dan semua orang yang ikut bersamanya terkejut dengan apa yang mereka lihat di pusat kota.


Setelah kejadian besar yang baru saja terjadi beberapa saat yang lalu, siapa menyangka bahwa Restoran keluarga Bai dan Pusat penelitian Senjata, beroperasi seperyi biasanya.


Bahkan, dua temlat itu terlihat ramai seolah tidak pernah terjadi apapin sebelumnya.


"Yang Mulia? ... Anda di sini?!"


Bai Fan yang berdiri di depan Restoran keluarga Bai menyambut dengan wajah seolah tak percaya. Bahkan kakek Bai Hua itu terlihat heran dengan kedatangan orang-orang yang ada di depannya saat ini.


Karena tidak menjawab, Bai Fan kembali bertanya.


"Apakah anda kesini untuk makan? Kebetulan sekali, hari ini restoran cucuku ini sedang menyediakan daging benggala. Sebagai menu utamanya."


Darnuraji dan Rantoba serta seluruh orang yang datang bersama mereka, tidak bisa menyembunyikan keterbengingan mereka dengan sikap Bai Fan itu.


"Makan?! ... Apa kalian masih bisa makan di saat seperti ini?!"


Darmuraji benar-benar tidak percaya bahkan setelah mendengar pertanyaan Bai Fan itu.


"Ketua Bai ... Apa yang kalian lakukan. Kenapa kalian masih terlihat seolah tidak terjadi sesuatu?!"


Rantoba tak kurang seperti Rajanya. Tidak ada yang bisa bersikap seperti apa yang ditunjukkan orang-orang dekat yang mereka panggil sebagai Master Alchemist itu.


Kali ini Bai Fan yang memasang wajah heran. "Kalian sedang membicarakan apa? Dan sebenarnya, Apa yang terjadi?!"


Darmuraji menoleh dan menatap Rantoba. Matanya manajam. "Apakah kau salah melaporkan sesuatu padaku, Rantoba?!"


Rantoba langsung kelimpungan. Jelas, beberapa saat yang lalu, tempat ini dihebohkan dengan kedatangan Kelang beserta seluruh kekuatan tempurnya.


Dan banyak saksi yang melihat bahwa mereka berhasil membawa Arya dari sini. Ditambah lagi, ribuan prajurit juga sudah berkurang di kota itu. Tidak mungkin laporannya bisa salah.


"Ketua Bai ... " Rantoba menelan ludah. Meski dia pendekar dengan kekuatan sangat tinggi, situasi ini menjadi sangat pelik baginya. "Master ... Ya, Master ... Dimana dia?"


Mata Bai Fan melebar seolah tak percaya. "Bagaimana kalian tidak mengetahuinya? Bukankah baru saja tempat ini membuat heboh se isi kota?"


Situasi seperti ini, tidak ada satupun baik Darmuraji, Rantoba, atau bahkan seluruh manusia disana pernah mengalaminya.


"Jadi, berita tentang Master di bawa oleh Kelang itu, benar, kan?!"


"Tentu saja benar! Tapi, Aku heran. kenapa kalian malah bertanya?!" Seru Bai Fan.


Darmuraji dan Rantoba menarik nafas panjang dan melepasnya dengan kasar. Seketika kepala mereka menjadi sakit.


"Ketua Bai, itu kenapa kami datang kemari. Dan aku tidak percaya kalian bersikap seolah tidak ada yang terjadi, bagaimana kalian bisa menjelaskan ini?!"


Bai Fan mengangguk. "Aku rasa ada sesuatu yang tidak sesuai. " Bai Fan tampak berfikir, lalu berkata lagi. "Jika begitu, masuklah terlebih dahulu. Saat kejadian, aku juga tidak berada di sini. Sebaiknya kalian menanyakannya pada mereka saja."


Rantoba berbalik, "Kalian bersiaga di sini."


