
Di saat yang sama di mana Arya menghilangkan jejak keberadaan Kelang, di Pegunungan Singa Emas terjadi perbicangan serius antara Edward dan Daga.
"Jadi, bukan kalian yang mengambil senjata-senjata itu?"
Edward masih tidak percaya dengan laporan salah satu pendekar yang di bayar serikat Oldenbar prihal hilangnya seluruh senjata milik Arya.
Menurutnya, jika ada yang bisa melakukannya, tentu saja Sekte dari orang yang ada di depannya ini. Akan tetapi, senjata itu bukan di rampok dengan cara biasa. Melainkan raib setelah beberapa pendekar muncul dengan dua siluman yang mereka duga Raja siluman.
Daga menggeleng dengan menyunggingkan senyumnya. "Tuan Edward. Kau orang yang berwawasan luas. Jika kami memiliki kehebatan seperti itu, untuk apa ketua kami berpura-pura menjadi penjilat Darmuraji."
Kata-kata Daga sebenarnya cukup masuk akal. Menurut informasi yang dia terima beberapa tahun ini, Sekte Tanah Hitam memang berniat menguasai Daratan ini. Hanya saja beberapa hal menghalanginya. Termasuk Sekte Singa Emas yang telah hancur ini.
Namun begitu, Raibnya senjata itu membuat orang memikirkan berbagai kemungkinan. Tapi segala kesimpulan yang mereka dapatkan, berakhir dengan saling menuduh. Dan untuk hal itu, Daga mewakili Kelang, datang ke Pusat serikat Oldenbar ini.
"Kami tidak hanya menaruh kaki di sana. Jujur saja, kami juga mendapat sedikit informasi soal kalian juga mengincar senjata-senjata itu."
Kata-kata Kenneth tidak memberi dampak apapun pada Daga. Reaksinya hanya tersenyum semakin lebar.
"Tentu saja kami sudah mengetahuinya. Apalagi kalian adalah Oldenbar. Serikat yang terkenal sangat licin. Dengan banyaknya jumlah anggota kami, tidak akan sulit bagi kalian menaruh penyusup. Jadi, pertanyaan ini seharusnya sudah terjawab saat kalian mengetahui kejadiannya, bukan?"
Edward dan Kenneth saling bertatapan. Keduanya juga sudah mengetahuinya, hanya saja memastikan sesuatu tentu saja bukan pilihan buruk.
"Baiklah, langsung saja. Apa rencana kalian dan apa untungnya bagi kami?"
Tidak mau bertele-tele lagi, Edward langsung mengajak ke inti permasalahan. Datangnya Daga kesini, dan berita tentang Arya di bawa Kelang sudah menyebar. Bahkan Edward sempat hendak bereaksi jika Daga tidak datang ke sini.
"Seperti biasanya. Oldenbar selalu memikirkan keuntungannya." Sindir Daga sebekum memulai. "Begini! Kalian tentu sudah tau jika Kelang telah membawa orang yang kalian sebut sebagai Master Alchemist itu ke Sekte kami.
Kedatanganku ke sini cukup sederhana. Dia muncul dan langsung memiliki sedikit kekuasaan di Basaka. Bahkan terlalu meremehkan jika dikatakan sedikit. Tapi, keberadaannya mengganggu rencana kami selama ini."
Edward dan Kenneth memahami hal tersebut. Namun, dia tidak tau apa yang dimaksud Daga sebagai ancaman.
Daga kembali tersenyum. Pembawaan wakil Kelang ini sungguh bertolak belakang dengan ketuanya itu. Kelang tidak memiliki pemikiran panjang. Akan tetapi, Daga tidak seperti itu. Pria ini sangat licik.
"Melihat reaksi kalian, tentu kalian tidak mengetahui bahwa sebenarnya pemuda itu memiliki sesuatu yang Darmuraji sendiri bersedia menukarkan Daratan ini dengan benda tersebut."
"Hahahahha! Mungkin Orang daratan ini tidak tau apa itu Alchemist dan bagaimana pengaruh mereka pada kekuatan sebuah Negara. Tapi, meski dia seorang Master Alchemist, menukarkan Daratan ini hanya untuk bekerja sama dengannya, itu sungguh berlebihan. Aku tidak menyangka kakak dari Maharaja kerajaan ini begitu bodohnya."
