ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Pendekar Gagal


" Rewanda! Bagaimana mereka?! "


Arya melihat Rewanda sudah berhasil menyusul. Arya barusaja melombat dari punggung Krama dan berlari di tanah sementara Rewanda terus mengikutinya dari atas menembus pepohonan.


" Aku yakin mereka semua sudah bisa mengatasi sisanya! "


Arya mengangguk puas. " Terimakasih! Sekarang ayo kita selesaikan yang di sini! " Arya semakin mempercepat langlahnya.


" Baik! "


Rewanda langsung beralih arah. Memilih jalan lain berusaha agar incaran mereka tidak memiliki banyak pilihan untuk melarikan diri.


Meski mereka sanggup berlari cepat, Barnes dan para pendekarnya tidak bisa berbuat banyak. Karena, bisa saja Siluman Srigala itu kini berada di depan mereka seperti sebelumnya.


Pelarian ini sudah cukup berlangsung lama. Tapi sebenarnya mereka sama sekali tidak bisa menjauh. Itu karena baik pemuda dan Siluman yang mengejar mereka, bisa muncul dari segala arah. hal itu menyebabkan mereka hanya berputar-putar mengelilingi hutan dan sering kali kembali melewati tempat yang sama.


" Sial! Anak bodoh itu membawaku ke dalam masalah sangat besar! "


Barner tidak berhenti mengumpat sejak tadi, setelah menyadari Hattala menempatkannya dalam bahaya.


Barner benar-benar salah. Mengira jika berlari ke dalam hutan bisa menyelamatkannya. Tapi pada kenyataannya, sudah tujuh pendekar menghilang di belakangnya. Barner merasa sedang berada dalam mimpi terburuknya.


" Arrrrrghhh! "


Sayang sekali. Teriakan yang barusaja dia dengar, menegaskan bahwa ini bukan mimpi, melainkan kenyataan yang sangat mengerikan.


Siluman Srigala itu sangat cepat, jadi sebelumnya mereka berpikir bisa sedikit aman saat menggunakan jurus meringankan tubuh dan berlari dari dahan pohon yang satu ke dahan pohon yang lainnya.


Sialnya, Siluman Kera yang tak kalah menakutkan baru saja datang dan berhasil menyusul mereka. Hingga Barnes memutuskan untuk kembali berlari di tanah agar bisa lebih cepat.


Namun pemuda yang tidak memiliki tenaga dalam itu, entah bagaimana selalu bisa menyusul mereka. Barner tidak bisa membedakan antara pemuda itu dengan Siluman yang mengejarnya. Baginya sekarang, pemuda itu bahkan jauh lebih mengerikan.


" Tuan Barn! ... Aku rasa kita sudah tidak ada pilihan lain! " seorang pendekar yang berlari dekat dengannya, mencoba mengingatkan Barner agar melakukan sesuatu.


Barner mencoba menganalisa sekali lagi keadaan yang sedang dia dan pendekar-pendekar serikat ini hadapi. " Ya sepertinya begitu. "  putus Barner. ' Pemuda itu bukan manusia. '


Tak lama setelah mengatakan itu, diikuti oleh orang-orang yang ikut berlari di belakangnya, Barner mengeluarkan sebuah pil berwarna merah dan langsung menelannya.


Beberapa saat kemudian, mereka mulai memperlambat langkah hingga akhirnya mereka berhenti.


" Sial! Aku tidak menyangka akan melakukan hal ini! " Barner sekali lagi mengumpat dan menatap semua pendekar-pendekar itu.


Belasan pendekar termasuk Barnes langsung berdiri membentuk lingkaran. Mereka mengeluarkan senjata masing-masing dan saling memunggungi, bersiaga.


Arya yang berlari tidak jauh dari mereka merasakan perubahan suasana. Arya memang tidak bisa merasakan perubahan tenaga dalam seseorang. Tapi, instingnya bekerja jauh lebih tajam dari hanya sekedar mengukur tenaga dalam.


Dan kali ini, Arya bisa merasakan bahwa orang-orang itu bisasaja mengancam keselematannya. Arya berhenti beberapa meter dari Barner dan orang-orangnya.