Setelah itu dia menyusul Bai Fan dan Darmuraji yang sudah terlebih dahulu masuk ke Restoran Keluarga Bai itu.


Saat sampai di lantai tiga, terlihat lantai itu hanya di isi beberapa orang saja. Sama seperti keadaan di bawah. Orang-orang itu langsung berdiri dan membungkuk memberi hormat.


"Sudah kalian lanjutkan saja. Di sini, adalah wilayah, dimana aku hanya memiliki hak yang sama dengan tamu lainnya."


Seperti apa yang disyaratkan Arya, di wilayah miliknya, Arya meminta agar semua orang diperlakukan sama. Tidak perduli mereka dari kalangan apa saja. Lebih dari itu, bahkan jika mereka penjahat sekalipun, bila mereka tidak membuat ulah, mereka akan menerima layanan yang sama.


Sebuah kebijakan yang menurut orang-orang sangat berani. Tapi, sampai hari ini sejak pertama kali berdiri, tidak ada satupun kejadian yang tidak mengenakkan yang bisa dianggap serius, pernah terjadi.


Meski begitu, karena saat ini yang datang adalah orang yang memiliki kekuasaan tertinggi di Daratan ini, para tamu segera menyelesaikan makan mereka dan memilih untuk segera beranjak pergi.


Tidak ada satupun yang cukup gila untuk ikut mencampuri urusan penguasa yang mungkin saja bisa membuat mereka terancam saat ini atau beberapa waktu kedepan nanti.


Tak lama, hanya tinggal Bai Fan, Darmuraji serta Rantoba saja yang ada di lantai itu.


"Yang Mulia, duduklah terlebih dahulu. mereka akan segera kesini."


Tak seberapa lama saat Darmuraji duduk, ketiganya pun datang.


"Maaf membuat anda menunggu, Yang Mulia."


Luna mewakili ketiganya saat sama-sama menunduk menunjukkan hormat mereka pada Darmuraji.


Darmuraji mengangkat tangannya seolah tak peduli. "Sudahi saja basa basinya. Duduk dan ceritakan langsung padaku, apa yang sebenarnya terjadi!" ucapnya tak sabar.


Ketiga langsung mematuhi perintah itu dan duduk di sana.


"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?!"


Tanpa menunggu, Luna langsung menjawab. "Seperti yang kalian ketahui, Ki Kelang, datang dengan banyak pendekar dan mengepung tempat ini. Beberapa perwakilan mereka masuk kesini. Tepatnya restoran ini."


Darmuraji dan Rantoba mengernyit. Mereka berharap Luna menceritakan kejadiannya di awali dengan sebuah pertarungan. Bagaimanapun, mereka adalah sekte aliran hitam tidak mungkin datang dengan baik-baik dan meminta Arya ikut dengan mereka begitu saja.


"Lalu, apa yang terjadi?" Tanya Rantoba.


"Saat itu, kebetulan sekali Tuan Muda memang sedang disini, dan juga sekali lagi sangat kebetulan, saat itu dia duduk di meja ini. Kemudian, Ki Kelang datang duduk tepat di tempat anda sekarang duduk. Dia meminta Tuan Muda untuk ikut bersamanya."


Rantoba tidak menyangka ceritanya akan menjadi seperti ini. "Lalu, kalian? Dimana kalian saat itu?"


Luna menarik nafas lalu melepasnya. "Kami semua langsung datang. Itu kenapa kami sempat melihat kejadiannya." Jawab Luna.


"Langsung saja. Jadi, benarkah mereka menculik Master?" Darmuraji benar-benar sudah kehabisan kesabarannya.


"Bisa dikatakan begitu, tapi bisa juga tidak. Soalnya, saat itu Ki Kelang memintanya ikut secara baik-baik. Jadi, saat itu Tuan Muda tidak meminta kami untuk melakukan sesuatu. Lagipula, bukankah dia adalah orang kalian?"