Daga membiarkan Edward menertawakan Darmuraji sepuasnya. Karena dia tidak perduli. Namun saat Daga kembali ingin berbicara, Kenneth langsung memotongnya.
"Sebentar, Kalian membawa Master Arya, karena Darmuraji ingin bekerja sama dengannya setelah mempertimbangkan untuk memberikan Daratan ini padanya? Itu sangat tidak masuk akal. Maksudku, dimana kalian melihat bahwa itu akan membuka pintu negosiasi dengan Darmuraji? Jika kalian berakhir dengan membunuh Master Arya sekalipun, Darmuraji akan tetap memiliki Daratan ini dan kalian kembali menjadi Sekte Hitam dan menjadi musuh kerjaan seperti sebelumnya."
"Hahahahaha!" Kali ini, Daga yang balik tertawa. "Itu karena kalian berfikir bahwa yang berharga itu adalah pemuda tersebut. Hahahahaha!"
Edward dan Kenneth kembali berpandangan. Sepertinya mereka telah melewatkan sesuatu.
Demi kepentingan mereka, serikat Oldenbar tidak akan segan-segan mengeluarkan kekuatan untuk menyelamatkan Arya. Setidaknya mereka akan mencoba bernegosiasi dengan Kelang.
Tapi, kali ini untuk pertama kalinya serikat Oldenbar tidak mengetahui apa yang lebih membuat Kubu Sekte Aliran Hitam maupun pihak kerajaan tertarik melebih Daratan ini.
Melihat wajah keheranan kedua petinghi Oldenbar ini, membuat Daga sedikit puas. Sangat jarang sekali hal seperti ini bisa terjadi.
"Raja Aditya dan Darmuraji datang ke Daratan ini, tidak hanya untuk membangun saja. Jika itu hal itu yang mereka inginkan, seharusnya sejak awal di sinilah ibukota kerajaan Swarna seharusnya berada. Tapi, terjadi sesuatu di Daratan ini, beberapa tahun yang lalu. Kurasa kalian juga sudah mengetahui yang sempat menarik perhatian dunia itu. Akan tetapi, sejarah Daratan ini, tidak sesederhana itu, Sekte Singa Emas, Kota Basaka hingga penemuan reruntuhan kuno beberapa waktu yang lalu, itu untuk mencari sebuah benda. Dan entah bagaimana, benda itu sekarang bisa berada bersama pemuda tersebut."
"Tuan Daga, jangan berbelit. Kau menceritakan sesuatu yamg sudah kami ketahui." Sergah Edward tidak sabar.
"Huh! Master Alchemist? ... Omong kosong!" Ejek Daga, setelah itu dia menatap Edward tajam. "Pemuda itu memegang senjata yang lebih kuat dari pada Senjata Pusaka Dunia yang kini di pegang oleh Kaisar kalian."
Edward dan Kenneth membatu. Informasi ini benar-benar mengejutkan mereka. Senjata Pusaka Dunia bukan senjata biasa.
Dengan memilikinya saja, membuat seseorang mendapatkan kekuatan untuk merusak keseimbangan dunia hanya dengan satu kebijakannya saja. Jika apa yangbdi katakan Daga ini benar, itu hanya akan menjurus kesebuah benda.
Sebuah senjata yang sudah di anggap legenda atau bahkan dongeng belaka. Sekarang, bisa dikatakan hampir Tidak ada lagi yang benar-benar meyakini bahwa senjata itu benar-benar ada.
"Tuan Daga. Kau mengatakan sesuatu yang terdengar sangat tidak masuk akal."
Kenneth mengangguk. "Ya. Master Arya bukan orang bodoh. Jika senjata itu ada bersamanya, dengan kekayaan serta kemapuan yang di milikinya, bukan tidak mungkin dia menguasai Negara ini. Mustahil jika dia hanya menginginkan Daratan ini."
"Maaf Tuan Edward dan Tuan Kenneth. Aku tidak peduli apa yang di inginkan pemuda itu. Masalahnya sekarang, dia ada pada kami. Dan jika senjata itu benar adanya, lalu jika kami berhasil mendapatkan dan memilikinya, apa yang akan kalian lakukan?"
Benar-benar berbeda dengan Kelang yang terkesan sembrono. Edward mendapatkan lawan bicara yang sangat licik. Tak diragukan lagi besarnya Sekte Tanah Hitam saat ini, tidak lepas dari andil besar orang yang kini sedang berbicara dengannya ini.