Krama pun tiba-tiba keluar dari semak di sisi yang lain di susul oleh Rewanda yang kini telah berdiri di sebuah dahan pohon di atas mereka.


Arya memperhatikan perubahan pada tubuh orang-orang itu. Di mata Arya tampak kulit mereka kini sedikit memerah. Mata yang tadi seperti ketakutan sekarang berubah menjadi awas. Naluri Arya mengatakan bahwa kelompok itu bukan lagi mangsa yang mudah.


" Heheh! " Barner terkekeh kecil merasakan perubahan pada tubuhnya " Jangan berfikir akan semudah itu untuk mengalahkan kami! "


Barner yakin bahwa pemuda dan Siluman itu merasakan peningkatan tenaga dalam mereka. Apalagi saat ini baik Arya dan siluman-siluman itu berhenti dan tidak langsung menyerang mereka seperti tadi.


" Ya! Sebaiknya aku tidak meremehkan kalian " Arya kembali memperhatikan mereka dan mengangguk " Aku bisa merasakan kalian berubah. "


" Hahahaha! " Barner tertawa lantang " Kau cukup jeli juga. Tapi, harus aku akui bahwa kau memang mengerikan. Tadinya, aku sempat tidak yakin kau seorang manusia. "


" Tentu saja aku manusia! " Arya dengan polosnya menjawab kata-kata Barnes.


' Yah!  Walaupun kadang aku tidak mengerti bagaimana menjadi manusia seutuhnya. Sepertinya ... aku sudah sedikit lupa ' Batinnya


" Anak muda! Kau memberi kami waktu cukup lama. Walaupun kau sangat kuat, sekarang kau tentu mengetahui perbedaan kekuatan kita "


Beberapa detik sudah berlalu. Sepertinya pil yang ditelan oleh Barnes dan semua pendekar itu sudah bekerja dengan maksimal. Mereka yakin sekarang mereka sudah berada di puncak kekuatan mereka.


" Rewanda! Krama! Aku ingin memastikan sesuatu. Biarkan aku menghadapi mereka lebih dahulu. " kata Arya pada keduanya. Lalu menoleh kembali pada Barnes dan kelompoknya " Tapi berjagalah. Jangan biarkan satupun dari orang-orang ini lolos "


" Bukankah kalian ingin menghancurkan Sekteku?! " Arya mulai melangkah mendekati mereka " Tentu saja aku sendiri yang akan menghabisi kalian! "


Barnes menjadi sedikit kesal. Dia merasa pemuda itu terlalu meremehkannya. " Kalian bertiga! Habisi pemuda itu! " perintah Barnes pada pendekar di sampingnya.


Dua orang dari mereka langsung memasang kuda-kuda dan segera melompat lalu menerjang Arya. Serangan itu cukup cepat. Namun Arya berhasil menghindari tendangan pendekar yang pertama dan menahan pukulan pendekar yang satunya.


Tentu saja berbeda dari sebelumnya. Kali ini pendekar-pendekar ini menjadi sangat kuat. Pukulan itu sempat memberikan sedikit rasa sakit di tangan Arya meski tidak berefek cukup parah.


Namun, Arya sedikit terlambat menyadari bahwa tusukan pedang dari pendekar yang terakhir mengiringi pukulan yang dia tahan itu.


Beruntung Arya memiliki reflek yang cukup cepat. Jika terlambat, mungkin pedang itu sudah bersarang di jantungnya.


Meski bisa menghidari serangan fatal tadi, ternyata pedang pendekar itu masih sempat mengenai tangannya.


Darah mengalir dari luka di lengan kirinya akibat sayatan pedang. " Ah! Masih belum cukup! " Gumam Arya.


Barnes mendengar apa yang barusaja digumamkan Arya. Dia merasa ada yang tidak beres dengan pemuda itu. Jelas pedang itu melukainya. Tapi, reaksi pemuda di depannya ini tidak seperti sebagaimana seharusnya.


barnes ingin memastikannya " Kalian! Bantu mereka! " Barnes menyuruh dua orang pendekar lagi untuk menghabisi Arya.