Darmuraji dan Rantoba seperti tersambar petir dan mematung di tempat mereka. Mereka tidak bisa mengerti, Bagaimana seseorang bisa ikut begitu saja saat orang lain memintanya.


"Jadi, maksudmu, Master tanpa perlawanan sedikitpun, ikut bersama mereka?!" Tanya Rantoba tak percaya.


"Yang Mulia, sebenarnya siapa Ki Kelang ini? Aku melihat dirinya bukan pendekar yang baik. Tapi, sepertinya dia sama sekali tidak menyukai Tuan Muda sebelumnya." Bai Fan mengubah nada Bahasanya. "Apa yang kalian rencanakan, sebenarnya? Kenapa kalian memerintahkan Ki Kelang untuk menjemput Tuan Muda Arya dengan cara seperti itu? Bukankah kalian sudah memiliki kesepakatan dengan Tuan Muda, sebelumnya?"


Meskipun itu sebuah hal yang mengejutkan lainnya, Mendengar pertanyaan Bai Fan yang beruntun itu, keduanya langsung berfikir cepat.


Jika difikir kembali, Tidak ada satupun saat ini orang diluar kerajaan yang mengetahui bahwa sebenarnya Kelang sudah bertindak diluar perintah sang Raja.


Jadi, sepertinya tidak ada yang mengetahui bahwa sebenarnya Darmuraji dan Rantoba baru saja di khianati Ketua Sekte Tanah Hitam itu. Setidaknya, itulah yang mereka fikirkan saat ini.


"Eee ... Begini ... Sebenarnya ... !"


Darmuraji mencoba menjelaskan. Tapi, dia seperti kehilangan kata-kata dikepalanya. Lalu dia menatap Rantoba dengan tatapan memerintah untuk menjelaskan.


"Sepertinya Kelang sudah mengkhianati kami ... !" jawab Rantoba ringkas.


"Oh!" Seru keempatnya serentak.


Darmuraji dan Rangoba kembali terkejut dengan reaksi keempat orang yang ada di depan mereka.


"Kenapa kalian, bersikap seperti itu. Aku baru saja mengatalan bahwa Kelang mengkhianati kami. Master yang merupakan Tuan Muda kalian itu, mungkin saja sedang di ancam dan akan dibunuh!"


Rantoba mengatakan itu dengan berapi-api. Sikap keempatnya seolah tak bisa ia toleransi. Bagaimana mungkin bisa mereka bersikap seperti itu saat Tuan Muda mereka tengah di culik dan mungkin saja akan mati.


"Yang Mulia ... Tuan Rantoba!" Luna menatap keduanya bergantian. "Tuan Muda bukan anak kecil yang tidak bisa menyelamatkan dirinya saat dia terancam. Bahkan, Aku rasa, Tuan Muda akan menemukan sesuatu yang menarik saat bersama Ki Kelang."


Ciel yang sejak tadi diam, kini ikut bicara. "Melihat, bagaimana Ki Kelang sangat ingin Tuan Muda kami ikut, Bukan tidak mungkin Ki Kelang menawarkan hal yang mungkin saja sudah menarik minatnya."


"Ya. Aku setuju. Tuan Muda, bukan orang bodoh yang mau ikut begitu saja. Apakah di tempat Ki Kelang ada benda-benda kuno seperti kitab, Artefak atau yang lainnya? Mungkin itu yang membuat Tuan Muda mau mengikuti mereka." Tambah Bai Hua.


Jika ada masa seseorang menjadi terlihat sangat bodoh. Darmuraji dan Rantoba, merasa inilah saat mereka mengalami itu.


"Yang Mulia, anda terlihat pucat. sepertinya anda belum makan. Tapi, Anda cukup beruntung. Aku akan membawakan masakan yang menjadi menu utama restoran kami hari ini. Itu adalah Daging siluman benggala. Tak banyak yang pernah memakannya sebelumnya ... "