Keduanya langsung menebaskan pedang mereka. Kali ini mereka tidak perlu melompat untuk mendekat. Tampaknya mereka berdua memang ahli pedang. Jurus mereka adalah buktinya.


Ayunan pedang mereka menghasilkan pedang udara yang langsung melesat menyerang Arya dengan cepat. Arya berhasil menghindari keduanya.


Kali ini, Arya tidak bisa langsung diam di tempat. Tiga pendekar sebelumnya langsung menyerangnya bertubi-tubi. Setiap serangan satu berhasil ditahan atau dihindari Arya, dengan cepat serangan dari yang lainnya menyusul.


Itu berlangsung cukup lama. Barnes melihat Arya seperti sedang jadi bulan-bulanan mereka. Para pendekar serikat kini terus menyerang Aryanhingga Arya kewalahan.


Beberapa pukulan keras berhasil mendarat ditubuhnya. Selain itu Arya juga kembali mendapatkan luka sayatan pedang, sekarang luka itu bersarang di betisnya.


Arya sedikit mengernyit. Ternyata luka itu lumayan memberinya rasa sakit. " Yah! Bagaimanapun. Aku bukan orang jenius beladiri seperti Arsa " kali ini dia bergumam lagi.


" Sial! " Barnes langsung berteriak histeris. " Kau!? ... Apa yang sebenarnya yang sedang kau lakukan? "


Kening Arya berkerut sebentar kemudian Arya tersenyum canggung sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal " Aku fikir, aku sudah menguasai jurus itu. Dan seperti yang kau lihat. ternyata aku belum cukup menguasainya! Hehe ... hehe "


Barnes terkejut dengan apa yang barusaja dikatakan Arya. Pemuda di depannya ini bukan saja meremehkan mereka. Tapi, dalam keadaan seperti ini pemuda itu seolah memakai mereka untuk memastikan sebuah jurus yang belum di kuasainya.


" Kau hanya menggunakan kami sebagai alat latihanmu?! " Tanya Barnes dengan nada geram.


Arya reflek menghadapkan kedua telapak tangannya pada Barnes. " Bukan! ... Aku tidak bermaksud begitu " Arya coba menjelaskan " Aku fikir, seorang pendekar harus membunuh musuh-musuhnya dengan sebuah jurus. Itu saja "


Barnes dan semua pendekarnya yang di sana terperangah mendengar alasan Arya itu.


Sudah banyak daratan yang diinjak Barnes sebelumnya. Sudah banyak jenis pendekar dan penjahat yang dia temui. Barnes benar-benar tidak pernah menyangka akan bertemu orang yang seperti Arya.


Apalagi itu terjadi sekarang dan di daratan ini. Daratan yang terkenal jauh tertinggal dan hanya memiliki pendekar-pendekar lemah.


" Kau sudah gila?! Siapa yang mengatakan itu padamu? "


" Aku melihat semua pendekar melakukan itu! Ayahku dan Ki Cokro juga melakukannya " Jawab Arya. " Tapi sepertinya aku memang belum pentas menjadi seorang pendekar. Jadi, Aku akan membunuh kalian dengan caraku! "


" Ayah? ... Cokro? " selain Arya, semua orang di sana bergumam menanyakan halbyang sama.


Tapi, mereka harus membuang pertanyaan itu segera. Kini semuanya seolah seketika berubah .


Mata Barnes dan semua pendekarnya melebar dan jantung mereka seketika berdegup lebih kencang. Mereka memang sudah bertambah kuat. Bahkan saat ini mereka merasa sudah mangalami peningkatan alam level kependekaran.


Akan tetapi, sebuah senyum menyeringai dan tatapan Arya yang kini telah berubah tajam, langsung memberikan mereka tekanan yang sangat menakutkan.


Hal itu juga memicu naluri bertahan hidup mereka meneriakkan tanda bahaya. Segala kekuatan yang mereka banggakan, kini terasa seperti tak ada artinya.


Barnes tau ini akan berakhir sangat buruk. Otaknya memerintahkan dirinya untuk lari. Tapi entah kenapa, kakinya sudah tidak bisa dia gerakkan lagi.


" K-kau ... Makhluk apa kau sebenarnya?! "